LOGINSore itu, Amelia duduk di bangku taman rumah barunya, menikmati angin sore sambil membaca novel. Semenjak operasi dan kepulangannya dari rumah sakit, hidup terasa lebih ringan. Ia sudah mulai beraktivitas seperti yang ia inginkan meskipun Adelia masih terus memantaunya.
Rumah mereka yang dulu lapuk kini sudah direnovasi, lebih bersih, lebih hangat, dan jauh dari kesedihan, sangat nyaman. Tapi ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya, dari mana kak Adelia mendapatkan uang sebanyak itu? Adelia tak pernah memberi jawaban pasti. Ia hanya bilang kalau itu semua berasal dari simpanan orang tua. Tapi Amelia tahu, tabungan keluarga mereka sudah lama habis sejak ayah dan ibu meninggal tiga tahun lalu. Lagipula, jumlahnya pasti tidak cukup untuk biaya operasi kepalanya yang begitu mahal. Amelia menutup bukunya dan menghela napas panjang, ia menyandarkan punggungnya sambil menghela nafas pelan. “Kenapa kakak terus menutupi sesuatu dariku...” Saat ia merenung memikirkan hal itu, tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar rumahnya. Kacanya turun perlahan, dan seorang pria mengenakan kemeja hitam dengan kacamata gelap melambaikan tangan. “Amelia Putri?” Amel berdiri waspada. “Iya... siapa ya?” Pria itu turun, melepaskan kacamatanya, dan tersenyum. “Aku Dimas Wirawan. Mungkin kakakmu pernah menyebut namaku.” Amel mengerutkan dahi. Ia belum pernah mendengar nama itu. “Aku teman lama kakakmu. Kami sempat dekat. Tapi aku dengar sekarang dia sudah menikah.” Amel tersentak. “Kenapa Anda mencariku?” Dimas menyandarkan tangan di pagar. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam. “Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Aku tahu soal operasi kamu. Itu pasti mahal, kan?” Amel menegang. “Dari mana menurutmu kakakmu dapat uang itu?” “A.. aku nggak tahu... katanya dari tabungan orang tua kami.” Dimas tertawa kecil, sinis. “Tabungan? Amelia... Adelia menjual sesuatu yang paling berharga dari dirinya untuk membiayai kamu.” Amel membeku. “Maksud Anda?” “Dia menjual keperawanannya. Pada pria kaya yang membayarnya sangat mahal.” Deg. Dunia Amel seperti berhenti sejenak. “Dia tidak akan pernah memberitahumu. Tapi aku tahu segalanya. Bahkan aku tahu siapa pria itu.” Air mata mulai memenuhi mata Amelia. “T-tidak... Kak Del tidak akan...” “Sayangnya, itu kenyataan. Kalau kamu tak percaya, tanya dia sendiri. Tanya kenapa malam sebelum operasi kamu, dia pulang dengan mata sembab, dengan jalan terhuyung. Dia bahkan hampir pingsan di depan kasir.” Dimas menatap Amelia dengan tatapan dingin, lalu menambahkan satu kalimat yang menghujam. “Semua pengorbanan itu... dilakukan demi kamu.” Tanpa berkata apa-apa lagi, Dimas melangkah masuk ke mobilnya dan pergi. Amelia masih berdiri mematung. Dunia di sekelilingnya terasa hening, dingin, dan tak masuk akal. Ia merasa mual. Hatinya remuk. Beberapa menit kemudian, Adelia pulang dengan tas belanja. Ia melambaikan tangan, wajahnya cerah. “Mel! Kakak beli buah kesukaanmu nih!” Tapi Amelia hanya memandangnya, tanpa senyum. Adelia menghentikan langkahnya, bingung. “Kenapa? Kamu nggak suka buahnya?” Amel menunduk. “Kak... siapa Dimas Wirawan?” Adelia langsung membeku. Nafasnya tercekat. “Apa... yang dia bilang padamu?” Air mata Amelia jatuh. “Apa benar... Kak Del—demi aku... menjual diri?” Adelia menjatuhkan tas belanjanya. Jeruk dan apel menggelinding keluar. “Mel... dengarkan kakak...” Amelia mundur satu langkah. “Kau bilang kita bisa melalui semua ini bersama... tapi kau malah menyembunyikan hal sebesar ini?” Adelia menggeleng cepat, matanya berlinang. “Kakak hanya ingin kamu hidup, Mel. Kakak rela melakukan apa pun bahkan menghancurkan diri sendiri.” “Tapi kenapa kau tidak bilang?!” “Aku nggak ingin kamu merasa bersalah seumur hidupmu!” Adelia bersujud di depan Amel, ia khawatir jika hal ini akan membuatnya sakit, Adelia tak memikirkan dirinya lagi, bahkan ia rela terhina demi adiknya, Amelia. Tangis keduanya pecah di halaman rumah yang baru direnovasi itu. Rumah yang terlihat hangat, tapi kini kembali dipenuhi luka lama. Dari kejauhan, seseorang memotret kejadian itu dengan kamera ponsel. Dimas menyeringai kecil dari mobilnya yang berhenti tak jauh. “Permainan baru saja dimulai, Adelia...”Raka hanya tersenyum, di matanya ada kerinduan yang amat dalam terhadap Antoni, namun tidak pernah ia ungkapkan. "Aku juga tidak pernah memberi kabar padanya, aku sangat sibuk, dia juga pasti sibuk, meskipun tidak memberi kabar tapi hubungan hati selalu terikat." Adelia tiba-tiba pergi dari pangkuan Raka, ia duduk di sofa sambil menatap mata suaminya itu. "Apakah ikatan hatimu sangat kuat padanya?" tanya Adelia. "Adelia, Antoni tumbuh besar denganku, sejak kecil kami selalu bersama, kami tahu kap gyan waktunya akan bicara." Adelia pun diam, tapi kenapa hatinya merindukanmu sosok yang tidak asing bagi suaminya?" "Mungkin dia juga merindukan mu!" Raka tersenyum, mereka pun jalan-jalan ke mall sebelum pulang ke rumah, Adelia ingin membeli beberapa barang dan makanan untuk stok di rumah jika Raka sangat sibuk sehingga tidak bisa menemaninya belanja. Adelia pun tidak lagi memikirkan apa yang dia rasakan saat di kantor setelah melewati ruang kerja Antoni dulu. Ia pun sibuk
Malam itu, setelah semua kekacauan berlalu, tak terasa 5 tahun berlalu tanpa terasa, hanya seperti hembusan angin, namun banyak yang sudah dilalui Adelia, dan banyak pelajaran yang ia ambil dari masalah yang terjadi padanya. Raka melihat Adelia duduk di meja rias, tatapan itu sangat tajam seolah ujung sembilu menusuk kedua matanya. "Adelia, kenapa tidak turun ke bawah? apa kau tidak makan?" tanya Raka sambil mengelus-elus punggung Adelia. Adelia menggenggam tangan Raka, lalu ia membalikkan badannya. "Biarkan aku berada di pelukan mu hingga aku tidur, aku hanya butuh itu." Adelia pun jatuh ke pelukan Raka. Nafas Raka memburu, jantungnya berdegup pelan, ia menghela nafasnya. "Maafkan aku Adelia, selama bertahun-tahun ini kau masih merasa dihantui masalah masa lalu, tapi aku akan terus melindungi mu semampuku." batinnya. Raka membawa Adelia ke atas ranjang, membaringkan tubuhnya disana dengan pelan. mata meraka menyatu, Adelia mampu merasakan detak jantung Raka. Adelia
Raka duduk di kursinya, matanya terpaku pada layar ponsel.Di layar itu, nama Adelia muncul, dan hatinya terasa berdebar entah karena gugup atau karena rasa bersalah yang sejak kemarin terus menghantuinya. Ia baru saja menghubungi istrinya untuk mengajukan pertanyaan yang sebenarnya ia tak berani tanyakan sebelumnya.“Del…,” suara Raka terdengar berat. “Selama aku menghilang setahun penuh, apa Antoni pernah mengecewakanmu? Pernah membuat hatimu terluka?”Di ujung telepon, Adelia terdiam sejenak. Suara napasnya terdengar pelan, seolah menimbang kata-kata. Lalu, dengan nada lembut namun tegas, ia menjawab, “Tidak, Ka. Antoni justru menjaga aku dan Delara seperti keluarganya sendiri. Dia selalu ada setiap kali aku butuh bantuan. Bahkan saat aku tidak meminta, dia tetap datang memastikan kami aman.”Raka menggenggam ponselnya lebih erat. Kata-kata itu seperti hantaman di dadanya. Ia teringat semua momen di mana ia membiarkan prasangka menutupi akal sehatnya. “Aku… aku sudah terlalu keterl
Langkah kaki Antoni terdengar berat saat ia memasuki ruang kantor Anggana Grup. Wajahnya pucat, napasnya teratur tapi jelas mengandung beban pikiran yang berat. Beberapa karyawan yang sedang melintas berhenti sejenak, saling berbisik.Mereka masih mengingat jelas bagaimana dua orang terdekat di perusahaan itu, Raka dan Antoni selama ini seperti saudara sendiri. Tapi beberapa hari terakhir, keduanya nyaris saling pukul, bahkan tatapan mereka pun penuh ketegangan.“Itu dia Antoni. Kira-kira dia mau apa ke ruangan pak Raka?” bisik salah satu staf, mencoba menyembunyikan rasa penasaran di balik tumpukan berkas.Yang lain menjawab pelan, “Aku dengar mereka bertengkar hebat. Padahal sebelumnya nggak pernah ada masalah.”Antoni mengabaikan bisik-bisik itu. Ia tidak datang untuk membela diri di mata karyawan, tapi untuk menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih penting, hubungan dan kepercayaan yang telah ia bangun bersama Raka selama bertahun-tahun.Sampai di depan ruang kerja Raka, ia menarik n
Dimas menekan nomor Antoni, duduk dengan posisi santai di kursi kantornya. Namun nada bicaranya dingin dan penuh ancaman. “Kalau kau tidak menemuiku besok, aku akan katakan pada Raka kalau kau jatuh cinta pada Adel.” Antoni terdiam. Tangannya langsung mengepal, otot rahangnya menegang. Ia menatap kosong ke depan, mencoba mengatur napas agar emosinya tidak meledak. “Jangan macam-macam, Dimas,” jawabnya dengan nada berat, setiap kata keluar seperti ancaman balik. “Terserah kau percaya atau tidak,” balas Dimas santai. Suaranya tenang, namun di balik itu ada niat jahat yang jelas terasa. Tanpa memberi kesempatan bagi Antoni untuk bicara lagi, ia menutup telepon begitu saja. Antoni menatap layar ponselnya yang kini gelap. Suasana di ruangannya terasa makin sempit. Ia berjalan mondar-mandir, pikirannya berpacu. Ia tahu Dimas sedang memancingnya. Selama ini, Dimas memang selalu bermain dengan cara kotor menekan lawan, memanfaatkan celah. Setelah menimbang-nimbang, Antoni memutuskan unt
Dimas tidak senang karena Raka dan Antoni tidak bertengkar seperti yang ia harapkan. Ia sudah menunggu kabar itu berhari-hari, berharap benih kebencian yang ia tanam bisa tumbuh menjadi masalah besar. Tapi kenyataannya, hubungan mereka masih utuh. Raka bahkan masih terlihat tenang saat bersama Antoni, dan itu membuat Dimas semakin kesal. Duduk di ruangannya, Dimas memandang layar ponsel sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. “Berarti semua rencanaku kemarin tidak berhasil,” geramnya dalam hati. Ia memikirkan kembali semua langkah yang sudah ia lakukan, bunga misterius, pesan yang dibuat untuk memicu kecurigaan, bahkan gosip yang ia sebarkan. Tidak ada yang membuahkan hasil. “Kalau begitu, aku harus buat langkah yang lebih kejam.” Di rumah, Adelia duduk sendirian di ruang tamu. Di depannya ada cangkir teh yang sudah dingin karena terlalu lama tak tersentuh. Pandangannya kosong, tapi pikirannya sibuk memikirkan semua kejadian yang menimpa mereka akhir-akhir ini. Ia merasa sedih ka







