MasukKurang tidur dan overthingking adalah dua hal yang merupakan sebuah serangan paling mematikan. Tetapi Jiyya sedikit banyak bisa tetap bertahan dan menjalani harinya. Namun sialnya, dia sempat kena serangan jantung gara-gara mengira bahwa pria yang berdiri di sisi gedung sebagai Joan padahal bukan. Tidak heran, semua orang yang mengenalnya jadi khawatir dan menanyakan keadaannya. Jiyya mengabaikan kekhawatiran mereka dengan menunjukan bahwa dia sangat sehat dan baik-baik saja. Setidaknya bila diluar begini Jiyya punya kegiatan yang bisa mengalihkan pikiran.
Untungnya setelah beberapa lama, dia betulan merasa jauh lebih baik dari pada saat pagi hari tadi. Ketika sudah menunjukan pukul empat sore, Jiyya memutuskan untuk segera pulang. Mengingat putrinya pun pastinya sudah pulang les sekarang dan Jiyya harus sudah menyiapkan makan malam untuk mereka. Dia tidak sabar mendengarkan celotehan putrinya tentang apa saja yang dia pelajari hari ini, dan mulai membayangkan beragam masakan yang perlu dia buat untuk putrinya. Senang pula, selama dia berada di luar Jiyya tidak bertemu dengan Joan sama sekali. Sehingga pikirannya yang sempat tersita oleh pria itu sirna.
***
“Lalu apa yang terjadi?” teriak Luna dari arah dapur, ketika dia sedang mengambil segelas air untuk dirinya sendiri.
Joan berhenti sejenak, menangkap tatapan Jiyya yang melebar begitu dia masuk rumah melalui pintu depan. “… Lalu ibumu masuk ke dalam rumah dan menangkapku seolah dia baru saja menemukan ada tikus dirumahnya,” kata Joan dengan nada kecut.
Mendengar hal itu, Luna berbalik dan mendapati ibunya berjalan menuju ke ruang tamu dimana Joan sedang duduk di salah satu sofa dengan nyaman seolah itu adalah rumahnya sendiri.
Jiyya menarik napas dan memaksakan denyut jantungnya untuk sedikit lebih melambat. Ada beberapa hal yang terjadi akhir-akhir ini, jadi dia tidak ingin stress sendiri. Maka dengan sedikit kemampuan akting, dia menjatuhkan barang bawaannya ke lantai. “Satu-satunya kesamaanmu dengan tikus adalah bakat untukmu yang selalu keluar masuk rumah ini dan meminta makanan dariku.”
“Jangan begitulah, Jiyya. Perkataanmu barusan sedikit pedas dan menyakiti hatiku,” katanya sambil memasang ekspresi cemberut. “Aku kemari karena Luna yang mengajakku masuk.”
“Alasan! Mau benar atau tidak kurasa kau memanipulasi putriku supaya kau bisa punya seribu satu alasan untuk menghindari penghakimanku,” balasnya sambil menatap tajam kearah pria itu. Tetapi bukannya mengkaji diri, Joan justru malah memasang wajah super polos yang menyebalkan.
Ketika Jiyya beranjak ke dapur dimana putrinya berada, dia segera menatap Luna dengan penuh kewaspadaan. “Luna, lain kali jangan biarkan orang tua itu membujukmu untuk masuk ke rumah.”
Luna berbalik cepat. “Tapi Ma, aku tidak enak kalau langsung menyuruhnya pulang padahal dia mengantarkanku pulang.”
“Aku bertemu dia saat sedang dalam perjalanan pulang, jadi aku sekalian mengantarkannya saja kerumah dan dia mengajakku masuk,” tambah Joan untuk memberikan penjelasan secara rinci kepada Jiyya.
Luna sendiri memegang tangan Jiyya untuk memohon sekaligus menariknya untuk sedikit membungkuk sehingga dia bisa berbisik pada ibunya. “Lagipula kalau bareng dengan Om Joan, aku tidak harus berjalan kaki. Dia mengantarkanku dengan motornya. Kenapa kita tidak manfaatkan saja? toh, dia sering numpang makan di rumah kita.”
Joan tampak berpura-pura tidak memperhatikan, tetapi Jiyya bisa melihat seberapa berusahanya Luna untuk meyakinkan dirinya tentang hal ini. Sambil menatap mata Joan ketika putrinya berbisik, pelan Jiyya mendudukan dirinya lebih rendah sehingga dia bisa sejajar dengan putrinya. “Dia itu pria yang licik, sayang. Pada akhirnya kau tidak akan sadar kalau sudah dimanfaatkan olehnya.”
Luna memiringkan kepala dan menatap Joan dengan tatapan tajam. Lalu mengetuk-ngetukan jarinya ke mulut beberapa kali. “Nah, kurasa ini kali kedua kau datang kemari untuk makan malam gratis di rumah kami minggu ini,” celetuk Luna pada akhirnya.
Jiyya menganggukan kepala sebagai tanda setuju sekaligus bangga pada putrinya, sementara Joan tampak tersinggung dengan celetukan gadis muda duplikasi Jiyya. “Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama mantan mahasiswi kesayanganku dan putrinya yang cantik jelita,” sahut Joan yang menatap penuh arti pada Jiyya ketika mengatakan kata ‘kesayangan’ yang membuat Jiyya langsung mengalihkan pandangannya. Lagi-lagi Joan begini…
Namun ekspresi Luna berbeda, gadis cilik itu mengangkat sebelah alis dengan ekspresi curiga. “Dan bukannya Papa?”
Jiyya mengambil kesempatan untuk kabur dari situasi dan masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Meninggalkan Joan dan putrinya yang kini sudah beranjak ke ruang tamu. Tampaknya Luna siap dengan seribu pertanyaan introgasi andalannya dan itu memberikan Jiyya cukup banyak waktu untuk menenangkan diri. Namun tampaknya hal itu tidak begitu mudah, sebab baru saja dia melangkah lebih dalam ke dapur dia masih bisa mendengar suara Joan yang serius.
“Hmmm… kurasa itu lebih karena aku melihat diriku sendiri di dalam dirinya.”
Ekspersi wajah Luna semakin menunjukan ketidakpercayaan. “Kau sama sekali tidak mirip dengan Papa.”
Joan mengerutkan kening, suaranya kini sedikit lebih tenang dan matanya tampak fokus ke arah dimana dia bisa melihat Jiyya menghilang. “Yah, karena aku sangat mirip dengan Papa-mu waktu kecil.”
Luna terdiam sejenak sebelum bertanya dengan terus terang, “Apakah itu berarti Papa akan sekonyol kau suatu hari nanti?”
Joan kini bisa mendengar suara tawa tertahan Jiyya dari arah dapur. Pria itu mengusap tengkuknya dan terkekeh garing. “Ah, kurasa tidak ada yang tidak mungkin, Luna.”
***
“Jadi apa yang kalian berdua bicarakan sebelum aku pulang?” tanya Jiyya sambil mengambil sepotong ayam.
“Oh, Om Joan tadi baru saja bercerita tentang dia yang dulu katanya mengajari Mama, Papa, dan Om Dean belajar masuk universitas,” jawab Luna. “Dia bilang kalau Mama yang terbaik.”
“Yah, memang begitulah kenyataannya,” tambah Joan lagi. “Aku hanya perlu menunjukan satu penyelesaian soal. Dean dan Papamu butuh seharian untuk menyelesaikan soal dariku, dan mungkin mereka tidak akan bisa melakukannya kalau saja ibumu tidak memberikan mereka petunjuk. Ah… itulah yang dinamakan kecantikan sejati dari seorang wanita.”
Jiyya bisa merasakan tatapan Joan ketika dia sedang bicara. Mau tidak mau, Jiyya jadi sedikit tersipu atas pujian pria itu untuknya sampai tidak sanggup menatap matanya sedetik pun.
Untungnya Joan mengalihkan pandangan matanya dari Jiyya, kepada putrinya. “Oh ya, kudengar Luna juga mewarisi kepintaran ibumu ya,” katanya dengan santai.
Luna mengerutkan kening. “Ya, aku lebih cepat dari teman-temanku saat menyelesaikan soal apapun.”
“Lalu kenapa kau mengerutkan kening?” tanyanya bingung.
“Karena Om Leon mengajari si bodoh Arthur, dan tiba-tiba saja dia jadi lebih cepat mengerjakan soal matematika padahal biasanya dia sangat lambat!” seru Luna, tangan mungilnya tanpa sadar mencengkram cangkirnya lebih erat. Joan diam-diam mengangkat cangkir tersebut dan menjauhkannya, dan tanpa Luna sadari gadis cilik itu kembali melanjutkan omelannya. “Aku tidak mau kalah darinya! Apa gunanya kepintaranku kalau aku tidak bisa mempertahankan rangking satu. Ma, tidak bisakah Mama bilang pada Papa untuk tinggal lebih lama di rumah dan mengajariku sesuatu yang baru? Aku ingin membuktikan bahwa aku juga punya Papa yang mengajariku dirumah.”
Jiyya berhenti mengunyah sesaat, jantungnya berdebar kencang. Dia tahu persis perasaan putrinya, karena dulu sekali dia pun juga sangat bekerja keras untuk mempertahankan prestasinya dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Membuat Jiyya merasakan adanya rasa insekuriti karena sejatinya dia tidak pintar secara bakat bawaan. Melainkan karena usaha dan kerja kerasnya. Itu sebabnya dulu dia tidak bisa menyusul Bestian yang kuliah di luar negeri karena keterbatasannya.
Tetapi permintaannya sekarang rasanya agak…
“Luna, Mama—”
“Aku bisa mengajarimu, itupun kalau kau mau,” sela Joan menyadari bahwa Jiyya tampak sedikit ragu untuk sesaat. “Kebetulan juga aku ini dosen dulu, aku yang mengajari ibu dan ayahmu. Bukankah berarti aku lebih hebat dari orangtuamu?”
Entah bagaimana sekarang Jiyya justru merasa lega dengan penawaran yang diberikan Joan. Padahal sebelum ini dia sangat menentangnya. Kenapa Joan membantunya?
“Jadi itu betulan? Bukan sekadar basa-basi ya, Om Joan?”
“Aku tidak menawarkan pada sembarang orang, loh.”
“Yeay! Dengan begini aku bisa pamer kalau bukan cuma si cerewet Arthur saja yang diajari dosen. Aku juga!” gadis cilik berambut gelap itu bahkan langsung berdiri dengan pose kemenangan.
Jiyya membenamkan wajahnya di telapak tangan, menyadari seberapa banyak kemiripan yang dia punya dengan Luna yang tidak pernah diketahui orang lain. Dia bisa merasakan ekspersi geli yang tampak dari wajah Joan di sebrang meja. Sebagian besar Luna memang tenang dan pendiam seperti ayahnya, tetapi ada kalanya jelas pula siapa ibunya dan yang satu ini adalah salah satunya.
“Luna, tolong jangan teriak di meja makan,” ujar Jiyya sembari mendesah.
Putrinya pun langsung duduk tenang dan kembali melanjutkan sesi makan malamnya, tetapi dia jelas tidak bisa menahan senyuman penuh kegembiraan.
“Baiklah Luna, bagaimana kalau kita bertemu di perpustakaan pukul 8 pagi?” usul Joan.
“Berarti kau harus kesana jam 11 pagi,” celetuk Jiyya yang diabaikan oleh Joan.
“Terima kasih banyak, Om Joan!” Luna menundukan kepalanya dengan sopan.
“Tidak masalah, Luna,” jawab Joan. “Aku tidak bisa membiarkanmu kalah dari anaknya si Leon.”
Matanya terangkat menatap Jiyya, kehangatan senyum kecilnya terpancar dari balik manik matanya yang gelap. Meskipun isi perut Jiyya terasa bergolak seperti banyak kupu-kupu berterbangan, tetapi sebagai contoh yang baik bagi putrinya Jiyya tak kuasa menahan diri untuk membalas tatapan itu dengan senyum penuh syukur. “Terima kasih ya,” gumamnya yang langsung diberi anggukan dan senyum tulus dari si pria.
Senja terhampar lembut di balik jendela ketika Jiyya mengangkat wajahnya dari monitor laptop. Di sofa seberang, Luna terjerembap dengan tubuh lemas, seolah seluruh dunia telah mengempasnya.“Ada apa, sayang?” tanya Jiyya, menghentikan gerakan tangannya pada keyboard untuk memberikan atensi penuh kepada putri semata wayangnya.“Aku tidak bisa menyelesaikan semuanya,” gumam Luna, tatapannya jatuh pada jemari kecilnya sendiri.Jiyya mengernyit, bingung. “Menyelesaikan apa?”“Soal dari Om Joan,” jawab Luna dengan nada tertunduk. “Semua soalnya.”“Oh begitu …” Jiyya terdiam sejenak, lidahnya kelu. “Berapa yang berhasil kamu selesaikan?”“Lima,” sahut Luna, semakin menyusut ke balik bantal sofa. “Padahal ada sepuluh soal tapi aku tidak bisa menjawab dengan benar sisanya.”“Lima itu banyak untuk ukuranmu sayang, Mama saja dulu kesulitan menyelesaikan soal dari dia. Tapi kamu bisa menjawab setengah dari soalnya itu luar biasa,” ujar Jiyya, mencoba menyelipkan semangat.Luna tampak sedikit ber
Ucapan “Terima kasih” adalah hal terakhir yang Joan duga akan keluar dari mulut Bestian. Ia bahkan membutuhkan beberapa detik untuk mengatasi keterkejutannya.Ketika akhirnya ia pulih, ia sendiri tidak yakin apa yang sebetulnya ia rasakan detik itu juga. Rasa bersalah jelas ada, begitu pun dengan rasa getas dan pahit. Mendengar ungkapan terima kasih dari seseorang yang justru diam-diam telah ia khianati menghunjam dirinya cukup dalam. Apalagi ketika ia memaksa dirinya mengakui satu hal yang selama ini ia bungkam: bahwa ia menawarkan diri menjadi guru les privat bagi Luna bukan semata karena ia peduli, tetapi karena Luna adalah putri Jiyya. Meski kemudian dalam perjalanannya ia lama-lama malah menikmati mengajar gadis cilik itu meski tidak sepenuhnya meniadakan motif awalnya.Kening Joan berkerut. Ia menutup mata seraya menengadahkan kepal untuk bersandar pada dinding.Tentu saja ia merasa bersalah mendengar ucapan terima kasih barusan. Mungkin rasa bersalah itu bahkan lebih kuat dari
Joan tiba pada pukul 09.32 dengan ekspresi yang santai karena menurutnya ini adalah hal yang sangat wajar. Namun hal pertama yang ia dapati ialah Luna yang berdiri dengan sorot mata tajam, telunjuk terjulur penuh tuduhan seperti seorang hakim kecil di depan pintu perpustakaan.Hal kedua yang ia sadari ialah tampaknya ada tamu tak diundang yang sedang mengintai mereka dari kejauhan. Bestian.Hal ketiga, dan yang paling menyebalkan, ialah kenyataan bahwa Luna tampaknya sama sekali tidak menyadari kehadiran ayahnya. Dikombinasikan dengan kenyataan bahwa Joan pernah terkejut akan keberadaan Bestian saat membantu Jiyya menemenai Luna saat ia sedang sibuk dengan pekerjaannya.Hal itu membuatnya jengkel. Mengapa Bestian merasa perlu bukan hanya mengintai sesi belajar putrinya, tapi juga memastikan sang guru tahu bahwa dirinya sedang mengintai? Apakah ia tersinggung karena Luna memilih berlatih dengan mantan guru lesnya dulu hari ini alih-alih dengannya?Joan mengangkat alisnya dengan malas n
“Apa yang akan kalian berdua lakukan hari ini selagi Mama bekerja?” tanya Jiyya sembari meletakkan piring-piring yang berisi makanan untuk sarapan mereka di atas meja makan.“Aku mau belajar dengan Om Joan!” jawab putrinya riang sebelum buru-buru mengucapkan, “Selamat makan!” lalu menyendok salah satu sup yang masih mengepul dengan asap.Jiyya sedikit terperanjat, baik oleh penyebutan nama Joan yang begitu tiba-tiba, maupun oleh isi kalimat putrinya. Ia memandang Bestian yang duduk di sisi meja, dan di sana ia mendapati kerutan halus di antara alis suaminya. Dari tatapannya, Jiyya cukup tahu bahwa ia tampaknya sedikit terganggu memikirkan kenyataan bahwa selama ini yang menjadi ia yang selalu menjadi guru les bagi Luna sejak pulang, tapi hari ini tiba-tiba saja anak itu membuat rencana lain tanpa melibatkan dirinya.Tidak tahu harus bereaksi bagaimana, Jiyya hanya memberinya senyum maaf yang setengah jadi, disertai anggukan kecil seolah berkata, “Mau bagaimana lagi? kalau itu kemauan
Joan memicingkan mata, kerut halus di sudut-sudut matanya semakin dalam ketika menatap gadis cilik yang berdiri beberapa langkah darinya dengan posisi tangan di pinggang dan tatapannya penuh kejengkelan. Jujur saja, bersembunyi darinya selama dua hari terakhir adalah satu-satunya hiburan yang ia rasakan dalam lebih dari dua minggu, dan ekspresi murka gadis itu membuat semua usahanya seolah berbuah manis.Belum lagi soal sup itu. Ia harus mengakui keunggulannya dalam hal itu. Mungkin permainan ini akan ia perpanjang beberapa hari lagi jika Luna tidak muncul sambil membawa sup ke tempat persembunyiannya.Setelah menutup wadah itu perlahan, Joan menunggu langkah Luna berikutnya. Dan tak perlu menunggu lama, jari telunjuk bocah itu mengarah padanya dengan mata menyala geram, Luna mendesis."Aku benci kau, dan lagi bagaimana bisa Om Joan tahu aku bawa sup?"Joan mengetuk sisi hidungnya. Luna mendengus, lalu menjatuhkan diri ke tanah di depannya."Bahkan lewat wadah?" tanyanya, ketus."Bahk
Hampir pukul empat dini hari ketika lekukan halus pada kasur membangunkan Jiyya. Bestian merebahkan tubuh di samping punggungnya, membawa serta hangat tubuh yang dulu pernah menjadi tempat ia bersandar. Kehangatan itu menempel pada kulitnya dan membuat hatinya berdenyut nyeri. Dulu, sentuhan seperti itu mencipta rasa damai terhadap Jiyya. Namun kini tiada lagi arti yang membersamai, karena ia tak lagi mampu merasa bahagia karenanya seberapa keras pun ia mencoba. Lebih dari itu, Jiyya kini malah berharap kehangatan itu berasal dari lelaki lain.Ia mendengar helaan napas Bestian, dalam dan berat, lalu terdengar suaranya memanggil dengan lirih. "Jiyya."Ia tahu Bestian berbaring menyamping menghadapnya, tetapi Jiyya tidak membalas. Tubuhnya terasa kaku, matanya terpejam rapat, seakan jika ia tak bergerak maka kenyataan tak bisa menuntut jawaban. Bukan karena ia masih marah. Ia telah kehabisan tenaga untuk marah. Ia juga tidak punya cukup ruang untuk menyimpan dendam. Sesungguhnya ia hany







