Share

Pendekatan

Author: Rucaramia
last update Last Updated: 2025-10-22 10:11:47

Luna telah pergi ke kamarnya, dan melihat dari gerak-gerik gadis cilik itu tampaknya dia akan menyiapkan beberapa materi yang belum dia mengerti untuk diberikan kepada Joan keesokan harinya. Jiyya berdiri di wastafel untuk mencuci piring sementara Joan yang merapikan meja makan.

Jiyya bisa mendengar ketika Joan meletakan tumpukan yang tersisa dari meja makan di sebelah kanannya. Namun sebelum sempat menoleh, sebuah tangan menyentuh pinggangnya cukup ringan namun tetap lembut dan tentu saja cukup nyata untuk membuat tubuh Jiyya menegang seketika. Hangatnya dada lelaki itu menyentuh punggungnya, disusul dengan lengan lain yang melingkar dari sisi satunya. Sentuhan yang begitu familiar dahulu yang membuat napas Jiyya langsung tertahan.

Pegangan pada pinggangnya sedikit mengencang, seolah memberi jeda sebelum pria itu bersuara. Hembusan napasnya menyentuh pipi Jiyya tatkala dia bicara, “Biar kubantu,” kata Joan dengan suaranya yang dalam tetapi terdengar begitu lembut.

Bibirnya menyentuh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gelora Hasrat Terlarang   Morning Snack

    “Jo… an, aku harus pergi…” protes Jiyya, meski suaranya terdengar lebih seperti erangan daripada penolakan sungguhan, saat pria berambut hitam itu mendorong pahanya semakin terbuka dan perlahan menjilat pusat kenikmatannya seolah sengaja mengulur waktu sebisa mungkin. “Aku… nghh… harus mandi…”Lidah sang pria menyelinap masuk sejenak, lalu kembali menyusuri titik itu, memancing helaan napas tajam yang tak bisa ia cegah. Jiyya berusaha keras mempertahankan kewarasannya. “Joan… aku harus mandi…” Namun Joan tak mau peduli, pria itu justru mengulangi perbuatannya, dan tanpa sadar jari-jari Jiyya menyusup ke rambutnya. “…sebelum pulang…”“Mm,” gumamnya rendah dibawah sana, lalu menekan lidahnya dan menggerakkannya sepanjang lipatan tubuh Jiyya. “Kau bisa sedikit terlambat…” Suaranya yang dalam bergetar di kulit Jiyya yang sudah terbakar gairah ketika jari panjang pria itu masuk dan melengkung ke atas. “Percayalah.”“Ya Tuhan ahh…” Jiyya terengah, mencengkeram kepala Joan lebih erat, lalu m

  • Gelora Hasrat Terlarang   Seksi Sekali

    Sebagai balasan, Joan menggigit lembut cuping telinga sang wanita dan menyambut dorongan Jiyya dengan geraknya sendiri. Miliknya dibawah sana telah menegang hampir sepenuhnya, panas dan keras, seakan tak sabar lagi. “Apakah kau ingin aku menidurimu, Jiyya?” bisiknya serak, bibirnya masih menyentuh telinga Jiyya, membiarkan kata-kata itu menggantung di antara napas mereka.Kali ini, ia tak mampu menyembunyikan kebutuhan di dalam suaranya. Ada ketakutan kecil di dada, harapan yang begitu besar dengan jantung berdebar agar Jiyya tak tersinggung oleh pertanyaannya yang terdengar kasar. Joan tak ingin Jiyya mengira bahwa cinta yang dia punya hanya sebatas hubungan fisik semaat. Ia tak ingin wanita itu berpikir bahwa ia hanya memanfaatkannya saja dan membuainya dengan sentuhan. Sebab yang Joan rasa untuknya lebih dari sekadar kata dan sentuhan fisik semata.Namun untungnya Jiyya sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan yang tak sengaja keluar barusan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya

  • Gelora Hasrat Terlarang   Kau Pembohong yang Buruk, Jiyya

    Ketika akhirnya pintu terbuka, ia mendapati sosok Joan yang hanya mengenakan kaos tanpa lengan dengan celana olahraga biasanya. Ia tidak mengatakan apapun, hanya memberinya senyum miring sembari mengulurkan tangan untuk meraih pinggang Jiyya dan menarik wanita itu masuk ke dalam apartment-nya.Seolah waktu berhenti ketika ia membiarkan pria itu menuntunnya masuk ke dalam, dan ia nyaris tidak mendengar bunyi lembut dari pintu yang ditutup oleh sang tuan rumah di belakangnya ketika tangan pria itu telah melingkar manis dipinggang dan menariknya dalam sebuah ciuman yang membuat ujung kakinya melengkung.Tatkala bibirnya menyentuh bibir Joan saat ia pikir tidak akan pernah merasakannya lagi, wanita itu mendesah lega dan lengannya secara otomatis melingkari leher sang lelaki dengan tubuhnya yang memanas sementara hatinya diliputi oleh kebahagiaan bercampur rasa bersalah yang ia rasakan sebelumnya ketika mereka masih di pub.Rasanya begitu tepat jika Jiyya bersamanya, meskipun pikiran itu j

  • Gelora Hasrat Terlarang   Tarik Ulur

    Malam itu berlalu begitu cepat karena sebagai besar telah semakin mabuk, dan sebelum ia menyadarinya. Jiyya sudah berdiri di luar pub bersama Joan, menyaksikan Dean berusaha keras agar tidak tersungkur ke jalanan saat dipapah oleh istrinya. Juga sang pemilik pesta yang saling berangkulan bahu dengan yang lain sembari bernyanyi dengan keras tak peduli suara mereka yang sumbang.Jarvis dan istrinya yang tidak begitu mabuk melambaikan tangan sebagai ucapan perpisahan dan pulang beriringan, diikuti oleh Silvana dan Leon (yang sedikit lebih ekspersif saat mabuk daripada saat sadar) adalah yang terakhir pergi, tetapi tidak sebelum si pirang memeluk Jiyya dan mengatakan omong kosong soal dia yang mencintainya dan mendukung Jiyya apapun pilihan yang ia ambil.Jiyya yang sejatinya tidak terlalu sadar seratus persen hanya membalas dengan senyum simpul saat Leon menyeret istrinya yang berlebihan itu untuk pulang bersama. Dan setelah semua keributan itu, kini hanya ada ia dan Joan saja disana. Be

  • Gelora Hasrat Terlarang   Mencari Celah

    Lebih dari seminggu telah berlalu sejak terakhir kali Jiyya melihat Joan. Sejak ia sendiri mengatakan padanya bahwa mereka tidak bisa terus bersama. Keputusan itu didasari atas kebahagiaan Luna, dan itu adalah hal yang wajar bagi seorang ibu untuk melakukan apapun demi anaknya. Hanya saja, sekarang ia jadi sangat merindukan pria itu. Bahkan sampai dititik penuh pengharapan bahwa pria itu akan muncul dimana pun ia berada seperti kebetulan-kebetulan yang pernah ia alami.Meskipun yang sekarang, Jiyya sendiri tahu bahwa ia sengaja mencari celah demi bisa berjumpa dengan Joan dengan cara menghadiri acara salah satu kenalannya yang dirayakan di pub. Meskipun memang sangat tidak adil baginya untuk bisa mengharapkan keberadaan Joan, saat ia sendiri telah berkeputusan untuk mengakhiri.Namun meski begitu keinginan untuk bertemu jauh lebih kuat dibandingkan seluruh logika manapun. Dan itu sangatlah menyebalkan.Jiyya pun menghela napas.Joan barangkali tidak akan datang. Ia mungkin tidak akan

  • Gelora Hasrat Terlarang   Canggung

    “Joan, kau perlu tidur,” kata Jiyya pelan. Mereka kini ada di beranda kamar Jiyya, dan duduk berhadapan.Semua urusan pekerjaan ternyata memakan waktu yang terbilang singkat. Urusan soal kontrak dan beberapa hal terkait masalah penulisan juga sudah diselesaikan. Mereka akhirnya bisa bercengkrama kembali begitu Jiyya tiba dan menemukan putrinya sudah tertidur lelap dengan Joan yang duduk di beranda kamar mereka.Keduanya berada dalam keheningan yang berat sementara bintang di langit berkelap-kelip seakan meledek mereka berdua. Karena tak kunjung mendapatkan balasan, akhirnya Jiyya memutuskan untuk kembali buka suara dan memecah keheningan yang ada. Terutama karena ia sedikit terganggu dengan penampakan lingkaran hitam dibawah mata sang pria.“Apa semalam kau tidur?” tanya Jiyya lagi dengan kekhawatiran terlihat jelas dari nada suara dan kerutan cemas dialisnya.Pria itu berhenti menatap ke arah langit, dan mulai melirik pada Jiyya. Tatapannya begitu sulit ditebak. Namun setelah satu me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status