Share

Kau Harus Bahagia

Penulis: Rucaramia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-02 14:06:03

Joan mengalihkan pandang untuk bisa menatap Jiyya dengan lekat. Cara pandang yang bukan sekadar melihat ke mata tetapi merasuk hingga ke dalam jiwa. Anehnya Jiyya tidak lagi ragu, meski masih sedikit malu karena terekspos bebas oleh pria itu. Malah kini pandangan yang dahulu terasa mengintimidasi kini berubah memberikan rasa aman dan juga dicintai. Sebab jika pria itu bisa melihatnya sedalam itu, tetapi ia tetap menginginkannya seperti ini maka…

Merasa kewalahan menatap Joan seperti itu, Jiyya mencoba mengalihkan pandang untuk menutupi diri. Joan sendiri tampak tak keberatan, malah dia memberikan Jyya lebih banyak hal untuk didengar. “Aku tahu bahwa suamimu pergi dan jarang hadir di keluarga kecilmu karena pekerjaan, tapi aku tidak mengerti kenapa dia seolah menelantarkan kalian dengan sering berkunjung atau sesekali menghubungi. Aku memang merasa aneh sejak semula tahu akan hal itu, tapi aku tidak bisa mengintervensimu lebih jauh karena itu bukan urusanku. Karena kulihat kau tampakny
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gelora Hasrat Terlarang   I Miss You

    “Kau tahu, Luna tidak sungguh-sungguh mengatakan hal itu,” ucap Joan lirih, dan getaran suara itu saja sudah cukup untuk menenangkan hati Jiyya.“Aku tahu,” desahnya pelan.Tangisnya telah reda sejak beberapa waktu lalu. Mereka kini duduk dalam senyap hangat, saling memeluk, sampai akhirnya Jiyya membuka suara lagi. “Aku tahu dia tidak sungguh-sungguh. Hanya saja…” ucapnya terputus. “Dia belum pernah mengatakan hal seperti itu padaku sebelumnya atau apa pun yang mirip. Tapi mungkin… mungkin aku seharusnya sudah menduganya setelah Luna bilang dia benci Bestian…”Jari Joan meluncur ringan di sisi tubuhnya. “Dia bilang dia benci Bestian juga?” tanyanya, terdengar sedikit terkejut.Jiyya mengangguk, membuat helaian rambutnya bergesek pelan di tulang selangka Joan. “Ya, dia juga mendengarnya sendiri,” bisiknya.Joan menarik napas kecil. Ada iba yang dalam mengendap di matanya. Ia tahu benar, betapa pun lamanya Bestian pergi dan betapa pun buruk ia mengekspresikannya, Luna adalah orang yang

  • Gelora Hasrat Terlarang   Pelarian

    Senja terhampar lembut di balik jendela ketika Jiyya mengangkat wajahnya dari monitor laptop. Di sofa seberang, Luna terjerembap dengan tubuh lemas, seolah seluruh dunia telah mengempasnya.“Ada apa, sayang?” tanya Jiyya, menghentikan gerakan tangannya pada keyboard untuk memberikan atensi penuh kepada putri semata wayangnya.“Aku tidak bisa menyelesaikan semuanya,” gumam Luna, tatapannya jatuh pada jemari kecilnya sendiri.Jiyya mengernyit, bingung. “Menyelesaikan apa?”“Soal dari Om Joan,” jawab Luna dengan nada tertunduk. “Semua soalnya.”“Oh begitu …” Jiyya terdiam sejenak, lidahnya kelu. “Berapa yang berhasil kamu selesaikan?”“Lima,” sahut Luna, semakin menyusut ke balik bantal sofa. “Padahal ada sepuluh soal tapi aku tidak bisa menjawab dengan benar sisanya.”“Lima itu banyak untuk ukuranmu sayang, Mama saja dulu kesulitan menyelesaikan soal dari dia. Tapi kamu bisa menjawab setengah dari soalnya itu luar biasa,” ujar Jiyya, mencoba menyelipkan semangat.Luna tampak sedikit ber

  • Gelora Hasrat Terlarang   Isi Kepala Joan

    Ucapan “Terima kasih” adalah hal terakhir yang Joan duga akan keluar dari mulut Bestian. Ia bahkan membutuhkan beberapa detik untuk mengatasi keterkejutannya.Ketika akhirnya ia pulih, ia sendiri tidak yakin apa yang sebetulnya ia rasakan detik itu juga. Rasa bersalah jelas ada, begitu pun dengan rasa getas dan pahit. Mendengar ungkapan terima kasih dari seseorang yang justru diam-diam telah ia khianati menghunjam dirinya cukup dalam. Apalagi ketika ia memaksa dirinya mengakui satu hal yang selama ini ia bungkam: bahwa ia menawarkan diri menjadi guru les privat bagi Luna bukan semata karena ia peduli, tetapi karena Luna adalah putri Jiyya. Meski kemudian dalam perjalanannya ia lama-lama malah menikmati mengajar gadis cilik itu meski tidak sepenuhnya meniadakan motif awalnya.Kening Joan berkerut. Ia menutup mata seraya menengadahkan kepal untuk bersandar pada dinding.Tentu saja ia merasa bersalah mendengar ucapan terima kasih barusan. Mungkin rasa bersalah itu bahkan lebih kuat dari

  • Gelora Hasrat Terlarang   Joan & Bestian

    Joan tiba pada pukul 09.32 dengan ekspresi yang santai karena menurutnya ini adalah hal yang sangat wajar. Namun hal pertama yang ia dapati ialah Luna yang berdiri dengan sorot mata tajam, telunjuk terjulur penuh tuduhan seperti seorang hakim kecil di depan pintu perpustakaan.Hal kedua yang ia sadari ialah tampaknya ada tamu tak diundang yang sedang mengintai mereka dari kejauhan. Bestian.Hal ketiga, dan yang paling menyebalkan, ialah kenyataan bahwa Luna tampaknya sama sekali tidak menyadari kehadiran ayahnya. Dikombinasikan dengan kenyataan bahwa Joan pernah terkejut akan keberadaan Bestian saat membantu Jiyya menemenai Luna saat ia sedang sibuk dengan pekerjaannya.Hal itu membuatnya jengkel. Mengapa Bestian merasa perlu bukan hanya mengintai sesi belajar putrinya, tapi juga memastikan sang guru tahu bahwa dirinya sedang mengintai? Apakah ia tersinggung karena Luna memilih berlatih dengan mantan guru lesnya dulu hari ini alih-alih dengannya?Joan mengangkat alisnya dengan malas n

  • Gelora Hasrat Terlarang   Suasana Pagi

    “Apa yang akan kalian berdua lakukan hari ini selagi Mama bekerja?” tanya Jiyya sembari meletakkan piring-piring yang berisi makanan untuk sarapan mereka di atas meja makan.“Aku mau belajar dengan Om Joan!” jawab putrinya riang sebelum buru-buru mengucapkan, “Selamat makan!” lalu menyendok salah satu sup yang masih mengepul dengan asap.Jiyya sedikit terperanjat, baik oleh penyebutan nama Joan yang begitu tiba-tiba, maupun oleh isi kalimat putrinya. Ia memandang Bestian yang duduk di sisi meja, dan di sana ia mendapati kerutan halus di antara alis suaminya. Dari tatapannya, Jiyya cukup tahu bahwa ia tampaknya sedikit terganggu memikirkan kenyataan bahwa selama ini yang menjadi ia yang selalu menjadi guru les bagi Luna sejak pulang, tapi hari ini tiba-tiba saja anak itu membuat rencana lain tanpa melibatkan dirinya.Tidak tahu harus bereaksi bagaimana, Jiyya hanya memberinya senyum maaf yang setengah jadi, disertai anggukan kecil seolah berkata, “Mau bagaimana lagi? kalau itu kemauan

  • Gelora Hasrat Terlarang   Dengarkan Curhatku

    Joan memicingkan mata, kerut halus di sudut-sudut matanya semakin dalam ketika menatap gadis cilik yang berdiri beberapa langkah darinya dengan posisi tangan di pinggang dan tatapannya penuh kejengkelan. Jujur saja, bersembunyi darinya selama dua hari terakhir adalah satu-satunya hiburan yang ia rasakan dalam lebih dari dua minggu, dan ekspresi murka gadis itu membuat semua usahanya seolah berbuah manis.Belum lagi soal sup itu. Ia harus mengakui keunggulannya dalam hal itu. Mungkin permainan ini akan ia perpanjang beberapa hari lagi jika Luna tidak muncul sambil membawa sup ke tempat persembunyiannya.Setelah menutup wadah itu perlahan, Joan menunggu langkah Luna berikutnya. Dan tak perlu menunggu lama, jari telunjuk bocah itu mengarah padanya dengan mata menyala geram, Luna mendesis."Aku benci kau, dan lagi bagaimana bisa Om Joan tahu aku bawa sup?"Joan mengetuk sisi hidungnya. Luna mendengus, lalu menjatuhkan diri ke tanah di depannya."Bahkan lewat wadah?" tanyanya, ketus."Bahk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status