แชร์

Masa Lalu yang Terbongkar

ผู้เขียน: Rucaramia
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-09 12:15:01

“Kenapa malah balik bertanya?”

Meski jawaban yang dia dapatkan berupa tanya balik dari Jiyya, Joan justru menatap wanita itu dengan sorot menggoda yang kembali hadir pada kedua matanya. Sambil menyeringai, dia kembali menggoda Jiyya dengan sangat entang. “Kau tahu, aku tidak bisa melupakan moment panas kita. Moment dimana aku mengambil keperawananmu, Jiyya.”

“A—apa—” Jiyya mendadak tergagap, rona merah mewarnai pipinya. Dan disaat itu pula dia sadar bahwa Joan hanya sedang mengolok-ngolok dirinya. “Kau tahu kalau itu bukan topik yang sedang kita bicarakan disini!” Jiyya menyentakan lengannya dari meja dan berbalik menghadap pria itu sambil mendengus.

Melihat seberapa ekspresifnya Jiyya, Joan malah terkekeh tulus. Tawa langka yang jujur saja selalu menular padanya. “Kau sekarang mirip sekali dengan Luna tadi,” ujarnya sambil tertawa pelan, ekspresi geli terpancar di wajah si pria.

Jiyya melirik sedikit, berusaha mempertahankan ekspresi kesalnya tetapi tawa Joan justru malah menular padanya. Membuat dia jadi ingin tersenyum, dan sekuat tenaga Jiyya menahan diri. Dia menggenggam kaleng bir miliknya lalu meneguk isinya dengan brutal. “Kau memang menyebalkan.”

“Jadi kau sebegitu ingin tahunya soal kehidupan pribadiku?” jawab Joan lagi masih dengan senyum yang sama, lalu mengangkat botol birnya sendiri pula dan meneguknya dengan santai.

Keheningan yang damai kembali lagi, sementara Jiyya lebih memilih memperhatikan putrinya yang sedang tertidur. Pikirannya sedikit merasa tenang dan damai, entah bagaimana tetapi seluruh rasa sepi yang selalu menghinggapi hilang begitu saja saat ini. Joan sendiri memperhatikan Jiyya dari posisinya.

Setelah beberapa saat, suaranya memecah keheningan. “Selalu ada sesuatu yang lebih penting untukku,” Joan berkata, sembari bersandar di kursinya dan menatap kosong pada kaleng birnya, sembari memiringkan ke arah wajahnya.

Jiyya menoleh ke arahnya seketika. “Hm?” tanyanya sebelum teringat pertanyaan yang dia ajukan kepada Joan sebelumnya. “Oh—"

Namun sebelum dia bisa mengatakan apa-apa, Joan justru malah melanjutkan pernyataannya. “Aku tidak pernah punya keluarga seperti yang kau tudingkan. Aku masih sendiri hingga hari ini.”

“Tapi anak perempuan yang kau gendong waktu itu?” Jiyya mulai protes. Dia jelas masih mengingat detail pertemuan terakhir mereka saat itu. Senyuman Joan dan seberapa bangganya dia ketika menggendong bocah cilik itu masih menghantuinya hingga detik itu.

“Dia bukan anakku.”

“Ap—”

“Ibunya memang Maria, tetapi aku bukan ayahnya dan dia bukan putriku. Aku hanya menggodamu karena kurasa kau lebih suka jawaban itu. Aku melihatnya… cincin di jari manismu sebelum kau memamerkannya padaku.”

Pengakuan itu menghantam dada Jiyya. Segalanya bercampur aduk, jadi waktu itu…

“Aku bilang padamu bahwa hanya kaulah yang aku inginkan. Aku tidak bisa membawa orang lain dalam duniaku hanya untuk melanjutkan hidup. Aku tidak menginginkan hubungan yang setengah-setengah, Jiyya,” kata Joan dengan tegas. Tanpa Jiyya sangka entah sejak kapan tangannya telah disentuh oleh sang pria sembari ditatap dengan sedemikian intens.

Kini Jiyya hanya bisa menatapnya dengan kedua mata terbelalak lebar, setiap untaian kata yang Joan ucapkan kepadanya seakan bergema di kepala. Joan menatapnya dengan cara yang belum pernah dia lakukan sebelumnya ketika mereka bicara. Sentuhan ringan yang dia berikan terasa penuh dengan makna. Bahkan dulu pun Joan tidak pernah menatapnya seperti ini. Lalu ini apa?

"Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkan yang tidak perlu. Aku masih sendiri jadi tidak ada yang menghambatku untuk pergi kemana pun sesukaku. Bahkan kalau kau mau menggunakanku, aku bersedia. Aku akan pastikan jika bersamaku kau tidak akan pernah kesepian, Jiyya," tambah Joan lagi sembari memberi elusan ringan pada punggung tangan Jiyya.

Ini sesuatu yang terasa salah dan suara pria itu entah bagaimana berbeda dari yang pernah Jiyya dengar. Jauh lebih rendah, lebih dalam dan sangat serius. Nadanya sama sekali tidak meninggalkan nada riangnya yang familiar. Mengisyaratkan sesuatu yang melanggar batas.

Tiba-tiba dengan tajam Jiyya merasakan dadanya sesak. Undangan macam apa yang pria itu gaungkan padanya sekarang?

Sadar bahwa sentuhan yang pria itu lakukan padanya terasa berbeda. Segera Jiyya menarik tangannya sendiri.

Penolakan dari Jiyya membuat pria itu bereaksi dengan menengadahkan kepala untuk menenggak habis isi kaleng birnya hingga tandas. Lalu meletakannya di atas meja setelah benar-benar kosong. “Sudah malam, aku harus pulang.”

Jiyya tidak sanggup mengeluarkan suara sedikitpun, hanya anggukan sederhana tanpa suara ketika dia menyaksikan setiap langkah yang Joan buat untuk membuat jarak diantara mereka. Ketika dia tiba di ujung ruang, dia berbalik sekali untuk menatap Jiyya. Dia sekarang tampak seperti orang asing. “Terima kasih untuk makan malamnya, masakanmu sungguh lezat, Jiyya.” Suaranya masih saja terdengar gelap dan pekat, dan itu membuat Jiyya merasakan kehangatan asing yang tak nyaman.

Ketika sosok pria itu betul-betul menghilang dan menyisakan dirinya sendirian. Jiyya menghela napas panjang. Dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Tangannya gemetar saat dia kembali mencoba menenggak sisa bir di kalengnya. Apa yang barusan dia dengar? Benarkah itu yang terjadi? Benarkah itu Joan?

***

Jiyya menyipitkan mata pada pria yang duduk dihadapannya, dia tampak sangat tekun dan teliti membaca beberapa berkas di atas meja satu persatu. Lalu sesekali pula dia menyisir rambutnya dengan jari dan mengangkat kertas lebih tinggi sehingga dia bisa menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

Sejauh ini, belum ada tanda-tanda kemunculan sikap aneh Joan seperti tadi malam. Tidak ada suara berat yang membuat kata-kata yang terucap jadi terngiang di kepala. Tidak ada tatapan tajam yang penuh dengan makna misterius yang ditujukan pada Jiyya. Tidak ada sentuhan menggoda yang membuat Jiyya nyaris memikirkannya semalaman

Lucunya, sikap Joan sekarang sangat normal seolah semalam tidak ada yang pernah terjadi. Joan seperti dirinya sendiri, sampai Jiyya berpikir bahwa yang terjadi semalam hanyalah efek dari mabuknya sendiri. Bukan sebuah realita melainkan mimpi.

“Kurasa kau bisa melubangi kepalaku kalau kau terus menatapku begitu. Dan oh... aku juga bisa salah tingkah kalau kau mengagumiku terus dengan matamu itu,” celetuk Joan dengan santai tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari kertas yang sedang di abaca.

Meskipun suaranya mengejutkan Jiyya, tetapi wanita itu dengan lihai berhasil menutupinya secara sempurna. “Kurasa kau begitu santai sampai bisa bolak-balik datang ke rumahku dan dengan cueknya bekerja seolah kau tinggal disini.” Jiyya kemudian menunjuk pada kertas-kertas yang berantakan di mejanya. “Dan ini… semua kertas ini, membuat rumahku jadi berantakan. Tidakkah kau seharusnya mencari tempat yang nyaman untuk menyelesaikan pekerjaanmu? Aku heran darimana datangnya kepercayaan dirimu sehingga kau bisa mengartikan caraku menatapmu adalah sedang mengagumimu.”

“Oh tidak perlu malu-malu begitu, Jiyya,” sahut Joan. “Hal itu memang selalu terjadi secara alami setiap kali kau memandangku, wajahku memang menarik dan aku tahu kau bisa sekalian mencuci mata karena ada aku. Tidak ada salahnya untuk bersikap jujur,” katanya sembari mengintip dari balik kertas untuk sekadar melihat ekspresi yang Jiyya sedang buat. “… apalagi dengan adanya aku, kau tidak akan kesepian lagi di rumah ini. Bukankah begitu?”

“Kau—”

“Mengejutkanmu? Ya, aku tahu,” potong Joan sembari melambaikan sebelah tangan. “Jadi, kemarilah Jiya… Kurasa dibandingkan kau menatapku, bagaimana kalau kau membantuku dengan ini? aku sangat tahu kalau kau adalah mahasiswi terpintar di kampus. Kau menyianyiakan kepintaranmu kalau hanya berdiam diri begitu. Dan… Kalau kau memberitahuku apa yang harus kulakukan dengan ini, pekerjaan ini akan jadi lebih cepat selesai.”

Matahari hampir terbenam sepenuhnya ketika Joan meletakan pena dan merenggangkan badannya di depan Jiyya. “Baiklah aku harus pergi,” kata pria itu sambil menggerakan lehernya kanan kiri hingga berbunyi. “Aku ada kencan.”

Untuk beberapa alasan kepala Jiyya langsung terangkat dan menatap pria itu lekat-lekat.

Joan menatapnya sejenak sebelum menambahkan, “… dengan Leon.”

“Oh…” Jiyya memutar mata dan merasa sedikit malu lantaran dia bereaksi spontan begitu, jadi untuk menutupi tingkah tak beresnya dia memilih menyibukan diri dengan merapikan kertas yang ada di atas meja.

Joan mengangkat sebelah alisnya ketika dia memperhatikan gerak-gerik Jiyya. “Kau tahu, kau bisa bergabung dengan kami.”

Jiyya berhenti sejenak untuk menatap Joan lekat-lekat. “Tidak terima kasih, aku tidak mau jadi obat nyamuk di acara kencan kalian,” timpalnya dengan nada pura-pura serius.

Joan hanya mengangkat bahu. “Jangan langsung menjudge sebelum kau mencobanya. Bisa saja kita main bertiga.”

“Joan!” seru Jiyya, agak tergundang. Nada suara yang keluar dari mulut Joan barusan mungkin ringan, tetapi ada sesuatu yang menyebalkan berikut pula dengan seringai yang dia pasang di wajah. Untuk beberapa alasan Jiyya merasa pipinya memanas.

Merasa puas lantaran telah menggoda habis-habisan mantan mahasiswinya itu, Joan pun melembutkan ekspresinya. “Sebenarnya kami tidak keluar berdua, melainkan berkelompok. Kau bisa datang bersamaku. Ngomong-ngomong kapan terakhir kau keluar?”

“Aku tidak bisa, Luna mungkin—”

“Dia sudah bisa menjaga dirinya sendiri, dia bukan balita, Jiyya. Jangan katakan padaku bahwa selama ini kau tidak pernah bersenang-senang sama sekali dan mengurung dirimu dirumah. Aku bertaruh bahwa Silvana pun akan ikut suaminya dipertemuan kami.”

Jiyya menghela napas. Pria itu benar… Entah sudah berapa lama dia tidak melakukan hal itu. Sejak menikah, dia sudah tidak pernah lagi bersenang-senang diluar dan lebih banyak menghabiskan waktu dirumah meskipun tidak ada yang dia lakukan juga. Seakan dia tidak diizinkan untuk bersenang-senang lagi. Luna memang bukan anak kecil lagi, dia bahkan sudah bisa mengurus dirinya dan melakukan banyak hal sendiri. Jadi… mungkin saja ajakan dari Joan bukan ide yang buruk.

“Oke,” ujar Jiyya menyetujui. “Aku akan menemuimu di pub.”

“Kalau kau tidak disana dalam waktu satu jam, aku akan kemari dan menyeretmu keluar dari rumah tak peduli kau suka atau tidak,” ancamnya yang membuat Jiyya tersenyum.

“Ya, ya, Sir Joan,” timpal Jiyya.

“Kau sudah janji untuk tidak menggunakan embel-embel ‘sir’ lagi, Jiyya,” sanggahnya.

Jiyya memberinya senyum tulus, lalu menganggukan kepala. Sementara Joan langsung menyeringai puas sembari membawa berkas yang beberapa saat lalu dia geluti di rumah Jiyya dan mulai bangkit ke arah pintu.

“Manusia aneh,” gumam Jiyya.

“Hei, aku mendengarnya loh.”

Jiyya menjulurkan lidahnya ketika pria itu berbalik di ambang pintu. “Manusia aneh,” katanya lagi dengan keras yang mengundang tawa kecil dari sang pria.

Memang beginilah seharusnya mereka, bukankah begitu?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gelora Hasrat Terlarang   Dean dan Aku

    Setelah Bestian meninggalkan rumah yang mereka tempati selama ini, akhirnya kedua mata Jiyya terlepas dari pintu yang ia pandangi selama beberapa saat dan beralih pada serpihan porselen yang berserakan di lantai dapur.Pernikahannya telah usai.Dalam banyak hal, rasanya seakan ia kehilangan jati dirinya sendiri. Selama hampir sepanjang ingatan yang dimilikinya, ia adalah gadis yang mencintai Bestian. Jika bukan gadis itu, maka siapakah dirinya?Ia menatap pecahan-pecahan tersebut, sebagian tergeletak di genangan air, sebagian lain ternodai dengan warna merah darah Bestian. Perlahan Jiyya berlutut dan mengangkat salah satu serpihan kecil. Bentuknya segitiga tak beraturan dengan sisi-sisi bergerigi, basah oleh teh dan darah, semua ini tampak asing di telapak tangannya. Siapakah dirinya kini?Menggenggam serpihan pertama, ia mengambil yang kedua, menjepitnya di antara telunjuk dan ibu jari, merasakan sudut tajamnya menekan kulit, lalu meletakkannya bersama yang lain di telapak tangannya

  • Gelora Hasrat Terlarang   Kuturuti Maumu

    “Kau tidak ada di sini, Bestian,” katanya, kini suaranya pecah, amarahnya runtuh meninggalkan luka yang mentah. “Kau tidak ada… dan kau bahkan tidak terlihat peduli bahwa aku sendirian, bahwa aku membesarkan putri kita sendirian. Lebih buruk dari itu…” Ia berhenti, menelan tangisnya. “Lebih buruk dari itu… kau seolah tidak peduli bahwa kau meninggalkan putri kita sendirian.” Kukunya menancap di telapak tangannya. “Kau lebih memilih bersama perempuan tua itu. Kau tidak pernah mengabari kami. Kau tidak pernah sekalipun ingat pada Luna. Kau bahkan tetap berangkat meski kita berselisih paham. Aku tahu kau punya simpanan. Aku juga sudah pernah melihatmu bersama disaat seharusnya kau pulang. Saat kutanya, kau selalu mangkir, dan membuatku seperti satu-satunya orang tak waras yang mempertanyakan apa yang aku lihat. Bisa-bisanya sekarang kau bersikap seolah suci padahal kau melakukannya lebih dulu dariku! Kau pikir aku tidak tahu? aku diam karena selalu memikirkan Luna. Dia butuh kau sebagai

  • Gelora Hasrat Terlarang   Menyatakan Kejujuran

    Keesokan paginya, Jiyya terbangun di atas ranjang yang kosong. Ia masih dapat merasakan Bestian tampaknya sedang ada di dapur, sementara kehadiran Luna telah lenyap. Barangkali putri mereka telah berangkat lebih dulu kala itu. Perutnya terasa bergejolak. Inilah kesempatannya. Bestian sedang ada di rumah dan Luna tidak ada. Ia tidak bisa lagi menundanya.Tiba-tiba, perutnya terasa seperti sarang lebah yang terusik, ribuan sengat tak kasatmata berputar putar di dalam dirinya. Namun ia harus melakukannya. Ia memejamkan mata rapat rapat, menekan dahinya dengan kepalan tangan. Ia harus melakukannya. Tidak adil bagi siapa pun untuk terus menyeret luka ini dalam diam.Dengan helaan napas panjang yang berat, ia mengumpulkan serpihan keberanian yang tersisa, lalu menyingkirkan selimut dan bangkit untuk mengenakan pakaiannya. Bestian duduk di meja, secangkir teh berada di tangannya. Ia tengah membaca koran, namun ia mengangkat wajahnya ketika Jiyya memasuki ruangan.“Selamat pagi,” ucapnya tena

  • Gelora Hasrat Terlarang   Pulang

    Jiyya dan Luna baru saja menuntaskan makan malam mereka dan tengah membereskan meja, ketika Bestian tiba-tiba pulang dari pekerjaannya. Tepat ketika mendengar bunyi halus kenop pintu yang berputar, organ jantung Jiyya seakan luruh jatuh ke dalam perutnya. Tubuh pun ikut membeku seketika, sebuah piring masih tergenggam di tangan.Sebaliknya, Luna justru tersenyum lebar, matanya berbinar bagai fajar yang baru terbit, lalu berlari menuju pintu masuk. “Papa!” serunya riang, kedua lengannya melingkar erat di pinggang ayahnya saat pria itu melangkah masuk ke dalam rumah.Dengan segenap kekuatan yang tersisa, Jiyya memaksa wajahnya membentuk senyum yang tampak wajar. Ia menyaksikan Bestian membalas pelukan putri mereka. Ketika Luna menoleh sebentar ke arahnya dan memberi tatapan kecil yang sarat kekhawatiran, Jiyya membalasnya dengan sorot mata yang lembut, sebuah janji tanpa suara bahwa segalanya baik-baik saja. Namun, pada saat itulah pandangannya jatuh pada buku buku jari Bestian yang leb

  • Gelora Hasrat Terlarang   She is My Wife

    Bestian tak lagi berminat bermain kata. Tangannya mencengkeram gagang pedang di pinggangnya. Jemarinya memutih karena tekanan. “Dia istriku,” katanya, setiap suku kata terdengar seperti gigi yang digesekkan.Senyum itu lenyap dari wajah Joan. Ia menurunkan serbet yang kini bernoda merah. “Ya,” ujarnya tenang. Pandangannya sempat melirik pedang itu sebelum ia meraih gelasnya. “Dan rupanya butuh ancaman kehilangan Jiyya kepada pria lain untuk membuatmu mengingatnya. Dulu saja kau tidak peduli, terus membuatnya menderita, meninggalkan dia dengan alasan pekerjaan padalah sebenarnya selingkuh dibelakangnya dengan perempuan tua.”Nada getir tak mampu sepenuhnya ia sembunyikan. Ada kemarahan lama yang menyelinap ke dalam suaranya, kemarahan yang jarang ia izinkan muncul. Ia meneguk birnya, menekan serbet baru ke hidungnya, berusaha meredam bara yang hampir meluap.Bestian menatapnya dengan rahang mengeras, namun tak segera membalas.Sunyi yang tegang menggantung di antara mereka.“Dia tidak

  • Gelora Hasrat Terlarang   Pukulan

    Itu terjadi tiga hari yang lalu.Kini Joan berdiri memandangi papan nama sebuah penginapan tempat ia dan rekan kerjanya menginap di kota lain. Kota yang sama dimana ia, Jiyya dan Luna singgahi untuk pekerjaan wanita itu. Tempat ini punya banyak kenangan, sekaligus membuka tabir baru yang baru terkuat belum lama. Joan lalu menghela napas panjang.Rekan kerjanya punya karakter yang setia pada sifat malasnya dan telah terlelap tak lama setelah jamuan makan malam bersama para petinggi usai. Sementara itu, ia tahu matanya takkan mudah terpejam. Ada terlalu banyak bayangan yang berkelindan dalam pikiran. Jadi Joan memutuskan berjalan menuju sebuah bar yang sempat ia lihat saat memasuki kota.Tempat itu redup dan agak kusam, tidak ramai, bahkan cenderung diabaikan. Namun justru itu yang ia butuhkan. Ia hanya ingin beberapa gelas bir, ingin membiarkan cahaya temaram, asap rokok yang menggantung di udara, gumaman percakapan mabuk, serta bunyi bola biliar yang beradu, menenggelamkan pikirannya.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status