Home / Rumah Tangga / Gelora Hasrat Terlarang / Sebatas Itukah yang Kau Tahu?

Share

Sebatas Itukah yang Kau Tahu?

Author: Rucaramia
last update Last Updated: 2025-10-08 10:43:14

Jiyya tidak bertemu dengan Joan lagi selama beberapa hari setelah kejadian lari pagi waktu itu. Dia bisa saja bilang kalau alasan mengapa mereka tidak bersua adalah karena dirinya sibuk dirumah, tapi itu hanya argumentasi yang setengahnya benar saja.

Bagian lainnya adalah Jiyya memang sengaja menghindari lelaki itu sebisa mungkin.

Kata-kata yang Joan ucapkan agak melukai dirinya terlalu dalam lantaran kata-kata itu terlalu dekat dengan apa yang memang Jiyya pikirkan jauh di lubuk hatinya. Dan pria itu berhasil menyuarakannya keras-keras hingga Jiyya tidak sanggup mendengarnya sendiri.

Dia tahu bahwa pertemuannya dengan Joan akan sedikit menyulitkan Jiyya untuk kembali menutup diri. Jadi Jiyya sebisa mungkin menjauhi tempat-tempat potensial pertemuan mereka saat keluar rumah, meskipun itu berarti dia harus melalui jalan yang memutar. Jiyya hanya merasa butuh waktu untuk mengingatkan pada dirinya sendiri tentang mengapa hidup yang telah dia pilih adalah opsi terbaik.

Tapi sialnya jelas dia tidak bisa menghilang selamanya.

Tepatnya ketika menjelang sore, diwaktu dimana putrinya pulang les. Jiyya mengira itu Luna yang mengetuk pintu. Jadi Jiyya segera meletakan pisau, menyeka tangannya yang sedikit kotor dengan celemek lalu pergi ke ruang tengah untuk membuka pintu. Namun begitu pintu terbuka, sosok yang berdiri di hadapannya bukan cuma Luna seorang, melainkan seorang pria yang tersenyum ramah kepadanya.

“Kurasa dia milikmu?” kata Joan sembari mendorong Luna pelan masuk ke dalam rumah. Luna tampak cemberut sambil menghentakan kaki dan mendengus lalu menjauh dari pria yang mengantarkannya pulang.

Ekspresi yang Joan buat sekarang tampak menjadi sangat serius ketika mereka bertemu pandang. Saat dia tidak mengatakan apapun, Jiyya memutuskan untuk menyela dengan mengangkat alis tak sabar lantaran dipandang dengan cara yang membuatnya tak nyaman. “Jadi?”

Joan mengerutkan kening, meluangkan waktu sebentar untuk membangun ketegangan. Jiyya memutar bola mata ketika pria itu tak kunjung bersuara. Namun melihat gelagat Jiyya, Joan segera bicara dengan serius. “Jadi aku tidak sengaja bertemu dengan putrimu dan…”

“Dan?”

“Dia sedang dikepung anak laki-laki di gang sempit.” Joan berhenti sejenak untuk memberikan efek dramatis, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. Merendahkan suaranya sendiri dan mengungkapkan bagian terburuknya. “Ketika aku bermaksud menyelematkannya dia malah berbalik memukulku.”

Erangan frustasi terdengar dari arah si gadis cilik. “Aku cuma sebal karena dia menggangguku, Ma! Kalau tidak ada dia aku sudah akan menumbang anak-anak nakal itu dengan tinjuku,” sela Luna keras, nadanya terdengar sangat marah.

Melihat wajah putrinya yang kesal dan tangan terkepal, Jiyya nyaris tertawa terbahak-bahak, dia jadi teringat hari dimana dirinya berkelahi dulu dan sama sepertinya, dulu pun dia kesal lantaran tidak sempat menghabisi semua orang yang mengganggu. Alih-alih dengan keras menertawakan ulah putrinya, dia justru melirik ke arah Joan dan menyadari bahwa pria itu juga tampaknya mengingat moment yang sama dulu.

Tatapan mereka bertemu sejenak, lalu keduanya pun mengalihkan pandangan karena Luna kembali angkat bicara. “Dia benar-benar tukang ikut campur. Kalau saja dia bukan teman Papa dan Mama aku pasti sudah menghajarnya sampai terkapar!” kata gadis itu dengan berapi-api.

Ketika Jiyya sudah dapat mengatur suaranya untuk tidak menertawakan ulah putrinya, dia pun pada akhirnya angkat bicara. “Aku paham maksudmu, sayang. Tapi kau juga tidak seharusnya menyerang pria tua…” Jiyya bisa merasakan tatapan tak senang dari Joan ketika dia memanggilnya dengan sebutan pria tua. “… yang bermaksud baik padamu.”

“Ya, Ma,” gumam Luna.

“Sekarang bersihkan dirimu, sebentar lagi makanannya siap.”

Luna tidak mengatakan apapun lagi setelahnya dan dengan patuh dia mengikuti intruksi sang mama sebelum menatap Joan dengan tatapan tajam. Joan sendiri hanya membalas tatapan itu dengan sebuah senyuman cerah.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau dia putriku?” tanya Jiyya pada Joan begitu putrinya telah menghilang dan dia yakin kalau Luna tidak akan mendengar percakapan mereka.

Oh tentu saja, selama ini dia belum pernah memperkenalkan Luna padanya. Pertemuan mereka juga selalu berlangsung singkat dan hanya berdua saja. Jadi agak aneh baginya ketika Joan tiba-tiba saja mengantarkan putrinya pulang dengan sangat kasual.

“Aku memang tahu,” sahut Joan dengan nada ceria. “Itu adalah salah satu kelebihanku.”

“Dengan semua hal yang mengejutkan darimu, tidak mengherankan kalau ada orang yang merasa sebal dengan tingkah lakumu,” balas Jiyya.

“Termasuk kau?”

“Termasuk aku.”

Joan lalu melirik ke arah pintu yang hanya terbuka untuk satu orang. Lalu menatap kedua mata Jiyya lagi dengan penuh pengharapan. “Jadi, meski aku sudah menyelamatkan putrimu dari para pengganggu, kau tidak punya niat untuk memberikan ucapan terimakasih yang layak untukku?”

Jiyya mendecakan lidahnya, sebelum kemudian dia membuka lebar pintu yang sedang dia pegang sedari tadi. “Kau mau malam disini?”

“Dengan senang hati,” sahut Joan sembari bersenandung riang dan berjalan melewati Jiyya menuju ke ruang tamu. Jiyya sendiri mengikuti langkah pria itu, dia bisa merasakan antara rasa kesal dan juga sayang.

Percayalah, pria itu berhasil mengejutkannya lagi. Setelah mengatakan sesuatu yang meresahkannya selama beberapa hari, dia bisa-bisanya tiba-tiba muncul disini dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka berdua.

***

Beberapa jam kemudian, makan malam telah selesai. Piring dan seluruh alat makan telah dibersihkan dan Luna bahkan telah tertidur di sofa setelah menjalani hari yang sibuk. Jiyya mengambil dua kaleng bir dari dalam kulkas, dan menawarkannya pada Joan. Pria itu tanpa ragu langsung menerima dan keduanya pun larut dalam keheningan di dapur yang terasa damai ketika mereka duduk berhadapan di meja makan sembari menyesap minuman masing-masing.

“Dia tampak sangat polos seperti itu,” kata Joan sembari menatap wajah Luna yang sedang tertidur.

“Memang,” sahut Jiyya setuju. “Sulit dipercaya aku telah merawatnya hingga dia tumbuh besar, bahkan sekarang dia sudah pandai mengarang cerita untuk membela dirinya sendiri.”

Joan mengangguk, senyum tipis tersungging di wajahnya sebelum dia menyesap lagi.

Jiyya sendiri malah terkikik geli ketika dia mengingat ekspresi wajah putrinya yang murka beberapa saat lalu. “Aku bisa memahami perasaan putriku, memukulmu bukan kesalahan karena kau memang menyebalkan.”

“Tapi tampan dan rupawan,” tambah Joan sembari mengangkat bahu dan tersenyum miring.

Jiyya menggelengkan kepala. “Kepedean.”

“Itu fakta, tidak bisa terelakan bahkan kau pun pernah terpesona dengan wajah tampan ini.”

“Masih berani membahas itu?”

“Kenapa tidak berani?”

“Dasar brengsek!”

“Tidak boleh bicara kasar, Nona Jiyya.”

“Memang tidak, tapi kepadamu itu wajar, Sir Joan.” Jiyya menjulurkan lidah padanya. Sementara pria itu hanya terkekeh dan kembali mereka terdiam dalam kenyamanan.

Dengan seluruh rumah yang diliputi oleh kegelapan dan sekaleng bir yang menghangatkan perut, segalanya mulai terasa agak mengabur dalam cahaya keemasan di ruang dapur. Jiyya sudah mendapati dirinya memperhatikan jari jemari Joan yang memegang kaleng birnya, sesekali menelusuri pinggirannya. Dia bertanya-tanya dalam hati bahwa jari-jari itu dulu adalah jemari yang pernah dia genggam dan berhasil menghangatkan hatinya. Saat itu, dia merasa terlalu sulit mempercayai bahwa mereka masih bisa bertingkah begini walaupun ada banyak hal yang telah terjadi.

Menyadari tatapan Jiyya, Joan lantas melepaskan tangannya dari kaleng dan meletakan dagu diatasnya. Kedua mata Jiyya mengikuti gerakan Joan hingga dia menatap rahang Joan yang kini berjanggut. Dia jauh lebih maskulin dengan itu, apalagi dengan rambut pendek dan tambahan kacamata yang membingkai kedua matanya yang indah. Saat itulah kedua mata mereka bertemu dan untuk pertama kalinya tidak ada sedikit pun Jiyya temukan raut menggoda dan main-main darinya. Justru ada kedalaman yang tak terdefinisi yang Jiyya dapati.

Jiyya terkejut dengan cara lembut Joan memandangnya, sehingga dia pun langsung mengalihkan pandangan agar dirinya tak goyah. Tetapi kemudian dia mengingat bahwa dia adalah istri orang lain, dia adalah seorang ibu dan pria ini hanyalah cintanya di masa lalu. Jadi dia pun memutuskan untuk mengangkat sikunya sendiri ke meja dan menyandarkan pipinya ke telapak tangan seraya memiringkan wajahnya ke arah Joan.

“Aku sering bertanya-tanya bagaimana rasanya tertidur dan bangun di atas ranjang yang sama dengan orang yang kita cintai setiap hari,” renung Jiyya, pandangannya kini tak menentu. Fokusnya beralih dari wajah Joan kemudian ke dinding.

Joan menatapnya dengan cara yang tak terbaca sebelum kemudian menghembuskan napas dan bicara. “Entah,” jawabnya singkat. Suaranya tidak menunjukan adanya emosi apapun.

Jiyya terdiam beberapa menit, akhirnya karena rasa penasaran dan pertanyaan yang telah dia simpan lama menyeruak keluar dengan mudah. Muncul keberanian yang tidak dia duga. “Kenapa entah? Bukankah kau menikahi wanita cantik itu lebih dulu dan sudah punya anak saat terakhir kali kita bertemu?”

“Hmmm… hanya sebatas itukah yang kau tahu tentang aku, Jiyya?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gelora Hasrat Terlarang   Dean dan Aku

    Setelah Bestian meninggalkan rumah yang mereka tempati selama ini, akhirnya kedua mata Jiyya terlepas dari pintu yang ia pandangi selama beberapa saat dan beralih pada serpihan porselen yang berserakan di lantai dapur.Pernikahannya telah usai.Dalam banyak hal, rasanya seakan ia kehilangan jati dirinya sendiri. Selama hampir sepanjang ingatan yang dimilikinya, ia adalah gadis yang mencintai Bestian. Jika bukan gadis itu, maka siapakah dirinya?Ia menatap pecahan-pecahan tersebut, sebagian tergeletak di genangan air, sebagian lain ternodai dengan warna merah darah Bestian. Perlahan Jiyya berlutut dan mengangkat salah satu serpihan kecil. Bentuknya segitiga tak beraturan dengan sisi-sisi bergerigi, basah oleh teh dan darah, semua ini tampak asing di telapak tangannya. Siapakah dirinya kini?Menggenggam serpihan pertama, ia mengambil yang kedua, menjepitnya di antara telunjuk dan ibu jari, merasakan sudut tajamnya menekan kulit, lalu meletakkannya bersama yang lain di telapak tangannya

  • Gelora Hasrat Terlarang   Kuturuti Maumu

    “Kau tidak ada di sini, Bestian,” katanya, kini suaranya pecah, amarahnya runtuh meninggalkan luka yang mentah. “Kau tidak ada… dan kau bahkan tidak terlihat peduli bahwa aku sendirian, bahwa aku membesarkan putri kita sendirian. Lebih buruk dari itu…” Ia berhenti, menelan tangisnya. “Lebih buruk dari itu… kau seolah tidak peduli bahwa kau meninggalkan putri kita sendirian.” Kukunya menancap di telapak tangannya. “Kau lebih memilih bersama perempuan tua itu. Kau tidak pernah mengabari kami. Kau tidak pernah sekalipun ingat pada Luna. Kau bahkan tetap berangkat meski kita berselisih paham. Aku tahu kau punya simpanan. Aku juga sudah pernah melihatmu bersama disaat seharusnya kau pulang. Saat kutanya, kau selalu mangkir, dan membuatku seperti satu-satunya orang tak waras yang mempertanyakan apa yang aku lihat. Bisa-bisanya sekarang kau bersikap seolah suci padahal kau melakukannya lebih dulu dariku! Kau pikir aku tidak tahu? aku diam karena selalu memikirkan Luna. Dia butuh kau sebagai

  • Gelora Hasrat Terlarang   Menyatakan Kejujuran

    Keesokan paginya, Jiyya terbangun di atas ranjang yang kosong. Ia masih dapat merasakan Bestian tampaknya sedang ada di dapur, sementara kehadiran Luna telah lenyap. Barangkali putri mereka telah berangkat lebih dulu kala itu. Perutnya terasa bergejolak. Inilah kesempatannya. Bestian sedang ada di rumah dan Luna tidak ada. Ia tidak bisa lagi menundanya.Tiba-tiba, perutnya terasa seperti sarang lebah yang terusik, ribuan sengat tak kasatmata berputar putar di dalam dirinya. Namun ia harus melakukannya. Ia memejamkan mata rapat rapat, menekan dahinya dengan kepalan tangan. Ia harus melakukannya. Tidak adil bagi siapa pun untuk terus menyeret luka ini dalam diam.Dengan helaan napas panjang yang berat, ia mengumpulkan serpihan keberanian yang tersisa, lalu menyingkirkan selimut dan bangkit untuk mengenakan pakaiannya. Bestian duduk di meja, secangkir teh berada di tangannya. Ia tengah membaca koran, namun ia mengangkat wajahnya ketika Jiyya memasuki ruangan.“Selamat pagi,” ucapnya tena

  • Gelora Hasrat Terlarang   Pulang

    Jiyya dan Luna baru saja menuntaskan makan malam mereka dan tengah membereskan meja, ketika Bestian tiba-tiba pulang dari pekerjaannya. Tepat ketika mendengar bunyi halus kenop pintu yang berputar, organ jantung Jiyya seakan luruh jatuh ke dalam perutnya. Tubuh pun ikut membeku seketika, sebuah piring masih tergenggam di tangan.Sebaliknya, Luna justru tersenyum lebar, matanya berbinar bagai fajar yang baru terbit, lalu berlari menuju pintu masuk. “Papa!” serunya riang, kedua lengannya melingkar erat di pinggang ayahnya saat pria itu melangkah masuk ke dalam rumah.Dengan segenap kekuatan yang tersisa, Jiyya memaksa wajahnya membentuk senyum yang tampak wajar. Ia menyaksikan Bestian membalas pelukan putri mereka. Ketika Luna menoleh sebentar ke arahnya dan memberi tatapan kecil yang sarat kekhawatiran, Jiyya membalasnya dengan sorot mata yang lembut, sebuah janji tanpa suara bahwa segalanya baik-baik saja. Namun, pada saat itulah pandangannya jatuh pada buku buku jari Bestian yang leb

  • Gelora Hasrat Terlarang   She is My Wife

    Bestian tak lagi berminat bermain kata. Tangannya mencengkeram gagang pedang di pinggangnya. Jemarinya memutih karena tekanan. “Dia istriku,” katanya, setiap suku kata terdengar seperti gigi yang digesekkan.Senyum itu lenyap dari wajah Joan. Ia menurunkan serbet yang kini bernoda merah. “Ya,” ujarnya tenang. Pandangannya sempat melirik pedang itu sebelum ia meraih gelasnya. “Dan rupanya butuh ancaman kehilangan Jiyya kepada pria lain untuk membuatmu mengingatnya. Dulu saja kau tidak peduli, terus membuatnya menderita, meninggalkan dia dengan alasan pekerjaan padalah sebenarnya selingkuh dibelakangnya dengan perempuan tua.”Nada getir tak mampu sepenuhnya ia sembunyikan. Ada kemarahan lama yang menyelinap ke dalam suaranya, kemarahan yang jarang ia izinkan muncul. Ia meneguk birnya, menekan serbet baru ke hidungnya, berusaha meredam bara yang hampir meluap.Bestian menatapnya dengan rahang mengeras, namun tak segera membalas.Sunyi yang tegang menggantung di antara mereka.“Dia tidak

  • Gelora Hasrat Terlarang   Pukulan

    Itu terjadi tiga hari yang lalu.Kini Joan berdiri memandangi papan nama sebuah penginapan tempat ia dan rekan kerjanya menginap di kota lain. Kota yang sama dimana ia, Jiyya dan Luna singgahi untuk pekerjaan wanita itu. Tempat ini punya banyak kenangan, sekaligus membuka tabir baru yang baru terkuat belum lama. Joan lalu menghela napas panjang.Rekan kerjanya punya karakter yang setia pada sifat malasnya dan telah terlelap tak lama setelah jamuan makan malam bersama para petinggi usai. Sementara itu, ia tahu matanya takkan mudah terpejam. Ada terlalu banyak bayangan yang berkelindan dalam pikiran. Jadi Joan memutuskan berjalan menuju sebuah bar yang sempat ia lihat saat memasuki kota.Tempat itu redup dan agak kusam, tidak ramai, bahkan cenderung diabaikan. Namun justru itu yang ia butuhkan. Ia hanya ingin beberapa gelas bir, ingin membiarkan cahaya temaram, asap rokok yang menggantung di udara, gumaman percakapan mabuk, serta bunyi bola biliar yang beradu, menenggelamkan pikirannya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status