ログインDia berubah. Dulu, dia hanya gadis remaja yang terpaksa kunikahi demi baktiku pada Umi. Tapi sekarang, setelah tujuh tahun berlalu, dia menjelma menjadi wanita dewasa yang cantik, pintar dan anggun. Bisakah aku mendapatkannya kembali di sisiku? sementara saat ini, ada lelaki lain yang bergelar calon suami?
もっと見るKyle Jackson cheated.
Candice stood outside the CEO’s office.
A cold chill seeped through her as if she were wrapped in a sheet of ice. Her black high heels seemed to melt into the dark-veined marble floor.
After a moment, she raised her hand and knocked on the door.
“Come in,” came a deep male voice from inside.
Candice tightened her grip slightly on the documents in her hand and opened the door with the other.
As soon as she stepped inside, a soft smile appeared on her lips. She walked straight to the man’s side.
“Busy? I’ve got a few urgent documents that need your signature.”
Though she asked if he was busy, she had already placed the documents in front of him, even thoughtfully flipping to where he needed to sign.
Kyle had just returned this morning from a business trip to Switzerland.
He had come straight to the office to handle work. His desk was already piled with files, and his usually sharp, aristocratic face showed signs of fatigue.
Without even glancing at the documents handed to him, he signed every page.
“Thanks for your hard work.”
Candice gathered the signed documents, then casually asked, “Will you be home for dinner tonight?”
“I’ve got plans. Don’t wait for me,” he replied without even looking up.
“Alright, then I’ll head out.”
Candice turned and walked away with the documents.
But the moment she turned around, the smile on her face turned into one of icy mockery.
As she passed the lounge attached to the office, she heard a faint sound—like a kitten or puppy hopping off a bed. She glanced toward the sofa.
There were scattered snack wrappers on the coffee table, a half-finished milk tea, and on the floor, a toppled pale pink high heel…
In an instant, she understood. Her heart turned to ash.
Candice returned to her own office.
It felt as if the short walk back had drained all her energy. When she finally sat down, she let out a long, weary breath.
From the pile of documents, she pulled out one.
The divorce agreement.
Flipping to the last page, she traced his signature with a mocking expression, recalling the past…
His once-passionate vow to marry her.
Her mother-in-law’s sneering reminder not to get too full of herself—"A man can never love just one woman."
And how she once believed, “We’re different.”
Ha. Different? What a joke.
He was cheating with a young girl and thought he’d hidden it well, shamelessly enjoying the thrill of the affair.
This recent business trip? He took that girl along.
And now he’d even brought her back to the company.
Candice pulled her hand back and snapped a photo of the signed page, sending it to her mother-in-law with a short message: He signed.
A week ago, she had negotiated a deal with her mother-in-law.
The woman demanded Candice initiate the divorce and keep their secret marriage hidden.
In return, she agreed to a ten-billion-yuan settlement.
In one month, she’d make sure Kyle was completely out of her life.
Knock knock—
Someone knocked on the door.
Candice quickly put away the agreement. “Come in.”
The door opened, and in walked Terry, Kyle’s assistant.
“Miss Hale, the CEO asked me to bring this to you,” he said, placing an emerald velvet box on her desk.
She opened it carelessly. Inside was an exquisite, likely very expensive diamond jewelry set.
And the first image that flashed through her mind?
A girl with short hair and dreamy eyes in a bathrobe, carelessly dangling a diamond necklace, soft lights behind her, a messy bed, kiss marks stark against pale skin…
Disgust churned in her stomach.
“Thank you, Assistant He.”
She lifted her gaze. Her eyes were like blades.
Terry felt a chill run down his spine.
Nervous, he blurted, “The CEO picked it out himself—it’s a one-of-a-kind set.”
Too bad his heart wasn’t one-of-a-kind.
She didn’t want it anymore.
Candice smiled faintly.
“Oh, is that so? How touching—he found time to buy me a gift despite his busy schedule.”
Something about her tone felt… off.
Terry broke into a cold sweat. Does she know… about Miss Jones?
Without another word, he quickly left the office.
Candice looked at the jewelry with a look of disdain, as if it were something filthy.
She took out her phone, snapped a photo, and sent it to a luxury resale dealer:
Sell this for me. Donate the money to a children’s foundation for the mentally disabled.
The resale dealer: "…"
***
5:00 PM. Parking garage.
Candice had just reached her car and opened the door when her gaze unintentionally swept across to the opposite side—where another car was already running.
Through the window, she saw Kyle in the backseat.
And next to him, the short-haired girl was sitting close, radiating youthful energy and cuteness.
“President—!”
Terry shouted in panic and slammed on the brakes.
Through the glass and across the space between them, Candice and Kyle locked eyes.
"Kamu mau beli apa?""Daster palingan Mas.""Buat Alina sama Ulya juga?""Iya, buat Umi juga.""Oke."Dasarnya aku wanita, ya aku seperti wanita kebanyakan. Kalab kalau sudah perihal belanja. Beruntung suamiku tidak masalah, bahkan dengan ikut antusias membantuku memilihkan model daster untuk aku, dan tiga wanita terkasihnya yang lain. Bahkan, tak lupa kami membeli daster-daster lucu untuk Keisya. Setelah semua urusan di Unnes maupun di Undip selesai, Gus Arnaf tak langsung membawaku pulang. Aku langsung dibawanya menuju ke Jogja. Rupanya dia benar-benar memanfaatkan ijin cutinya dengan baik. Kami berencana di sini selama satu hari satu malam. Besok baru pulang ke rumah."Kamu sayang banget sama Keisya." Gus Arnaf mengomentariku yang tengah asik memilih daster untuk anak-anak."Keisya gemesin tahu gak sih, Mas. Pokoknya tiap liat baju anak cewek, aku selalu ingatnya Keisya.""Alina bisa cemburu kamu duain dia loh.""Dih. Bilang aja Mas Arnaf yang cemburu.""Gak kok. Aku malah seneng l
Aku sedang membelai pria yang berubah manja kalau kami hanya berdua seperti ini. Gus Arnaf suka sekali menaruh kepalanya di pangkuanku sambil rebahan. Saat aku sedang membelai kepalanya, aku menemukan bekas luka di area kepala sebelah kanan. "Mas." "Hem." "Aku kok baru sadar ini, di kepalamu ada bekas luka, mana cukup besar lagi." "Oh itu bekas kecelakaan." "Njenengan pernah kecelakaan?" "Waktu mau KKN. Aku sama tiga teman yang satu tempat sama aku, berencana mengunjungi tempat KKN dulu. Ceritanya biar kita tahu tempatnya dimana, lokasinya kayak apa, masyarakatnya gimana gitu. Nah, kita akhirnya memutuskan naik mobil. Aku yang jadi sopir. Tapi ... baru juga setengah jalan, kami terlibat kecelakaan. Mobil kita disalip tapi yang nyalip kaget karena dari arah berlawanan ada truk. Banting setir deh, ke kiri. Nah, waktu itu aku yang lagi nyetir langsung kena hantam dari mobil yang nabrak kita. Aku gak sempat menghindar karena kejadiannya cepet banget." "Innalilahi, semua tema
Urusan Kost selesai dan Mas Arnaf sudah membayar DP-nya, kami pun memutuskan kembali ke hotel. Sampai sana, kami langsung membersihkan diri. Aku langsung rebahan, rasanya lelah sekali. Gus Arnaf juga ikutan rebahan. Tapi, sudah kubilang kan? Napsu suamiku memang terlalu besar. Bukannya membiarkan aku beristirahat malah mengajakku bekerja sangat keras. Sejak tadi tangan dan bibirnya sudah nakal menjelajahi bagian tubuhku. "Njenengan ya, emang gak bisa lihat aku santai." "Gak bisa. Ingat tujuan kita ke sini, ngurusin urusan kuliah kamu dan bulan madu. Karena semua urusan sudah beres saatnya kita bulan madu," ucapnya sambil melucuti kain yang menempel pada tubuhku. "Dasar mesum," ucapku sambil menarik hidungnya yang mancung. Aku sangat menyukai hidung mancung suamiku. Aku berharap kalau punya anak, semua anakku meniru hidung Gus Arnaf yang bak papan luncur beda denganku yang tergolong mungil meski bukan kategori pesek juga. "Mesum sama istri sendiri itu bagus tahu." "Awas saja mes
Rasanya sudah lama sekali aku tak merasakan rasanya disayangi oleh seorang lelaki. Sejak kecil, aku sudah kehilangan sosok ayahku. Sehingga mendapatkan limpahan kasih sayang dan perhatian dari lelaki yang kini bergelar suamiku rasanya menyenangkan sekali. Selama ini aku pikir dia hanya lelaki ketus, dingin dan galak. Ternyata ada banyak sisi yang tidak kuketahui tentang dirinya. Di balik sikap cueknya, ternyata Gus Arnaf adalah lelaki yang perhatian dan penyayang. Tanpa terasa waktu terus berlalu. Sudah tiga bulan aku menjadi istrinya. Selama dua bulan terakhir, hubungan kami yang baik mengantarkan hal-hal yang baik pula untukku. Aku juga sudah selesai ujian hafizoh. Dan mau tak mau aku harus berterima kasih pada suamiku, berkat dia yang meluangkan waktunya yang super sibuk untuk membantu, aku jadi mudah menyelesaikan hapalan. Masalah kuliah juga sudah beres.Setelah melakukan berbagai proses panjang, kini aku resmi diterima di Unnes untuk jurusan pendidikan IPA. Bulan Agustus mulai
Aku hanya bisa menghela napas. Lagi-lagi aku mendapat chat berisi ancaman dari nomer asing. Sejujurnya aku sudah mempunyai dugaan siapa dalangnya tapi aku berusaha tak menggubrisnya. Fokusku kini hanyalah menjalani hidup, fokus hapalan dan masuk ke universitas. Sementara untuk masalah pernikahanku,
"Kamu nyari apa?" tanya Gus Arnaf saat aku sibuk mencari minyak kayu putih di tas gendong kecil milikku."Nyari minyak kayu putih," ucapku tanpa melihatnya. Soalnya aku sibuk mencari minyak kayu putih.Aku senang karena berhasil menemukannya. Segera saja aku duduk di sisi ranjang. Tanpa membuka muk
Beberapa hari ini aku merasa ada yang aneh dengan sikap Gus Arnaf. Dulu dia yang seringnya cuek padaku, terlihat lebih memperhatikan kehadiranku.Dia selalu pamit kalau akan berangkat bekerja. Gus Arnaf bekerja di RSUD saat siang. Sementara di sore hari, dia bekerja di salah satu rumah sakit swasta
"Kamu kenapa dorong aku? Sakit tahu gak?" teriak Gus Arnaf.Aku tak mempedulikan perkataannya malah sibuk mengamati keadaanku. Aku menghembuskan napas, merasa lega karena bajuku masih nempel dan artinya, semalam tidak terjadi apa-apa.Lalu kutatap Gus Arnaf yang mencoba bangun. "Gus Arnaf ngapain












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー