Share

Bab 5

last update Last Updated: 2025-09-02 11:41:09

Langkah Dania berhenti di depan gerbang besi besar yang menjulang tinggi, menghalangi pandangan langsung ke arah rumah megah di dalamnya.

Gerbang itu berdiri kokoh, dicat hitam mengkilap, dengan ukiran-ukiran klasik yang menambah kesan mewahnya. Dari balik sela-sela, Dania bisa melihat sekilas betapa mewahnya rumah yang berdiri cukup jauh dari gerbang.

Pandangannya langsung tertuju pada balkon kamar di lantai dua. Balkon indah yang dulu bisa ia nikmati pemandangannya di setiap pagi.

Napasnya memburu. Jantungnya berdegup kencang, seakan hendak meledak keluar. Malam itu udara dingin menusuk, tapi telapak tangannya justru berkeringat dingin.

Ia berdiri lama, memeluk perutnya yang mulai membesar, matanya menelisik dari balik gerbang. Ada harapan yang tumbuh di sana, harapannya untuk melihat dua wajah yang paling ia rindukan, kedua kakaknya, Axel dan Davin.

Namun sebelum sempat melangkah lebih jauh, salah satu satpam yang berjaga di pos dekat gerbang menoleh. Pria paruh baya itu tampak menyipitkan mata, memastikan penglihatannya.

Seketika ia berseru setelah yakin bahwa yang ia lihat tidak salah. “Loh, bukannya itu Non Dania?”

Sontak tiga satpam lainnya ikut menoleh ke arah yang ditunjuk. “Eh iya! Non Dania!” seru salah satunya dengan suara lantang.

Dania tersentak. Dadanya berdegup makin cepat. Ia refleks mundur satu langkah, lalu berbalik, berniat hendak melarikan diri. Tapi baru saja kakinya hendak berlari, deru mesin mobil sport terdengar dari arah jalanan. Dua mobil mewah berhenti mendadak di hadapannya, menghadang langkah kecilnya yang panik. Lampu sorot mobil itu menyilaukan matanya.

Dania terhenti, membeku di tengah jalan. Tubuhnya gemetar, seolah waktu menahannya untuk tak kabur lagi. Pintu kedua mobil itu terbuka hampir bersamaan. Dari mobil pertama, Axel turun dengan jas rapi yang membalut tubuh tegapnya. Dari mobil satunya lagi, Davin keluar, dengan gaya lebih santai tapi tak kalah berwibawa.

Senyum tipis tersungging di wajah keduanya. Senyum yang tak hanya menenangkan, tapi menyimpan banyak kerinduan yang selama ini sulit mereka ungkapkan.

“Akhirnya kau kembali… adikku,” ucap Axel dengan suara tenang, penuh rasa yang sulit dijelaskan. Ia lalu merentangkan kedua tangannya, membuka lebar pelukan yang selama ini begitu dirindukan Dania.

Tangis yang sejak tadi ditahan pecah begitu saja. Tanpa ragu, Dania berlari dan langsung memeluk Axel. Tubuhnya bergetar dalam pelukan hangat itu. Tangannya mencengkeram jas Axel seolah takut kehilangan lagi.

“Maafkan aku … maafkan aku, Kak,” isaknya, suaranya tersenggal-senggal.

Axel mengusap rambut adiknya dengan lembut, tatapannya penuh kasih sayang. “Tidak apa-apa, Dania. Kau sudah kembali. Itu yang terpenting.”

Davin mendekat, menepuk lembut bahu adiknya. “Kami menunggumu, Dania. Kami selalu menunggumu.”

Di luar dugaan Dania, Axel dan Davin menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Tidak ada amarah, tidak ada cacian karena kesalahannya dulu yang keras kepala mengikuti Reno. Yang ada hanya pelukan, senyum, dan rasa hangat keluarga yang selama ini hilang dari hidupnya.

Tangisan Dania belum juga mereda saat Axel dan Davin saling berpandangan, lalu keduanya tersenyum kecil. Malam itu, mereka membawa Dania masuk ke dalam rumah mewah yang sejak tadi hanya bisa ia lihat dari kejauhan.

Begitu melewati pintu utama, Dania melebarkan senyumannya. Setiap sudut di rumah itu penuh dengan kenangan dan cinta. Bodohnya, dulu ia mau meninggalkan semua itu cuma-cuma hanya demi menikahi seorang pria brengsek.

“Duduklah, Dania. Malam ini kau adalah tamu kehormatan,” kata Axel sambil mempersilahkan adiknya duduk di sofa empuk ruang tamu.

Pelayan segera datang membawa minuman hangat dan kue ringan. Beberapa menit kemudian, meja panjang di ruang makan sudah dipenuhi hidangan lezat. Semua hidangan yang terlihat cukup membuat air liur Dania menetes, dan cacing dalam perutnya segera berteriak meminta untuk di isi.

Dania menatap semua itu dengan mata berkaca-kaca. Ia hampir lupa kapan terakhir kali menikmati makanan enak tanpa rasa takut atau hinaan.

Malam itu, setelah perutnya terisi, Axel dan Davin mengajak Dania berbincang di ruang keluarga. Lampu temaram membuat suasana terasa hangat.

“Sudah yakin akan kembali tinggal di sini?” tanya Axel, sebelah kakinya menyilang santai, dan tatapannya fokus pada adiknya yang terlihat canggung saat duduk di sofa mewah tempat dulu ia bersantai.

Davin menyenggol lengan Axel, khawatir Dania akan berubah pikiran dan pergi lagi. “Tak salah kau bertanya begitu?”

Axel tertawa kecil. “Aku hanya ingin memastikan. Supaya semua drama kita segera berakhir,” ucap Axel dengan tenang, seketika membuat kening Dania berkerut.

“Drama? Apa maksudnya?” tanyanya penasaran.

“Jawab dulu pertanyaanku?” ulangi Axel.

Dania menghela nafas panjang. “Tentu saja, jika kalian masih ingin menerimaku di sini.”

Davin tersenyum senang. “Syukurlah. Aku sangat rindu bertengkar denganmu, Dania!” Davin terlalu antusias sampai sikap tegasnya luntur di hadapan adik bungsunya.

Sikapnya itu tentu membuat suasana sedikit cair. Dania tertawa kecil, sebelah tangannya mengusap air mata yang sejak tadi terus menetes sementara tangan satunya lagi masih memeluk perutnya yang membuncit.

“Semua fasilitas, dan warisan bagian kamu tidak benar-benar aku ambil.” Axel mengambil secangkir teh di atas meja, lalu menyeruputnya perlahan.

Mata Dania membulat sempurna. “Jadi selama ini ….”

“Ya, hanya drama,” timpal Davin.

“Tapi … aku sudah mengecewakan kalian. Soal Reno ….”

Axel mengangkat sebelah tangannya, kode agar Dania tak melanjutkan ucapannya. “Jangan sebut nama itu lagi. Kau mau kembali pada kehidupanmu, bukan?”

Dania mengangguk. Perasaan haru, penyesalan, bahagia, semua bercampur menjadi satu. Tak sekalipun ia pernah bermimpi akan kembali hidup mewah di rumah itu lagi.

Sementara itu, jauh dari suasana penuh haru yang dialami Dania, Reno berada dalam dunianya sendiri. Malam itu, setelah menyadari bahwa Dania tidak ada di rumah, ia hanya mengangkat bahu. Ia sama sekali tidak peduli.

Dengan semua yang kini ia miliki, jabatan tinggi, uang berlimpah, dan lingkaran pertemanan dari orang-orang terpandang, Reno merasa hidupnya sudah sempurna. Ia meyakini Dania tak akan berani kembali ke rumah keluarganya.

Dalam benaknya, Dania adalah wanita lemah yang sudah ia buang, dan tak akan pernah punya keberanian untuk berdiri lagi.

“Biarkan saja,” gumam Reno sambil menyesap minumannya di sebuah bar mewah. “Tanpa dia pun aku lebih bahagia.”

Reno merapikan pakaiannya, kepalanya masih terasa sedikit pusing. Tak lama, Maria datang ke rumah itu dengan pakaian sexy seperti biasa. Tadinya, ia datang ke rumah itu ingin membuat hidup Dania semakin menderita. Namun setibanya di sana, dan mendengar pernyataan dari mulut Reno, ia mulai terlihat khawatir.

“Kau yakin dia tak akan kembali pada keluarganya?” tanya Maria penuh keraguan.

Reno tersenyum yakin. “Tidak akan. Aku yakin dia tak akan diterima lagi. Kehidupannya akan semakin susah setelah pergi dari sini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 48

    Julian berdiri di balik kegelapan lorong, memegang ponselnya yang baru saja selesai merekam. Wajahnya tak setenang yang Maria lihat tadi. Ada senyum kecil yang menyeringai tipis.“Permainanmu semakin menarik, Maria,” gumamnya.Ia menutup file rekaman dan bergerak cepat kembali ke kamar mereka. Namun ketika ia melangkah, lantai kayu berdecit pelan. Maria mendongak tajam. Ia khawatir jika ada seseorang yang berani bermain api dengannya di rumah itu.“Siapa di sana?” serunya.Lorong sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar. Maria keluar dari kamar kecil itu, tatapannya menyisir seluruh lantai dua seperti mata predator yang mencari mangsa. Tak ada siapa pun. Hanya ketenangan palsu yang menutupi kecurigaan dalam dadanya.“Aneh …” gumamnya.Ia kembali ke kamar utama. Ketika pintu dibuka, Julian sudah terbaring dengan mata terpejam, napasnya teratur seperti orang yang benar-benar tertidur.Maria menatapnya lama. Semua terlihat aneh, tapi ia tak menemukan alasan kuat untuk mencurigainya. Ia me

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 47

    Langit malam di atas rumah besar itu tampak gelap pekat, tapi suasana di ruang kerja lantai dua justru hangat oleh cahaya lampu yang kuning redup. Samudra yang semula menunduk pada tumpukan dokumen langsung menegakkan tubuh ketika pintu terbuka perlahan.Viska masuk dengan anggun, membawa bau parfum lembut yang langsung memenuhi ruangan. Wanita itu menatap putranya dengan senyum hangat yang tak pernah gagal membuat Samudra merasa dihargai.“Bagaimana hari ini? Dania sehat?” tanya Viska sambil melepas mantel panjangnya. “Mama sudah lama tak mengunjunginya.”Pertanyaan itu saja sudah cukup membuat senyum tipis Samudra muncul tanpa ia sadari. Ingatannya masih segar, tatapan Dania, pipinya yang memerah, dan momen ketika kotak cincin itu ia letakkan di meja kerja Dania, tanpa kata-kata resmi namun penuh makna.“Dania menerima kotak cincin itu, Mah,” jawab Samudra pelan namun tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. “Aku nggak memaksa dia untuk jawab sekarang. Melihat dia menerima itu saja …

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 46

    Maria menatapnya tajam. “Kau tak seharusnya ikut campur urusanku dan keluarga Hartono. Kau bisa kulenyapkan dengan mudah kalau aku mau.”Alih-alih mundur, Reno justru mendekat lebih jauh hingga jarak mereka hanya satu langkah. Ia menunduk sedikit, suaranya nyaris berbisik di telinga Maria. “Silakan, Maria. Tapi sebelum kau melakukannya, ingat sesuatu … aku memegang semua yang bisa menjatuhkanmu.”Maria terdiam, pupil matanya menyempit. “Apa maksudmu?”Reno tersenyum licin. “Kau pikir aku bodoh? Tak perlu bawa dunia bisnis dalam persaingan kita. Kehidupan pribadimu ... aku tahu sesuatu tentang itu. Dan kalau aku kau, aku bisa adukan pada ayahmu tentang dukungan penuhmu pada perusahaan seseorang bernama ... Julian."Maria menelan ludah, mencoba menahan gemetar. “Omong kosong! Kau tidak punya bukti!”Reno mendekat lagi, kali ini menatapnya langsung. “Aku punya. Bukti tak seharusnya kau lihat sekarang, yang pasti ... aku bisa lumpuhkan kehidupan pribadimu secara perlahan. Jadi jangan cob

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 45

    Samudra mengelus kening Dania setelah mengecupnya cukup lama. Sentuhannya lembut, tapi cukup untuk meninggalkan sesuatu yang berdenyut pelan di dada wanita itu. “Tidur nyenyak malam ini, Nona,” ucapnya lembut, seolah menutup malam itu dengan kehangatan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.Dania tersenyum kecil, matanya menatap Samudra seperti enggan melepas. “Terima kasih,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan. Samudra hanya mengangguk, menatapnya sesaat lebih lama sebelum benar-benar berbalik menuju pintu. Ia tahu, masih banyak hal belum terucap di antara mereka, terutama tentang hubungan yang perlahan tumbuh tanpa pernah mereka rencanakan.Begitu pintu tertutup, Dania masih berdiri di tempat. Hujan di luar masih belum berhenti, menetes pelan di kaca jendela. Tangannya menggenggam kotak cincin itu erat-erat, seolah benda kecil itu punya arti besar yang tak bisa ia ungkapkan pada siapa pun.“Dia benar-benar tulus .…” gumamnya pelan, lalu tersenyum sendiri sebelum akhirnya be

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 44

    Hening menyelimuti keduanya. Suara detik jam di dinding terdengar pelan, bersaing dengan deru angin malam yang berhembus melalui celah balkon. Lampu kota dari kejauhan menyorot lembut ke wajah Dania, membuat garis rahangnya tampak tegas namun anggun. Ia berdiri dengan kedua tangan masih menggenggam kotak cincin kecil itu, seolah tak ingin melepasnya. Sementara Samudra, hanya mampu menatap. Pandangan matanya dalam, menelusuri setiap detail wajah wanita yang selama ini hanya bisa ia kagumi diam-diam.Ia tersenyum samar. “Kau tahu,” ucap Samudra pelan, “di antara semua hal gila yang terjadi di dunia bisnis, aku baru sadar… hal paling berbahaya adalah ketika aku mulai memperhatikanmu terlalu dalam.”Dania menoleh, keningnya berkerut, tapi senyum kecil muncul tanpa bisa ia tahan. “Berbahaya karena aku bisa menghancurkan kariermu?” tanyanya setengah bercanda, namun nada suaranya terasa getir.Samudra menggeleng. “Berbahaya karena aku bisa kehilangan fokus. Dan kehilanganmu akan lebih menya

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 43

    Samudra tersenyum tipis. “Lebih tepatnya … pengemis. Tapi bukan minta uang, hanya minta perhatian kecil dariku.”Axel tertawa pendek. “Kalau urusannya Reno, jangan ajak aku. Aku gak mau energi buruknya nular ke aku.”Samudra menepuk bahunya sekilas dan terus berjalan tanpa menoleh lagi.Di halaman depan, Reno sudah menunggu. Ia bersandar di mobilnya, r*kok lain di tangan, wajahnya tampak lelah namun penuh dendam. Begitu melihat Samudra mendekat, ia menyeringai sinis.“Apalagi?” tanya Samudra datar.Reno mengangkat wajahnya dengan senyum miring. “Jangan songong dulu. Aku datang karena punya informasi penting.” Ia menatap sekeliling seolah memastikan Dania tak ada. “Mana Dania?”“Dia tak perlu turun tangan. Katakan saja apa informasinya,” jawab Samudra.Reno menegakkan badan, menatap Samudra tajam. “Informasi penting ini … bisa mengubah posisi saya. Bisa mengembalikan jabatan saya di perusahaanmu. Tapi kalau kamu gak kasih apa-apa ...”Samudra memotong cepat, suaranya tegas. “Kalau tida

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status