Beranda / Horor / Gerbang Neraka: Desa Terakhir / Bab 4 Paku Terakhir Penutup Gerbang

Share

Bab 4 Paku Terakhir Penutup Gerbang

Penulis: Rafi Aditya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-27 11:29:11

Pagi datang, tapi langit tetap kelabu seperti tubuh yang kehabisan darah. Tak ada suara ayam, tak ada suara angin. Hanya sunyi yang mencekam, membatu di setiap sudut Desa Angkara.

Raka duduk di sudut ruangan, tubuhnya gemetar. Matanya tak berkedip sejak malam itu sejak para “warga” tanpa bayangan berdiri memandangi rumahnya dengan senyum kematian.

Ia baru sadar bahwa pada akhirnya... ia sendirian.

Namun, sebelum ia benar-benar yakin telah ditinggalkan, pintu rumah terbuka perlahan. Tak ada angin. Tak ada suara. Tapi daun pintu berderit seperti seseorang memanggil dari neraka.

Di ambang pintu berdiri sosok baru. Seorang lelaki, mengenakan jubah hitam, dengan rambut panjang kelabu dan wajah penuh luka bakar.

Tatapan matanya tajam namun ada sinar kesedihan yang dalam di sana.

“Aku Ranu,” katanya dengan suara parau. “Penjaga terakhir paku gerbang.”

Raka menatapnya bingung. “Apa maksudmu?”

Ranu masuk ke dalam, dan menutup pintu dengan hati-hati. Ia menyalakan sebatang lilin biru dari dalam sakunya, seperti yang dimiliki wanita tua sebelumnya.

“Gerbang yang kau lihat di desa itu bukan sekadar lubang. Itu adalah mulut. Mulut dari tubuh raksasa yang terkubur sejak ribuan tahun lalu. Tubuh iblis yang ingin lahir kembali.”

Ia duduk perlahan, napasnya berat. “Dan satu-satunya yang menahan gerbang tetap tertutup adalah empat paku: paku darah, paku waktu, paku bayangan… dan paku daging.”

Raka merasa tenggorokannya tercekat. “Dan sekarang... berapa yang tersisa?”

Ranu menatap ke arah lantai. “Tinggal satu. Paku daging.”

Raka mulai memahami arah percakapan ini. Dan ia tak suka ke mana itu menuju.

“Kau adalah paku terakhir, Raka.”

Ia menelan ludah. “Aku? Kenapa aku?”

Ranu menggeleng. “Karena ayahmu.”

Kata itu menusuk seperti belati.

“Ayahku sudah mati lima tahun lalu,” bantah Raka. “Dia kecelakaan…”

“Tidak,” potong Ranu. “Itu yang ingin dunia percaya. Tapi sebenarnya ayahmu adalah penjaga sebelumnya. Ia mengikat tubuhnya sendiri ke tanah suci di bawah gerbang. Ia… adalah paku daging pertama. Dan ketika waktunya tiba, darahnya harus diwarisi.”

Raka merasa seperti hendak muntah. Kenangan akan ayahnya muncul perlahan: malam-malam di mana pria itu bicara sendiri, menggambar simbol di tembok, dan terkadang… menangis saat menatap bulan.

“Ayahmu tahu waktunya akan datang. Ia mencoba melawan takdir. Tapi… gerbang tidak bisa ditipu.”

Ranu menggulung lengan bajunya, menunjukkan kulit yang dipenuhi bekas tusukan.

“Kami, para penjaga, mengulur waktu. Kami tempelkan roh, darah, bahkan bayangan kami sendiri untuk menahan celah-celah gerbang. Tapi semua itu hanya sementara. Yang bisa benar-benar menutupnya… adalah kau.”

Raka berdiri, mundur.

“Tidak! Aku tidak akan menjadi tumbal! Ini bukan tugasku! Ini… ini gila!”

Ranu tidak bereaksi. Ia mengangguk pelan, seperti sudah menduga penolakan itu.

“Gerbang akan terbuka sepenuhnya dalam tiga malam. Pada malam merah, saat bulan berdarah. Jika itu terjadi… maka desa ini bukan lagi satu-satunya korban. Dunia akan menjadi ladang kelahiran bagi makhluk-makhluk dari dasar hitam.”

Ia berdiri perlahan dan meraih sesuatu dari sakunya. Sebuah paku hitam, panjang dan bergerigi, seperti dicetak dari tulang manusia.

“Inilah paku terakhir. Paku daging.”

“Lalu… bagaimana cara menggunakannya?” tanya Raka dengan suara pelan.

Ranu menatapnya lama. “Kau tak akan menyukainya.”

---

Di luar, suara angin mulai terdengar lagi. Tapi angin itu tidak biasa. Ia membawa serta bisikan, jeritan, dan bau busuk dari tanah yang membusuk.

Langit mulai menghitam. Awan membentuk pusaran. Dan dari kejauhan, terdengar tangisan bayi namun terlalu dalam, terlalu besar, seperti berasal dari rahim bumi.

Raka tahu: waktu mereka tinggal sedikit.

Dan dalam hatinya yang penuh amarah dan takut, ia bertanya:

Apakah ia akan memilih mati untuk menyelamatkan dunia... atau hidup cukup lama untuk melihat dunia terbakar?

BERSAMBUNG

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gerbang Neraka: Desa Terakhir    Bab 135: Cermin dari Neraka

    Ruang kosong itu lebih dari sekadar kehampaan ia adalah kekosongan yang hidup. Waktu tidak berjalan, suara menggema tanpa asal, dan tak ada arah, seolah langit dan bumi melebur dalam kabut kelabu yang tak berujung. Arkana berdiri sendirian, tubuhnya lelah dan jiwanya tercabik. Namun, ia tidak sendiri. Empat versi dirinya muncul dari kabut, masing-masing dengan wajahnya, namun dengan sorot mata berbeda. Mereka berdiri mengelilinginya seperti bayangan yang memberontak. Satu tampak haus kekuasaan, satu penuh ketakutan, satu menyimpan penyesalan mendalam, dan satu dipenuhi gairah liar yang tak terkendali. Mereka bukan ilusi. Mereka adalah bagian dari dirinya yang terpecah di tiap gerbang. "Kenapa kalian tak mau kembali?" tanya Arkana, nadanya tenang, tapi dadanya berdegup kencang. Versi dirinya yang mewakili nafsu Arkana Nafsu tersenyum sinis. "Karena di sinilah aku bebas. Tak ada moral, tak ada kendali. Aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa pengekanganmu yang pengecut." Arkana-Keta

  • Gerbang Neraka: Desa Terakhir    Bab 134: Gerbang yang Tidak Pernah Ditulis

    Begitu Arkana melangkah melewati pintu kecil itu, dunia seperti berhenti bernapas. Ia terjatuh... atau mungkin melayang. Tidak ada arah. Tidak ada cahaya. Hanya kekosongan yang tak berbatas. Lalu, perlahan, kegelapan itu retak. Dari celah retakan cahaya biru pucat menyusup masuk, membentuk lantai abstrak seperti kaca, langit berpendar seperti air, dan di tengah ruang dimensi itu berdiri... dirinya sendiri. Bukan satu. Melainkan tujuh Arkana masing-masing merepresentasikan sisi dirinya yang pernah menyentuh gerbang-gerbang neraka. Satu mengenakan jubah putih yang bersinar, wajah damai. Itu Arkana dari gerbang pertama pemula yang masih percaya pada kebaikan. Lainnya gelap, matanya hitam pekat, tangan berlumuran darah. Itu Arkana dari gerbang keempat, saat ia mengorbankan satu desa demi menghentikan iblis. Dan sisanya... mencerminkan berbagai ketakutan, kebencian, kebimbangan, hingga ketulusan yang pernah ia kubur dalam-dalam. Mereka berdiri melingkar, menatap Arkana utama yang k

  • Gerbang Neraka: Desa Terakhir    Bab 133: Pelita Duri Mata

    Ruang bawah tanah kembali menjadi tempat yang paling aman atau setidaknya, tempat satu-satunya di mana Arkana bisa berpikir. Dindingnya ditutup kain hitam, cermin-cermin ditutupi lembaran kain agar tak memantulkan sesuatu yang bukan miliknya, dan di tengah ruangan kini berdiri Pelita Duri Mata bola kaca berduri yang terus berdetak perlahan, seolah hidup. Arkana menatapnya lekat. “Kau seharusnya bisa menutup mata dari dunia lain. Tapi kenapa aku merasa... justru aku yang akan terbuka?” Ia mengangkat pelita dengan hati-hati. Cahaya biru yang dipancarkannya tidak menyilaukan, tapi menghipnotis. Saat cahaya itu menyentuh kulit Arkana, ia bisa merasakan denyut jantungnya berubah. Lebih pelan. Lebih dalam. Ia mengarahkan pelita ke salah satu cermin. Perlahan, permukaan kaca itu bergetar. Bayangannya tampak berkedip... dan kemudian berubah. Kini ia melihat dirinya berusia lima tahun, duduk di depan rumah tua yang sudah lama ia lupakan. Di pangkuannya ada boneka rusak boneka milik Satya.

  • Gerbang Neraka: Desa Terakhir    Bab 132: Mata yang Tidak Bisa Berkedip

    Hujan turun perlahan, membasahi desa yang baru saja mencoba bangkit dari serangkaian malam penuh darah dan bayangan. Tidak ada lagi simbol bintang enam di langit. Tidak ada lagi tangisan dari dalam tanah. Tapi ada keheningan yang tidak wajar. Keheningan yang seolah menunggu seseorang berbicara lebih dulu. Arkana duduk di pojok kamar bawah tanah yang telah ia ubah menjadi ruang pengamatan. Di hadapannya tergantung puluhan cermin kecil, masing-masing mengarah ke titik-titik penting di desa: pos ronda, sekolah, rumah sakit, bahkan ladang jagung yang kini hangus. Cermin utama cermin yang pernah membawanya ke Gerbang Ketujuh diletakkan di atas meja, kini berubah menjadi hitam pekat seperti obsidian. Namun Arkana tahu: ia belum sendirian. --- Pukul dua pagi, ia terbangun dari tidur singkatnya. Bukan karena suara, tapi karena perasaan ditatap. Ia membuka mata perlahan, dan jantungnya langsung menghentak. Di langit-langit kamarnya, ada mata besar, hitam, dan tanpa kelopak. Tidak berkedip

  • Gerbang Neraka: Desa Terakhir    Bab 131 : Cermin Penjaga

    Ladang gosong itu sunyi. Angin tak lagi berhembus. Bahkan suara jangkrik pun menghilang. Arkana berdiri sendirian, matanya terpaku pada cermin kecil yang setengah tertanam di tanah bekas lingkaran api. Ia menunduk, mengambilnya perlahan, dan membalik permukaannya. Refleksi dirinya muncul samar, namun bukan dirinya yang ia lihat. Refleksi itu mengenakan pakaian serupa, tapi matanya tidak sama. Mereka… kosong. Dan di dahinya, samar-samar, terukir angka Romawi: VII. Arkana menahan napas. “Gerbang ketujuh?” Ia duduk perlahan, membuka kembali Kitab Dua Sisi Cermin. Tapi tak satu halaman pun menyebutkan gerbang ketujuh. Hanya ada catatan kosong, lembaran hitam yang terasa dingin saat disentuh. Ia menekan cermin itu ke halaman hitam, dan seketika, tulisan mulai muncul sendiri, ditulis oleh tangan tak terlihat: Gerbang Ketujuh tidak ditulis karena tidak boleh dikenal. Ia bukan pintu masuk ke neraka. Ia adalah pintu keluar dari semua dimensi. Gerbang yang membalikkan hukum hidup dan m

  • Gerbang Neraka: Desa Terakhir    Bab 130 : Tumbal Terakhir

    Langit malam seharusnya gelap, tapi malam itu justru menyala bukan dengan cahaya bulan, melainkan dari lambang bintang enam yang terbakar perlahan di antara awan. Seperti mata raksasa yang menatap ke bumi, lambang itu tidak hanya terlihat… tapi terasa, menekan jantung setiap orang yang menatapnya. Arkana berdiri di puncak menara lonceng sekolah, menatap lambang itu tanpa berkedip. “Seharusnya sudah lenyap…” gumamnya. Ilham berdiri di sampingnya, tangan menggenggam sisa debu dari bayangannya sendiri. “Kau yakin ritualnya selesai?” Arkana menunduk, wajahnya tak yakin. “Itu bukan tentang ritualnya. Masalahnya bukan siapa yang asli atau bayangan… tapi kenapa gerbang keenam muncul sama sekali. Kita hanya menyentuh permukaannya.” Seketika, terdengar bunyi lonceng berdering sendiri. Padahal menara itu tak digunakan selama dua dekade. Suara itu menggema, dan disusul oleh hembusan angin panas dari arah timur. “Apa itu…” Ilham menghentikan kata-katanya. Dari kejauhan, di arah ladang jagu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status