Se connecterDua bulan setelah badai di Zurich mereda, lantai teratas butik pengantin paling eksklusif di Jakarta Selatan ditutup total untuk umum.Ruangan bernuansa putih gading itu dipenuhi dengan deretan gaun pengantin adibusana yang berkilauan di bawah lampu kristal. Musik klasik mengalun lembut, menemani kesibukan persiapan pernikahan yang disebut-sebut sebagai perhelatan termegah tahun ini.Joanna berdiri di atas podium bundar kecil, menatap pantulannya di cermin besar. Ia mengenakan gaun putih potongan A-line dengan detail brokat Prancis yang dijahit tangan di sepanjang lengan dan dadanya."Bagaimana, Tante? Lingkar pinggangnya terlalu ketat tidak?"Suara itu berasal dari Angel. Gadis remaja itu duduk di sofa beledu sambil memangku beberapa katalog payet. Wajahnya yang dulu selalu tampak muram kini terlihat segar dan penuh energi.Sejak kembali dari Swiss, hubungan mereka mencair dengan cepat. Angel bahkan dengan sukarela mengajukan diri menjadi kepala perancang konsep untuk para pengiring
Penerbangan kembali ke Jakarta dengan jet pribadi milik Damian terasa jauh berbeda dari keberangkatan mereka beberapa hari lalu. Tidak ada lagi keheningan yang mencekam atau tatapan penuh kecurigaan.Di dalam kabin yang luas itu, Angel duduk di sofa seberang, tertidur pulas berselimut kain wol tebal setelah meminum obatnya. Wajahnya tampak damai, seolah beban berat yang selama ini menghimpitnya telah menguap bersama udara dingin Swiss.Damian dan Joanna duduk berhadapan di dekat jendela. Di atas meja kecil di antara mereka, beberapa draf pernyataan pers yang disiapkan oleh Anthony sudah tercetak rapi."Anthony sudah mengurus semuanya di Jakarta," ujar Damian sambil menggeser kertas-kertas itu. "Konferensi pers dijadwalkan besok sore, tepat setelah kita mendarat dan beristirahat. Semua media besar sudah mengonfirmasi kehadiran mereka."Joanna mengambil salah satu lembar draf dan membacanya sekilas. "Kau benar-benar akan mengumumkan tanggal pernikahan kita bersamaan dengan klarifikasi k
Suasana di dalam kamar hotel yang mewah itu seketika membeku. Damian segera menarik selimut untuk menutupi bahu Joanna, sementara ia sendiri dengan cepat menyambar bathrobe sutra di pinggir tempat tidur. Jantungnya berdegup kencang, bersiap menghadapi ledakan amarah atau histeria lain dari putrinya.Namun, ledakan itu tidak pernah datang.Angel tetap berdiri di sana. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena amarah, melainkan karena rasa dingin dan kelelahan yang luar biasa. Air mata mulai mengalir di pipinya yang pucat, jatuh menetes ke lantai karpet bulu yang tebal."Angel? Bagaimana kau bisa sampai di sini?" Damian melangkah mendekat dengan hati-hati, suaranya lembut namun penuh kekhawatiran.Angel tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru menutup wajahnya dengan kedua tangan dan terisak hebat. Bahunya berguncang, dan suara tangisnya terdengar begitu pilu, suara seorang anak yang baru saja menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya karena kebodoh
Setelah Clara dibawa pergi oleh kepolisian Zurich, ketegangan yang menghimpit selama berhari-hari mendadak lepas. Damian membawa Joanna kembali ke suite mewah mereka di sebuah hotel yang menghadap langsung ke puncak Pegunungan Alpen.Di dalam ruangan yang luas itu, hanya ada keheningan yang intim, kontras dengan kekacauan yang baru saja terjadi di kafe bawah.Damian menutup pintu kamar dengan tendangan pelan. Ia langsung menarik Joanna ke dalam pelukannya, mencium wanita itu dengan intensitas yang hampir meledak.Adrenalin dari kemenangan dan rasa syukur karena Joanna selamat membuat gairahnya memuncak ke level yang belum pernah ia rasakan sebelumnya."Kau sangat berani, Joanna. Sangat berani," bisik Damian di sela ciuman mereka. Suaranya serak, penuh dengan kebanggaan dan keinginan yang mendalam.Joanna tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mencengkeram kerah kemeja Damian, menariknya semakin mendekat. Rasa takut yang sempat menderanya kini
Joanna melangkah masuk ke dalam sebuah kafe kecil yang remang-remang di sudut kota Zurich. Ia sengaja memilih tempat yang tidak terlalu ramai untuk menemui Clara. Setelah pembicaraan telepon dengan Damian, Joanna tahu bahwa kali ini ia tidak bisa hanya diam dan dilindungi. Ia harus menghadapi sumber masalah ini secara langsung.Clara sudah duduk di sana, menyesap espresso dengan gaya angkuh seolah ia masih memegang kendali penuh. Ia tampak terkejut melihat Joanna yang datang sendirian, tanpa pengawalan ketat Damian di sampingnya."Berani juga kau menemuiku tanpa pelindungmu itu," ujar Clara dengan senyum sinis.Joanna duduk di hadapan Clara, meletakkan tas tangannya di atas meja. Ia telah mengaktifkan alat perekam medis tingkat tinggi yang tersembunyi di balik bros blazernya. "Damian sedang menjaga Angel. Aku tidak butuh dia untuk bicara dengan wanita sepertimu."Clara tertawa meremehkan. "Kau pikir dengan menjaga Angel, kau akan mendapatkan simpati? Dia
Bau antiseptik yang tajam memenuhi koridor rumah sakit swasta di Zurich. Angel terbaring di dalam ruang perawatan intensif dengan berbagai kabel monitor yang menempel di tubuhnya. Dokter menyatakan bahwa ia mengalami sinkop vasovagal akibat tekanan emosional ekstrem yang memicu penurunan tekanan darah secara mendadak.Di samping tempat tidur, Joanna duduk tanpa beranjak sedikit pun. Ia terus memegang tangan Angel yang dingin, sesekali mengompres dahi gadis itu dengan handuk hangat. Tidak ada raut wajah benci atau dendam, padahal hanya beberapa jam yang lalu Angel baru saja menghinanya dengan kata-kata yang menyakitkan.Damian berdiri di ambang pintu, memerhatikan pemandangan itu dalam diam. Ia melihat bagaimana Joanna dengan telaten merapikan rambut Angel yang berantakan dan membisikkan kata-kata penenang, meskipun Angel belum sadarkan diri."Kau seharusnya beristirahat, Jo. Kau sudah terjaga lebih dari dua puluh jam," ujar Damian sambil melangkah masuk dan mele







