Se connecterAkibat salah orang untuk membatalkan perjodohan pria yang disukai oleh sahabatnya, membuat Alisha harus terlibat dengan Zayden yang memintanya untuk bertanggung jawab karena sudah membuat kekacauan. Bentuk tanggung jawab yang tidak biasa terpaksa dia jalani, tanpa bisa mengelak, bahwa: Mereka Harus Menikah! Apa ini pernikahan kontrak? Tentu saja tidak sesederhana itu, karena Zayden ....
Voir plusBenua Tianxing adalah dunia di mana kekuatan Kuktivasi menjadi hukum tertinggi. Seluruh manusia memuja para kultivator, sementara mereka yang memiliki tingkat kultivasi rendah dipandang hina, bahkan sering dilecehkan dan ditindas.
Di utara Prefektur Yu, di dalam Kota Tianfang, tepatnya di Aula Latihan Keluarga Yi. Di dalam aula yang luas itu, berdiri banyak boneka perunggu. Di hadapan setiap boneka, terdapat seorang murid keluarga Yi. Teriakan latihan terus terdengar dari mulut para remaja. Mereka mengerahkan seluruh tenaga memukul boneka perunggu di hadapan mereka. Setiap telapak yang mendarat akan meninggalkan bekas samar di permukaan boneka tersebut. “Baiklah, kalian semua istirahat sejenak.” Saat senja tiba, seorang pria paruh baya memasuki aula latihan. Ia menatap para murid sekilas lalu berbicara dengan nada datar. Mendengar ucapannya, para remaja segera menyeka keringat di dahi dan menghentikan latihan mereka. Namun, pada saat itu terdengar suara teriakan latihan yang pelan namun konsisten. Semua orang menoleh ke arah sumber suara tersebut. Di sudut aula, seorang remaja berusia sekitar lima belas atau enam belas tahun, berwajah bersih dan mengenakan pakaian sederhana, masih terus berlatih. Hanya saja, yang ia hadapi bukanlah boneka perunggu, melainkan boneka kayu. Wajah remaja itu tampak serius dan penuh konsentrasi, namun yang lain justru tertawa mengejek dengan ekspresi meremehkan. “Yi Chen, kau setiap hari hanya berlatih dengan boneka kayu itu. Bagaimana mungkin kau bisa berkembang? Menurutku, lebih baik kau berhenti saja.” Seorang murid yang sedikit lebih tua, berwajah pucat kekuningan, mendekati Yi Chen sambil mengejek. Namun Yi Chen seolah tidak mendengar apa pun. Telapak tangannya terus menghantam boneka kayu tanpa henti. “Kakak Cong, sepertinya tenagamu kurang kuat. Dia bahkan tidak menggubrismu.” Seseorang di tengah kerumunan tertawa. Wajah Yi Cong langsung berubah muram. Ia melangkah cepat ke depan, mencengkeram pergelangan tangan Yi Chen dan berkata dengan marah, “Yi Chen, apa kau tuli? Aku menyuruhmu berhenti!” Mengandalkan status ayahnya sebagai Tetua Ketiga keluarga, serta kultivasinya yang lebih tinggi dari murid lain, Yi Cong selalu bertindak sewenang-wenang di dalam keluarga. Tangannya mengerahkan kekuatan, senyum dingin terangkat di sudut bibirnya. Sementara itu, Yi Chen menatapnya tajam tanpa sedikit pun rasa takut. “Kemarin aku menyuruhmu menyerahkan Rumput Danyang, tapi kau malah berani memanggilku anjing. Heh… sekarang meskipun kau memberikannya padaku, aku tetap tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah, kecuali jika kau merangkak melewati selangkanganku.” Tatapan penuh ejekan terpancar dari mata Yi Cong. Ia mundur selangkah dan menunjuk ke arah selangkangannya. “Yi Chen, cepat merangkak! Kau memanggil Kakak Cong anjing, jadi kau harus sadar diri sebagai seekor anjing.” “Benar-benar tidak tahu diri. Berani tidak sopan pada Kakak Cong. Aku benar-benar ingin melihat bagaimana Yi Chen merangkak lewat bawah celana Kakak Cong.” Tawa ejekan bergema di sekeliling. Yi Chen menatap Yi Cong dengan gigi terkatup rapat, lalu tiba-tiba mengayunkan kaki dan menendang ke arah selangkangan Yi Cong. “Tidak tahu diri!” Melihat Yi Chen berani menyerang, Yi Cong mendengus dingin, dengan mudah menghindari serangan itu, lalu mengayunkan telapak tangannya ke wajah Yi Chen. Plaak! Suara tamparan terdengar nyaring. Sebuah bekas tangan langsung muncul di wajah Yi Chen. Tawa di sekeliling pun semakin keras, berani menyerang Yi Cong sama saja dengan mencari kematian. “Apa yang kalian lakukan? Yi Chen, pergilah ke Aula Tetua. Kepala keluarga memanggilmu.” Suara pria paruh baya kembali terdengar, membuat Yi Chen yang semula hendak melawan terpaksa menghentikan langkahnya. “Yi Cong, tamparan hari ini akan aku balas berkali-kali lipat.” Dengan gigi hampir remuk karena terkatup kuat, Yi Chen mendengus dingin lalu berbalik pergi. “Hebat sekali Yi Chen ini. Bahkan kepala keluarga sampai memanggilnya secara khusus. Sepertinya tidak lama lagi dia akan naik derajat. Saat itu, mungkin kita semua harus menjilatnya.” Yi Cong berkata dengan nada mengejek. Tawa kembali pecah, sementara Yi Chen tetap diam, menembus kerumunan dan meninggalkan aula latihan. “Yi Chen, jangan melawan kepala keluarga.” Saat melewati pria paruh baya itu, tatapannya sempat menyapu wajah Yi Chen yang sudah memar kebiruan, namun ia tidak mengatakan apa pun. Tanpa menjawab, Yi Chen terus melangkah menuju Aula Tetua. Setelah melewati dua halaman, Yi Chen tiba di depan sebuah bangunan besar. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu dengan hormat. Tak lama kemudian, terdengar jawaban dari dalam. Begitu pintu terbuka, Yi Chen melihat Wakil Kepala Keluarga Yi Zhenghai duduk di tengah aula. Di sebelah kirinya duduk tiga orang tetua dengan wajah dingin dan tanpa ekspresi. Mereka adalah para tetua keluarga Yi, orang-orang yang kekuasaannya tidak kalah dari kepala keluarga. Tak seorang pun di keluarga berani bersikap tidak hormat pada mereka. Di sisi kanan Yi Zhenghai duduk seorang pria paruh baya. Di bawahnya terdapat dua orang tetua dan seorang wanita muda berusia sekitar dua puluh tahun. Wanita itu berkulit gelap, bertubuh gemuk, dan wajahnya dipenuhi bintik-bintik. Yi Chen mengenalnya, dia adalah Sun Rou’er, putri angkat Kepala Keluarga Sun, Sun Qiyuan. Tak jauh dari Yi Zhenghai, terdapat dua peti setinggi setengah tubuh manusia. Tutupnya masih tertutup rapat sehingga isi di dalamnya tidak terlihat. “Saudara Qifei, bagaimana menurutmu keponakanku ini?” Yi Chen membungkuk memberi hormat, namun Yi Zhenghai tidak menghiraukannya. Ketiga tetua bahkan tidak mengangkat kelopak mata mereka. Yi Zhenghai tersenyum sambil menatap pria paruh baya itu, yang mengangguk ringan dan berkata, “Penampilannya cukup baik, hanya saja entah apakah keponakanku akan menyukainya.” Setelah itu, pandangannya beralih ke Sun Rou’er. Wanita itu menatap Yi Chen tanpa berkedip, air liur bahkan menetes dari sudut mulutnya. “Sepertinya keponakanmu sangat puas. Kalau begitu, urusan ini bisa ditetapkan.” Melihat reaksi Sun Rou’er, Yi Zhenghai tertawa terbahak-bahak. Sun Qifei mengangguk ringan tanpa berkata apa pun. Sementara itu, Yi Chen mengerutkan kening dan menangkupkan tangan ke arah Yi Zhenghai. “Paman Ketiga… apakah Paman bermaksud menyuruhku menikahinya?” Yi Chen bukan orang bodoh. Dari percakapan barusan, ia sudah memahami maksud keluarga, ia akan dinikahkan dengan Sun Rou’er, dan dua peti itu kemungkinan besar adalah mas kawinnya. “Bukan menikahi, tapi mengirimmu untuk dinikahkan ke sana.” Yi Zhenghai belum sempat menjawab ketika Tetua Ketiga, Yi Zhongshan, berdiri dan menatap Yi Chen dengan pandangan meremehkan. “Kau tahu kondisi dirimu sendiri. Sampai sekarang kau baru berada di tingkat pertama Alam Pelatihan Tubuh. Orang tak berguna sepertimu bisa dilirik oleh keluarga Sun sudah merupakan berkah besar. Lagipula, keluarga Sun sangat berpengaruh. Meski Rou’er hanya anak angkat, mereka memperlakukannya seperti darah daging sendiri. Kau akan diperlakukan dengan baik di sana. Dengan sumber daya keluarga Sun, mungkin kultivasimu bisa meningkat. Ini adalah kesempatan besar bagimu.” Ucapan itu membuat Yi Zhenghai dan dua tetua lainnya mengangguk setuju. Yi Chen menatap mereka satu per satu lalu berkata dingin, “Sepertinya mas kawin yang diberikan keluarga Sun sangat besar, sampai-sampai kalian rela menjualku kepada mereka.” Matanya melirik ke arah dua peti, senyum sinis terpampang di wajahnya. “Yi Chen, jangan bicara sembarangan. Ini adalah pernikahan antar keluarga, bukan jual beli.” Wajah Yi Zhenghai menggelap. Namun tawa Yi Chen justru semakin dingin. “Paman Ketiga, kau benar-benar pamanku yang baik. Demi keuntungan, kau tega mengirimku ke keluarga Sun untuk menikah dengan seorang yang bodoh. Aku tahu, semua ini karena kultivasiku rendah dan kalian menganggapku sampah. Tapi aku ini laki-laki sejati. Bagaimana mungkin aku menelan penghinaan seperti ini? Jika ayahku masih ada, apakah kalian berani memperlakukanku seperti ini?” Kedua tangannya terkepal erat, wajahnya memerah karena amarah yang memuncak. Yi Chen selama ini masih menghormati para tetua, namun balasan yang ia terima hanyalah perlakuan kejam semacam ini.Bayangan hari di mana kematian Nariza kembali terputar dalam ingatan Zayden. Pagi itu, saat Alisha tidak bersama mereka, Nariza mendekati Zayden, seperti biasa adik iparnya ini mengajaknya bercerita hal yang sedikit serius.“Kak Zayden, apa boleh aku minta bantuanmu?” tanya Nariza kala itu.Zayden tentu mengangguk pasti. “Katakan saja, kamu terlihat serius sekali pagi ini.” Nariza tersenyum singkat, terlihat cukup berbeda dari hari-hari sebelumnya. Gadis itu membawa sebuah kotak berwarna hijau dan menyerahkannya pada Zayden.“Di dalam sini, berisi semua tulisanku. Aku ingin kakak membantuku untuk mencetaknya dan menjadikannya sebuah buku.” Nariza berkata dengan menghela napas dalam.Hal itu membuat Zayden mengernyitkan keningnya.“Kalau misal ada royalti dari cerita itu, bisa disumbangkan saja ke yayasan,” pesan Nariza dengan suara lemahnya.“Kamu mengatakan seolah-olah waktumu tidak banyak lagi.” Zayden menghela napas berat.“Kak Zayden tentu tahu tentang kondisiku ini, kan?” Nariza
Satu tahun berlalu.Waktu telah menjadi penenang luka, meski tak sepenuhnya menghapus bekasnya.Kevin sudah menerima hukumannya. Bukan hukuman yang berat, tapi cukup untuk menyampaikan pesan: bahwa setiap tindakan punya konsekuensi. Alisha tak menuntut lebih. Ia tahu, dalam dunia yang mereka tinggali, ada martabat keluarga yang harus dijaga.Keluarga besar para pelaku tentu tak tinggal diam. Banyak yang berusaha membungkam, menekan, bahkan menghilangkan jejak. Termasuk keluarga Wicaksana sendiri. Pertengkaran hebat sempat terjadi setelah kebenaran terungkap. Tapi beruntung, suara Zayden punya bobot besar. Kata-katanya cukup kuat untuk menahan keluarga mereka agar tidak hancur berantakan.Pagi itu, di apartemen mereka.“Kamu nggak kerja?” tanya Alisha sambil melongok ke ruang keluarga, melihat suaminya yang santai duduk di depan televisi dengan kaus rumah dan celana pendek.Zayden mengangkat alis dan tersenyum. “Hmm… hari ini kayaknya aku butuh istirahat total.” Ia berdiri dan berjalan
Hari berganti. Sinar matahari keemasan menyusup lewat celah tirai, menyentuh pipi Alisha yang masih basah oleh sisa air mata semalam. Udara pagi terasa sunyi, seolah dunia pun tahu harus berhenti sejenak, memberi ruang bagi luka yang belum sempat reda.“Sha .…” Suara pelan itu memecah keheningan, mengalun lembut di telinganya.“Sayang … bangunlah, ini sudah pagi,” bisik Zayden pelan, nadanya seperti takut mengganggu.Alisha menggeliat lemah. Semalaman ia tidur di kamar Nariza — satu-satunya tempat di rumah ini yang masih menyisakan jejak adiknya. Zayden sempat keberatan, tapi akhirnya mengalah, membiarkan istrinya tenggelam dalam kesendirian di sana.“Sha,” bisik itu terdengar lagi.Perlahan, kelopak matanya terbuka. Alisha berkedip beberapa kali, seolah mencoba menghalau kabut perih yang masih menggantung di hati. Wajahnya sembab, matanya bengkak. Pemandangan itu membuat dada Zayden terhimpit.Alisha menarik napas dalam-dalam. Udara pagi seakan tak cukup untuk memenuhi paru-parunya y
Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Alisha.Menangis?Apa tidak apa-apa?Apa boleh?Apa itu tidak terlihat cengeng?Alisha masih diam, sejujurnya dia terus menahan, hanya saja … dia selalu harus terlihat kuat. Tidak boleh bersedih karena itu, adalah sebuah kelemahan.“Keluarkan kesedihanmu dan biarkan jiwamu menjadi sedikit lebih tenang, hehm.” Zayden menangkupkan tangannya ke pipi Alisha.“Jangan memendamnya, karena aku … tidak ingin kamu … terluka lebih jauh dan menderita terlalu dalam,” sambung Zayden lagi.Alisha masih diam, matanya masih menatap lurus ke depan.“Lakukanlah, itu bukan suatu kejahatan, keluarkan apa yang kamu rasakan,” ucap Zayden lagi.“Apa … itu tidak terlalu … lemah?” Alisha berkata pelan.Zayden menghela napas. “Kamu nggak harus begini. Nggak apa-apa kalau kamu mau nangis… aku di sini, Al.”Suara itu… Lembut, hangat, dan entah kenapa justru membuat dinding pertahanan yang selama ini Alisha bangun mulai retak.Zayden menggeleng pelan, senyum tipisnya menyert
Tubuhnya masih lemas, namun perlahan kesadarannya mulai terkumpul. Mata Alisha membulat menatap sekeliling. Ruangan itu terlalu mewah untuk situasi seburuk ini. Langit-langit kamar yang tinggi dihiasi lampu gantung kristal, memancarkan cahaya keemasan yang membuat seluruh ruangan tampak terang dan b
Anton diam sejenak. Sorot matanya serius, rahangnya mengeras sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku mengerti perasaanmu, Zayden. Kau mencintai istrimu… sama persis seperti aku mencintai Serena. Kau ingin melindunginya, begitu juga aku. Dan meskipun kekuatanku tak sebesar milikmu, jangan lu
Wajah Arsel tampak pucat. Nafasnya memburu, langkahnya tergesa-gesa memasuki ruang kerja Zayden yang saat itu sedang didatangi Anton, yang merupakan tamu pentingnya pagi ini. Hal semacam ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Arsel tahu betul batasannya, tahu kapan harus bicara, kapan diam, dan kapan
Setelah berkata demikian, Alex berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan keduanya tanpa sedikit pun menoleh. Napasnya terdengar berat, seperti menahan emosi yang hampir meledak. Vivian masih berdiri membeku di tempat. Wajahnya pucat, tatapannya kosong, pikirannya sibuk memproses situasi yang baru






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Notes
commentairesPlus