Share

2. Rasa tubuhmu

Author: Liachuu
last update publish date: 2026-05-01 19:48:56

Dean duduk dengan kedua kaki yang sudah berada di atas mejanya. Satu tangannya memegang sebatang rokok yang sedang dia nikmati, sementara satu tangan lainnya memegang ponsel yang sudah dia genggam erat. Kekalutan juga nampak dari wajahnya.

Dan satu-satunya alasan yang membuatnya harus seperti ini adalah apa yang terjadi semalam. Tentang fakta yang baru saja dia dapati. Jika wanita yang menjadi wanita sewa dan selalu memuaskannya adalah adiknya sendiri.

Adik tiri lebih tepatnya. Arinka.

"Sial! Brengsek!" Kesal Dean saat pikiran itu terus mengganggu kepalanya.

Dia bahkan melempar ponselnya ke atas meja dan menjatuhkan rokoknya ke lantai sebelum dia menginjaknya.

Bahkan, rokok yang selalu bisa menemani kekalutannya saja kalah oleh kekalutan yang dia rasakan saat ini soal adik tirinya tersebut. Sebab, ini terlalu membuatnya pening.

"Kau, hubungi Nyonya Wylon dan buat dia mengatakan siapa wanita itu. Kalau bisa, dapatkan datanya. Aku ingin memastikannya lebih dulu," ucap Dean pada seorang pria yang sejak tadi berdiri tak jauh dari tempatnya berada.

Pria itu mengangguk patuh. Dia keluar dari ruangan Dean, dan segera memenuhi perintah dari Tuan nya tersebut.

Sebenarnya, Dean juga berniat meraih botol vodka yang berada di laci mejanya. Berpikir jika rokok tidak bisa mengalihkan pikirannya, mungkin alkohol akan bekerja lebih baik.

Namun, sayangnya saat dia belum sempat membuka laci, satu panggilan telah masuk pada ponselnya. Panggilan dari seseorang yang tidak bisa dia abaikan.

Arthur. Ayahnya.

"Apa?" tanya Dean begitu ponselnya berada di telinga.

"Kau tidak lupa jika malam ini ada acara makan malam bersama di rumah bukan?" tanya Arthur di seberang sana.

"Shit!" Keluh Dean tak ketara. "Iya, aku akan pulang sekarang."

"Bagus. Jangan terlambat. Ini adalah acara yang penting," ucap Arthur sekali lagi.

Tanpa menjawab lagi, Dean justru sudah mematikan panggilannya begitu saja. Terlalu malas untuknya berbicara lebih panjang bersama sang ayah yang sudah tua itu. Lagipula, hubungannya dengan Arthur memang tidak sedekat itu.

Dean bangkit dari duduknya. Dia menatap ponsel yang kini ada di tangannya. Sebelum akhirnya sebuah senyuman miring telah dia tunjukan.

"Baiklah, mungkin memang sudah seharusnya aku pastikan sendiri."

***

Arinka tersenyum saat menatap pantulan tubuhnya di depan cermin.

Namun, itu bukan senyuman yang tulus. Bukan juga senyuman yang menunjukan kesenangan. Sebab, yang dilukiskan di bibirnya itu hanyalah sebuah senyuman palsu yang harus dia pasang sampai beberapa jam ke depan.

"Okay, Arinka. You can do this," lirihnya untuk dirinya sendiri.

Sebenarnya bukan hal sulit untuk Arinka menunjukan senyuman palsu seperti itu. Dia sudah terbiasa melakukannya selama ini. Menunjukan senyuman palsu yang ditunjukan pada orang-orang.

Tapi, yang menjadi masalah adalah tentang dia yang mengingat akan acara apa yang harus dia hadapi malam ini.

"Arinka? Apa kau sudah selesai?"

Arinka menoleh. Dia mendapati seorang wanita berusia akhir 40an berada di pintu kamarnya yang baru saja dibuka tanpa seizinnya.

Arinka berhak marah, tapi sayangnya itu adalah ibunya sendiri.

"Iya, sudah," jawab Arinka yang lantas menoleh dan melangkahkan kakinya. "Apa acaranya akan segera dimulai?" tanyanya kemudian.

Sang Ibu mengangguk. "Sebentar lagi. Menunggu kakakmu datang."

Arinka tersenyum miris. Kakak, katanya?

Bahkan, sampai detik ini Arinka sama sekali tidak pernah merasakan bagaimana pria itu memperlakukannya sebagai adik.

5 bulan sejak pernikahan Ibunya dengan Tuan Arthur, Arinka sama sekali tidak pernah berbicara dengan Dean, putera tunggal Tuan Arthur tersebut. Selain dengan sapaan saat berada di meja makan yang sama saja. Itu pun tidak sering, hanya beberapa kali dalam setiap bulannya.

Tapi, tak masalah juga. Arinka juga tidak mengharapkan hubungan adik kakak yang harmonis. Dia juga tidak mengharapkan hubungan keluarga harmonis sama sekali. Dia muak dengan apa yang disebut sebagai 'keluarga.'

"Lihatlah, puteri cantikku baru saja keluar dari singgasananya."

Sambutan itu diterima Arinka dari Arthur saat menuruni tangga.

Di mana di sana, bukan hanya ada Arthur sang ayah tiri saja. Melainkan juga dengan beberapa orang asing yang bahkan tidak diketahui namanya oleh Arinka.

"Terima kasih. Selamat malam," sapa Arinka pada Arthur dan beberapa orang di sana.

Semuanya tersenyum lebar melihat betapa cantiknya paras Arinka. Oh, jangan lupakan juga dengan lekuk tubuh gadis itu dengan long dress ketat yang saat ini melekat di tubuhnya yang membuatnya lebih memukau di mata orang-orang tersebut.

"Ayo. Sebentar lagi Dean akan datang dan acaranya akan segera dimulai," ucap Arthur.

Arinka mengangguk. Dia juga berjalan mengekor di belakang Arthur dan Ibunya, serta orang-orang yang entah siapa itu.

Sampai akhirnya, seseorang menarik tangan Arinka. Membawanya ke balik pilar rumah tersebut.

"Brengs— Dean?" ujar Arinka saat melihat pria yang berada di depannya. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya kemudian.

Bukannya menjawab, Dean malah menaruh satu telunjuk tepat di depan bibirnya sendiri. Dia juga sudah menatap Arinka dengan sorot mata tajam dan aura dingin yang telah dia pancarkan. Membuat Arinka mau tidak mau menutup mulutnya sendiri. Menatap Dean penuh tanya, dan penuh keraguan.

"Aku ingin bicara denganmu," ucap Dean dengan suara yang pelan. Nyaris berbisik.

Sekali lagi, hal itu membuat Arinka terkejut. Untuk kali pertama, Dean ingin bicara dengannya. Dan untuk pertama kalinya juga, dia dan Dean sedekat ini.

"Ma–mau bicara apa? Kau bisa bicara padaku di sini. Atau kita bicara nanti saja, Tuan— maksudku Ayah dan Ibu pasti mencari kita," ucap Arinka dengan kegugupan yang dia rasakan.

Sungguh, dia gugup justru karena dia takut. Pasalnya, raut wajah yang ditunjukan Dean sekarang benar-benar membuat Arinka ketakutan. Pria yang telah menjadi kakak tirinya ini, terlihat lebih menyeramkan daripada biasanya.

"Aku perlu membuktikan sesuatu sekarang. Karena aku tidak bisa menundanya lagi," ujar Dean yang sudah mendorong Arinka hingga punggung wanita itu menabrak pilar.

Ya, posisi Arinka kini menjadi lebih terpojok. Apalagi, saat Dean terus mendekat padanya. Membuat Arinka semakin takut pada pria itu.

"Jangan seperti ini. Kau membuatku takut," ucap Arinka dengan lirih.

Bukannya berhenti, Dean malah semakin memojokkan Arinka di sana. Wajahnya juga mendekat. Membuat bibirnya kini sudah berada di samping kepala wanita itu. Benar-benar tepat di dekat telinga Arinka.

"Apa aku boleh melakukannya?" tanya Dean kemudian.

Tentu saja dia bertanya dengan suara yang berbisik. Sebuah bisikan yang mampu membuat Arinka merasakan embusan nafasnya di sana.

Arinka menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Dia terlalu bingung dengan situasi ini. Sebab, dia juga terkejut dengan sikap Dean yang tiba-tiba berubah begini.

Jangankan berjarak dekat, untuk menatap Arinka saja rasanya tak pernah.

"Apa yang mau kau lakukan. Dean, lepaskan aku," ucap Arinka dengan suara yang semakin terdengar lirih. Tanda jika dia sudah semakin tidak berkutik di sana.

Hal itu membuat Dean menyunggingkan senyumnya saat dia juga menghirup aroma parfum yang menguar dari tubuh Arinka.

"Biarkan aku pastikan bagaimana rasa tubuhmu, Arinka. Agar aku tahu jika itu memang benar-benar kau," bisik Dean dengan seduktif.

Baru saja Arinka hendak mendorong Dean, dia justru malah melenguh pelan dibuatnya. Saat yang dilakukan pria itu sekarang adalah menjilat dan sedikit menghisap leher Arinka.

"Ahh!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Kakak Tiri Mafia   37. Buat mereka bercerai

    Dean sempat terdiam. Isi kepalanya mendadak kosong setelah mendengar pertanyaan yang dilemparkan Arinka padanya. Benar-benar terasa kosong sampai dia sendiri tidak tahu bagaimana dia harus menjawab pertanyaan tersebut. Sekalipun itu adalah pertanyaan yang seharusnya bisa dia jawab dengan isi hati dan kepalanya."Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu—""Biarkan aku menjawab dulu," potong Dean sebelum Arinka menyelesaikan kalimatnya di sana.Lantas Dean kini kembali membelai rambut Arinka dengan lembut, teramat lembut sampai kedua pasang mata itu saling menatap dengan lekat. Saling memancarkan perasaan masing-masing melalui hal itu. Disusul dengan satu anggukkan di kepala Arinka yang sudah ditunjukan padanya sebagai persetujuan."Kau tahu kan kalau aku tidak suka kau berbohong padaku?" tanya Dean kemudian. Di balas dengan anggukkan lagi dari wanita yang saat ini bersamanya. "Untuk itu, aku juga ingin mengatakan hal yang sebenarnya. Aku tidak akan menambahkan kebohongan, meskipun itu

  • Godaan Kakak Tiri Mafia   36. Cinta atau nafsu

    Sakit.Arinka dapat merasakan ngilu pada seluruh tubuhnya. Sebab Dean memang melakukan semua yang sudah dia katakan sebelumnya. Tentang dia yang tidak akan membiarkan Arinka berjalan. Terbukti dengan tubuh Arinka yang bahkan kini terass ngilu di seluruh tubuh akibat aktivitas seksnya bersama Dean. Membuatnya kini hanya bisa berbaring lemas di atas ranjang dengan selimut yang membungkus tubuhnya."Lain kali jangan coba-coba berbohong padaku. Masih untung aku bisa mengendalikan diri, kalau tidak kau mungkin sama sekali tidak bisa bergerak," ucap Dean yang saat ini sudah terduduk di tepi ranjang. Hanya mengenakan celananya pendeknya.Lantas Arinka berusaha mengubah posisinya hingga berbaring menyamping sembari menahan rasa ngilu di bagian pusatnya. Dia menatap Dean dengan sorot matanya yang sayu."Kau marah sekali, ya?" tanya Arinka lirih.Dean sama sekali tak menoleh pada wanita itu. Dia justru malah bangkit dari posisi duduknya. "Kau pikir saja. Aku tidak suka kau berbohong," ucapnya k

  • Godaan Kakak Tiri Mafia   35. Hukuman di atas ranjang

    "Aku buka ya pakaiannya?" Arinka menggelengkan kepalanya setelah mendengar pertanyaan tersebut dari Dean. Sebuah penolakan yang dia tunjukan dengan jelas, dengan tangan yang mulai menahan tangan Dean agar tidak melepas pakaiannya seperti apa yang pria itu katakan. "Kenapa, Love? Hm? Memangnya kau tidak merindukan aku?" tanya Dean sekali lagi. Berusaha membujuk Arinka yang masih menahan tangannya. Arinka mengatur nafasnya yang sempat terengah akibat ciuman yang mereka lakukan beberapa saat yang lalu. Kepalanya dekali lagi menggeleng dengan perlahan. "Jangan di sini, mereka bisa melihat kita." "Terus? Apa yang jadi masalah? Memangnya kenapa kalau mereka melihat kita, hm?" tanya Dean tanpa beban sama sekali. Hal yang membuat Arinka menatap pria itu dengan lekat, dengan kedua tangan yang sudah dia ulurkan untuk menyentuh pipi sang kakak, mengusapnya pelan. "Memangnya kau mau kalau mereka melihat tubuh kita berdua?" tanya Arinka sekali lagi. Namun, Dean malah tersenyum miring dibuat

  • Godaan Kakak Tiri Mafia   34. Aku ingin melepaskan pakaianmu

    "Jika kau memang benar-benar berada di posisi Dean, apa kau akan tetap mengusir wanita jalang yang menjadi parasit ini, Tuan Lucas?" "Kenapa hanya diam? Tidak bisa menjawab? Mulai menyesali ucapanmu sebelumnya, Lucas?" tanya Arinka sekali lagi setelah melihat keterdiaman Lucas di sana. Wanita itu tersenyum, penuh kemenangan. Dia benar-benar puas melihat respon Lucas yang seperti itu. Setidaknya, dia bisa melihat Lucas yang tak lagi membantah dan menyombongkan diri seakan dia ada di atas segalanya hingga bisa merendahkan Arinka seperti sebelumnya. "A–apa maksudmu tent—" "Bicara lagi nanti. Sudah terlanjur malas membahas soal ini denganmu," potong Arinka cepat sebelum Lucas menyelesaikan ucapannya. Arinka berniat melangkahkan kakinya di sana. Namun, baru saja melewati pria itu, tangannya sudah kembali ditarik. Dengan pergerakak cepat, Lucas menarik Arinka dan menyudutkan tubuh wanita itu pada meja makan. Tak peduli dengan kursi yang tersenggol hingga akhirnya terguling denga

  • Godaan Kakak Tiri Mafia   33. Desahan wanita itu

    Rasa takut.Sepertinya Arinka mulai merasakan jika rasa takut itu semakin nyata. Rasa takut yang membuat hatinya terasa tak nyaman dan juga tidak tenang. Rasa takut yang selalu membuatnya was was. Apalagi, jika dia memikirkan bagaimana keadaan sang ibu yang sekarang sudah jauh darinya. Sang ibu yang masih menyandang status sebagai istri dari seorang Arthur, si brengsek yang hampir melecehkannya.Tidak hanya itu saja, Arinka juga menakuti hal lainnya. Tentang dirinya yang sekarang mulai terlibat dengan dunianya Dean. Dunia sang kakak tiri yang terlihat semakin gelap dan benar-benar menakutkan. Sampai Arinka harus dikurung di mansion besar itu bersama orang-orang yang ada di sana. Dengan Arinka yang belakangan ini terus diajarkan bagaimana caranya menembak dan membela diri jika saja seseorang akan menyakitinya suatu saat nanti."Ayo, Nona Arinka. Sudah waktunya berlatih lagi."Seorang pria baru saja menghampiri Arinka yang sedang terduduk di kursi dapur. Dia baru saja menyelesaikan sara

  • Godaan Kakak Tiri Mafia   32. Keterlibatan sang ayah

    "Kau kira aku akan begitu saja percaya pada apa yang kau ucapkan?"Dean mendecih. Dia juga tersenyum menatap Lucas, sebuah senyum yang meremehkan. Apalagi, saat dia melihat Lucas yang juga masih terduduk dengan bagian lengan yang sudah terluka. Karena kenyataannya, lengannya itu terkena tembakan Dean. Sampai dia begitu saja terduduk dengan pistol yang terjatuh begitu saja.Ya, Dean tidak mengenai titik vital Lucas. Dia hanya menembak lengan pria itu demi menyingkirkan ancaman yang Lucas berikan sebelumnya.Tidak mungkin juga Dean membunuh Lucas begitu saja."Kau bisa memeriksa data perusahaan ayahmu. Kau mungkin akan menemukan petunjuk yang mengarah ke sana," ucap Lucas kemudian.Kali ini dia terlihat semakin serius dari sebelumnya. Meski rasa nyeri sedang dia rasakan pada lengannya.Bagaimanapun, luka tembak itu memang menyakitkan. Apalagi saat darah itu terus menetes dari lukanya. Membuat Lucas semakin lama juga bisa merasa lemas karena kehilangan cukup banyak darah."Kita ke rumah

  • Godaan Kakak Tiri Mafia   8. Suntikan yang nikmat

    "Good moaning!"Kedua mata Arinka membelalak saat dia mendengarkan sapaan itu di telinganya.Ya, dia teramat yakin kalau dia tidak salah dengar. Alih-alih mengatakan sapaan 'Good Morning', pria yang baru saja mengambil tempat untuk duduk di sampingnya itu malah mengatakan 'Good Moaning'."Tutup mul

  • Godaan Kakak Tiri Mafia   7. Kegilaan nikmat

    Siapa sangka kalau ciuman Dean akan sememabukan ini. Sampai Arinka tak sadar kalau dia terus menikmati ciuman yang kakak tirinya berikan itu. Membalas setiap pergerakan yang membuat matanya terpejam dan melenguh beberapa kali dengan sentuhan-sentuhan yang membuatnya tak bisa berhenti.Meski saat Ar

  • Godaan Kakak Tiri Mafia   6. Aku akan menikmatimu

    Satu tembakan.Dua tembakan. Tiga tembakan.Sampai belasan tembakan dilesakkan oleh Dean dengan begitu mudah.Bukan hal sulit untuknya mengarahkan timah panas tersebut pada kepala orang-orang yang memancing emosinya tersebut. Tidak peduli dengan nyawa yang akhirnya melayang di tangannya begitu saj

  • Godaan Kakak Tiri Mafia   5. Panggil aku dalam rintihanmu

    Gila!Hanya kata itu yang terus terngiang di kepala Arinka sekarang.Keadaannya benar-benar gila! Bagaimana mungkin Dean yang merupakan kakak tirinya itu selama ini merupakan pelanggannya? Pria yang selalu dia puaskan di atas ranjang?! Benar-benar gila!"Tapi, tunggu ... Pelangganku? Itu berarti, k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status