LOGIN"Ahh, Dean hentikan ..."
Arinka melenguh. Dia mencoba melepaskan diri dari pria yang sedang memberikan beberapa jilatan dan hisapan pelan pada lehernya tersebut. Tapi sayangnya, yang terjadi adalah Arinka yang tidak bisa meloloskan diri sama sekali. Kedua tangannya dicengkeram oleh Dean dan diposisikan di atas kepalanya sendiri. Membuat Arinka hanya bisa melenguh saat bibir Dean semakin turun, mengecupi belahan dadanya yang menyembul di balik gaun. "Dean, please. Hentikan!" Seru Arinka saat Dean menyematkan tanda kemerahan pada dadanya. Ya, Dean menghisapnya cukup kuat sampai meninggalkan tanda tersebut. Namun, kali ini Dean berhenti dan kembali menatap Arinka. Matanya sayu, nafasnya terengah, dan ada sedikit keringat yang muncul di dahinya. Menunjukan jelas jika Dean sedang menginginkan sesuatu. "Apa yang sebenarnya kau lakukan? Kenapa kau seperti ini?! Lepaskan aku!" Tegas Arinka yang sudah kembali memberontak. Arinka berusaha kerasa untuk lepas dari Dean, tapi sayangnya tetap saja nihil. Dean masih terlalu kuat untuk dia lawan. "Kau, wanita sewa?" tanya Dean begitu saja. Raut wajah pria itu terlihat serius, tanpa melepaskan tangan Arinka dari cengkeramannya. Arinka membulatkan matanya. Dia juga menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, memastikan jika tidak ada orang lain yang mendengar pertanyaan Dean. Sebelum akhirnya Arinka menelan ludahnya sendiri dengan kasar saat kembali menatap Dean di depannya. "Ke–kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Arinka gugup. Dean menyunggingkan senyuman miring saat Arinka bertanya demikian. Dengan wajah yang dia dekatkan tepat pada telinga Arinka. "Kau hanya memiliki satu pelanggan tetap, dan kau hanya melayani satu pria saja di sana. Haruskah aku mengungkapkan fakta menarik ini di acara kali ini?" bisik Dean tepat di telinga Arinka. Dengan satu jilatan yang dia berikan pada cuping telinga wanita itu. Arinka terdiam. Tubuhnya mematung. Kedua tangannya juga mengepal dengan kuat. "Please. Kita bicara di dalam," ucap Arinka pada akhirnya. Dia kalah. Dia takut. Dia tidak bisa membiarkan Dean mengatakan lebih jauh saat kemungkinan besar orang lain lewat di dekat mereka dan mendengarnya. Untuk itu Arinka mengusulkan untuk berbicara dj tempat lain, tempat yang lebih aman. Namun, dengan cengkeraman tangan yang sudah dilepaskan. Dean malah terkekeh pelan atas penuturan Arinka. Di mana dia juga sudah merapikan pakaian yang dia kenakan. "Bicara apa? Bukankah kau bilang Ayah dan Ibumu mungkin sudah menunggu di sana? Tidak ada waktu untuk mengobrol lagi, Baby sis." Arinka meremat dress yang dikenakannya. Dia menatap Dean yang kini sudah siap berbalik melangkahkan kakinya untuk pergi. Setidaknya, sampai Arinka memejamkan matanya sejenak dan kembali memanggil Dean, sang kakak tiri. "Aku akan penuhi permintaanmu, apapun. Tapi jangan katakan apapun yang kau ketahui soal pekerjaanku di club. Aku mohon!" Seru Arinka. Ya, dia tahu Dean juga tidak main-main soal ucapan pria itu sebelumnya. Arinka tahu kalau Dean memang tak menyukai kehadirannya, meski dia tidak tahu atas alasan apa Dean melakukan hal seperti tadi. Jadi, bukan tidak mungkin kalau Dean akan benar-benar membocorkan fakta jika Arinka telah menjadi wanita sewaan. Dean menoleh dan kembali menunjukan senyuman miringnya pada Arinka. Senyum miring uang terlihat mengerikan bagi wanita itu. "Setelah acara selesai, datang ke kamarku. Aku akan menagih janjimu," ujar Dean kemudian. Belum sempat Arinka membantah dan memberikan perlawanan, Dean sudah lebih dulu meninggalkannya. Membuat Arinka merutuki dirinya sendiri. Ya, dia seolah baru saja melompat ke dalam masalah yang akan mengacaukannya. *** Pukul 23.30 Acara sudah berakhir. Tapi, Arinka enggan untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Jujur saja, dia terlaku takut masuk ke dalam sana. Mengingat pria yang mengetahui rahasianya berada di dalam sana. Pria yang meminta Arinka datang ke dalam kamarnya, sebagai balasan atas Dean yang tidak mengatakan apapun selama acara mereka malam ini. Arinka menghembuskan nafasnya kasar. "Apa yang harus aku lakukan! Ibu bisa membunuhku kalau dia tahu aku bekerja di club sebagai wanita sewa!" Keluhnya. Berkali-kali Arinka merutuki dirinya. Dia benar-benar bingung dengan apa yang harus dia lakukan sekarang. Sebelum akhirnya dia terdiam untuk beberapa saat. "Tunggu. Sebenarnya, bagaimana bisa Dean tahu kalau aku melakukan itu? Padahal, aku sudah meminta Nyonya Wylon untuk merahasiakan identitas ku. Aku juga selalu memakai topeng dan tidak pernah mengobrol dengan pria yang aku layani. Bagaimana mungkin dia—" Arinka tidak melanjutkan ucapannya karena suara notifikasi ponselnya membuat dia terkejut dan nyaris terperanjat. "Ah, sialan!" Arinka membuka pesan tersebut. Pesan yang berisi [Kalau memang penasaran, seharusnya kau datang ke kamarku sekarang juga, adik manis. Aku menunggumu, kalau tidak, mungkin aku yang turun dan bertemu Ibumu.] Arinka terdiam. Dia menatap layar ponselnya dengan terkejut. Tak menyangka jika Dean akan mengirimkan pesan seperti itu. Pesan pertama yang dia dapatkan dari kakak tirinya tersebut. Pesan paling menakutkan bagi Arinka. Belum sempat mematikan ponselnya, Arinka sudah mendapat pesan lain. [Cepat berdiri dan jangan hanya terdiam seperti orang bodoh di sana, Arinka.] Arinka membulatkan matanya. Dia juga menoleh ke kanan dan kiri. Ke belakang dan ke ... Atas? "Shit!" Maki Arinka pelan. Saat matanya sudah menemukan seorang pria tengah berdiri di balkon lantai 2 rumah tersebut. Ya, Dean yang sedang berdiri dengan segelas wine di tangannya. Bersamaan dengan senyuman miring yang diperlihatkan saat dua pasang mata itu sudah saling bersitatap. "Come here." Dean berbicara tanpa suara. Membuat Arinka dengan terpaksa bangkit dari duduknya. Dengan terpaksa berjalan masuk dan datang ke tempat pria itu berada. Dengan jantung yang berdegup kencang, Arinka menghela nafasnya panjang. Sebelum dia mengetuk pintu sebuah kamar yang menjadi tempat sang kakak tiri tersebut. Tok tok tok! "Masuk saja!" ucap Dean dari dalam. Hembusan nafas berat kembali dilakukan Arinka, sampai dan membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam kamar tersebut. "Oke, apa yang kau inginkan?" tanya Arinka dengan cepat. Dean tertawa kecil mendengarnya. "Wow, tenanglah. Kenapa terburu-buru seperti itu, Arinka?" "Katakan saja. Aku berterima kasih karena kau tidak mengatakan apapun, jadi katakan padaku agar apa yang kau inginkan sebagai balasannya," ujar Arinka. Ya, dia tidak sabar. Karena Arinka memang ingin segera pergi dari sana. Menyudahi perbincangannya dengan Dean, si kakak tiri yang menyebalkan ini. Namun, Dean justru malah melangkahkan kakinya mendekat pada Arinka. Dia tersenyum, tipis. Dengan sorot mata yang sudah menatap Arinka dari ujung kepala hingga ujung kakinya. "Kau tidak mau bertanya dulu? Mungkin, kau ingin bertanya soal bagaimana aku bisa tahu tentang rahasiamu?" tanya Dean pelan, dengan satu alis yang sudah terangkat. Arinka menggeleng. "Cukup katakan apa keinginanmu, dan kita selesaikan urusan ini!" "Suck me!" "Kau gila?!" Tegas Arinka dengan kedua mata yang membulat. Tidak merasa bersalah, Dean malah terduduk di atas sofa yang berada di dalam kamarnya. Dengan kedua kaki yang dia buka dengan lebar. "Hisap milikku, sampai aku merasakan kepuasan. Satu kali kau melakukannya, maka satu kali juga aku akan menutup mulutku untukmu," ucap Dean dengan begitu yakin. Sementara Arinka menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dengan gelengan di kepala yang sudah dia tunjukan. Satu kali melakukan untuk satu kali menutup mulut? Itu berarti, Arinka harus melakukannya jika ingin rahasianya aman? Gila! "Kau benar-benar gila, Dean!" "Kak Dean," koreksi Dean atas panggilan Arinka barusan padanya. Arletta mengepalkan tangannya. Dia menatap Dean tajam. "Menjijikan memiliki kakak sepertimu!" "Tapi menyenangkan memiliki adik sepertimu," ujar Dean sambil terkekeh pelan. "Jadi, kau mau menghisap milikku atau malah ingin menghisap tanah kuburanmu nanti? Membayangkan bagaimana jadinya jika orang-orang tahu tentangmu, bukankah kau akan mengakhiri hidupmu nantinya? Atau, Ibumu yang—" "Brengsek!" Potong Arinka dengan makiannya. Hal itu tak membuat Dean mengalah. Pria itu justru kini telah melepas kancing dan resleting celananya. Dia melepaskan celana panjangnya dan hanya menyisakan celana dalam yang membuat kejantanan nya terlihat jelas, menonjol di balik celana dalam. "Suck me, Baby sis."Dean sempat terdiam. Isi kepalanya mendadak kosong setelah mendengar pertanyaan yang dilemparkan Arinka padanya. Benar-benar terasa kosong sampai dia sendiri tidak tahu bagaimana dia harus menjawab pertanyaan tersebut. Sekalipun itu adalah pertanyaan yang seharusnya bisa dia jawab dengan isi hati dan kepalanya."Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu—""Biarkan aku menjawab dulu," potong Dean sebelum Arinka menyelesaikan kalimatnya di sana.Lantas Dean kini kembali membelai rambut Arinka dengan lembut, teramat lembut sampai kedua pasang mata itu saling menatap dengan lekat. Saling memancarkan perasaan masing-masing melalui hal itu. Disusul dengan satu anggukkan di kepala Arinka yang sudah ditunjukan padanya sebagai persetujuan."Kau tahu kan kalau aku tidak suka kau berbohong padaku?" tanya Dean kemudian. Di balas dengan anggukkan lagi dari wanita yang saat ini bersamanya. "Untuk itu, aku juga ingin mengatakan hal yang sebenarnya. Aku tidak akan menambahkan kebohongan, meskipun itu
Sakit.Arinka dapat merasakan ngilu pada seluruh tubuhnya. Sebab Dean memang melakukan semua yang sudah dia katakan sebelumnya. Tentang dia yang tidak akan membiarkan Arinka berjalan. Terbukti dengan tubuh Arinka yang bahkan kini terass ngilu di seluruh tubuh akibat aktivitas seksnya bersama Dean. Membuatnya kini hanya bisa berbaring lemas di atas ranjang dengan selimut yang membungkus tubuhnya."Lain kali jangan coba-coba berbohong padaku. Masih untung aku bisa mengendalikan diri, kalau tidak kau mungkin sama sekali tidak bisa bergerak," ucap Dean yang saat ini sudah terduduk di tepi ranjang. Hanya mengenakan celananya pendeknya.Lantas Arinka berusaha mengubah posisinya hingga berbaring menyamping sembari menahan rasa ngilu di bagian pusatnya. Dia menatap Dean dengan sorot matanya yang sayu."Kau marah sekali, ya?" tanya Arinka lirih.Dean sama sekali tak menoleh pada wanita itu. Dia justru malah bangkit dari posisi duduknya. "Kau pikir saja. Aku tidak suka kau berbohong," ucapnya k
"Aku buka ya pakaiannya?" Arinka menggelengkan kepalanya setelah mendengar pertanyaan tersebut dari Dean. Sebuah penolakan yang dia tunjukan dengan jelas, dengan tangan yang mulai menahan tangan Dean agar tidak melepas pakaiannya seperti apa yang pria itu katakan. "Kenapa, Love? Hm? Memangnya kau tidak merindukan aku?" tanya Dean sekali lagi. Berusaha membujuk Arinka yang masih menahan tangannya. Arinka mengatur nafasnya yang sempat terengah akibat ciuman yang mereka lakukan beberapa saat yang lalu. Kepalanya dekali lagi menggeleng dengan perlahan. "Jangan di sini, mereka bisa melihat kita." "Terus? Apa yang jadi masalah? Memangnya kenapa kalau mereka melihat kita, hm?" tanya Dean tanpa beban sama sekali. Hal yang membuat Arinka menatap pria itu dengan lekat, dengan kedua tangan yang sudah dia ulurkan untuk menyentuh pipi sang kakak, mengusapnya pelan. "Memangnya kau mau kalau mereka melihat tubuh kita berdua?" tanya Arinka sekali lagi. Namun, Dean malah tersenyum miring dibuat
"Jika kau memang benar-benar berada di posisi Dean, apa kau akan tetap mengusir wanita jalang yang menjadi parasit ini, Tuan Lucas?" "Kenapa hanya diam? Tidak bisa menjawab? Mulai menyesali ucapanmu sebelumnya, Lucas?" tanya Arinka sekali lagi setelah melihat keterdiaman Lucas di sana. Wanita itu tersenyum, penuh kemenangan. Dia benar-benar puas melihat respon Lucas yang seperti itu. Setidaknya, dia bisa melihat Lucas yang tak lagi membantah dan menyombongkan diri seakan dia ada di atas segalanya hingga bisa merendahkan Arinka seperti sebelumnya. "A–apa maksudmu tent—" "Bicara lagi nanti. Sudah terlanjur malas membahas soal ini denganmu," potong Arinka cepat sebelum Lucas menyelesaikan ucapannya. Arinka berniat melangkahkan kakinya di sana. Namun, baru saja melewati pria itu, tangannya sudah kembali ditarik. Dengan pergerakak cepat, Lucas menarik Arinka dan menyudutkan tubuh wanita itu pada meja makan. Tak peduli dengan kursi yang tersenggol hingga akhirnya terguling denga
Rasa takut.Sepertinya Arinka mulai merasakan jika rasa takut itu semakin nyata. Rasa takut yang membuat hatinya terasa tak nyaman dan juga tidak tenang. Rasa takut yang selalu membuatnya was was. Apalagi, jika dia memikirkan bagaimana keadaan sang ibu yang sekarang sudah jauh darinya. Sang ibu yang masih menyandang status sebagai istri dari seorang Arthur, si brengsek yang hampir melecehkannya.Tidak hanya itu saja, Arinka juga menakuti hal lainnya. Tentang dirinya yang sekarang mulai terlibat dengan dunianya Dean. Dunia sang kakak tiri yang terlihat semakin gelap dan benar-benar menakutkan. Sampai Arinka harus dikurung di mansion besar itu bersama orang-orang yang ada di sana. Dengan Arinka yang belakangan ini terus diajarkan bagaimana caranya menembak dan membela diri jika saja seseorang akan menyakitinya suatu saat nanti."Ayo, Nona Arinka. Sudah waktunya berlatih lagi."Seorang pria baru saja menghampiri Arinka yang sedang terduduk di kursi dapur. Dia baru saja menyelesaikan sara
"Kau kira aku akan begitu saja percaya pada apa yang kau ucapkan?"Dean mendecih. Dia juga tersenyum menatap Lucas, sebuah senyum yang meremehkan. Apalagi, saat dia melihat Lucas yang juga masih terduduk dengan bagian lengan yang sudah terluka. Karena kenyataannya, lengannya itu terkena tembakan Dean. Sampai dia begitu saja terduduk dengan pistol yang terjatuh begitu saja.Ya, Dean tidak mengenai titik vital Lucas. Dia hanya menembak lengan pria itu demi menyingkirkan ancaman yang Lucas berikan sebelumnya.Tidak mungkin juga Dean membunuh Lucas begitu saja."Kau bisa memeriksa data perusahaan ayahmu. Kau mungkin akan menemukan petunjuk yang mengarah ke sana," ucap Lucas kemudian.Kali ini dia terlihat semakin serius dari sebelumnya. Meski rasa nyeri sedang dia rasakan pada lengannya.Bagaimanapun, luka tembak itu memang menyakitkan. Apalagi saat darah itu terus menetes dari lukanya. Membuat Lucas semakin lama juga bisa merasa lemas karena kehilangan cukup banyak darah."Kita ke rumah
Siapa sangka kalau ciuman Dean akan sememabukan ini. Sampai Arinka tak sadar kalau dia terus menikmati ciuman yang kakak tirinya berikan itu. Membalas setiap pergerakan yang membuat matanya terpejam dan melenguh beberapa kali dengan sentuhan-sentuhan yang membuatnya tak bisa berhenti.Meski saat Ar
Satu tembakan.Dua tembakan. Tiga tembakan.Sampai belasan tembakan dilesakkan oleh Dean dengan begitu mudah.Bukan hal sulit untuknya mengarahkan timah panas tersebut pada kepala orang-orang yang memancing emosinya tersebut. Tidak peduli dengan nyawa yang akhirnya melayang di tangannya begitu saj
Gila!Hanya kata itu yang terus terngiang di kepala Arinka sekarang.Keadaannya benar-benar gila! Bagaimana mungkin Dean yang merupakan kakak tirinya itu selama ini merupakan pelanggannya? Pria yang selalu dia puaskan di atas ranjang?! Benar-benar gila!"Tapi, tunggu ... Pelangganku? Itu berarti, k
Melihat kejantanan Dean yang berada di depannya membuat Arinka mematung.Dia diam, terkejut. Benar-benar tidak menyangka kalau Dean akan senekat itu melepas celananya di depan Arinka. Tidak menyangka kalau kakak tirinya itu benar-benar serius memintanya menghisap kejantanannya tersebut.Tapi, di si







