Se connecterAbel melihat siapa yang datang ke sana dan terlihat seorang wanita dengan pakaiannya yang serba mewah dan terlihat sangat glamour sekali, makeupnya yang begitu wow tertutupi dengan kacamata hitamnya yang cukup besar.
Wanita itu mendekat ke arah Abel, melihat Abel dari ujung kepala sampai ujung kakinya. "Siapa kamu?" tanyanya dengan sedikit angkuh dan sombong. Abel menelan salivanya dengan susah payah, wanita ini terlihat sangat menyeramkan sekali. "Apa kamu bisu haa!" bentaknya dengan sedikit keras membuat Abel pun terkejut dan tersadar dari lamunannya, wanita itu menundukkan kepalanya pelan. "Maaf Nyonya, saya babysitternya Tuan kecil," ucapnya sambil menunduk hormat. Wanita itu melihat penampilannya Abel terlihat sangat seksy sekali. "Kamu mau jadi babysitter atau mau jadi penggoda, kenapa pakaianmu seperti ini ha?" tanyanya lagi dan Abel sedikit kesal dengannya, kenapa dia sangat cerewet sekali. "Agar lebih mudah untuk menyusui Tuan kecil," jawabnya asal, tetapi memang begitu karena kadang Tuan kecilnya suka menangis dan Abel bisa gampang mengeluarkannya, contohnya saja seperti pagi tadi. Terlihat wajah terkejut dari wanita itu, dia menatap Abel lagi yang memiliki tetek yang besar. "Kamu bisa menyusui?" tanya wanita itu, ucapannya sangat tinggi dan terkesan sangat sombong sekali, memang orang-orang kaya suka sombong dan sangat angkuh sekali. "Bisa Nyonya," jawab Abel dan wanita itu melipat tangan di depan dadanya. "Kamu janda?" tanya wanita itu membuat Abel mengerinyitkan keningnya, seseksy dan sebohai ini dan cantik. jelita dikatakan janda? Enak saja, dia masih gadis pari purna. "Tidak Nyonya, saya masih gadis," jawabnya membuat wanita itu semkain terkejut mendengarnya, kenapa bisa memiliki asi jika dia maish gadis. Tatapan memicing ditunjukkannya kepaa wanita itu tetapi Abel mencoba untuk tenang dan tidak terpancing dengan wanita ini, dia memang sangatlah menyebalkan sekali. "Huh, dia ini kenapa sih, norak banget," batin Abel sedikit kesal kepada wanita di depannya ini. "Kemarikan cucu saya," ucapnya dengan ketus, tasnya diberikan kepada pengawal yang ada di sebelahnya dan setelah itu mengambil Arvaz yang ada dalam gendongannya Abel. Abel hanya diam saja dan menyerahkan Arvaz kepadanya. "Ah ya, jangan sampai kamu mencoba menggoda anak saya ya, awas saja kamu jika itu terjadi!" Wanita itu berjalan dengan angkuhnya masuk ke dalam mansion, Abel hanya memutar bola mata malasnya saja, ternyata wanita itu Ibunya Leon si pemarah, pantas saja sikapnya sebelas duabelas dengan pria itu. "Tidak Ibu, tidak anak sama-sama mennyebalkan," batin Abel dan wanita itu mendengus dengan kasar, Abel hendak menyusul ke dalam tetapi sempat-sempatnya wanita itu mengedipkan sebelah matanya kepada pengawal yang berjaga di sana. Dasar genit! Abel menyusul Nyonya besar yang sedang duduk di sofa, terlihat Arvaz tidak nyaman berada didekatnya. Tangisan Arvaz terdengar tetapi wanita itu tidak marah dan mencoba membujuknya. "Ar tidak mau sama grandma?" tanyanya dengan cemberut, rasanya dia sedih cucunya tidak mau digendong olehnya. Dia mencoba membujuk Arvaz lagi tetapi tetap saja Arvaz tidak mau kalau digendong sama grandmanya sampai-sampai dia menangis hingga keluar air matanya. Tidak tega melihat cucunya yang menangis wanita itu pun memanggil babysitternya Arvaz dengan kesal. "Hey kamu, cepat tenangkan Ar," titahnya dengan galak. Abel hanya bisa sabar saja, padahal dia yang membuat nangis Abel pula yang mau dia marahkan karena Arvaz yang menangis.. "Iya Nyonya," ucap Abel dengan sopan, dia harus bermuka dua di depan Nyonya besar yang sangat sombong ini, benar-benar sangatlah menyebalkan sekali! Abel menimang dan menepuk-nepuk bokong Arvaz dan mengusap punggungnya agar dia tidak menangis lagi. "Sayang jangan nangis ya, ini Sus Abel di sini, gumam Abel dengan sangat lembat. Nyonya besar itu melihat cara Abel menenangkan Ärvaz, wanita itu hanya diam sambil melipat satu kakinya di kaki satu lagi, melipat tangannya di depan dada. Abel sedikit risih melihat tatapan wanita yang sedang mengawasinya itu tetapi dia mencoba untuk tetap tenang sambil menggendong Arvaz. Tiba-tiba seseorang datang dan menyapa wanita itu. "Nyonuya Emily," sapanya sambil menunduk hormat, kepala pelayan tidak tau kalau Nyonya besar datang ke kediaman ini. "Dimana putraku itu?" tanyanya langsung menatap kepala pelayan dengan wajah angkuhnya. "Maaf Nyonya, Tuan sedang pergi, saya tidak tau Tuan kemana, jawabnya dengan sopan. Terdengar helaan nafas kasar dari Nyonya Emily. "Anak itu tidak pernah betah sekali di negara ini, selalu pergi sibuk bekerja!" Tidak ada yang berani mengeluarkan suara bahkan Abel pun hanya diam saja sambil menggendong Arvaz, untuk saja Arvaz sudah tenang dan tidak menangis lagi, dia bersandar pada dada Abel yang terasa sangat empuk. "Tau sekali bocah kecil ini mana yang empuk," batin Abel melihat Arvaz yang nyaman dalam pelukannya. "Apa Nyonya ingin makan atau meminum sesuatu, saya akan menyajikannya untuk Nyonya," ucap kepala pelayan tetapi Nyonya Emily menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, aku hanya sebentar saja di sini," ucapnya yang langsung beranjak dan mendekati Abel dan Arvaz. Wanita itu menatap cucu tampannya yang sudah diam, dia mengusap kepala Arvaz dengan lembut dan setelahnya menatap Abel dengan tatapan tajam. "Jika berani kamu melukai cucuku sedikit saja, maka bersiap kamu akan aku cincang sampai mati!" Abel hanya diam sambil menelan salivanya, tatapan tajam dan ancaman itu sama persis dengan Leon yang mengancamnya. "I-iya Nyonya," jawabnya dengan patuh, dalam hati Abel dia berdegup dengan sangat kencang sekali. Dia harus memberikan peringatan untuk Babysitter ini, tidak akan Emily biarkan jika Abel sampai melukai pewaris dari keluarga Valentina. "Kamu ingat baik-baik ya, tidak akan selamat kamu meski kamu lari sampau ke ujung neraka sekali pun, ancamnya lagi lalu Abel hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. "Iya Nyonya," jawab Abel dengan pelan. "Bagus." Emily langsung pergi dari sana dengan diikuti oleh beberapa pengawal, kaki Abel langsung lemas saat kepergian wanita itu. "Hah aku kenapa bisa bekerja di rumah orang yang sakit semua isinya," batin Abel yang kini wajahnya sudah berkeringat dingin. Kepala pelayan mendekati Abel. "Kamu harus bekerja dengan baik, memastikan Tuan kecil baik-baik saja, dia yang paling berharga untuk keluarga ini dan tadi adalah Nyonya Emily, Nyonya besar keluarga ini Ibunya Tuan Leon," jelas kepala pelayan kepada Abel. Abel hanya menganggukkan kepalanya saja. "Baik Bi." Kepala pelayan itu harus menjelaskannya kepada Abel, tidak ini saja kejutan yang Abel terima, dia harus menerima banyak hal lagi di kediaman ini. "Keluarga ini tidak seperti keluarga diluaran sana, kamu. harus hati-hati di sini. Mereka tidak ada belas kasih dan akan menghukum siapapun yang mencoba berkhianat di sini, mengerti?" tanya kepala pelayan membuat Abel pun menganggukkan kepalanya mengerti. "Baik Bibi, Abel mengerti." Kepala pelayan menatap ke arah Abel, melihat wanita itu yang tampak masih syok dengan ancamannya Nyonya Emily tadi. "Saat keluarga Tuan Leon datang ke sini cobalah pakai pakaian yang sopan lagi, kamu tidak tau bagaimana pria memandangmu," jelas kepala pelayan sebab dia baik memberitahukan Abel sebab Abel anak baru di sini. "Baik Bibi, Abel mengerti." Setelah memberikan penjelasan kepada Abel kepala pelayan langsung pergi dan mengawasi yang lainnya. Abel menatap ke arah Arvaz yang tampak diam di dalam. pelukannya. "Ar, kamu jangan seperti Gradma dan Daddymu ya, Sus Abel takut banget," ucap Abel pelan agar tidak ada yang mendengarnya. Abel merasa dirinya akan diawasi terus menerus, wanita itu melihat Leon saja yang menatapnya tajam ternyata induknya lebih tajam lagi, mendengar ancaman Leon saja sudah membuatnya hampir jantungan kini berhadapan dengan induknya lagi, sama-sama seperti singa mereka ini. "Ar, tolong jangan kenapa-napa ya, nyawa Sus Abel ada ditangan kamu," ucap Abel sambil bergedik ngeri, jika dia melakukan satu kesalahan saja maka dia pasti akan langsung dilenyapkan dari muka bumi ini. Abel menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, tidak. Aku tidak boleh mati dulu, bagaimana bisa aku melepaskan fantasiku jika aku harus mati, aku mau membuat bayi yang imut juga seperti Arvaz," ucap Abel dengan gilanya masih mengingat hal itu. Abel beranjak dan membawa Arvaz kembali ke kamarnya, lebih baik dia menjaga Arvaz di kamar saja sambilan bersantai. Abel berjalan naiki tangga satu persatu sambil bernyanyi untuk Arvaz, Arvaz juga tidak rewel membuat Abel sangat senang menjaganya. "Arvaz yang tampan, Arvaz yang baik, Arvazku sayang, lalalalala..." Abel menyanyikan lagu itu membuat Arvaz terus memandanginya dengan mata bening anak itu, tangannya seolah ingin meraih wajah Abel membuat Abel sangat gemas sekali. Abel membawa Arvaz duduk di karpet bulu tebal yang pastinya sangat aman sekali, anak itu dibiarkan berbaring di sana, sambilan Abel usap-usap kakinya dan pijit-pijit kecil membuat Arvaz bebas melakukan gerakan apapun di sana. "Kamu pasti tadi takut ya digendong sama Grandma kamu, dia nyeremin sih," kata Abel dengan pelan, wanita itu memastikan jika kamar Arvaz sudah terkunci agar tidak ada yang mendengar ucapannya. "Kamu saja nyaman sama Sus Abel yang cantik makanya. tidak nangis. Tidak apa, Sus Abel akan ada untuk Arvaz kalau dia membuat kamu takut lagi ya," gumam Abel dengan cekikikan mengatai nenek tua yang sangat galak itu.. Abel pun sedikit kesal dengannya, bisa-bisanya dia menuduh Abel mau menggoda anaknya itu. "Apa dia tidak sadar jika anaknya itu sangatlah menyeramkan, aku mau dekat dengannya saja mikir seribu kali, apalagi mau menggodanya. Itu tidak akan mungkin," ucap Abel dengan sombongnya, wanita itu tidak akan mungkin mau mendekati Tuannya yang galak itu. "Lebih baik pria yang dibelakangnya kemarin, kata Bibi Olla dia adalah asistennya. Tidak masalah, asistennya sangatlah gagah sekali," batin Abel dengan senyum liciknya. Dia akan mencoba menggoda asisten pria itu, Abel yakin dia tidak terlalu miskin, setidaknya cukup untuk Abel. Membayangkannya saja sudah membuat Abel sangat senang sekali, tidak sabar dia ingin menggoda asisten Leon yang gagah itu. Jika Leon-nya Abel tidak berani karena dia sangatlah menyeramkan sekali. "Sebenarnya Sus Abel lebih suka daddy kamu, tapi dia nyeremin mau buang Sus Abel ke kandang singa, jadinya Sus Abel pilih pria lain deh," katanya dengan tertawa membuat Arvaz memandanginya terus. Di satu tempat seseorang menghadap kepada Tuannya Leon. "Tuan, Nyonya Emily datang ke kediaman," lapor Jef memberitahukannya kepada Leon. Kening Leon mengerinyit, tumben sekali Mami-nya datang. "Kenapa dia datang, dia tidak memberitahukanku," ucap Leon sebab biasanya jika Mami-nya mau datang pasti akan memberitahukan Leon lebih dulu. "Laporan dari kepala pelayan jika Nyonya datang hanya mengunjungi Tuan kecil saja, Tuan," jawab Jef membuat Leon menghela nafas pelan, Maminya itu suka sekali datang tiba-tiba dan jika datang pasti membuat keributan. "Apa sesuatu terjadi?" tanya Leon menatap ke arah Jef, dia sangat tau tabiat Maminya seperti apa. "Tidak ada Tuan, hanya saja..." Jef diam sesaat sebelum mengatakannya kepada Leon. "Nyonya hanya memberi peringatan kepada Abel, babysitternya Tuan kecil. Tuan tau sendiri seperti apa Nyonya," kata Jef lagi membuat Leon mengerutkan sedikit pangkal hidungnya. "Biarkan saja, wanita itu harus terbiasa dengan itu," kata Leon seolah malas menanggapinya. "Tapi Tuan, jika begitu apakah Nona Abel bertahan, saya takut jika dia berhenti seperti yang sebelumnya," kata Jef lagi, Tuan kecilnya membutuhkan Abel apalagi Abel yang bisa memberikannya ASI. Leon sedikit menggeram kesal, pria itu menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya sambil memijit pelan pelipisnya. "Sial! Ada saja masalahnya!" Bersambung ...Leonardo terlihat begitu semangat untuk mendapatkan nutrisinya, pria itu membuat Abel tidak bisa kemana-mana. "Kasihan sekali tuyul kecilku itu," batin Abel melihat Arvaz yang sedang menunggunya di box bayi. "Apa Tuan tidak ke kantor?" tanya Abel tetapi Leon seolah menulikan telinganya dan hanya fokus dengan apa yang dia lakukan saat ini. Abel sampai tak habis pikir kenapa Leon begitu semangatnya, biasanya dia akan terus marah-marah saja kepada Abel. Hingga beberapa saat kemudian Leon pun melepaskan tubuh Abel, dia mendudukkan dirinya dan melihat ke arah Abel. "Ingat ya, satu ini menjadi jatahku," kata Leon yang sudah mengklaim jika itu miliknya. Abel menghela nafas pelan karena Leon begitu bern*fsu sekali. "Ayo bersiap turun, kau harus makan yang bergizi agar asimu terus mengalir dengan deras," ucap Leon yang hanya ingin asinya saja yang
Leon melihat asinya Abel yang sedang melimpah itu sangat semangat padahal tadi dia sudah menghisapnya. "Tuan, nanti Ar gak kebagian," kata Abel mencoba menghentikan Leon. Leon mendengus pelan, ternyata dia secandu itu dengan milik Abel. Abel terkekeh melihat wajah tak senangnya Leon, pria itu tampak sangat kecewa saat Abel melarangnya. "Maaf ya, Tuan harus berbagi dengan Tuan kecil," kata Abel sebab jika Arvaz menangis dan asinya habis juga kasihan anak kecil itu, tuyulnya harus mendapatkan asupan gizi juga. "Hemm," kata Leon dengan malas. Leon memeluk Abel dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Abel, dadanya sungguh empuk sekali. "Apa Tuan tidak kembali ke kamar Tuan?" tanya Abel tetapi Leon malah semakin mempererat pelukannya kepada Abel. "Kenapa? Kau tidak senang aku di sini?" tanya Leon dan Abel dengan cepat menggelengkan kepalanya, sepertiny
Lorenzo menatap ke arah Abel dengan nafas yang tercekat, pria itu menghembuskan nafasnya lemah dan yang juga sedang berburu saat ini. Abel didudukkan ke atas tempat meja makan hingga wanita itu terduduk di sana, Leon memandanginya, sungguh Abel terlihat menggoda dimatanya. "Cantik," batin Leon yang kini berhadapan dengan Abel. Ketika dekat seperti ini entah mengapa Abel terlihat lebih cantik dimatanya, wajahnya ternyata sangat mulus tanpa adanya pori-pori, pria itu tidak kira wajah Abel hanya cantiknya begitu saja tetapi tidak sepertinya dia memang tercipta untuk memiliki wajah yang mulus dan begitu mempesona. Begitu juga dengan Abel, dilihatnya ternyata Leon sangat tampan, selama ini mengaguminya dari jauuh tetapi lebih dekat saja sudah sangat tampan begini. "Tuan," lirih Abel membuat Leon langsung menarik pinggang Abel yang ada di atas meja, pria itu menyeringai menatap wajah Abel. "Kau meman
Malam ini Abel merasa tidurnya sangat nyenyak, wanita itu terus membayangkan kejadian siang tadi. "Ah sepertinya mimpi indah malam ini," ucap Abel dengan malu-malu, wanita itu tersenyum geli membayangkan kejadian siang tadi membuat hatinya bergetar, Abel memegang dadanya yang terasa berdebar. "Astaga, seharunsya Tuan jangan menyusu saja," ucap Abel dengan tertawa kecil, dia sangat menikmati bagaimana Leon yang menikmati susunya itu. "Ehmm... Gak sabar deh," ucap Abel dengan terkekeh geli sendiri, Abel tertawa dengan hal itu. Karena terus membayangkannya membuat Abel tidak bisa. tidur. Leon saat ini berada di ruangan kerjanya, pria itu juga membayangkan kejadian tadi siang dia dan Abel. Diam-diam Leon mencecap pelan lidahnya, pria itu sangat tidak kuat menahan milik Abel yang begitu empuk sekali. "Bagaimana bisa seempuk itu," ucap Leon merasa gemas, ingin sekali dia meremasnya den
Abel sudah selesai menyusui Arvaz hingga anak itu tertidur sambil menyusu dengannya, Abel tersenyum melihat anak tampannya itu tertidur. Jalanan cukup macet karena hari ini weekend, tetapi seketika hujan pun turun saat mereka sedang macet-macetnya. "Wahh enak banget makan yang berkuah pas hujan begini," batin Abel membayangkan dia sedang makan yang hangat-hangat. Jalanan yang basah, hujan dan macet membuat mereka menunggu sangat lama di sana hingga Abel pun merasa bosa. Abel memainkan ponselnya dan membuka social medianya. "Eh siapa namanya tadi, Lukas, batin Abel mengingat nama Lukas adiknya Leon. Abel pun mencari social medianya dan ketemu, ternyata Lukas sangat aktif juga bermain social media membuat Abel suka dengan foto-fotonya Lukas. "Sepertinya dia tertarik denganku," batin Abel yang tersenyum-senyum memandang foto Lukas. Leon yang tidak tau jika Abel sedang
manusia kutub utara. Lihatlah, dia sangat-sangat tidak perduli dengan apa yang terjadi. Tetapi tanpa diketahui siapapun Leon juga tampak curiga dengan Jef, kenapa dia sangat dekat dengan Abel. Jef tidak pernah sekali pun dekat dengan wanita yang Leon tau dan Jef sangat susah didekati. Asistennya itu sangat dingin juga tetapi dengan Abel interaksinya sangat berbeda sekali. Melihat jam sudah mau senja Leon mengambil Arvaz dari gendongan Daddynya, "Kami akan pulang," ucap Leon tetapi Mommynya mencoba menghentikannya.. "Tidak mau makan malam di rumah?" tanya Mommy Emily. "Lain kali saja," jawab Leon. "Kak Leon ayo main sekali lagi, Naura masih mau main sama Kak Leon," ucap Naura menatap Leon yang ingin pergi. Nau







