MasukSaat malam Abel saat ini sedang sibuk seperti biasa mengurus bayi kecilnya yang terlihat santai dan tidak rewel, setelah memandikannya, mengajaknya jalan-jalan, bermain, kini Abel menceritakan dogeng kepada Arvaz.
"Kamu harus dengerin Sus Abel cerita ya, Sus Abel hebat banget kalau cerita," ucapnya dengan sangat bangga kepada dirinya sendiri. Abel tertawa kecil dan tampaknya jika Arvaz sudah besar dan bisa bicara maka dia akan mengatakan jika Abel ini sedikit gila, dia sangat berisik sekali membuat Arvaz jadi tidak fokus sekali. Abel pun mulai bercerita kepada Arvaz, menceritakan dongeng si kucing yang sering mengejar tikus. "Jadi, kalau kita nakal nanti akan dikejar oleh kucingnya, Ar gak mau kan sampai dikejar begitu," ucap Abel dengan terkekeh kecil. Arvaz tampak menatap Abel yang terus bercerita dengannya sampai sudah malam Abel pun menidurkan Arvaz. "Sekarang Arvaz nyusu sama Sus Abel baru tidur, oke. Soalnya Sus Abel laper nih mau makan jadi Sus Abel mau turun dulu terus Sus Abel makan deh dan mandi," katanya dengan begitu bersemangat, dia akan mandi malam setelah Arvaz tidur sebab pasti tubuhnya akan bau susu lagi jadi Abel tidak mandi sebelum Arvaz menyusu kepadanya. Terlihat anak itu semangat saat Abel menyodorkan gunung kebanggaannya itu. "Hem kalau sudah dikasih nen semangat banget nih ," ucap Abel geleng-geleng. tabiat laki-laki, dikasih nenen saja sudah begitu senang dan Abel yakin Arvaz begitu sampai besar. Membayangkan anak asuhnya nanti besar akan memita susu dengan wanita lain saja sudah berhasil membuat Abel terkikik geli, sebab dia terus membayangkan itu berharap ada yang mau menyesap asinya yang gurih ini, tapi sepertinya keberuntungan datang untuk bocil ini karena dia yang menyesapnya sekarang pagi siang sore dan malam. "Ar nanti jadi anak yang baik, gak boleh jahat dan galak ya, Sus Abel sedih kalau Ar seperti itu, apalag kalau Ar sama seperti daddy yang galak itu," gumamnya pelan seperti berbisik kepada Arvaz, dia akan menghasut anak kecil ini agar tidak seperti daddy dan juga Nyonya besarnya itu. Abel jadi teringat dengan ucapannya kepala pelayan siang tadi, dia bilang kalau keluarga Tuannya tidak seperti banyaknya keluarga di luar sana. "Memangnya bagaimana keluarga mereka," gumam Abel yang penasaran. Abel juga heran kenapa Tuannya membangun kediaman besar ini ditengah-tengah hutan, Abel bahkan tidak boleh keluar dari sini dan banyak sekali penjagaan di sini, Abel merasa seperti ada di film-film. "Aneh banget, seperti film kerajaan saja tempat beginian dan di film-film lainnya," ucap Abel tetapi sedetik kemudian Abel menggelengkan kepalanya, dia tidak mau memikirkan apapun lagi karena itu membuat pusing kepalanya saat ini. Abel menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan, wanita itu melihat jika Arvaz sudah tertidur. "Yeay sudah tidur," ucap Abel dengan sangat senangnya, perutnya sangat lapar sekali sudah dan dia ingin makan dulu baru mandi dan bersiap tidur, tidak boleh satu malam pun dia melewat skincarenya, bodycarenya dan ritual-ritual lainnya sebelum dia menghampiri alam mimpi yang begitu indah. Dengan hati-hati Abel mengangkat Arvaz dan membawanya ke box bayi di samping ranjangnya, wanita itu menepuk pelan perut Arvaz dan berharap anak ini tidurnya nyenyak. "Ar gak boleh nangis ya, Sus laper soalnya, jangan nangis ya kalau Sus Abel turun," gumamnya dengan pelan. Abel membuka kamarnya lebar-lebar agar kalau Arvaz nangis dia bisa mendengarnya, lagi pula ini sudah malam dan sangat sepi sekali jadi dia pasti bisa mendengar suara tangisannya Arvaz. Wanita itu keluar dari kamarnya dan turun ke bawah, tidak ada siapapun di sana karena semua pelayan sudah menuju ke paviliun belakang. Kediaman ini sangat besar dan luas, sekelilingnya ada beberapa pohon hijau yang menyegarkan mata, belakang kediamannya ada paviliun dimana beberapa pelayan tinggal di sana dan hanya pelayan kepercayaan dan terpilih saja yang tinggal di mansion dan peraturan utamanya adalah jam sepuluh malam tidak boleh ada yang berkeluyuran atau hukuman cambuk berlaku untuk mereka. Abel mengusap pelan kedua lengannya merasakan aura dingin di sana, dia berjalan menuju ke dapur dan dia tidak tau seseorang ada di sana. "Aaakkhh kaget!" Abel memegang dadanya dengan kuat, jantungnya berdebar karena tidak tau jika di sana ada kepala pelayan. Di kediaman ini hanya dia bebas di sini sebab memastikan semuanya sudah aman agar tidak ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. "Bibi, Abel kaget banget," ucap Abel dengan pelan. "Kamu ngapain di sini?" tanya kepala pelayan dengan menatap datar wajah Abel. "A-Abel mau makan Bi, laper banget karena juga kan Abel menyusui Tuan kecil," ucapnya pelan, yess itu adalah jurus ampuh untuk mengelabui mereka semua, memang dasarnya Abel kuat makan tetapi walau begitu dia sangat rajin olahraga setiap hari jika di kampung, minimal jika pagi dia akan melakukan yoga sebentar. Kepala pelayan menatap ke arah Abel. "Kamu tau dimana letak penyimpanan makanan?" tanya kepala pelayan dan Abel menggeleng pelan. Wanita itu pergi masuk ke dalam dapur yang terlihat sangat mewah sekali, dia mengajak Abel ke sana dan menatap ke arah Abel. "Kediaman ini tidak ada makanan sisa, jadi jika ingin makan kau harus membuat makanan sendiri. Para koki sudah istirahat, apakah kamu bisa memasak sendiri?" tanya kepala pelayan. Abel menganggukkan kepalanya. "Bisa Bi," jawabnya sebab Abel tinggal di kampung dan dia bisa melakukan semuanya. Seorang Abelleza ini adalah multitalenta sekali, serba bisa dan serba guna. Kepala pelayan menganggukkan kepalanya. "Baguslah, tidak perlu repot membangunkan para koki karena besok mereka harus bekerja lagi," ucap kepala pelayan itu membuat Abel hanya tersenyum kecut saja. "Apakah Tuan kecil sudah tidur?" tanya kepala pelayan itu, dia harus memastikan agar Tuan kecilnya tidak menangis selagi Abel sedang masak dan makan. "Tuan kecil sudah tidur, sudah menyusu juga. Dia sudah kenyang saat terlelap," ucap Abel membuat kepala pelayan menganggukkan kepalanya mengerti. "Aku juga tidak menutup pintu dengan rapat, jadi jika dia menangis aku bisa mendengarnya dari sini. Tenang saja, dia tidak menangis jika tidak haus atau popoknya basah," kata Abel yang sudah paham, baru dua hari dia bekerja jadi dia sudah tau apa kebiasaan Arvaz. "Baguslah jika begitu. Jika sudah selesai masak maka. kembali ke kamarmu, aturan di kediaman ini tidak ada yang boleh berkeliaran saat sudah malam begini tetapi untukmu selain kamu mau makan maka diizinkan, tapi setelah itu jika kamu berkeliaran di sini maka kamu bisa terkena hukuman, yaitu cambukan." Abel menelan salivanya dengan susah payah mendengar aturan yang sangat menyeramkan itu, kenapa terdengar seperti terkurung di dalam neraka saja tempat ini. "Apa kamu mengerti?" tanya kepala pelayan dan Abel menganggukkan kepalanya. "Mengerti, Bi." Kepala pelayan menunjukkan dimana tempat penyimpanan makanan, dia juga menunjukkan tempat bumbu, panci dan juga alat-alat pemotongan seperti pisau dan lainnya. Setelah mengerti kepala pelayan pun segera pergi dari sana. Melihat kepergian kepala pelayan membuat Abel memegang. dadanya berdebar, semakin hari semakin aneh saja yang dia dapatkan. "Bibi Olla tidak mengatakan apapun sebelum aku ke sini," batin Abel, ada rasa takut dihatinya tetapi dia pun bertekad jika dia tidak melakukan kesalahan maka dia tidak akan mendapatkan hukuman apapun. Abel mulai menuju lemari makanan dan tidak ada ditemukannya mie instan di sana. "Ish kenapa tidak ada persediaan mie instan sih," gerutu Abel dan terpaksalah wanita itu harus memasak. Saat ini di ruangan yang besar duduk seorang pria yang sedang mengerjakan pekerjaannya, sedari tadi dia sibuk dengan pekerjaannya yang tak ada hentinya. Yah Leon, pria yang sangat gila dengan pekerjaannya, tiada hari tanpa bekerja, hidupnya hanya tau bekerja dan bekerja saja. Lama dia berdiam diri dengan matanya yang terus menatap layar laptop yang menyala, tiba-tiba saja dia teringat dengan satu hal. Pria itu mengambil ipadnya dan membuka sesuatu, melihat sebuah rekaman CCTV tetapi orang yang dia cari tidak ada. Abel "Kemana dia," gumam Leon mencari dimana keberadaan Dia menunggu beberapa saat tetapi tidak ada juga Abel di sana, pria itu pikir jika Abel berada di kamar mandi saat ini, tetapi sedetik kemudian dia tidak melihat Abel keluar dari kamar mandi. "Kemana dia," gumam Leon lagi mencari keberadaan Abel. Pria itu mengotak atik ipadnya dan terlihat di sana rekaman CCTV di kediamannya, setelah beberapa saat dia mencarinya ternyata Abel sedang berada di dapur seperti membuat sesuatu, Pria itu mengerinyit saat dan melihat saja di sana, Abel membawa sesuatu dan duduk di mini bar. Ternyata Abel sedang makan dan dia diam saja memperhatikan Abel makan. Cukup lama, setelah itu Abel pergi dari sana setelah mematikan lampu dapur dan pergi menuju ke kamarnya.. Pria itu menatap terus Abel sampai Abel membuka pakaiannya, seringai di bibir Leon terangkat seolah ini adalah kesenangan untuknya. Jakunnya terlihat naik turun saat melihat bagaimana gunung besar itu terpampang dengan nyata dan gilanya lagi Abel remas-remas dengan pelan. Sedangkan Abel melihat asinya yang terus saja keluar. "Huh padahal Ar sudah minum asinya, kenapa sakit sekali terasa dan makin deras saja," gumam Abel yang mengambil pompa asinya dan segera memompanya. Abel memiliki kelainan hormon dan saat dia makan yang bergizi hormonnya semakin subur sekali hingga membuat asinya berlimpah-limpah saat ini, terlihat Abel merasa sedikit kesakitan dan segera memompanya. "Lumayan untuk stoknya Arvaz," ucap Abel dan setelah selesai memompanya dia meletakkan botol asi Arvaz di sana. Leon seolah tenang sekali menyaksikan apa yang Abel perbuat bahkan saat Abel melepaskan celananya Leon terlihat menajamkan kedua matanya. Sedangkan Abel melihat ke arah cermin tubuh sintalnya yang sangat bagus sekali. "Ish udah tumbu bulunya," gumam Abel melihat ada bulu tipis di sana. Abel menuju ke atas ranjang dan duduk di sana, melebarkan kakinya untuk melihat dengan jelas apakah bulunya semakin banyak atau tidak. Leon yang melihat itu melebarkan matanya, dia tidak menyangka Abel melakukan hal itu. Siapapun yang melihatnya. pasti akan mengira Abel akan melakukan sesuatu hal yang absurd. "Gila, apa dia wanita hyper?" Bersambung....Leonardo terlihat begitu semangat untuk mendapatkan nutrisinya, pria itu membuat Abel tidak bisa kemana-mana. "Kasihan sekali tuyul kecilku itu," batin Abel melihat Arvaz yang sedang menunggunya di box bayi. "Apa Tuan tidak ke kantor?" tanya Abel tetapi Leon seolah menulikan telinganya dan hanya fokus dengan apa yang dia lakukan saat ini. Abel sampai tak habis pikir kenapa Leon begitu semangatnya, biasanya dia akan terus marah-marah saja kepada Abel. Hingga beberapa saat kemudian Leon pun melepaskan tubuh Abel, dia mendudukkan dirinya dan melihat ke arah Abel. "Ingat ya, satu ini menjadi jatahku," kata Leon yang sudah mengklaim jika itu miliknya. Abel menghela nafas pelan karena Leon begitu bern*fsu sekali. "Ayo bersiap turun, kau harus makan yang bergizi agar asimu terus mengalir dengan deras," ucap Leon yang hanya ingin asinya saja yang
Leon melihat asinya Abel yang sedang melimpah itu sangat semangat padahal tadi dia sudah menghisapnya. "Tuan, nanti Ar gak kebagian," kata Abel mencoba menghentikan Leon. Leon mendengus pelan, ternyata dia secandu itu dengan milik Abel. Abel terkekeh melihat wajah tak senangnya Leon, pria itu tampak sangat kecewa saat Abel melarangnya. "Maaf ya, Tuan harus berbagi dengan Tuan kecil," kata Abel sebab jika Arvaz menangis dan asinya habis juga kasihan anak kecil itu, tuyulnya harus mendapatkan asupan gizi juga. "Hemm," kata Leon dengan malas. Leon memeluk Abel dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Abel, dadanya sungguh empuk sekali. "Apa Tuan tidak kembali ke kamar Tuan?" tanya Abel tetapi Leon malah semakin mempererat pelukannya kepada Abel. "Kenapa? Kau tidak senang aku di sini?" tanya Leon dan Abel dengan cepat menggelengkan kepalanya, sepertiny
Lorenzo menatap ke arah Abel dengan nafas yang tercekat, pria itu menghembuskan nafasnya lemah dan yang juga sedang berburu saat ini. Abel didudukkan ke atas tempat meja makan hingga wanita itu terduduk di sana, Leon memandanginya, sungguh Abel terlihat menggoda dimatanya. "Cantik," batin Leon yang kini berhadapan dengan Abel. Ketika dekat seperti ini entah mengapa Abel terlihat lebih cantik dimatanya, wajahnya ternyata sangat mulus tanpa adanya pori-pori, pria itu tidak kira wajah Abel hanya cantiknya begitu saja tetapi tidak sepertinya dia memang tercipta untuk memiliki wajah yang mulus dan begitu mempesona. Begitu juga dengan Abel, dilihatnya ternyata Leon sangat tampan, selama ini mengaguminya dari jauuh tetapi lebih dekat saja sudah sangat tampan begini. "Tuan," lirih Abel membuat Leon langsung menarik pinggang Abel yang ada di atas meja, pria itu menyeringai menatap wajah Abel. "Kau meman
Malam ini Abel merasa tidurnya sangat nyenyak, wanita itu terus membayangkan kejadian siang tadi. "Ah sepertinya mimpi indah malam ini," ucap Abel dengan malu-malu, wanita itu tersenyum geli membayangkan kejadian siang tadi membuat hatinya bergetar, Abel memegang dadanya yang terasa berdebar. "Astaga, seharunsya Tuan jangan menyusu saja," ucap Abel dengan tertawa kecil, dia sangat menikmati bagaimana Leon yang menikmati susunya itu. "Ehmm... Gak sabar deh," ucap Abel dengan terkekeh geli sendiri, Abel tertawa dengan hal itu. Karena terus membayangkannya membuat Abel tidak bisa. tidur. Leon saat ini berada di ruangan kerjanya, pria itu juga membayangkan kejadian tadi siang dia dan Abel. Diam-diam Leon mencecap pelan lidahnya, pria itu sangat tidak kuat menahan milik Abel yang begitu empuk sekali. "Bagaimana bisa seempuk itu," ucap Leon merasa gemas, ingin sekali dia meremasnya den
Abel sudah selesai menyusui Arvaz hingga anak itu tertidur sambil menyusu dengannya, Abel tersenyum melihat anak tampannya itu tertidur. Jalanan cukup macet karena hari ini weekend, tetapi seketika hujan pun turun saat mereka sedang macet-macetnya. "Wahh enak banget makan yang berkuah pas hujan begini," batin Abel membayangkan dia sedang makan yang hangat-hangat. Jalanan yang basah, hujan dan macet membuat mereka menunggu sangat lama di sana hingga Abel pun merasa bosa. Abel memainkan ponselnya dan membuka social medianya. "Eh siapa namanya tadi, Lukas, batin Abel mengingat nama Lukas adiknya Leon. Abel pun mencari social medianya dan ketemu, ternyata Lukas sangat aktif juga bermain social media membuat Abel suka dengan foto-fotonya Lukas. "Sepertinya dia tertarik denganku," batin Abel yang tersenyum-senyum memandang foto Lukas. Leon yang tidak tau jika Abel sedang
manusia kutub utara. Lihatlah, dia sangat-sangat tidak perduli dengan apa yang terjadi. Tetapi tanpa diketahui siapapun Leon juga tampak curiga dengan Jef, kenapa dia sangat dekat dengan Abel. Jef tidak pernah sekali pun dekat dengan wanita yang Leon tau dan Jef sangat susah didekati. Asistennya itu sangat dingin juga tetapi dengan Abel interaksinya sangat berbeda sekali. Melihat jam sudah mau senja Leon mengambil Arvaz dari gendongan Daddynya, "Kami akan pulang," ucap Leon tetapi Mommynya mencoba menghentikannya.. "Tidak mau makan malam di rumah?" tanya Mommy Emily. "Lain kali saja," jawab Leon. "Kak Leon ayo main sekali lagi, Naura masih mau main sama Kak Leon," ucap Naura menatap Leon yang ingin pergi. Nau







