Share

Bab 174

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2026-02-25 20:42:00

Radit berdiri di sana beberapa detik, menatap istrinya yang sekarang menangis dengan tubuh gemetar.

Lalu dia mengambil bajunya dan keluar dari kamar.

Menutup pintu dengan pelan.

Dan mendengar suara Dinda menangis dari dalam, tangisan yang sangat menyakitkan, tangisan yang membuat dadanya hancur berkeping-keping.

Radit duduk di sofa ruang tamu dengan kepala tertunduk. Tangannya menutupi wajahnya.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Alya.

"Pagi... Mau ketemu nggak hari ini? Aku off siang ini."

Radit m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Mama Muda   Bab 263

    Meja makan pagi itu terasa seperti panggung sandiwara yang sangat pelan. Radit memegang sendoknya tanpa benar-benar mengaduk kopi.Maya duduk di seberang, tangannya memegang gelas susu Kara, tapi matanya sesekali melirik Mira dengan waspada yang ia coba sembunyikan.Kara makan sereal dengan riang, sementara Mira duduk tenang, kaos kebesaran Kara masih melekat di tubuhnya.Mira menatap Radit dengan senyum lembut, suaranya halus seperti hembusan angin pagi.“Papa, aku mimpi Arka lagi semalam. Dia kecil sekali, masih bayi. Dia tertawa saat aku gendong. Kamu juga ada di mimpi itu, Papa. Kamu memeluk kami semua.”Kara mengangkat kepala, mata besarnya penuh rasa ingin tahu.“Arka? Siapa Arka, Kak Mira? Namanya lucu. Kayak nama dinosaurus baru!”Mira tersenyum lebih lebar, tapi matanya tetap tertuju pada Radit.“Arka adalah adik kita yang belum lahir. Dalam mimpi aku, dia lahir dari Papa dan Mama. Lucu sekali, rambutnya mirip Papa.”Radit merasa udara di ruangan menjadi berat. Sendok di tang

  • Godaan Mama Muda   Bab 262

    Lampu ruang tamu sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu tidur kuning lembut di kamar Kara.Radit berdiri di depan pintu kamar anaknya, tangannya ragu di gagang pintu. Di dalam, suara tawa kecil Kara dan Mira terdengar samar, seperti dua saudara yang sudah lama saling mengenal.Maya mendekat dari belakang, tangannya menyentuh punggung Radit dengan lembut.“Biarkan mereka malam ini,” bisiknya. “Kara senang sekali. Kita pantau dari sini.”Radit mengangguk, tapi hatinya tidak tenang. Ia mendorong pintu pelan. Kara sudah berbaring di tempat tidur, Mira duduk di tepinya, membacakan cerita dinosaurus dengan suara lembut. Boneka dinosaurus Kara tergeletak di antara mereka.“Kak Mira, cerita yang bagian T-Rex lindungi anaknya lagi,” pinta Kara dengan mata berbinar.Mira tersenyum, suaranya halus seperti sutra. “Dulu ada T-Rex besar yang sangat melindungi anaknya. Dia tidak pernah bohong pada anaknya. Selalu jujur, meski kadang menyakitkan. Karena itulah anaknya merasa aman.”Kara mengangguk s

  • Godaan Mama Muda   Bab 261

    Pintu apartemen masih terbuka lebar. Udara pagi yang sejuk masuk, tapi Radit merasa ruangan itu tiba-tiba menjadi sangat sempit.Di depannya berdiri Alya dengan senyum tenang, dan di belakangnya, gadis remaja tinggi ramping dengan rambut hitam panjang yang jatuh lembut di bahu.Matanya persis seperti mata Kara, tapi ada kedalaman yang membuat Radit merasa seperti sedang melihat cermin yang retak.“Hai, Papa,” kata gadis itu lagi, suaranya lembut, hampir manja. “Aku Mira. Sudah lama aku ingin ketemu kalian semua.”Kara langsung melepaskan tangan Radit dan berlari kecil memeluk pinggang Mira. “Kak Mira! Kamu benar-benar datang! Aku sudah cerita ke Papa dan Mama tentang kamu!”Mira membalas pelukan Kara dengan hangat, tangannya mengusap rambut adik kecilnya. “Iya, Kakak sudah janji kan? Kakak bawa es krim stroberi kesukaan Papa juga.”Maya berdiri di belakang Radit, tubuhnya tegang. Suaranya tetap tenang, tapi Radit bisa mendengar getaran kecil di dalamnya.“Alya… siapa ini? Kamu tidak p

  • Godaan Mama Muda   Bab 260

    Pagi itu cahaya matahari menyusup lembut melalui jendela dapur, mewarnai meja makan dengan warna keemasan yang hangat.Radit menuang susu ke gelas Kara, gerakannya lambat, hampir hati-hati, seolah takut satu gerakan salah bisa memecahkan sesuatu yang rapuh.Kara duduk di kursi tinggi, kakinya bergoyang-goyang riang sambil mengaduk sereal dengan sendok plastik berwarna biru.“Papa, hari ini aku mau gambar Mira lagi,” kata Kara tiba-tiba, suaranya ringan seperti angin pagi. “Dia bilang suka warna merah. Kayak darah dinosaurus yang lagi bertarung.”Maya yang sedang mengoles selai di roti menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Mira? Siapa Mira, sayang?”Kara mengangkat bahu kecilnya, seolah pertanyaan itu biasa saja. “Kakak baru kita. Dia bilang dia sudah lama nunggu ketemu Papa dan Mama. Katanya nanti dia datang main ke rumah. Bawa es krim rasa stroberi yang Papa suka.”Radit merasa udara di dapur tiba-tiba lebih berat. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Ia menatap Kara, mencoba memb

  • Godaan Mama Muda   Bab 259

    Hari Minggu pagi, langit pantai Sentosa cerah tanpa awan. Kara berlari di pasir putih, rok pendeknya berkibar, sambil tertawa keras setiap kali ombak kecil menyentuh kakinya.Alya berjalan di sampingnya, memegang keranjang piknik, rambutnya dibiarkan tergerai oleh angin laut.Radit dan Maya berjalan beberapa langkah di belakang. Maya menggenggam tangan suaminya erat, jarinya sesekali mengusap punggung tangan Radit seperti sedang mengingatkan.Kara berbalik, melambai dengan semangat. “Papa! Mama! Cepat! Ada kepiting kecil di sini!”Alya tersenyum ke arah Radit dan Maya. “Dia benar-benar penuh energi. Mirip kamu dulu, Radit.”Radit hanya mengangguk pelan. Ia mencoba menikmati momen itu, angin laut, tawa Kara, kehangatan tangan Maya. Tapi setiap kali Alya tertawa bersama Kara, ia merasa ada benang tipis yang menarik ingatannya kembali ke mimpi buruk.Mereka duduk di tikar piknik. Kara sibuk membangun istana pasir bersama Alya. Maya menyandarkan kepalanya di bahu Radit, suaranya pelan han

  • Godaan Mama Muda   Bab 258

    Pagi itu, Radit dan Maya duduk bersebelahan di ruang tunggu, tangan mereka saling genggam erat.Kara duduk di lantai, menggambar dinosaurus dengan krayon merah sambil bernyanyi pelan.Sesekali ia menoleh dan tersenyum ke ayahnya, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.Dr. Tan memanggil mereka masuk. Wajah dokter itu serius, map di tangannya terbuka lebar.“Hasil scan ulang sudah keluar,” katanya langsung. “Ada aktivitas listrik yang tidak biasa di hippocampus Anda, Radit. Seolah otak Anda masih memproses mimpi buruk itu secara aktif, bahkan setelah Anda sadar. Ini bukan kerusakan permanen, tapi cukup kuat untuk memengaruhi emosi dan ingatan jangka pendek.”Maya menegang. “Artinya apa, Dokter?”Dr. Tan menatap Radit. “Artinya mimpi itu belum benar-benar selesai. Otak Anda sedang mencoba menyelesaikan cerita itu. Kalau pemicu stres muncul, pertemuan dengan orang dari masa lalu, tekanan emosional, atau bahkan hal kecil yang mengingatkan, mimpi itu bisa semakin sering dan

  • Godaan Mama Muda   Bab 121

    Aku menghabiskan hampir seluruh waktuku di kamar. Gorden tertutup rapat. Lampu mati. Gelap dan sunyi. Hanya kesedihan yang menemaniku. Di dinding kamarku, foto-foto bersama Kiara masih tergantung rapi. Senyumnya yang manis. Tatapan matanya yang penuh cinta. Semua itu sekarang cuma kenangan yang me

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Godaan Mama Muda   Bab 118

    Ruang tunggu rumah sakit terasa seperti ruang tunggu di ujung dunia. Walau ada banyak orang, semuanya terasa hampa.Mama Kiara tidak berhenti menangis sejak tadi. Papa Kiara memeluknya dengan erat, meski air matanya sendiri tidak berhenti mengalir. Beberapa kerabat keluarga Kiara sudah berdatangan

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Godaan Mama Muda   Bab 112

    Mama Kiara mengantarku ke lantai atas. Kami berhenti di depan pintu kamar Kiara."Aku akan panggil dia dulu," ucap Mama Kiara pelan.Ia mengetuk pintu.Tok... Tok... Tok..."Kiara, sayang," panggilnya lembut. "Mama mau masuk, ya."Tidak ada jawaban.Mama Kiara membuka pintu perlahan. Aku bisa melih

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Godaan Mama Muda   Bab 109

    Sore ini, dengan ditemani Mama Jessica, aku kembali ke kantor. Langsung menuju ruangan Bu Siska.Aku mengetuk pintu dengan keras."Masuk," suara Bu Siska terdengar dari dalam.Aku membuka pintu. Bu Siska duduk di kursinya, tersenyum melihatku."Ah, Radit," sapanya. "Sudah membuat keputusan?"Aku me

    last updateLast Updated : 2026-03-26
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status