LOGINMaya masih memegang gelas airnya, jarinya mengelus pinggir gelas yang sudah mulai berkeringat dingin. Radit duduk di sebelahnya, bahu mereka bersentuhan, tapi keduanya diam cukup lama setelah kata-kata "satu per satu" itu menggantung di udara.
Akhirnya Maya meletakkan gelasnya di meja kopi. "Aku lapar. Kamu mau aku masakin sesuatu cepat? Atau kita pesan aja?"Radit tersenyum tipis. "Pesan aja. Nasi goreng biasa buat aku. Kamu apa?""Yang sama," jawab Maya sambil menMaya masih memegang gelas airnya, jarinya mengelus pinggir gelas yang sudah mulai berkeringat dingin. Radit duduk di sebelahnya, bahu mereka bersentuhan, tapi keduanya diam cukup lama setelah kata-kata "satu per satu" itu menggantung di udara.Akhirnya Maya meletakkan gelasnya di meja kopi. "Aku lapar. Kamu mau aku masakin sesuatu cepat? Atau kita pesan aja?"Radit tersenyum tipis. "Pesan aja. Nasi goreng biasa buat aku. Kamu apa?""Yang sama," jawab Maya sambil mengambil ponsel. Ia membuka aplikasi delivery, memesan dua porsi nasi goreng dan es teh manis. Setelah selesai, ia meletakkan ponsel di meja dan menyandarkan kepala ke belakang sofa. "Sambil nunggu, kita rencanain apa yang mau kita bilang ke Kara nanti pas pulang sekolah."Radit mengangguk. "Simple aja. Kita bilang kita senang dia punya adik Arka. Tapi mulai sekarang, kalau Kak Mira atau siapa pun cerita apa-apa tentang keluarga, dia harus bilang dulu ke kita. Nggak langsung percaya atau
Maya memarkir mobil di garasi dengan gerakan biasa, tapi tangannya sedikit lebih lambat saat mematikan mesin. Ia duduk sebentar di kursi pengemudi, memandang pintu rumah yang tertutup rapat. Udara di dalam mobil masih terasa dingin dari AC kafe. Ia mengambil napas dalam, lalu turun.Radit sudah berdiri di ambang pintu depan begitu mendengar suara mobil. Ia tidak bilang apa-apa dulu, hanya membuka pintu lebar-lebar dan menunggu Maya masuk. Begitu pintu tertutup di belakang mereka, Radit langsung bertanya, "Gimana?"Maya meletakkan tasnya di meja kecil dekat pintu, lalu berjalan ke sofa dan duduk. Radit mengikuti, duduk di sebelahnya. Mereka berdua diam sebentar, seperti sedang mengumpulkan kata-kata."Alya langsung terbuka," kata Maya akhirnya. Suaranya pelan tapi jelas. "Dia bilang Lena memang lebih agresif. Mereka berdua dekat sejak kecil. Sama-sama anak Victor yang nggak diakui. Tapi Lena punya dendam kecil sama kamu dulu, waktu kamu tolak dia pas masih sama Alya."Radit mengerutkan
Radit menatap layar laptop yang masih terbuka di halaman email yang sama selama lima menit terakhir. Kata-kata di depannya buram.Ia mengambil ponsel Maya sekali lagi, membuka screenshot pesan Lena yang kedua, lalu mengirimkannya ke ponselnya sendiri. Setelah itu ia mengetik cepat ke Maya."Baru dapat pesan kedua dari Lena. Screenshot sudah aku kirim ke HP aku. Dia bilang ada surat dari Victor buat Kara. Hati-hati ya."Pesan terkirim. Dua centang biru langsung muncul. Maya sedang online.Radit meletakkan ponsel dan mencoba kembali ke pekerjaan. Ia membuka dokumen proposal kegiatan yayasan bulan depan, tapi setelah dua paragraf ia menutupnya lagi. Rumah terasa terlalu besar dan terlalu sepi. Ia berdiri, berjalan ke dapur, menuang segelas air dingin yang kedua, lalu kembali ke sofa. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh. Maya pasti sudah hampir sampai kafe.Di kafe yang sama tempat Radit bertemu Alya tadi pagi, Maya memarkir mobil di pinggir jalan. Ia melihat Alya sudah
Maya masih memegang ponselnya, layarnya sudah gelap lagi, tapi jarinya tetap di pinggir casing seolah takut pesan itu akan muncul kembali.Radit berdiri di sebelah sofa, tangannya di saku celana, mencoba terlihat tenang meski dadanya terasa sesak."Apa isinya?" tanya Radit pelan.Maya membuka layar sekali lagi, membaca cepat. "Cuma ‘Halo Maya, ini Lena. Mira kasih nomor kamu. Boleh bicara sebentar? Ada yang penting soal Kara.’ Pendek. Tapi sudah cukup."Radit mengangguk, rahangnya mengeras. "Dia langsung ke kamu. Bukan lewat aku. Mira pasti kasih nomor ini pagi ini juga."Maya meletakkan ponsel di meja dengan gerakan pelan, seperti meletakkan sesuatu yang panas. "Aku nggak langsung balas. Nanti dulu. Aku mau ketemu Alya dulu, dengar dia bicara apa soal Mira. Baru kita putuskan bareng."Radit melihat Maya berdiri, merapikan blus putihnya di depan cermin kecil dekat pintu masuk. Rambutnya masih agak lembab, tapi ia sudah terlihat siap, tenang di luar, tapi Radit tahu di dalam pasti berg
Radit duduk di sofa ruang tamu, laptop terbuka di pangkuannya, tapi layarnya masih gelap. Ia mendengar suara shower Maya dari kamar mandi utama, air mengalir stabil, sesekali berhenti sebentar saat Maya mengambil sabun atau sampo.Ia mencoba membuka email kerja, tapi pikirannya melayang ke gambar Kara yang sekarang tersimpan di laci. Figur Lena di pojok itu. Chat malam-malam dari Mira. Arka yang tertawa di ayunan. Semuanya berputar pelan, seperti roda yang mulai bergerak tanpa bisa dihentikan.Ponselnya bergetar di meja kopi. Nomor Mira.Radit melirik ke arah kamar mandi. Suara shower masih berlangsung. Ia mengangkat telepon dengan suara rendah."Halo.""Om Radit," suara Mira terdengar santai, hampir ceria. "Alya baru telepon aku. Katanya kamu marah soal chat sama Kara. Maaf ya, aku kelewatan."Radit berdiri, berjalan pelan ke jendela depan. "Ini bukan soal marah, Mira. Ini soal batas. Kara masih kecil. Kamu nggak boleh cerita apa pun tentang Lena, tentang Victor, atau tentang ‘rahasi
Radit menutup pintu depan dengan pelan. Maya sudah duduk di kursi makan, tangannya memegang gelas air yang belum disentuh.Gambar Kara dengan figur Tante Lena masih tergeletak di tengah meja, warna-warnanya kontras dengan suasana pagi yang mulai terasa berat."Kamu ketemu Alya di mana?" tanya Maya tanpa basa-basi, suaranya rendah."Di kafe dekat rumahnya," jawab Radit sambil menarik kursi di depan Maya. Ia duduk dan meletakkan kunci mobil di meja. "Aku bilang langsung soal chat Mira sama Kara. Alya bilang dia akan tegur Mira. Dia juga janji pertemuan tetap boleh, tapi cerita-cerita itu harus lewat kita dulu."Maya mengangguk pelan, matanya tidak lepas dari gambar itu. "Bagus. Tapi aku nggak yakin Alya bisa kendalikan Mira sepenuhnya. Mira kelihatan seperti orang yang sudah punya rencana sendiri."Radit mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Aku juga ngerasa gitu. Dia terlalu santai tadi di telepon. Seolah dia sudah siap kalau kita marah."Maya mengambil gambar Kara, memandanginya seb
"Impoten?" gumamku pelan. Suaraku nyaris tak terdengar, tapi ternyata tetap sampai ke telinganya. "Iya, Dit," jawab Mama Jessica lirih. Aku menatapnya, dahi mengernyit. "Mama tau dari mana?" tanyaku hati-hati. "Papa yang bilang, atau gimana?" Mama Jessica menggeleng pelan. "Papa nggak pernah b
Minggu kedua bekerja berlalu dengan cepat. Rutinitas mulai terbentuk. Berangkat pagi, pulang sore, sesekali lembur karena ada trouble shooting yang harus diselesaikan.Bu Siska masih sering menghubungiku, kadang untuk urusan kantor, kadang hanya untuk membicarakan hal yang menurutku sama sekali tid
Radit sudah menghabiskan empat malam berturut-turut tidur di kamar tamu. Dinda tidak mengusirnya lagi, tapi juga tidak mengizinkannya masuk ke kamar utama.Mereka hidup di rumah yang sama tapi seperti dua orang asing.Sarapan bersama tanpa bicara. Makan malam dengan ponsel masing-masing. Sesekali b
Radit duduk di tepi ranjang hotel dengan kepala tertunduk, kedua tangannya menutupi wajahnya. Dia tidak tahu harus ke mana setelah keluar dari rumah. Tidak bisa ke rumah Mama Jessica, dia tidak siap menghadapi tatapan kecewa Mama. Tidak bisa ke kantor, sudah terlalu malam. Tidak bisa ke tempat tem







