Share

Bab 3

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2025-11-24 00:48:27

Aku mengatur napas sebaik mungkin, setelah lari terbirit-birit ke dalam kamar. Bagaimana jika Mama Jessica melihat milikku barusan?!

'Tok! Tok! Tok!'

Belum selesai aku menata pikiran, dentuman ketukan tiba-tiba memukul pintu kamarku.

"Radit, udah pake bajunya? Kita sarapan sekarang, yuk? Mama udah laper banget, nih."

Aku bergegas mengenakan kaos dan celana jeans. Tidak lupa juga ikat pinggang ku eratkan sekuat mungkin. Berharap agar kejantananku terkunci rapat di dalam sana.

"Iya Ma, ini udah mau siap."

Aku menghampiri Mama Jessica yang sudah menanti di ruang makan.

"Loh, Radit? Mau kemana kamu?" Mama Jessica memiringkan kepala, matanya menelusuri penampilanku dari atas sampai bawah.

"Sarapan kan, Ma?"

"Iya, Mama tau. Tapi, ngapain pake jeans segala? Masa iya sarapan rapi banget kayak gitu?"

"Gak apa-apa, Ma. Biar lebih seger aja, hehe."

Mama Jessica tersenyum sambil menggeleng pelan. Entah ia tahu maksud di balik celana jeans yang kupakai, aku tidak tahu.

Ia lalu menyiapkan piring untukku, meletakkannya tepat di depanku dengan gerakan lembut. Jujur saja, aku merasa cukup tersanjung melihat perhatiannya itu.

"Gak usah repot-repot, Ma. Biar aku aja," kataku sambil mengangkat tangan, mencoba menghentikannya.

Tapi ia hanya tersenyum kecil. Ia mendorong pelan piring itu ke arahku, lalu merapikan ujung rambutnya yang jatuh di bahu.

"Gak repot kok, Dit," ucapnya sambil mencondongkan tubuh sedikit, suaranya terdengar hangat di telingaku. "Malah Mama seneng. Kita jadi akrab kayak gini."

Memang ada benarnya apa yang ia katakan. Aku memang jarang berinteraksi dengannya. Rasa gugupku di hadapan wanita cantik tampaknya juga berlaku pada ibu tiriku sendiri.

Baru semalam kedekatan kami terjalin, saat ia dengan senang hati menemaniku ke kamar mandi.

Tidak ada percakapan lebih lanjut. Kami segera menyantap hidangan lezat pagi ini. Nasi goreng seafood spesial, terlihat begitu menggoda perutku yang sudah keroncongan.

"Dit, Mama boleh nanya sesuatu gak ke kamu?"

Aku mengangkat kepala perlahan. "Boleh kok, Ma. Emang soal apaan?"

Mama Jessica menatap piringnya beberapa detik sebelum bicara lagi. "Kenapa semenjak Mama nikah sama Papa, kamu jarang banget mau ngobrol sama Mama? Perasaan, kamu kayak menjauh dari Mama."

Aku tidak langsung menjawab. Kubiarkan jeda sejenak, berusaha menelan makanan yang tiba-tiba terasa begitu berat di tenggorokan.

"Kenapa nanya gitu, Ma?" tanyaku pelan.

"Jawab aja, Dit. Mama cuma pingin tahu." Nada suaranya tidak marah, hanya cemas—dan entah kenapa itu justru membuatku makin kikuk.

"Gak gitu kok, Ma. Cuma perasaan Mama aja kali. Lagian, semalam kan ada kita ngobrol, waktu aku kebelet buang air kecil."

Mama Jessica menghembuskan napas. Tangannya meremas tisu tanpa sadar.

"Ya itu kan mungkin karena kamu kepepet, makanya mau ngobrol sama Mama." Ia berhenti, matanya bergerak gelisah.

"Apa jangan-jangan..." ucapnya tertahan.

Aku menegakkan punggung, jantungku langsung berdebar lebih cepat.

"Kamu gak setuju ya Mama nikah sama Papa?" lanjutnya kembali yang seketika membuat jantungku seakan berhenti berdetak.

"Mama kok mikirnya gitu?" suaraku keluar lebih cepat dari pikiranku.

"Ya, emang apa lagi? Soalnya kamu sering cuek sama Mama. Jangankan buat ngobrol, ngeliat Mama aja kamu kayak enggan gitu." Wajahnya menegang, seperti takut sudah mengatakannya.

"Gak ada gitu kok, Ma. Itu cuma perasaan Mama aja. Aku gak kayak yang Mama pikirin kok." Tanganku meremas celanaku di bawah meja, berusaha terlihat setenang mungkin.

"Beneran?"

"Iya, Ma. Mungkin karena aku baru-baru kenal Mama. Jadi wajar kan kalau masih canggung?"

Mama Jessica mengangguk pelan, meski sorot matanya masih penuh ragu.

"Iya juga, sih. Tapi Mama harap ke depannya kamu bisa lebih akrab sama Mama, ya? Mama gak mau dianggap orang asing di rumah ini sama kamu."

"Eum... iya, Ma." Aku menelan ludah, entah kenapa terasa bersalah meski tak yakin salahnya apa.

***

Sore harinya, saat aku keluar dari kamar, kulihat Mama Jessica sedang berdiri di atas tangga di ruang tengah.

"Lagi ngapain, Ma?" tanyaku pelan.

"Lagi mancing! Masa kamu gak liat nih Mama lagi mau ganti bola lampu?"

Aku tidak menjawab, hanya bisa menelan ludah saat mataku terfokus ke satu titik.

Mama Jessica mengenakan daster tanpa lengan, memperlihatkan tubuhnya yang berkeringat.

"Mama mau ganti bola lampunya dengan yang model cas," jelasnya sambil mengangkat lampu baru dari kantong plastik di sampingnya. "Takutnya ntar malem listrik mati lagi, jadi lampunya tetap bisa nyala."

Ia lalu menggeser sedikit kakinya, membuat tangga bergoyang pelan. Ia menarik napas pendek, tampak gugup.

"Tolong bantu pegangin tangganya, Dit. Mama takut jatuh."

Aku langsung mendekat dan memegang sisi tangga dengan kedua tangan, memastikan posisinya stabil.

"Eum, iya Ma," ujarku pelan, berusaha menyembunyikan gugupku sendiri.

Aku segera mendekat dan memegangi tangga itu. Namun setelah beberapa saat, tidak ada tanda-tanda darinya bahwa lampu telah terpasang.

Hal itu membuatku perlahan menengadahkan kepala untuk mengeceknya. Tapi yang pertama terlihat bukanlah bohlam, melainkan kain putih segitiga berenda.

Deg!

Tanpa dapat kutahan, celanaku tiba-tiba begitu sesak. Aku merasa tegangannya begitu kuat. Keindahan di dalam dasternya itu cukup menggoda.

Aku tidak akan melewatkan kesempatan berlian ini. Bahkan jika harus menengadah satu jam pun, aku sanggup melakukannya.

Namun sayang, durasi tidak berlangsung lama, sepertinya Mama Jessica bersiap turun dari tangga.

Aku cepat-cepat membenarkan posisi kepala ke semula. Berusaha bersikap normal bahwa sedari tadi aku tidak memperhatikan apa-apa.

"Udah ya, Ma?" tanyaku pelan saat melihat Mama Jessica menuruni tangga sambil memegang pegangan erat-erat.

Ia langsung berhenti di anak tangga ketiga dari atas. Kepalanya miring sedikit, menatapku dari atas.

"Belum. Gak nyampe, Dit," jawabnya lirih tapi agak kesal. "Emangnya dari tadi kamu gak liat kalau Mama kesusahan masang bola lampunya?"

Aku menggaruk tengkuk. "Enggak, Ma... gak berani."

Alisnya terangkat. Ia menuruni satu langkah lagi, kini wajahnya lebih jelas terlihat dari bawah. "Gak berani? Gak berani kenapa, emangnya?"

"Eh... enggak, Ma. Gak ada apa-apa." Aku buru-buru menghindari tatapannya, tapi justru melihat ia tersenyum kecil.

Mama Jessica menyilangkan tangan di dada, tubuhnya masih condong sedikit karena posisinya di tangga.

"Beneran kamu gak liat apa-apa tadi waktu Mama di atas?"

"I-iya, Ma. Aku beneran gak liat apa-apa. Tadi cuma... nunduk aja," jawabku kaku.

Ia menurunkan satu langkah lagi, kini hanya berjarak beberapa anak tangga dariku. Tatapannya tajam tapi menggoda.

"Ah, yang bener? Mama gak percaya kalau kamu cuma nunduk doang."

Aku keringat dingin dibuatnya. Bagaimana mungkin ia menanyakan hal yang tadi memang begitu kunikmati?

"Kok badanmu gemeteran, Dit?"

Aku menelan ludah, "Laper, Ma. Mungkin karena laper."

"Gak mungkin, tadi kamu kan udah makan banyak. Pasti kamu ada merhatiin sesuatu, kan? Makanya tuh badan nyampe geter gitu," ujarnya sambil tersenyum manja, kemudian mengedipkan matanya.

Tubuhku semakin gemetaran, sementara pandangan mataku terseret ke area yang seharusnya tidak kutatap lama-lama.

Aku melayang sejenak, membayangkan betapa indahnya jika wajahku tenggelam di sana. Walau mungkin akan sulit bernapas, tapi aku yakin aroma bukit kembarnya itu terasa begitu harum.

Ugh!

Tubuhku bereaksi duluan sebelum otakku sempat memerintah berhenti. Ada dorongan naluriah yang meronta-ronta, meminta dilepaskan dari ketegangan yang tiba-tiba muncul.

Aku berdiri gugup sambil memperhatikan Mama Jessica yang lanjut menuruni tangga.

Tiba-tiba saja dia terpeleset saat menginjak pijakan terakhir. Membuat ia kehilangan keseimbangannya hingga hampir jatuh.

"Aaa—!" jeritnya kaget.

Refleks, aku segera menangkapnya sebelum ia kehilangan keseimbangan sepenuhnya.

Dan baru kusadari kemudian, ternyata tanganku mendarat tepat di lekukan indah bagian atas tubuhnya!

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yana Satriana
mantap teruskan veritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Godaan Mama Muda   Bab 260

    Pagi itu cahaya matahari menyusup lembut melalui jendela dapur, mewarnai meja makan dengan warna keemasan yang hangat.Radit menuang susu ke gelas Kara, gerakannya lambat, hampir hati-hati, seolah takut satu gerakan salah bisa memecahkan sesuatu yang rapuh.Kara duduk di kursi tinggi, kakinya bergoyang-goyang riang sambil mengaduk sereal dengan sendok plastik berwarna biru.“Papa, hari ini aku mau gambar Mira lagi,” kata Kara tiba-tiba, suaranya ringan seperti angin pagi. “Dia bilang suka warna merah. Kayak darah dinosaurus yang lagi bertarung.”Maya yang sedang mengoles selai di roti menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Mira? Siapa Mira, sayang?”Kara mengangkat bahu kecilnya, seolah pertanyaan itu biasa saja. “Kakak baru kita. Dia bilang dia sudah lama nunggu ketemu Papa dan Mama. Katanya nanti dia datang main ke rumah. Bawa es krim rasa stroberi yang Papa suka.”Radit merasa udara di dapur tiba-tiba lebih berat. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Ia menatap Kara, mencoba memb

  • Godaan Mama Muda   Bab 259

    Hari Minggu pagi, langit pantai Sentosa cerah tanpa awan. Kara berlari di pasir putih, rok pendeknya berkibar, sambil tertawa keras setiap kali ombak kecil menyentuh kakinya.Alya berjalan di sampingnya, memegang keranjang piknik, rambutnya dibiarkan tergerai oleh angin laut.Radit dan Maya berjalan beberapa langkah di belakang. Maya menggenggam tangan suaminya erat, jarinya sesekali mengusap punggung tangan Radit seperti sedang mengingatkan.Kara berbalik, melambai dengan semangat. “Papa! Mama! Cepat! Ada kepiting kecil di sini!”Alya tersenyum ke arah Radit dan Maya. “Dia benar-benar penuh energi. Mirip kamu dulu, Radit.”Radit hanya mengangguk pelan. Ia mencoba menikmati momen itu, angin laut, tawa Kara, kehangatan tangan Maya. Tapi setiap kali Alya tertawa bersama Kara, ia merasa ada benang tipis yang menarik ingatannya kembali ke mimpi buruk.Mereka duduk di tikar piknik. Kara sibuk membangun istana pasir bersama Alya. Maya menyandarkan kepalanya di bahu Radit, suaranya pelan han

  • Godaan Mama Muda   Bab 258

    Pagi itu, Radit dan Maya duduk bersebelahan di ruang tunggu, tangan mereka saling genggam erat.Kara duduk di lantai, menggambar dinosaurus dengan krayon merah sambil bernyanyi pelan.Sesekali ia menoleh dan tersenyum ke ayahnya, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.Dr. Tan memanggil mereka masuk. Wajah dokter itu serius, map di tangannya terbuka lebar.“Hasil scan ulang sudah keluar,” katanya langsung. “Ada aktivitas listrik yang tidak biasa di hippocampus Anda, Radit. Seolah otak Anda masih memproses mimpi buruk itu secara aktif, bahkan setelah Anda sadar. Ini bukan kerusakan permanen, tapi cukup kuat untuk memengaruhi emosi dan ingatan jangka pendek.”Maya menegang. “Artinya apa, Dokter?”Dr. Tan menatap Radit. “Artinya mimpi itu belum benar-benar selesai. Otak Anda sedang mencoba menyelesaikan cerita itu. Kalau pemicu stres muncul, pertemuan dengan orang dari masa lalu, tekanan emosional, atau bahkan hal kecil yang mengingatkan, mimpi itu bisa semakin sering dan

  • Godaan Mama Muda   Bab 257

    Radit berdiri di depan lemari es, memegang gambar Kara dengan tangan yang sedikit gemetar. Krayon merah tebal membentuk sosok Tante Alya berdiri sangat dekat dengan Papa, tangan mereka hampir bersentuhan. Kara sendiri digambar sedang tersenyum lebar di tengah, memegang dinosaurus.“Bagus kan, Papa?” tanya Kara lagi dari lantai ruang tamu, suaranya polos dan ceria.Radit memaksakan senyum. “Bagus sekali, sayang. Papa suka warnanya.”Ia meletakkan gambar itu di atas kulkas, tapi matanya tidak bisa lepas dari sosok Alya yang digambar dengan garis tegas. Maya keluar dari kamar, melihat ekspresi suaminya. Ia mendekat dan memeluk pinggang Radit dari belakang.“Dia hanya menggambar apa yang dia lihat,” bisik Maya lembut. “Kemarin Alya datang, Kara senang sekali. Jangan dipikirkan terlalu dalam.”Radit mengangguk, tapi malam itu ia sulit tidur. Setiap kali memejamkan mata, gambar merah itu muncul , Alya yang tersenyum, Kara yang tersenyum, dan dirinya yang berdiri di tengah, tidak tahu harus

  • Godaan Mama Muda   Bab 256

    Ruang tunggu rumah sakit terasa terlalu dingin. Radit duduk di kursi plastik, tangannya saling menggenggam erat di pangkuan.Maya berada di sampingnya, satu tangannya memegang tangan Radit, sementara tangan yang lain memeluk Kara yang duduk di pangkuannya.Gadis kecil itu sibuk mewarnai buku gambar dinosaurus, tapi sesekali melirik ayahnya dengan mata penuh rasa ingin tahu.“Papa takut ya?” tanya Kara pelan.Radit memaksakan senyum. “Sedikit. Tapi Papa kuat kok.”Pintu ruang dokter terbuka. Dr. Tan, spesialis neurologi yang menangani Radit selama koma, memanggil mereka masuk. Wajah dokter itu tenang, tapi ada kerutan kecil di dahi yang membuat Radit langsung waspada.“Terima kasih sudah datang cepat,” kata Dr. Tan setelah mereka duduk. Ia membuka map hasil tes. “Kami melakukan scan tambahan dan tes darah lengkap saat Anda koma. Ada temuan yang kami anggap perlu dibahas.”Maya menggenggam tangan Radit lebih erat. Kara berhenti mewarnai, mendengarkan dengan serius.Dr. Tan melanjutkan

  • Godaan Mama Muda   Bab 255

    Sabtu pagi, Radit, Maya, dan Kara berjalan menyusuri jalur kebun binatang Singapura. Kara melompat-lompat di depan, memegang peta warna-warni sambil berteriak girang setiap kali melihat hewan baru.“Papa! Lihat jerapahnya tinggi sekali! Kayak dinosaurus yang aku gambar!”Maya tersenyum, tangannya menggenggam tangan Radit. Sentuhannya hangat, penuh harapan. “Lihat dia bahagia. Ini yang kita butuhkan. Keluar rumah, tanpa tekanan.”Radit mengangguk, tapi matanya sesekali melirik ke belakang. Alya berjalan beberapa langkah di belakang mereka, membawa tas kecil berisi camilan untuk Kara. Ia datang atas undangan Kara sendiri, “Tante Alya kan suka hewan juga!” kata gadis kecil itu pagi tadi.Alya tidak memaksa. Ia hanya tersenyum saat Kara menarik tangannya untuk melihat singa. “Kara, lihat itu! Singanya lagi menguap. Lucu ya?”Kara tertawa. “Tante Alya, besok kita ke aquarium ya? Papa bilang boleh!”Radit dan Maya saling pandang. Maya menggenggam tangan suaminya lebih erat, seolah ingin

  • Godaan Mama Muda   Bab 77

    Malam harinya, aku duduk di ruang tamu, menatap kosong ke depan. Mama Jessica keluar dari kamar, melihatku dengan tatapan khawatir."Dit... kamu belum tidur?""Belum bisa tidur, Ma."Mama Jessica duduk di sampingku."Kamu... masih mikirin soal uang itu?"Aku mengangguk pelan."Ma... aku udah coba s

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Godaan Mama Muda   Bab 76

    "Budi?""Radit! Gimana? Udah ketemu sama Papa Kiara?""Udah, Bud. Tapi... dia kasih syarat. Satu miliar. Dalam lima hari.""SATU MILIAR?! GILA! Gak masuk akal banget!""Aku tau, Bud. Makanya aku perlu bantuan. Aku udah hubungi semua orang. Tapi gak ada yang bisa bantu.""Radit... gue pengen bantu.

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Godaan Mama Muda   Bab 73

    "Radit? Oh... anak itu. Biarkan masuk. Aku mau lihat... apa yang dia mau."Suaranya dari intercom terdengar dingin, berat, dan penuh kuasa. Sebuah nada yang membuat bulu kudukku meremang.Security di samping gerbang menatapku dengan wajah terkejut. Ia seperti tidak percaya bahwa pemilik rumah sebes

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Godaan Mama Muda   Bab 72

    Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Cukup lama, karena kawasan Citra Garden memang lumayan jauh dari kantor.Tapi jarak bukan satu-satunya yang membuat perjalanannya terasa panjang. Rasanya, setiap kilometer yang kulalui seperti sedang menuntunku memasuki dunia yang bukan milikku.Ja

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status