LOGINSetelah Mama Jessica berdiri dengan stabil, aku langsung menarik tanganku cepat-cepat. Jantungku berdebar kacau, wajahku panas bukan main.
Tapi Mama Jessica hanya menatapku sambil tersenyum tipis, seakan sentuhan barusan sama sekali bukan masalah baginya. "Yaudah, sekarang coba kamu yang pasang lampunya." Mama Jessica memberikan bohlam itu kepadaku. Aku cukup lega karena terlepas dari ujian yang sebenarnya kuketahui kunci jawabannya. Akan tetapi, ujian berikutnya ternyata justru mengancam nyawaku. Aku menelan ludah, menatap bola lampu yang harus kuganti, lalu melirik ke tangga lipat itu. "Maaf, Ma. Aku gak bisa." "Loh, kenapa?" Aku menggeser langkah mundur setapak, tangan berkeringat. "Aku takut ketinggian soalnya." Mama memelototkan mata kecilnya, setengah tak percaya. "Ih kamu ya, Dit? Serius kamu?" Ia berdiri dengan tangan di pinggang. Aku menghela napas panjang, lalu menatap ke atas sebentar sebelum cepat-cepat kembali melihat lantai. "Iya, Ma. Trauma soalnya. Dulu waktu kecil pernah jatuh dari pohon mangga." Mama Jessica mendengus pelan, lalu menepuk-nepuk tangga seolah meyakinkanku bahwa benda itu aman. "Udah, gak apa-apa. Lagian ini bukan pohon mangga yang harus dipanjat. Kan pake tangga, Dit?" "Ayo cepetan, Mama pegangin tangganya. Soalnya kamu kan lebih tinggi dari Mama. Jadi pasti nyampe buat masang bola lampunya," lanjutnya kembali sebelum aku sempat menjawab. Aku memelototkan mata kecil. "Emang, gak ada tongkat buat pasang lampu, Ma?" "Ada sih, tapi udah rusak. Gak bisa digunakan lagi. Tadi ke toko Mama cuma beli lampunya doang, lupa kalau tongkat pasang lampunya udah rusak." Ia lalu berdiri tepat di belakang tangga, kedua tangannya memegang sisi kiri-kanan. "Udah, naik aja. Mama pegangin nih tangannya." Dengan kaki sedikit gemetar, aku mulai menaiki tangga. Perasaan deg-degan cukup kurasakan. Bukan karena takut jatuh cinta, melainkan takut jatuh dari tangga. "Gimana, Dit? Bisa?" tanyanya dari bawah. Aku berusaha memasang lampu dengan susah payah. Tanganku sedikit bergetar, sementara lututku terasa lemas seperti tidak kuat menopang tubuh. Aku menjaga keseimbangan sebaik mungkin agar tidak terpeleset atau terjatuh dari posisi yang menjadi trauma masa kecilku. "Dikit lagi, Ma," sahutku tanpa menoleh, fokus pada putaran terakhir. Setelah yakin pas, aku menarik napas lega. "Huft, akhirnya kelar juga," gumamku, menurunkan tangan perlahan sambil memastikan lampunya tidak goyang. Dari bawah, Mama mendongak sambil memegangi tangga erat-erat. "Bagus. Udah? Aman?" Aku mengangguk kecil. "Coba tes nyalain saklarnya, Ma." "Oke, bentar ya." Mama Jessica berjalan cepat ke arah saklar di dekat pintu. Kemudian mengulurkan tangan untuk menekannya. 'Klek!' Seketika lampu menyala terang, memenuhi ruangan dengan cahaya putih yang membuat semuanya terlihat jelas. Namun, sebelum ia sempat kembali menghampiriku untuk memastikan aku baik-baik saja, tiba-tiba tubuhku kehilangan keseimbangan. Tangga yang kupijak bergoyang keras, kaki-kakiku terpeleset, dan dalam hitungan detik aku merasakan gravitasi menarikku jatuh. 'Bug!' Semua terjadi begitu cepat, lebih cepat dari kemampuan otakku untuk bereaksi. Yang terdengar hanya suara benturan dan helaan napas terkejut dari Mama Jessica yang langsung memanggil namaku. "Radit!" Teriakan Mama Jessica langsung pecah ketika melihat tubuhku menghantam lantai. Suaranya melengking, penuh kepanikan yang membuat suasana mendadak terasa kacau. Ia segera berlari menghampiriku, langkahnya tergesa-gesa dan nyaris tersandung saking paniknya. Wajahnya pucat, matanya membesar, seolah tidak percaya apa yang baru saja terjadi. Tanpa ragu ia berjongkok di sampingku, kedua tangannya terulur untuk memastikan aku benar-benar sadar dan tidak terluka parah. Ada getar halus di suaranya ketika ia memanggil namaku, menunjukkan betapa cemas dirinya. "Kamu gak kenapa-napa, Dit?" suaranya lembut tapi panik. Aku menggeleng pelan. "Lututku, Ma... kayanya keseleo." Tanpa ragu, Mama Jessica meraih kakiku dan memeriksa bagian yang sakit. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah, membuatnya tampak semakin dekat. Ternyata, ada sesuatu yang lebih keseleo dibandingkan lututku. Yaitu, bagian tubuh di antara kedua pahaku! Ini karena mataku lagi-lagi terfokus pada garis tengah yang mengapit dua bukit kembar miliknya. Dengan jarak sedekat ini, miliknya itu benar-benar terlihat begitu lembut dan... bening. Napasnya terasa mengenai kulitku saat ia mencondongkan tubuh sedikit lagi. "Sakit di bagian sini?" tanyanya sambil menekan perlahan. Aku menelan ludah. Sensasi panas menyergap dadaku, bukan hanya karena lututku bermasalah, tapi karena jarak kami hampir tidak ada. Kedekatan itu membuat pikiranku buyar seketika. Akhirnya, Mama Jessica menuntunku pelan-pelan menuju sofa di ruang keluarga. Ia memintaku untuk berbaring, suaranya lembut namun tegas, seperti tidak ingin ada bagian tubuhku yang makin terluka. Tanpa membuang waktu, ia segera mengambil kotak P3K dari lemari kecil di sudut ruangan. Saat celanaku tersingkap di area lutut, memarnya terlihat jelas, ungu kebiruan, cukup mencolok. Mama Jessica menarik napas kecil, seolah merasa bersalah melihatnya. Dengan telapak tangannya yang hangat, ia mengoleskan minyak obat sambil memastikan gerakannya tidak menyakitiku. Setelah itu, ia membalut lututku dengan perban rapi, telaten seperti seseorang yang sudah terbiasa merawat orang lain. Entah kenapa, ada rasa hangat merambat ke dadaku. Aku cukup tersanjung dengan perhatian dan kepeduliannya. Rasanya seperti benar-benar dipedulikan, disayangi, dan dilindungi. Lebih dari yang seharusnya. "Gimana, Dit? Udah enakan?" tanyanya sambil mencondongkan tubuh sedikit, memastikan aku benar-benar baik-baik saja. Aku menarik napas pelan. "Eum, iya Ma. Tapi rasanya lemes banget. Aku emang trauma soal ketinggian." Mama Jessica memijat pelipisnya, jelas menahan rasa menyesal. "Maafin Mama ya, Dit. Coba aja tadi Mama gak ninggalin kamu, mungkin gak bakal jadi kayak gini." "Gak apa-apa kok, Ma. Lagian, Mama kan juga harus nyalain saklar, buat mastiin lampunya nyala atau enggak." "Udah, Ma. Aku gak apa-apa kok. Cuma keseleo biasa, palingan ntar juga bakalan cepet sembuh," lanjutku, berusaha terdengar santai walau denyut nyeri masih terasa. Mama Jessica hanya bisa tersenyum kecil mendengar penjelasanku. Tapi entah kenapa, matanya sesekali melirik ke arah kediaman kejantananku. Ia mulai memijat lembut pahaku, gerakannya pelan dan hati-hati, seolah ia benar-benar ingin memastikan aku tidak kesakitan lagi. Entah itu bentuk kasih sayang, kepedulian, atau hanya caranya menenangkan, aku tidak tahu pasti. Yang jelas, aku tidak mampu menolak. Aku hanya terdiam, terpaku, membiarkan sentuhannya bekerja sambil mencoba menenangkan degup jantungku sendiri. Perhatian sebesar ini, tidak pernah kubayangkan akan datang darinya, dan itu membuatku semakin bingung harus bersikap bagaimana. "Kamu gugup, ya?" tanyanya kembali, karena tidak sepatah katapun keluar dari bibirku. Sepertinya Mama Jessica menyadari bahwa aku dari tadi memperhatikan bukit kembarnya, dan dia tahu bahwa aku terangsang disentuh olehnya. "Eh, enggak kok, Ma," sahutku, merasa malu. "Oh ya, kamu udah punya pacar belum, Dit? "Hah?" Aku tersentak kaget, menatapnya bingung. Tiba-tiba saja Mama Jessica menanyakan hal itu. "Kok kamu kaget, sih?" Alisnya terangkat sedikit. "Mama kan cuma nanya itu." "Enggak kok, Ma." Aku menggaruk tengkuk, merasa wajahku memanas. "Aku belum punya pacar." "Loh, masa sih, Dit?" Ia memajukan tubuh, ekspresi tak percaya terpampang jelas. "Iya, Ma. Aku belum punya pacar." Aku tersenyum canggung. "Sebenarnya... belum pernah pacaran sama sekali, hehe." "Hah? Beneran kamu, Dit?" Matanya membesar. "Belum pernah pacaran sama sekali?" "Iya, Ma. Emangnya kenapa?" "Ah, Mama gak percaya deh." Ia menggeleng pelan sambil tersenyum miring. "Padahal kamu ganteng loh. Masa iya gak punya pacar." Ia menyipitkan mata, seolah baru menyadari sesuatu. "Pantesan..." lanjutnya pelan. "Pantesan apa, Ma?" "Pantesan punyamu itu kesepian, hihi." Aku kehilangan kata-kata, tenggorokanku seakan tercekat, napasku terasa berat. Sementara pandangan matanya, tiba-tiba terfokus menatap celanaku. Deg!Pagi itu Radit belum memejamkan mata sama sekali. Sejak subuh, ia duduk diam di teras depan rumah kecil mereka, sebatang rokok menyala di antara jari-jarinya yang kasar. Asap tipis mengepul pelan di udara dingin pagi.Matanya lelah, lingkaran hitam tebal menggantung di bawah kelopak, tapi tatapannya tetap waspada. Sesekali ia melirik ke dalam rumah melalui jendela kaca yang buram.Di kamar utama, Kara tidur meringkuk di tengah, dipeluk Maya di satu sisi dan Arka di sisi lain. Ketiganya terlihat seperti sedang berjaga-jaga, seolah takut ada sesuatu yang datang dan mengganggu ketenangan yang rapuh itu.Radit menghela napas panjang. Sudah berhari-hari ia seperti ini—gelisah, takut, dan penuh penyesalan. Kehidupan mereka yang baru mulai membaik kembali terguncang setelah rekaman lama itu beredar. Rekaman yang membuat Kara menangis berhari-hari, yang membuatnya mempertanyakan segalanya tentang ayahnya.Pukul 08.45, sebuah mobil hitam mengkilap berhenti tepat di depan gerbang rumah. Radit l
Pagi itu udara terasa dingin. Radit sudah berdiri di teras rumah sejak subuh, matanya terus tertuju ke arah gerbang. Sesekali ia melirik jam di ponselnya. Kara masih tidur di dalam rumah, tapi Radit sudah merasa gelisah sejak bangun. Hari ini rasanya akan jadi hari yang berat.Pukul 09.15, terdengar suara motor mendekat. Seorang kurir ojek online turun sambil membawa kotak kecil berwarna hitam. Kotak itu diikat dengan pita merah yang mencolok. Tidak ada nama pengirim. Hanya ada tulisan tangan rapi di atasnya:Untuk Kara, Dari Seseorang yang Tahu Semua Rahasia PapamuRadit merasa tangannya dingin saat mengambil kotak itu. Tak lama kemudian, Maya keluar dari rumah dengan wajah tegang. “Buka di luar saja, Dit. Jangan dibawa masuk dulu,” kata Maya pelan.Mereka membuka kotak itu di teras. Di dalamnya hanya ada sebuah flashdisk kecil dan selembar kertas lipat.Radit membaca surat itu dengan suara pelan:“Kara, ini hadiah terakhir dariku. Rekaman malam ketika papamu memutuskan untuk menin
Paket itu datang keesokan paginya, tepat pukul 09.00. Sebuah amplop cokelat tebal tanpa perangko, hanya ditulis tangan dengan huruf besar menggunakan tinta hitam.Untuk Kara Pranata, Dari Kakekmu, Victor Lang.Radit yang menerima paket dari kurir langsung membeku di teras rumah. Tangannya gemetar saat memegang amplop itu. Maya muncul di belakangnya, wajahnya langsung pucat.“Kita buang saja,” bisik Maya cepat. “Nggak usah dibuka.”Tapi Kara sudah muncul di pintu, masih memakai piyama kuningnya. Boneka kelinci kesayangannya didekap erat di dada. “Itu untuk Kara ya, Pa?” tanyanya polos.Radit tidak bisa bohong. Ia berlutut di depan putrinya, memegang amplop tebal itu dengan tangan yang terasa dingin. “Ini surat dari kakekmu, Kara. Orang yang dulu pernah bilang hal-hal buruk tentang kamu. Kamu nggak harus baca kalau nggak mau. Papa nggak maksa.”Kara menatap amplop itu cukup lama. Matanya berkaca-kaca, tapi ada tekad yang sudah kuat di sana. “Kara mau baca, Pa. Kara mau tahu semuanya. Su
Pagi sidang darurat itu datang dengan suasana yang berat. Langit mendung menggantung di atas kota sejak subuh, membuat udara terasa dingin dan menekan. Di rumah kecil keluarga Pranata, tidak ada satu pun yang benar-benar bisa menikmati sarapan.Maya berkali-kali memeriksa tas Kara, memastikan semua kebutuhan putrinya sudah lengkap. Arka yang biasanya cerewet hanya duduk diam di meja makan sambil sesekali melirik kakaknya.Sementara itu, Kara berdiri di depan cermin kamarnya.Gadis kecil itu mengenakan baju putih sederhana yang dipilih Maya malam sebelumnya. Rambutnya disisir rapi, dan di kedua tangannya ia memeluk boneka kelinci kesayangannya dengan erat.Meski berusaha terlihat kuat, wajah Kara menunjukkan kegelisahan yang sulit disembunyikan.Saat pintu kamar terbuka, Radit masuk perlahan."Kamu sudah siap, Sayang?" tanyanya lembut.Kara menoleh. Matanya tampak sedikit merah karena kurang tidur."Pa..." suaranya lirih. "Kara takut."Jantung Radit terasa diremas.Ia berlutut hingga s
Pagi berikutnya, rumah kecil itu terasa seperti kapal yang sedang menghadapi badai terakhir. Radit bangun lebih dulu, duduk di tepi ranjang sambil memandangi Kara yang masih tidur di tengah, diapit Maya dan Arka. Boneka kelinci berada di pelukan putrinya, seolah menjadi jangkar satu-satunya.Tapi kedamaian itu hanya tipis.Pukul 07.15, pintu depan diketuk. Bukan Pak Budi. Bukan polisi.Seorang wanita paruh baya berdiri di teras dengan mantel panjang hitam. Wajahnya familiar—Tante Rina, mantan pengasuh Kara saat bayi yang kemarin muncul di rekaman Victor Junior.Radit membuka pintu dengan waspada. “Tante Rina... apa yang Tante lakukan di sini?”Tante Rina menunduk, tangannya memegang tas tua yang sudah usang. “Aku datang untuk minta maaf... dan untuk memberi sesuatu yang seharusnya sudah aku berikan bertahun-tahun lalu.”Ia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna merah dari tasnya. “Ini rekaman asli malam Kara lahir. Bukan yang diedit Victor Junior. Rekaman ini... menunjukkan sisi
Kara duduk di lantai kamarnya yang gelap, memeluk boneka kelinci erat di dada. Hanya sedikit cahaya dari lampu taman yang menyelinap lewat celah tirai, membentuk garis pucat di lantai. Di tangannya, ponsel terasa begitu berat—seolah seluruh dunia ada di dalam benda kecil itu.Layar masih menyala.Nomor Victor Lang Junior terpampang jelas di sana.Jarinya gemetar, menggantung beberapa milimeter di atas tombol panggil.Di luar pintu, Radit masih terduduk bersandar pada kayu dingin kamar putrinya. Suaranya sudah serak setelah berjam-jam memohon tanpa henti.“Kara… Papa di sini, Sayang…” katanya lirih, nyaris pecah. “Papa nggak akan ke mana-mana… Papa cinta kamu lebih dari apa pun di dunia ini… Papa mohon… buka pintunya…”Kara menutup mata rapat-rapat.Air matanya jatuh lagi, membasahi telinga boneka kelinci yang mulai kusut karena terus dipeluk. Kata-kata dari rekaman itu masih menghantam kepalanya tanpa ampun.“Bu







