LOGIN
Lobby Arthesia Capital terasa seperti medan perang yang beku. Deretan layar raksasa yang menggantung di dinding marmer hitam tidak hanya menampilkan grafik saham yang berkedip liar, tetapi juga siaran berita finansial yang mendominasi suasana. Di salah satu layar utama, tampak cuplikan wawancara eksklusif. Sosok Vandella Arthesia duduk dengan anggun di sofa kulit, menatap tajam ke arah kamera sementara teks di bawahnya bergerak cepat: "Vandella Arthesia: Sang Ratu di Balik Kesuksesan Arthesia Capital Menembus Top 5 Firma Investasi Dunia."
Di bawah kemegahan layar itu, Jovian Althair berdiri kaku. Kemeja putih tipisnya sedikit basah oleh keringat dingin, memperlihatkan samar-samar otot dadanya yang kokoh namun tengah bergetar halus. Ia berada di sana untuk memperebutkan satu kursi sebagai Investment Analyst—posisi panas yang hanya bisa ditembus oleh mereka yang berotak jenius.
Dua pelamar di sampingnya—lulusan Ivy League dengan jam tangan Rolex emas—berbisik sinis. Jovian bisa mencium aroma cologne mahal yang bercampur dengan bau keringat asam. Bau ketakutan.
"Kau lihat wawancaranya? Dia bukan manusia. Dia itu hiu betina," bisik salah satunya dengan nada rendah yang penuh intrik. "Aku dengar tunangannya dulu, seorang pengusaha kaya, pergi meninggalkan negara ini karena menderita trauma seksual yang parah. Madam tidak pernah puas."
Temannya tertawa rendah, matanya menatap Jovian dengan hina. "Aku juga dengar dia punya selera khusus. Dia benci pria yang terlalu dominan atau sok pintar. Dia ingin seseorang yang manis, yang bisa dia 'makan' pelan-pelan sampai tidak bersisa. Lihat anak baru itu, dia pasti pingsan jika Madam mulai menatapnya."
Tiba-tiba, suhu di lobby seolah turun beberapa derajat. Perhatian semua orang tersedot ke arah lift privat yang berdenting halus. Udara yang tadinya pengap oleh aroma kopi korporat kini berganti dengan wangi parfum Black Opium yang dominan dan memabukkan.
Pintu lift terbuka. Vandella Arthesia melangkah keluar. Ia mengenakan setelan blazer sutra merah marun yang melekat sempurna, memperlihatkan lekuk dada yang menantang dan kaki jenjang yang hanya tertutup rok mini ketat. Di belakangnya, sekelompok staf berjalan setengah berlari, berusaha menyamai langkah sang CEO yang tak terbendung.
Setiap langkah stiletto-nya menghasilkan suara tajam yang bergaung di marmer, seperti detak jantung predator yang mendekat. Rambut hitamnya yang bergelombang jatuh sempurna di bahu, dan bibirnya dipulas lipstik merah gelap yang sangat provokatif. Vandella melangkah menuju ruang rapat eksekutif, namun saat ia melintas tepat di depan barisan pelamar, langkahnya melambat secara drastis.
Tanpa menolehkan kepala sepenuhnya, ujung matanya melirik tepat ke arah Jovian. Ia memperhatikan bagaimana jemari pemuda itu meremas map dokumen hingga memutih. Sebuah seringai kecil yang hampir tak terlihat muncul di bibirnya sebelum ia akhirnya menghilang di balik pintu kaca ruang rapat yang menutup kedap suara.
Kepergian Vandella menyisakan ketegangan yang menyesakkan. Jovian menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya. Tak lama kemudian, perhatiannya teralih oleh pintu ruangan fotokopi yang terletak di sudut area tunggu. Di sana, seorang gadis dengan gaya rambut bobcut yang segar dan kacamata berbingkai bulat tampak sedang sibuk dengan tumpukan kertas.
Gadis itu adalah Binar. Saat para staf lain sibuk memperhatikan pintu ruang rapat, Binar mencuri kesempatan untuk mengintip dari balik tumpukan dokumen. Wajahnya yang ceria tampak sangat menggemaskan saat ia mengerucutkan bibirnya sedikit, memberi isyarat kecil dengan tangan agar Jovian mendekat ke arahnya.
Jovian segera beranjak, berpura-pura hendak mencari toilet, lalu dengan langkah cepat menyelinap masuk ke ruangan fotokopi. Begitu pintu tertutup rapat dengan suara klik halus, Jovian langsung menyambar pinggang kecil Binar, membawanya ke balik mesin fotokopi yang terasa hangat karena baru saja digunakan. Suhu di ruangan sempit itu seketika terasa nyaman, tercampur aroma kertas panas dan parfum stroberi yang manis dari tubuh Binar.
"Jovian...Ian sayang, jangan di sini... nanti ada yang lihat… " bisik Binar saat Jovian memeluknya erat. Suaranya terdengar manja, serak, dan penuh kekhawatiran yang menggemaskan. Ia mencoba sedikit mendorong dada Jovian dengan kepalan tangan kecilnya, namun gerakan itu justru berakhir dengan jemarinya yang meremas kemeja Jovian karena rindu yang sama besarnya.
"Tapi Bi, aku kangen banget... cuma kamu yang bisa bikin aku tenang sekarang," bisik Jovian pelan, menatap mata Binar yang bulat di balik kacamata.
Binar kemudian merogoh sebuah kotak makan kecil bermotif beruang dari balik tumpukan kertas. "Tunggu! Aku buatkan nasi beruang! Kali ini matanya pakai nori yang kupotong pelan-pelan biar mirip kamu kalau lagi ngantuk," bisiknya sambil tertawa kecil, suara tawa yang begitu murni hingga membuat hati Jovian berdesir. Binar sedikit menjinjit, menggosokkan hidung kecilnya ke hidung Jovian dengan manja. "Dimakan ya, sayang."
Jovian tersenyum lembut, tangannya mengusap pipi Binar yang halus. "Boleh aku minta satu hal lagi biar aku makin semangat?" tanya Jovian dengan tatapan polos namun penuh harap.
Binar memiringkan kepalanya. "Apa?"
"Cium... boleh?" Jovian mendekatkan wajahnya, menatap bibir tipis Binar yang dipulas lipbalm merah muda.
Binar tersentak pelan, pipinya langsung merona merah padam. "Ih, jangan sekarang! Nanti ada yang masuk... lagian bibir aku nanti berantakan, ketahuan Mbak-mbak HRD kalau kita habis 'anu'..." Binar menolak dengan gaya yang sangat menggemaskan, menutup mulutnya dengan tangan mungilnya sembari mengerucutkan matanya.
Jovian terkekeh, namun ia tidak menyerah. Ia memegang lembut pergelangan tangan Binar, menariknya perlahan. "Sebentar saja, Bi. Please..."
Melihat wajah "memohon" Jovian yang tampak begitu lugu, pertahanan Binar runtuh. Ia perlahan menurunkan tangannya, meskipun matanya masih melirik cemas ke arah pintu. "Sebentar saja ya? Janji?"
Jovian mengangguk pasti. Ia kemudian merunduk, melumat lembut bibir Binar. Ciuman itu terasa manis, hangat, dan penuh dengan rasa sayang yang tulus. Binar yang tadinya ragu, perlahan memejamkan mata, tangannya melingkar di leher Jovian, menikmati momen singkat di tengah ketegangan gedung Arthesia Capital. Aroma stroberi dan napas hangat Binar seolah menjadi penawar racun bagi kegelisahan Jovian.
Namun, tepat saat tautan bibir mereka semakin dalam—ketika Jovian baru saja akan memeluk pinggang Binar lebih erat—sebuah suara bariton yang otoriter bergema dari pengeras suara plafon, membelah suasana manis di ruangan itu seperti pisau es.
"Panggilan untuk kandidat nomor urut 07... Jovian Althair... Segera menuju lift eksekutif. Madam Vandella menunggu Anda di lantai 50. Sekarang."
Jovian mematung seketika. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat sebelum berdegup dua kali lebih kencang karena kaget. Napasnya tersengal-sengal, matanya yang tadi teduh perlahan kembali fokus, dipenuhi oleh kepanikan yang berusaha ia redam. Ia menatap Binar yang tampak sangat berantakan; kacamatanya miring, rambut bobcut-nya sedikit acak-acakan, dan bibirnya bengkak kemerahan akibat ciuman Jovian. Wajah gadis itu memerah padam, campur aduk antara rasa malu yang luar biasa dan ketakutan akan terbongkarnya rahasia mereka.
Lidah itu terasa begitu hangat dan basah, bergerak dengan ritme yang lambat namun menuntut dari pangkal hingga ke ujung kejantanan Jovian.Jovian memejamkan mata erat, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam sensasi hangat yang luar biasa di tengah kegelapan ruangan. Ia sedang berbaring terlentang di atas sofa, mencengkeram kain pelapis sofa hingga buku jarinya memutih. Di antara kedua kakinya yang terbuka lebar, ia bisa merasakan siluet seorang wanita yang sedang berlutut, menyibukkan diri dengan titik paling sensitif miliknya."Ahhh... Binar... pelan-pelan sayang..." erang Jovian parau. Aroma stroberi yang manis seolah memenuhi indra penciumannya.Wanita itu mendongak sebentar. Di bawah cahaya remang yang menerobos dari jendela, Jovian melihat kacamata bulat dan rambut bobcut
"A…ada tikus besar, Pah!!!" Binar tersentak keras, menenggelamkan wajahnya kembali ke dada Jovian seolah mencari perlindungan sambil menunjuk ke arah sudut ruang tamu.Langkah Paul terhenti seketika. "Hah? Tikus besar??" Paul menolehkan wajahnya ke arah bagian rumah yang ditunjuk Binar.Detik itu juga, transformasi luar biasa terjadi pada diri Pendeta Paul. Wajahnya yang tadinya merah padam karena amarah, tiba-tiba berubah menjadi putih pucat seputih kapas. Matanya yang tajam kini membelalak ngeri, pupilnya mengecil drastis. Wibawa sang pendeta yang berwibawa menguap habis dalam hitungan seper seratus detik."OMG!!! TUHAN YESUS!!!" pekik Paul tiba-tiba dengan nada suara melengking tinggi yang sangat feminim, nyaris menyerupai jeritan histeris yang sama sekali tidak gagah.
Suara deru mesin dan kilatan lampu SUV hitam dari luar menghantam kesadaran Jovian dan Binar seperti tamparan telak. Genggaman hangat tangan Binar pada kejantanan Jovian seketika terlepas, meninggalkan rasa dingin yang mendadak menggigit kulit. Wajah Binar berubah pucat pasi, matanya membelalak ketakutan menatap pintu depan yang perlahan terbuka dengan derit panjang, menyingkap celah sempit cahaya jalanan yang mulai menyusup ke dalam ruang tamu yang redup.Tidak ada waktu untuk bersembunyi. Tidak ada waktu untuk menarik ritsleting atau merapikan piyama. "Monster" Jovian yang berdenyut ungu—masih basah kuyup oleh hasrat yang memuncak—sudah terlanjur melompat keluar dengan kurang ajar dari balik celananya.Jovian dihantam adrenalin gila yang membuat jantungnya serasa ingin meledak, namun otaknya bekerja cepat saat insting liarnya mengambil alih.Sebuah seringai tipis namun dingin terlintas di bibir Jovian. Gerakannya secepat kilat, nyaris tidak terlihat di dalam pencahayaan yang remang-
Dalam hening yang menyesakkan, Jovian mematung. Matanya yang menggelap karena nafsu menelusuri setiap jengkal tubuh polos Binar yang tergeletak pasrah di bawah dekapannya. Keringat tipis berkilau di atas kulit Binar yang seputih porselen, menciptakan bias cahaya yang sangat sensual. Jovian memperhatikan bagaimana dada Binar yang ranum naik-turun dengan cepat, mencoba menangkap oksigen di tengah kabut berahi yang mencekik.Pandangan Jovian merambat turun, menyisiri paha mulus Binar yang masih sedikit bergetar, hingga ke leher jenjangnya yang kini dihiasi rona merah akibat ciuman-ciuman panas tadi. Setiap jengkal tubuh Binar seolah mengundang Jovian untuk melangkah lebih jauh, untuk menuntaskan dahaga yang selama ini tertahan.“Ayo Jovian, tinggal sedikit lagi,..!” suara iblis dalam benaknya berteriak parau, m
Napas Binar tersentak hebat, sebuah kejutan elektrik yang merambat ke seluruh sarafnya saat merasakan kain tipis pakaian dalamnya ditarik paksa ke bawah oleh tangan besar Jovian yang kokoh. Suara kain yang bergesekan dengan kulit paha terdengar sangat nyaring, memecah kesunyian ruang tamu yang seolah ikut menahan napas. Cahaya lampu yang redup dari pojok ruangan memberikan bias jingga, memperlihatkan pemandangan yang sanggup melumpuhkan logika pria mana pun; paha Binar yang putih bersih kini merona merah muda karena gairah yang meluap, dengan area sensitif yang sudah berkilau basah, memantulkan sedikit cahaya remang yang menggoda.Kemurnian yang selama ini dijaga Jovian dengan penuh rasa hormat seolah sedang memohon untuk dirusak malam ini. Jovian tidak membuang waktu lagi. Dengan gerakan yang menuntut, ia menyibakkan piyama sutra merah muda Binar ke atas, mengekspos bentuk tubuh gadis itu yang masih sanga
Jovian tertegun. Sebelum ia sempat bertanya, wanita itu sudah membereskan segalanya dan pergi setengah berlari. Jovian tetap tenang. Alih-alih panik karena dikuntit, sebuah senyum tipis yang sarat akan makna muncul di sudut bibirnya saat ia menatap pantulan spion motornya. Jovian melihat sekilas sebuah tangan yang memegang ponsel. Cahaya dari layar ponsel itu berkedip singkat dari dalam kegelapan kabin belakang, menerangi separuh wajah seorang wanita yang tampak sedang mengamati gerak-geriknya.Ia sengaja merapikan rambutnya perlahan, memberi waktu bagi sosok di dalam mobil itu memperhatikannya dengan cukup jelas. Setelah memastikan "umpan" telah ditelan, Jovian menyalakan mesin motornya dan melaju pergi, meninggalkan area parkir Arthesia Capital tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.Di dalam kabin belakang sedan hitam yang kedap suara, seorang wanita duduk de







