LOGIN"Aku... aku harus pergi," bisik Jovian berat, suaranya parau dan bergetar. Dia menarik tangannya dari bahu Binar, menyisakan kekosongan yang tiba-tiba pada gadis itu.
Binar mengangguk cepat dengan mata berkaca-kaca, jemarinya yang gemetar berusaha merapikan kemeja Jovian yang kusut. Ia berjinjit, mendekatkan bibirnya ke telinga Jovian. Bukannya membisikkan kata perpisahan biasa, ia justru memberikan tiupan halus yang nakal di telinga pria itu sebelum menatapnya dengan pandangan yang menggoda dari balik kacamata bulatnya.
"Good luck ya, sayang. Nanti malam... pokoknya harus ke rumah," bisiknya dengan nada manja sambil menarik ujung dasi Jovian sedikit. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, "Ayah lagi ke luar kota..." Ia mengedipkan satu matanya, memberikan pose "fighting" yang gemetar namun penuh maksud tersembunyi.
Jovian tertegun, menatap lekat mata bulat di balik kacamata itu. Ia mengelus pipi Binar dengan ibu jarinya. "Aku pasti datang, Bi. Tunggu aku ya," balas Jovian dengan nada yang jauh lebih berat dari biasanya.
Binar melepaskan tautan jari mereka dengan napas tersengal, lalu merapikan kerah baju Jovian sekali lagi dengan gerakan posesif yang lembut. "Cepatlah pergi sebelum aku berubah pikiran dan menguncimu di sini selamanya," bisik Binar lagi, matanya melirik ke arah pintu dengan cemas. "Rapikan dirimu, sayang. Jangan biarkan siapapun mencium aroma stroberiku darimu."
Jovian memberikan satu anggukan mantap sebelum akhirnya memutar knop pintu. Jantung Binar masih berdebar kencang. Ia bersandar pada mesin fotokopi yang masih panas, menatap punggung Jovian yang menghilang di balik pintu dengan perasaan yang campur aduk.
===
Begitu pintu lift baja yang dingin tertutup, Jovian menyandarkan kepalanya ke dinding lift dan melihat ke arah langit-langit. Ia menarik napas dalam-dalam untuk mendinginkan kepalanya, memaksakan dirinya agar terlihat tenang, meski debaran jantungnya masih tidak beraturan karena interupsi yang mendadak.
Di dalam kotak besi yang melesat naik itu, ia seolah mengganti identitasnya—dari kekasih Binar yang lembut menjadi seorang pria yang siap memasuki medan perang.
"Sabar, Jovian... tenanglah," gumamnya pelan. "Bi, tunggu sebentar lagi. Aku akan mendapatkan posisi ini, aku akan menghancurkan mereka, dan setelah itu... aku pasti akan menikahimu."
Bayangan masa depan yang manis dengan Binar menjadi satu-satunya jangkauan kewarasannya saat lift eksekutif melesat naik dengan kecepatan tinggi. Namun, aroma Binar—manis stroberi dan sisa panas dari ruang fotokopi—masih menempel kuat di indra penciumannya, bertarung dengan udara dingin yang dipompa keluar dari ventilasi lift.
Ting.
Pintu lift terbuka, menyingkap sebuah ruangan luas yang didominasi kaca tebal. Baru saja pintu itu terbuka sepenuhnya, sesosok pria berjas Ivy League menubruk tubuh Jovian dengan kasar. Pria yang tadi begitu sombong di lobby kini tampak seperti baru saja melihat hantu. Wajahnya sepucat kertas, matanya melotot ketakutan, dan ia menekan tombol lantai dasar berulang-ulang dengan kalap seolah dikejar setan.
Jovian menahan napas. Bagaimana mungkin pria tadi—yang tampak begitu percaya diri di bawah—bisa keluar dalam keadaan sehancur itu? Apa yang Vandella katakan padanya? Atau lebih buruk... apa yang dia minta pria itu lakukan? Pertanyaan-pertanyaan itu menghujam benak Jovian, membuatnya menyadari bahwa ia baru saja masuk ke sarang predator yang jauh lebih berbahaya dari dugaannya.
Jovian melangkah masuk. Ruangan CEO itu luas, dingin, dan sarat dengan aroma kekuasaan. Dinding kaca menampilkan Jakarta di bawah kaki mereka seolah-olah seluruh dunia adalah milik penghuninya. Di tengah ruangan, Vandella berdiri membelakangi Jovian, menghadap jendela besar dengan keanggunan seorang penguasa tunggal. Di tangannya, ada sebuah map krem.
Vandella berbalik perlahan. Ia tidak langsung menatap wajah Jovian, melainkan membaca sekilas dokumen di tangannya, lalu melempar map itu ke atas meja kerjanya yang masif dengan gerakan yang menghina.
Plak.
"Duduk," perintah Vandella singkat. Suaranya rendah namun penuh otoritas. Dagu tajamnya menunjuk ke arah kursi kulit rendah yang sengaja ditempatkan di depan meja mahoninya yang besar.
Jovian melangkah maju. Secara fisik ia tampak sedikit gentar, namun di dalam kepalanya, insting Master of Psychology-nya menyala terang. Matanya—di balik kacamata bingkai tipis itu—mulai melakukan profiling cepat.
Postur tubuh terbuka, bahu tegak—dominasi total, analisis Jovian dalam hati. *Kakinya sedikit terbuka, ujung sepatu mengarah lurus padaku—dia tertarik, atau setidaknya, aku adalah target fokusnya saat ini. Dia tidak menyilangkan tangan, artinya dia tidak defensif. Dia sangat agresif dan merasa memegang kendali penuh.
Jovian duduk. Seperti dugaannya, kursi itu dirancang jauh lebih rendah dari kursi kerja Vandella, memaksanya untuk mendongak jika ingin menatap wajah sang CEO. Trik psikologi lama untuk membuat lawan bicara merasa kecil dan tidak berdaya.
"Terima kasih," ucap Jovian tenang, meski jantungnya berdebar kencang. Ia merapatkan kaki dan menaruh tangan di atas paha—sikap patuh yang sengaja ia tunjukkan agar Vandella tidak curiga dan justru terpancing untuk menguasainya.
Vandella berjalan perlahan mengitari meja, jemari lentiknya menelusuri tepi meja mahoni itu. Aroma Black Opium mulai tercium kuat, manis namun mencekik, mencoba menghapus sisa-sisa wangi stroberi Binar yang masih melekat di ujung indra penciuman Jovian.
"Jovian Althair," ucap Vandella, melafalkan nama itu seperti sedang mencicipi anggur mahal yang langka. "Lulusan terbaik dengan predikat sempurna. Tapi aku tidak peduli dengan angka-angka itu. Yang menarik bagiku adalah julukanmu di kalangan pialang saham junior... 'The Silent Prophet'."
Vandella berhenti tepat di depan Jovian, bersandar di tepi meja kerjanya sehingga posisi pinggulnya yang terbalut rok ketat kini sejajar dengan wajah Jovian.
"Kau tahu kenapa aku memanggilmu, sementara aku baru saja mengusir lulusan Harvard tadi seperti sampah?" tanya Vandella. Tatapannya tajam, menyelidik, dan penuh dengan hasrat yang sulit dibaca.
Jovian mendesis pelan saat alkohol itu menyentuh luka terbukanya."Maaf... apa aku terlalu keras?" bisik Binar, menatap wajah pria itu dengan raut bersalah."Tidak," jawab Jovian pelan. Ia menatap lekat wajah Binar yang sedang menunduk fokus membersihkan lukanya. "Ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang kau alami hari ini. Aku yang seharusnya meminta maaf, Binar."Binar menghentikan gerakannya. Ia membalas tatapan Jovian. Kesunyian yang pekat menyelimuti mereka selama beberapa detik, sebelum akhirnya Binar tak bisa lagi menahan pertanyaan yang sedari tadi menyiksa dadanya."Kenapa kamu berbohong padaku, Ian?" tanya Binar dengan suara lirih yang bergetar. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Kemarin... kamu mengusirku. Kamu bilang aku cuma staf magang yang
Namun, Jovian sama sekali tidak berniat berlutut.Tepat saat Markus lengah karena merasa permintaannya dituruti, tangan kanan Jovian yang tadi melepaskan pistol melesat kilat ke balik paha kanannya. Ia menarik sebuah pisau lempar taktis berukuran kecil yang terselip di sana.Dalam gerakan fluid yang nyaris tak terlihat oleh mata telanjang, Jovian mengayunkan lengannya dan melemparkan pisau itu dengan kekuatan dan presisi yang mematikan.Jleb!"AAAAAARRRGGGHH!!!"Pisau baja itu menancap telak di pergelangan tangan kanan Markus, tepat di antara urat nadi dan tulang. Rasa sakit yang luar biasa melumpuhkan saraf motorik Markus. Jari-ja
"Melepaskanmu?" Markus tertawa sumbang. Ia melangkah mendekat, lalu mencengkeram rahang Binar dengan cukup keras. "Kau pikir aku peduli padamu, Binar? Kau hanyalah alat. Umpan yang sempurna untuk memancing bajingan arogan itu keluar dari sarangnya.""Ian tidak akan datang," isak Binar, air mata mulai menetes di pipinya. Ia mengingat kembali kata-kata kasar Jovian di penthouse. "Dia sudah memecatku... dia bilang aku ini cuma sampah yang mengingatkannya pada masa lalu...""Oh, berhentilah menangis," potong Markus sinis, melepaskan cengkeramannya. "Kau mungkin percaya dengan akting murahan Jovian. Tapi Bram dan anak buahnya tidak. Begitu kau keluar dari gedung itu, sebuah mobil SUV berisi pengawal elit bayaran langsung membuntutimu dari jarak jauh. Jovian tidak pernah membuangmu
"Itu laporan pantauan yang kau minta," ucap Bram, menyalakan sebatang rokok. "Kami sudah mengawasi pergerakan Jovian Vaelis selama dua minggu terakhir. Tapi jujur saja, menyentuh pria itu secara langsung adalah tindakan bunuh diri."Markus membuka amplop itu, mengeluarkan beberapa lembar foto yang diambil dari jarak jauh. Foto-foto itu menunjukkan mobil Jovian yang dikawal ketat oleh Shadow Unit—pasukan keamanan pribadi Jovian yang dipimpin oleh Luna."Sistem keamanannya tanpa celah," lanjut Bram, menghembuskan asap rokok. "Gedung Vaelis Corp dijaga seperti markas militer. Pengawalnya bukan sekuriti biasa, mereka mantan tentara bayaran terlatih. Jika kita nekat menyerangnya, kita yang akan berakhir di kamar mayat."Markus me
Binar melangkah keluar dengan senyum cerah yang menghiasi wajahnya. Ia masih mengenakan seragam kerjanya. Di tangannya, ia menenteng sebuah kantong plastik berisi dua porsi sate ayam—makanan jalanan favorit Jovian saat mereka masih kecil di panti asuhan dulu.Setelah percakapan hangat mereka tadi pagi, Binar merasa dinding es di antara mereka akhirnya benar-benar runtuh. Ia sangat bersemangat untuk makan malam bersama pemuda itu."Ian? Aku bawa sate ayam kesukaanmu!" panggil Binar riang sambil berjalan menuju ruang tamu.Langkah Binar terhenti saat ia melihat Jovian sedang berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela kaca. Ruangan penthouse itu kembali dibuat sedikit redup. Pria itu sudah mengenakan jas rapinya, memegang
"Itu laporan pantauan yang kau minta," ucap Bram, menyalakan sebatang rokok. "Kami sudah mengawasi pergerakan Jovian Vaelis selama dua minggu terakhir. Tapi jujur saja, menyentuh pria itu secara langsung adalah tindakan bunuh diri."Markus membuka amplop itu, mengeluarkan beberapa lembar foto yang diambil dari jarak jauh. Foto-foto itu menunjukkan mobil Jovian yang dikawal ketat oleh Shadow Unit—pasukan keamanan pribadi Jovian yang dipimpin oleh Luna."Sistem keamanannya tanpa celah," lanjut Bram, menghembuskan asap rokok. "Gedung Vaelis Corp dijaga seperti markas militer. Pengawalnya bukan sekuriti biasa, mereka mantan tentara bayaran terlatih. Jika kita nekat menyerangnya, kita yang akan berakhir di kamar mayat."Markus me
"Karena tesis saya," jawab Jovian pelan tapi yakin. "Prediksi Krisis Melalui Psikologi Massa."Senyum miring terbit di bibir Vandella. Bingo."Tepat," bisik Vandella. Ia membungkuk sedikit, membuat belahan dadanya terlihat samar di balik blazer sutra merah marun itu. "Semua analis di luar sana hany
Lantai lobi Arthesia Capital terbuat dari marmer hitam yang sangat mengilap. Tepat di tengahnya, huruf ‘V’ emas raksasa terukir angkuh, menyeringai tajam di bawah lampu kristal, siap menginjak siapa saja yang berani menantang kekuasaannya. Di layar raksasa, Vandella sedang wawancara. Blazer sutra
Jovian bisa merasakan kedutan di sana. Otot-otot kewanitaan Vandella berkontraksi, seolah mencoba "menggigit" dan menelan jari Jovian. Cairan hangat terus membanjiri sela-sela jari Jovian, lengket dan beraroma feromon yang memabukkan—campuran Black Opium dan aroma musk alami wanita yang sedang di p
Air mata frustrasi tertahan di sudut mata Jovian. Ia membenci dirinya sendiri. Ia merasa kotor. Tapi sensasi tangan dingin Vandella yang menguasai kehangatannya terasa begitu adiktif, begitu memabukkan, jauh melebihi apa pun yang pernah Binar berikan padanya.Vandella melihat reaksi itu—melihat bag







