Se connecterDalam hening yang menyesakkan, Jovian mematung. Matanya yang menggelap karena nafsu menelusuri setiap jengkal tubuh polos Binar yang tergeletak pasrah di bawah dekapannya. Keringat tipis berkilau di atas kulit Binar yang seputih porselen, menciptakan bias cahaya yang sangat sensual. Jovian memperhatikan bagaimana dada Binar yang ranum naik-turun dengan cepat, mencoba menangkap oksigen di tengah kabut berahi yang mencekik.
Lidah itu terasa begitu hangat dan basah, bergerak dengan ritme yang lambat namun menuntut dari pangkal hingga ke ujung kejantanan Jovian.Jovian memejamkan mata erat, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam sensasi hangat yang luar biasa di tengah kegelapan ruangan. Ia sedang berbaring terlentang di atas sofa, mencengkeram kain pelapis sofa hingga buku jarinya memutih. Di antara kedua kakinya yang terbuka lebar, ia bisa merasakan siluet seorang wanita yang sedang berlutut, menyibukkan diri dengan titik paling sensitif miliknya."Ahhh... Binar... pelan-pelan sayang..." erang Jovian parau. Aroma stroberi yang manis seolah memenuhi indra penciumannya.Wanita itu mendongak sebentar. Di bawah cahaya remang yang menerobos dari jendela, Jovian melihat kacamata bulat dan rambut bobcut
"A…ada tikus besar, Pah!!!" Binar tersentak keras, menenggelamkan wajahnya kembali ke dada Jovian seolah mencari perlindungan sambil menunjuk ke arah sudut ruang tamu.Langkah Paul terhenti seketika. "Hah? Tikus besar??" Paul menolehkan wajahnya ke arah bagian rumah yang ditunjuk Binar.Detik itu juga, transformasi luar biasa terjadi pada diri Pendeta Paul. Wajahnya yang tadinya merah padam karena amarah, tiba-tiba berubah menjadi putih pucat seputih kapas. Matanya yang tajam kini membelalak ngeri, pupilnya mengecil drastis. Wibawa sang pendeta yang berwibawa menguap habis dalam hitungan seper seratus detik."OMG!!! TUHAN YESUS!!!" pekik Paul tiba-tiba dengan nada suara melengking tinggi yang sangat feminim, nyaris menyerupai jeritan histeris yang sama sekali tidak gagah.
Suara deru mesin dan kilatan lampu SUV hitam dari luar menghantam kesadaran Jovian dan Binar seperti tamparan telak. Genggaman hangat tangan Binar pada kejantanan Jovian seketika terlepas, meninggalkan rasa dingin yang mendadak menggigit kulit. Wajah Binar berubah pucat pasi, matanya membelalak ketakutan menatap pintu depan yang perlahan terbuka dengan derit panjang, menyingkap celah sempit cahaya jalanan yang mulai menyusup ke dalam ruang tamu yang redup.Tidak ada waktu untuk bersembunyi. Tidak ada waktu untuk menarik ritsleting atau merapikan piyama. "Monster" Jovian yang berdenyut ungu—masih basah kuyup oleh hasrat yang memuncak—sudah terlanjur melompat keluar dengan kurang ajar dari balik celananya.Jovian dihantam adrenalin gila yang membuat jantungnya serasa ingin meledak, namun otaknya bekerja cepat saat insting liarnya mengambil alih.Sebuah seringai tipis namun dingin terlintas di bibir Jovian. Gerakannya secepat kilat, nyaris tidak terlihat di dalam pencahayaan yang remang-
Dalam hening yang menyesakkan, Jovian mematung. Matanya yang menggelap karena nafsu menelusuri setiap jengkal tubuh polos Binar yang tergeletak pasrah di bawah dekapannya. Keringat tipis berkilau di atas kulit Binar yang seputih porselen, menciptakan bias cahaya yang sangat sensual. Jovian memperhatikan bagaimana dada Binar yang ranum naik-turun dengan cepat, mencoba menangkap oksigen di tengah kabut berahi yang mencekik.Pandangan Jovian merambat turun, menyisiri paha mulus Binar yang masih sedikit bergetar, hingga ke leher jenjangnya yang kini dihiasi rona merah akibat ciuman-ciuman panas tadi. Setiap jengkal tubuh Binar seolah mengundang Jovian untuk melangkah lebih jauh, untuk menuntaskan dahaga yang selama ini tertahan.“Ayo Jovian, tinggal sedikit lagi,..!” suara iblis dalam benaknya berteriak parau, m
Napas Binar tersentak hebat, sebuah kejutan elektrik yang merambat ke seluruh sarafnya saat merasakan kain tipis pakaian dalamnya ditarik paksa ke bawah oleh tangan besar Jovian yang kokoh. Suara kain yang bergesekan dengan kulit paha terdengar sangat nyaring, memecah kesunyian ruang tamu yang seolah ikut menahan napas. Cahaya lampu yang redup dari pojok ruangan memberikan bias jingga, memperlihatkan pemandangan yang sanggup melumpuhkan logika pria mana pun; paha Binar yang putih bersih kini merona merah muda karena gairah yang meluap, dengan area sensitif yang sudah berkilau basah, memantulkan sedikit cahaya remang yang menggoda.Kemurnian yang selama ini dijaga Jovian dengan penuh rasa hormat seolah sedang memohon untuk dirusak malam ini. Jovian tidak membuang waktu lagi. Dengan gerakan yang menuntut, ia menyibakkan piyama sutra merah muda Binar ke atas, mengekspos bentuk tubuh gadis itu yang masih sanga
Jovian tertegun. Sebelum ia sempat bertanya, wanita itu sudah membereskan segalanya dan pergi setengah berlari. Jovian tetap tenang. Alih-alih panik karena dikuntit, sebuah senyum tipis yang sarat akan makna muncul di sudut bibirnya saat ia menatap pantulan spion motornya. Jovian melihat sekilas sebuah tangan yang memegang ponsel. Cahaya dari layar ponsel itu berkedip singkat dari dalam kegelapan kabin belakang, menerangi separuh wajah seorang wanita yang tampak sedang mengamati gerak-geriknya.Ia sengaja merapikan rambutnya perlahan, memberi waktu bagi sosok di dalam mobil itu memperhatikannya dengan cukup jelas. Setelah memastikan "umpan" telah ditelan, Jovian menyalakan mesin motornya dan melaju pergi, meninggalkan area parkir Arthesia Capital tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.Di dalam kabin belakang sedan hitam yang kedap suara, seorang wanita duduk de







