Se connecterAir mata frustrasi tertahan di sudut mata Jovian. Ia membenci dirinya sendiri. Ia merasa kotor. Tapi sensasi tangan dingin Vandella yang menguasai kehangatannya terasa begitu adiktif, begitu memabukkan, jauh melebihi apa pun yang pernah Binar berikan padanya.
Vandella melihat reaksi itu—melihat bagaimana tubuh Jovian mengkhianati hati nuraninya sendiri. Wanita itu tersenyum miring, mendekatkan bibirnya ke telinga Jovian yang memerah.
"Tubuhmu lebih jujur daripada hatimu, sayang," bisik Vandella, suaranya penuh kemenangan.
Di balik senyum miring itu, jantung Vandella sendiri sebenarnya sedang berpacu gila-gilaan.
Napas sang Ratu Investasi tercekat. Matanya yang gelap terpaku pada gundukan di celana Jovian yang kini ia kuasai sepenuhnya. Logika dinginnya sebagai CEO perlahan lumer, digantikan oleh insting purba seorang wanita yang baru saja menemukan "harta karun".
Sialan, batin Vandella liar. Ini bukan ukuran manusia biasa.
Vandella mengira ia hanya akan menemukan "mainan" standar—cukup untuk memuaskan kebosanan sesaat. Tapi apa yang berdenyut marah di dalam genggamannya saat ini melampaui segala imajinasinya.
Masif. Tebal. Dan kerasnya... seperti besi panas yang siap meledak.
Jemari lentik Vandella mencoba meremas lebih dalam, namun telapak tangannya nyaris tidak cukup untuk melingkupi diameter kejantanan Jovian sepenuhnya. Kepadatan otot di balik kain itu begitu nyata, begitu mengintimidasi, sekaligus begitu menggoda. Vandella bisa merasakan urat-urat yang menonjol di sana, berkedut melawan telapak tangannya, menuntut pelepasan.
Sensasi memegang sesuatu yang begitu "perkasa" mengirimkan sengatan listrik langsung ke pusat saraf Vandella.
Tubuhnya bereaksi instan. Selangkangannya, yang tadi hanya lembap oleh godaan awal, kini bereaksi jauh lebih ekstrem. Cairan hangat membanjiri kewanitaannya, merembes deras membasahi kain sutra celana dalamnya.
Basah. Aku basah kuyup hanya karena memegangnya, aku Vandella dalam hati, setengah tidak percaya. Ia sudah lama tidak merasakan rasa lapar seperti ini—rasa lapar yang membuat rahimnya berdenyut nyeri minta diisi.
Vandella menatap wajah Jovian yang tersiksa. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika benda raksasa yang ia genggam ini tidak lagi terhalang kain. Ia membayangkan "monster" itu merobek pertahanannya, mengisi kekosongannya hingga ke titik terdalam yang belum pernah disentuh siapa pun.
"Jovian..." desah Vandella tanpa sadar, suaranya serak karena gairah yang menumpuk.
Ia tidak lagi sekadar ingin memanipulasi pemuda ini. Ia menginginkannya. Ia ingin melahap kepolosan itu dan merasakan kekuatan brutal Jovian menghancurkan ranjangnya.
Vandella menggigit bibir bawahnya, menahan erangan yang nyaris lolos. Ia menggesekkan kedua pahanya yang kini terasa sangat basah dan lengket satu sama lain. Sensasi "monster" di tangannya membuat akal sehatnya berantakan.
Ia membungkuk sedikit, membiarkan dadanya yang membusung di balik sutra tipis bergesekan perlahan dengan dada bidang Jovian. Matanya menatap pemuda itu, tatapan yang menjanjikan dosa termanis di dunia.
"Jangan takut, Jovian. Aku tidak akan menghancurkanmu. Aku justru akan membuatmu melayang..." bisik Vandella. Ia menggigit kecil cuping telinga Jovian, mengirimkan sengatan listrik ke tulang punggung pria itu. "Kamu tidak mau kembali ke hidupmu yang dingin dan miskin itu, kan? Di sini, di dekapanku, kamu bisa dapat semua kemewahan yang kamu impikan."
Jovian memburu oksigen. Napasnya putus-putus. Ia memberanikan diri menatap langsung ke dalam mata Vandella yang berkilat lapar.
Mulut Jovian terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar. Tubuhnya justru memberikan jawaban yang jauh lebih jujur. Tanpa sadar, pinggul Jovian bergerak maju. Ia memberikan tekanan balik, menekan kejantanannya lebih dalam dan keras ke telapak tangan Vandella yang mencengkeramnya.
Deg.
Merasakan dorongan itu, ego dan gairah Vandella meledak seketika.
Dia menginginkanku, batin Vandella liar.
Ia merasakan getaran hebat menjalar ke seluruh tubuhnya. Desakan benda keras di tangannya itu membuat selangkangannya berdenyut nyeri karena lapar. Vandella menarik wajahnya sedikit, menatap Jovian dengan senyum kemenangan yang nakal.
"Anak pintar..." bisik Vandella rendah, suaranya terdengar seperti dengkuran kucing yang puas.
Jemarinya bergerak lebih intens, memompa pelan namun menekan, membuat kaki Jovian gemetar hingga hampir kehilangan pijakan. Vandella mendekatkan bibirnya lagi, ujung lidahnya bermain nakal di kulit leher Jovian yang berkeringat.
"Kamu suka, Sayang? Kamu suka bagaimana tanganku menguasaimu seperti ini?"
Tanpa menunggu jawaban, Vandella meraih tangan Jovian yang kaku di sisi tubuh.
Dengan gerakan penuh maksud, Vandella menuntun tangan panas Jovian. Ia membawanya turun, merayap melewati pinggang, menyusup ke bawah rok mini ketatnya yang tersingkap.
"Aku akan membawamu ke tempat paling tinggi. Dunia yang belum pernah kamu bayangkan," janji Vandella.
Tangan Jovian kini menyentuh kulit paha dalam Vandella yang halus. Panas.
"Katakan, Jovian..." Vandella menatap mata pemuda itu, sementara tangannya menekan telapak tangan Jovian tepat di pusat kewanitaannya yang sudah banjir. "Apa kamu siap meninggalkan hidupmu yang membosankan dan mencicipi... ini?"
Jovian terperangah. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Jari-jarinya langsung disambut oleh kelembapan yang luar biasa. Cairan hangat tanda gairah sang CEO membasahi jemarinya seketika. Rasa terkejut bercampur dengan nafsu purba meledak di kepala Jovian, menghancurkan sisa-sisa logikanya.
Basah sekali.
Jovian terperangah. Napasnya tersangkut di tenggorokan saat menyadari bahwa kain celana dalam renda milik sang CEO sudah basah kuyup, seolah tidak mampu lagi menampung gairah pemiliknya. Panas yang menjalar dari sana begitu intens, menembus kulit tangan Jovian, membakar akal sehatnya.
Tanpa sadar, jemari Jovian bergerak. Insting purba laki-lakinya mengambil alih. Ia tidak lagi sekadar menempel, tapi menekan. Jari tengahnya menyusup, menekan titik pusat sensitivitas Vandella melalui kain yang licin oleh cairan itu.
"Ahhh..." Vandella mendongak, matanya terpejam erat, bibirnya terbuka melepaskan desahan panjang yang tertahan.
Sensasi jari Jovian yang besar dan kasar—yang menekan tepat di klitorisnya yang bengkak—membuat lutut Vandella lemas seketika.
Gila!..! batin Jovian, pikirannya berkabut. Wanita paling berkuasa ini... becek di tanganku..!
Hujan deras mengguyur aspal ibu kota saat sebuah mobil van operasional keamanan berwarna hitam milik Arthesia Capital melaju menembus kemacetan. Di kursi belakang, Jovian duduk diapit oleh dua petugas keamanan bertubuh raksasa. Kedua pergelangan tangannya diikat menggunakan zip-tie plastik tebal berlapis ganda."Sayang sekali, Tuan Vaelis," dengus salah satu petugas keamanan yang duduk di sebelah kirinya. "Siapa sangka CFO jenius pujaan perusahaan ternyata adalah seorang mata-mata. Karir Anda tamat hari ini. Madam Vandella telah berpesan agar kami memastikan Anda membusuk di sel tahanan."Jovian tidak membalas. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang buram, menatap jalanan yang basah. Pipi kirinya masih terasa panas dan berdenyut akibat tamparan Sang Ratu. Aktingnya sebagai pria yang baru saja kehilangan segalanya terlihat begitu nyata dan menyedihkan."Hei! Apa yang kau lakukan?!"Bentakan sopir van keamanan itu tiba-tiba memecah keheningan. Sopir itu menginjak rem dalam-dalam
Vandella menaikkan sebelah alisnya, merangkai jemarinya di atas meja dengan raut wajah terganggu yang sangat natural. "Ibu? Apa-apaan ini? Kita sedang berada di tengah rapat paripurna. Jika Ibu hanya ingin membuat keributan—""Tutup mulutmu, Vandella! Kau akan berterima kasih padaku setelah ini!" potong Malora kasar.Wanita itu melangkah beringas memutari meja rapat raksasa, mengabaikan tatapan syok dari puluhan direktur dan komisaris. Malora berhenti tepat di seberang Vandella dan Jovian. Dengan satu sentakan arogan, ia merampas map kulit dari tangan Rustam, lalu melemparkannya dengan keras ke tengah meja marmer.Plak! Map itu meluncur dan berhenti tepat di depan Vandella."Selama berbulan-bulan, kau memelihara seekor ular berbisa di sebelahmu, Vandella," desis Malora, menudingkan telunjuknya yang berhias cincin berlian tepat ke arah wajah Jovian. "Kau memberinya kuasa, memberinya posisi CFO, dan bahkan... menidurinya, bukan?! Kau telah diperdaya mentah-mentah oleh musuh terbesar kel
Napas Vandella mengalun teratur, kepalanya bersandar nyaman di dada bidang Jovian. Namun, pikiran Jovian sama sekali tidak sedang beristirahat. Jari-jarinya yang besar membelai rambut hitam Vandella yang bergelombang, sementara matanya menatap lurus ke arah langit-langit, menyusun kepingan-kepingan rencana di kepalanya."Kau sedang berpikir keras," gumam Vandella memecah keheningan. Jari-jarinya bermain pelan di atas kancing kemeja pemuda itu yang terbuka. "Aku bisa mendengarnya dari detak jantungmu."Vandella mendongak, menopang dagunya di dada Jovian. Matanya menatap pria itu dengan penuh selidik. "Jadi... apa langkahmu selanjutnya untuk meruntuhkan Vance Corp?"Jovian menundukkan pandangannya, menatap wajah cantik di atasnya. Sebuah senyum tipis, dingin, dan penuh perhitungan terukir di bibirnya."Vance Corp tidak bisa diruntuhkan dari luar," jawab Jovian, suaranya berat dan mengalun sangat tenang. "Julian telah membangun benteng yang terlalu tebal selama puluhan tahun. Menyerangny
"Biar aku yang menjelaskannya kepada para dewan direksi yang kebingungan," Jovian mengambil alih. Jovian menatap lurus ke arah para pemegang saham, lalu menjatuhkan pandangannya pada Julian dengan sorot mengejek."Empat jam yang lalu, Arthesia Capital telah resmi melakukan takeover terhadap 45% saham mayoritas divisi pelabuhan dan logistik Lau Holdings di Hong Kong," Jovian mengumumkan dengan artikulasi yang sempurna. "Kita tidak lagi bekerja sama dengan mereka. Mulai detik ini, Arthesia adalah pemilik sah atas seluruh jaringan logistik tersebut. Krisis yang kalian takutkan... tidak pernah ada."Ruang rapat itu meledak dalam bisak-bisik keterkejutan. Wajah para direktur yang tadinya cemas kini berubah menjadi takjub dan lega luar biasa. Mengakuisisi raksasa logistik Asia dalam hitungan jam? Itu adalah manuver yang mustahil dilakukan tanpa cadangan dana likuid raksasa."Dari mana... dari mana kalian mendapatkan dana likuiditas sebesar itu dalam waktu satu malam?!" desis Julian, menatap
Mendengar nama pamannya disebut, seringai di sudut bibir Jovian semakin dalam. Ia mengecup dahi Vandella dengan lembut."Tentu, Sayang," balas Jovian tenang.***Roda-roda pendaratan Gulfstream G650ER menghantam aspal landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma dengan entakan keras, mengoyak genangan air sisa hujan deras yang baru saja mengguyur ibu kota.Langit Jakarta sore itu berwarna kelabu pekat, di dalam kabin utama yang mewah, Vandella duduk dengan postur tegak yang sempurna. Tidak ada lagi sisa-sisa wanita manja dan rapuh yang semalaman menangis dalam orgasme di atas ranjang Ritz-Carlton. Sang Ratu telah kembali mengenakan mahkota berdurinya. Ia mengenakan pantsuit
—meledak."AAARRRGGHH!"Geraman purba Jovian memecah pekatnya udara malam Hong Kong. Pria itu membeku kaku, menghentakkan pinggulnya ke atas dalam satu dorongan pamungkas yang menyentuh dasar terdalam lubang basah Vandella. Dari ujung kejantanannya, gelombang benih yang teramat panas, kental, dan melimpah menyembur deras.Semburan itu menembak bertubi-tubi, membanjiri ruang terdalam rahim Vandella. Tubuh wanita itu mengejang hebat di udara, liangnya memeras batang Jovian dengan hisapan vakum yang seakan ingin menyerap jiwa pria tersebut.Vandella menangis tanpa suara. Air mata kelegaan dan kenikmatan mengalir membasahi bahu Jovian. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher pria itu, menghirup aroma keringat maskulin yang kini menjadi candu baginya.Di bawah pendar lampu kota yang berkedip dari kejauhan, mereka berdua terdiam dalam posisi saling mengunci di udara terbuka. Kaki Vandella yang melingkar di pinggang Jovian perlahan melemas, kehilangan seluruh tenaganya. Hanya lengan Jovian







