Share

Bab 4

Penulis: kodav
last update Tanggal publikasi: 2026-02-19 19:16:04

Hening.

Di lantai 50 yang menjulang di atas Jakarta itu, suara napas Jovian terdengar seperti deru ombak yang tertahan. Ia berdiri di antara kedua kaki Vandella yang terbuka di atas meja, terperangkap dalam gravitasi sang CEO.

Jovian perlahan mengangkat wajahnya. Ia melepaskan pandangannya dari belahan dada Vandella yang menggairahkan—pemandangan yang baru saja membuat darahnya mendidih. Saat mata mereka bertemu, topeng "lulusan terbaik yang santun" itu retak.

Wajah Jovian berubah. Bahunya turun, matanya meredup, menciptakan ilusi seorang pria yang telah dipatahkan oleh dunia.

"Saya lelah, Madam," bisik Jovian. Suaranya parau, pecah di ujung kalimat. "Saya lelah menjadi orang pintar yang tidak punya apa-apa. Saya lelah makan nasi sisa dan menjadi penonton saat orang-orang seperti Anda menguasai dunia."

Vandella tidak berkedip. Ia menatap Jovian seperti seekor kucing menatap tikus yang sekarat.

"Teruskan," perintah Vandella lembut.

"Saya melihat Anda di TV... menghancurkan perusahaan lawan tanpa kedip," lanjut Jovian, kini menatap lurus ke manik mata Vandella yang gelap. "Dan saya sadar... saya tidak ingin jadi pahlawan. Kejujuran tidak membayar sewa kos saya. Saya ingin kekuasaan. Saya ingin menjadi pemenang. Seperti Anda."

Sudut bibir Vandella terangkat. Senyum itu bukan senyum manis; itu adalah senyum kepuasan seorang dewi yang baru saja mendapatkan penyembah baru. Pengakuan dan pujian itu memberinya Narcissistic Supply—suplai ego yang ia butuhkan.

"Kau jujur, Jovian. Aku suka kejujuran yang kotor," desis Vandella.

Jovian melihat perubahan itu. Mata Vandella membesar. Napas wanita itu jadi lebih cepat.

Tanpa peringatan, tangan Vandella melesat. Ia mencengkeram kerah kemeja Jovian dan menariknya kasar hingga tubuh pria itu menabrak lutut Vandella.

Bruk.

Jarak mereka kini nol. Aroma Black Opium menguar tajam, manis namun mematikan, mencekik sisa aroma stroberi Binar yang masih menempel samar di kemeja Jovian.

"Kalau begitu, biarkan aku memeriksa..." bisik Vandella, wajahnya hanya berjarak satu inci dari wajah Jovian. "Apakah kau layak untuk 'kenyang'."

Jari-jari lentik dengan kuku merah darah itu mulai bekerja. Satu per satu kancing kemeja Jovian dibuka paksa. Bukan dengan romantis, tapi seperti pemilik yang sedang memeriksa barang dagangan. Saat kemeja itu terbuka, memperlihatkan dada bidang Jovian yang naik-turun, Vandella menempelkan telapak tangannya yang dingin tepat di atas jantung Jovian.

"Detak jantungmu..." Vandella tersenyum miring, merasakan degup yang gila di sana. "Kencang sekali. Apa yang kau takutkan? Atau karena milikmu mulai sakit di dalam sana?"

Jovian memejamkan mata erat. Sial. Tubuhnya mengkhianati logikanya. Gesekan lutut Vandella di paha bagian dalamnya mengirimkan sinyal bahaya langsung ke pusat syarafnya. Kejantanannya menegang, keras dan menyakitkan, mendesak kain celananya yang sempit.

"Saya... hanya bereaksi pada Anda, Madam," jawab Jovian parau.

"Pembohong."

Tangan sang CEO meluncur turun. Melewati perut yang mengeras, menuju ikat pinggang.

Klik.

Bunyi gesper yang dibuka terdengar sangat nyaring di ruangan sunyi itu. Vandella tidak ragu. Ia menurunkan ritsleting celana Jovian perlahan-lahan.

Zrrrt.

Suara itu terdengar mengerikan bagi pertahanan diri Jovian. Udara dingin AC langsung menyapa kulit di balik celana dalamnya, tapi sedetik kemudian digantikan oleh serbuan yang panas.

Tangan Vandella menyelinap masuk. Tanpa basa-basi.

Jari-jari Vandella yang ramping langsung membungkus kejantanan Jovian yang masih terbalut kain tipis celana dalam. Ia tidak sekadar memegang; ia mengukur. Vandella meremas pangkalnya yang tebal, merasakan betapa masif dan kerasnya ereksi yang disembunyikan pemuda "polos" ini.

"Oh..." Mata Vandella membelalak. Sedikit desahan lolos dari bibirnya, topeng dinginnya sedikit retak oleh kejutan. "Kau menyimpan monster di sini, hm?"

Jovian mengerang tertahan, kepalanya mendongak, memperlihatkan jakun yang bergerak naik-turun. Sensasi tangan wanita asing yang memegang aset pribadinya dengan begitu dominan membuatnya gila. Ada denyutan nikmat yang menjalar dari pangkal paha hingga ke tulang belakang.

Vandella semakin berani. Ia merasakan kain celana dalam itu mulai lembap. Cairan bening tanda gairah sudah merembes keluar.

"Basah..." bisik Vandella, suaranya penuh kemenangan. Ia menekan ibu jarinya tepat di ujung kepala kejantanan Jovian, menggosoknya memutar di balik kain yang basah itu.

"Ahhh—Madam..." Jovian kehilangan kendali atas suaranya. Lututnya lemas.

Secara refleks, pinggul Jovian tersentak ke depan. Tubuhnya bergerak tanpa perintah otak, menekan kejantanannya lebih dalam ke genggaman Vandella, mencari gesekan, menuntut pelepasan.

Tindakan itu membuat Vandella menyeringai puas. Ia merasakan kekuatan, panas, dan kepatuhan total di telapak tangannya.

"Lihat dirimu," bisik Vandella, mendekatkan wajahnya ke telinga Jovian, menggigit kecil cuping telinganya. "Otak jeniusmu bicara soal saham, tapi tubuhmu memohon untuk diperah."

Vandella meremas lebih kuat, kukunya sedikit menekan, memberikan rasa sakit yang nikmat.

"Kau bilang kau ingin menjadi sepertiku?" Vandella menatap mata Jovian lekat-lekat, sementara tangannya terus memompa pelan di bawah sana, menciptakan ritme yang memabukkan. "Kalau begitu, jadilah milikku. Tubuhmu, otakmu, dan..." Vandella meremas lagi, "...milikmu yang keras ini.

Perlahan, wanita itu mendekatkan wajahnya. Hidung mancungnya menyapu lembut rahang tegas Jovian, menghirup aroma maskulin pria itu dalam-dalam, seolah aroma Jovian adalah oksigen yang ia butuhkan.

Tangan Vandella di bawah sana tidak berhenti. Ia membelai kejantanan Jovian yang masif itu dengan gerakan lambat dan penuh pemujaan, seolah benda itu adalah permata paling berharga yang baru saja ia temukan. Napas wanita itu memberat, terangsang oleh betapa keras dan jujurnya reaksi yang Jovian berikan di telapak tangannya.

Vandella mengecup sudut bibir Jovian sekilas—sebuah sentuhan seringan bulu yang justru membakar seluruh saraf pertahanan Jovian.

"Katakan, Jovian..." Vandella menatap manik mata Jovian dalam-dalam, tatapannya seolah menawarkan dunia dan isinya. "Katakan kalau kamu ingin jatuh sepenuhnya ke dalam pelukanku. Katakan... kalau mulai detik ini, kamu adalah milikku."

Jovian membuka mulutnya, hendak melawan. Logikanya berteriak untuk mundur, untuk lari, untuk mengingat siapa dirinya.

Tapi tangan Vandella... Tuhan, tangan itu.

Vandella tidak sekadar memegang. Jemarinya bergerak dengan ritme yang mematikan—kombinasi tekanan kuat dan belaian lembut yang seolah tahu persis di mana letak setiap ujung saraf Jovian. Ini bukan sentuhan ragu-ragu dan malu-malu seperti yang biasa dilakukan Binar. Ini adalah sentuhan seorang ahli. Sentuhan wanita yang tahu cara menghancurkan pertahanan pria hanya dalam hitungan detik.

Ahh... Sialan.

Jovian memejamkan mata erat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Di tengah gelombang kenikmatan yang menghantam otaknya, sekelebat bayangan muncul.

Binar.

Wajah gadis itu yang tersenyum manis dengan kacamata berembun. Aroma stroberi yang polos. Kotak bekal nasi beruang yang dibuat dengan penuh cintai. Binar yang menunggunya dengan setia, percaya bahwa Jovian sedang berjuang demi masa depan mereka.

Maafkan aku, Binar... batin Jovian menjerit. Aku harus berhenti. Aku harus mendorongnya.

Tapi saat Jovian hendak menarik diri, Vandella justru menekan jempolnya tepat di titik paling sensitif Jovian. Sebuah gerakan kecil, namun efeknya seperti ledakan listrik yang melumpuhkan tulang punggungnya.

Deg.

Pertahanan Jovian runtuh seketika. Lututnya lemas. Alih-alih mendorong, pinggulnya justru tersentak ke depan, menyambut sentuhan dosa itu dengan serakah.

Sial. Sial. Sial.

Kenapa ini nikmat sekali?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 172

    Hujan deras mengguyur aspal ibu kota saat sebuah mobil van operasional keamanan berwarna hitam milik Arthesia Capital melaju menembus kemacetan. Di kursi belakang, Jovian duduk diapit oleh dua petugas keamanan bertubuh raksasa. Kedua pergelangan tangannya diikat menggunakan zip-tie plastik tebal berlapis ganda."Sayang sekali, Tuan Vaelis," dengus salah satu petugas keamanan yang duduk di sebelah kirinya. "Siapa sangka CFO jenius pujaan perusahaan ternyata adalah seorang mata-mata. Karir Anda tamat hari ini. Madam Vandella telah berpesan agar kami memastikan Anda membusuk di sel tahanan."Jovian tidak membalas. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang buram, menatap jalanan yang basah. Pipi kirinya masih terasa panas dan berdenyut akibat tamparan Sang Ratu. Aktingnya sebagai pria yang baru saja kehilangan segalanya terlihat begitu nyata dan menyedihkan."Hei! Apa yang kau lakukan?!"Bentakan sopir van keamanan itu tiba-tiba memecah keheningan. Sopir itu menginjak rem dalam-dalam

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 171

    Vandella menaikkan sebelah alisnya, merangkai jemarinya di atas meja dengan raut wajah terganggu yang sangat natural. "Ibu? Apa-apaan ini? Kita sedang berada di tengah rapat paripurna. Jika Ibu hanya ingin membuat keributan—""Tutup mulutmu, Vandella! Kau akan berterima kasih padaku setelah ini!" potong Malora kasar.Wanita itu melangkah beringas memutari meja rapat raksasa, mengabaikan tatapan syok dari puluhan direktur dan komisaris. Malora berhenti tepat di seberang Vandella dan Jovian. Dengan satu sentakan arogan, ia merampas map kulit dari tangan Rustam, lalu melemparkannya dengan keras ke tengah meja marmer.Plak! Map itu meluncur dan berhenti tepat di depan Vandella."Selama berbulan-bulan, kau memelihara seekor ular berbisa di sebelahmu, Vandella," desis Malora, menudingkan telunjuknya yang berhias cincin berlian tepat ke arah wajah Jovian. "Kau memberinya kuasa, memberinya posisi CFO, dan bahkan... menidurinya, bukan?! Kau telah diperdaya mentah-mentah oleh musuh terbesar kel

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 170

    Napas Vandella mengalun teratur, kepalanya bersandar nyaman di dada bidang Jovian. Namun, pikiran Jovian sama sekali tidak sedang beristirahat. Jari-jarinya yang besar membelai rambut hitam Vandella yang bergelombang, sementara matanya menatap lurus ke arah langit-langit, menyusun kepingan-kepingan rencana di kepalanya."Kau sedang berpikir keras," gumam Vandella memecah keheningan. Jari-jarinya bermain pelan di atas kancing kemeja pemuda itu yang terbuka. "Aku bisa mendengarnya dari detak jantungmu."Vandella mendongak, menopang dagunya di dada Jovian. Matanya menatap pria itu dengan penuh selidik. "Jadi... apa langkahmu selanjutnya untuk meruntuhkan Vance Corp?"Jovian menundukkan pandangannya, menatap wajah cantik di atasnya. Sebuah senyum tipis, dingin, dan penuh perhitungan terukir di bibirnya."Vance Corp tidak bisa diruntuhkan dari luar," jawab Jovian, suaranya berat dan mengalun sangat tenang. "Julian telah membangun benteng yang terlalu tebal selama puluhan tahun. Menyerangny

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 169

    "Biar aku yang menjelaskannya kepada para dewan direksi yang kebingungan," Jovian mengambil alih. Jovian menatap lurus ke arah para pemegang saham, lalu menjatuhkan pandangannya pada Julian dengan sorot mengejek."Empat jam yang lalu, Arthesia Capital telah resmi melakukan takeover terhadap 45% saham mayoritas divisi pelabuhan dan logistik Lau Holdings di Hong Kong," Jovian mengumumkan dengan artikulasi yang sempurna. "Kita tidak lagi bekerja sama dengan mereka. Mulai detik ini, Arthesia adalah pemilik sah atas seluruh jaringan logistik tersebut. Krisis yang kalian takutkan... tidak pernah ada."Ruang rapat itu meledak dalam bisak-bisik keterkejutan. Wajah para direktur yang tadinya cemas kini berubah menjadi takjub dan lega luar biasa. Mengakuisisi raksasa logistik Asia dalam hitungan jam? Itu adalah manuver yang mustahil dilakukan tanpa cadangan dana likuid raksasa."Dari mana... dari mana kalian mendapatkan dana likuiditas sebesar itu dalam waktu satu malam?!" desis Julian, menatap

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 168

    Mendengar nama pamannya disebut, seringai di sudut bibir Jovian semakin dalam. Ia mengecup dahi Vandella dengan lembut."Tentu, Sayang," balas Jovian tenang.***Roda-roda pendaratan Gulfstream G650ER menghantam aspal landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma dengan entakan keras, mengoyak genangan air sisa hujan deras yang baru saja mengguyur ibu kota.Langit Jakarta sore itu berwarna kelabu pekat, di dalam kabin utama yang mewah, Vandella duduk dengan postur tegak yang sempurna. Tidak ada lagi sisa-sisa wanita manja dan rapuh yang semalaman menangis dalam orgasme di atas ranjang Ritz-Carlton. Sang Ratu telah kembali mengenakan mahkota berdurinya. Ia mengenakan pantsuit

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 167

    —meledak."AAARRRGGHH!"Geraman purba Jovian memecah pekatnya udara malam Hong Kong. Pria itu membeku kaku, menghentakkan pinggulnya ke atas dalam satu dorongan pamungkas yang menyentuh dasar terdalam lubang basah Vandella. Dari ujung kejantanannya, gelombang benih yang teramat panas, kental, dan melimpah menyembur deras.Semburan itu menembak bertubi-tubi, membanjiri ruang terdalam rahim Vandella. Tubuh wanita itu mengejang hebat di udara, liangnya memeras batang Jovian dengan hisapan vakum yang seakan ingin menyerap jiwa pria tersebut.Vandella menangis tanpa suara. Air mata kelegaan dan kenikmatan mengalir membasahi bahu Jovian. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher pria itu, menghirup aroma keringat maskulin yang kini menjadi candu baginya.Di bawah pendar lampu kota yang berkedip dari kejauhan, mereka berdua terdiam dalam posisi saling mengunci di udara terbuka. Kaki Vandella yang melingkar di pinggang Jovian perlahan melemas, kehilangan seluruh tenaganya. Hanya lengan Jovian

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status