Share

Bab 6

Author: kodav
last update Last Updated: 2026-02-19 19:17:18

Jovian bisa merasakan kedutan di sana. Otot-otot kewanitaan Vandella berkontraksi, seolah mencoba "menggigit" dan menelan jari Jovian. Cairan hangat terus membanjiri sela-sela jari Jovian, lengket dan beraroma feromon yang memabukkan—campuran Black Opium dan aroma musk alami wanita yang sedang di puncak berahi.

Gairah Jovian meledak hingga ke titik kritis. Kejantanannya di tangan Vandella berdenyut keras, menuntut untuk dikeluarkan, menuntut untuk menggantikan jari itu dan menusuk ke dalam kehangatan yang sempit dan basah itu.

Jovian menatap wajah Vandella yang berantakan—lipstik merahnya sedikit luntur, rambutnya kusut, dan ekspresi angkuhnya hancur oleh kenikmatan.

"Saya... saya siap, Madam," desah Jovian, suaranya berat, parau, dan penuh penyerahan total. "Izinkan saya... memasukinya."

Kalimat itu adalah kemenangan mutlak bagi Vandella.

Namun, Vandella adalah seorang Ratu. Dan Ratu tidak memberikan hadiah semudah itu.

Tepat saat Jovian hendak menyusupkan tangannya ke balik kain celana dalam untuk menyentuh daging yang telanjang, Vandella membuka matanya. Kilatan kabut nafsu itu lenyap dalam sekejap, digantikan oleh kilatan dingin seorang predator yang memegang tali kekang.

"Anak pintar," bisik Vandella.

Sret.

Dengan satu gerakan kasar, Vandella menarik tangan Jovian keluar dari balik roknya. Ia mendorong dada Jovian mundur.

Kehilangan kontak fisik yang tiba-tiba itu terasa seperti tamparan. Udara dingin AC langsung menyambar tangan Jovian yang basah oleh cairan Vandella, dan juga selangkangannya yang terekspos.

"Tapi... cukup untuk hari ini," kata Vandella, napasnya masih tersengal, namun nadanya kembali berkuasa.

Jovian terhuyung mundur, matanya membelalak tak percaya. Tubuhnya yang menegang sakit, zakarnya yang berdenyut ungu karena darah yang terkumpul, semuanya berteriak protes.

"Apa...?" Jovian tergagap, rasa frustrasi seksual menghantamnya seperti palu godam.

Vandella turun dari meja, merapikan rok mininya dengan santai, seolah baru saja selesai rapat direksi, bukan baru saja nyaris orgasme di tangan bawahan. Ia mengambil tisu, lalu membersihkan sedikit sisa cairan di paha bagian dalamnya, sengaja membiarkan Jovian menonton.

Jovian tertegun. Tubuhnya yang sedang berada di puncak ketegangan seolah disiram air es. Kejantanannya masih menegang luar biasa di balik celana yang terbuka, berdenyut nyeri karena interupsi yang tiba-tiba. Ia menatap Vandella dengan pandangan bingung, matanya yang menggelap seolah memohon untuk dilanjutkan.

Vandella kembali ke meja kerjanya, merapikan sedikit blus sutranya yang berantakan tanpa beban sedikit pun. "Rapikan pakaianmu, Jovian. Pergilah ke lantai 12, menghadaplah ke kepala HRD. Mulai besok, kau akan mulai mendampingiku di setiap pertemuan."

Vandella menatap Jovian yang masih berdiri kaku dengan napas memburu. "Dan Jovian... pastikan kau menenangkan dirimu sebelum keluar. Aku tidak ingin staf lain melihat asisten baruku dalam kondisi berantakan seperti ini. Ingat, apa pun yang terjadi di ruangan ini adalah rahasia kita. Jika kau membocorkannya sedikit saja melalui sikap atau bicaramu, kariermu akan mati sebelum sempat dimulai."

Jovian hanya bisa mengangguk pelan dengan wajah yang memerah padam—campuran antara gairah yang tak tuntas, rasa malu, dan frustrasi yang membakar dada. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menarik resleting celananya dan merapikan kemejanya yang kusut. Ia melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai, melewati pintu kaca yang menutup dengan denting halus.

Begitu masuk ke dalam lift eksekutif yang sepi, Jovian menyandarkan kepalanya ke dinding baja dingin itu. Ia memejamkan mata, mencoba menetralkan degup jantungnya. Bayangan kelembapan di selangkangan Vandella dan aroma parfum Black Opium itu seolah masih menempel di kulitnya, membuatnya tetap menegang meski ia sudah berusaha keras untuk tenang.

===

Pintu tertutup. Hening.

Vandella berdiam diri selama tiga detik. Topeng dinginnya runtuh seketika.

Kakinya lemas. Ia merosot kembali ke kursi kulit kebesarannya. Napasnya memburu liar. Tangannya gemetar saat menyentuh bibirnya sendiri yang bengkak.

Gila. Itu gila.

Bayangan ukuran kejantanan Jovian—ketebalan yang tidak manusiawi itu—masih tercetak jelas di memori telapak tangannya. Vandella belum pernah memegang sesuatu yang sepadat dan sekeras itu. Rasanya seperti memegang besi panas yang dibalut beludru.

"Sialan kau, Jovian..." umpat Vandella lirih.

Tubuhnya menuntut penyelesaian. Gairah yang ia tahan demi gengsi tadi kini berbalik menyerangnya dengan brutal. Rahimnya berdenyut nyeri, kosong, minta diisi.

Vandella tidak tahan lagi.

Tangan kanannya—tangan yang tadi memegang Jovian—masih menyisakan aroma pria itu. Aroma keringat maskulin bercampur sabun murah yang entah kenapa terasa begitu jantan. Vandella menghirup aroma tangan itu dalam-dalam, matanya terpejam, membayangkan Jovian ada di sana, menekannya ke kursi.

Perlahan, tangan itu meluncur turun.

Vandella menyibakkan roknya lebar-lebar. Tanpa melepas celana dalamnya yang sudah basah kuyup, ia menekan telapak tangannya langsung ke pusat gairahnya.

"Ahhh!"

Vandella mendongak, leher jenjangnya melengkung indah. Jari-jarinya bergerak cepat, kasar, dan tidak sabaran. Ia menggosok klitorisnya melalui kain basah yang licin itu.

Di dalam kepalanya, ia tidak sedang sendirian.

Ia membayangkan Jovian yang kasar. Jovian yang bukan lagi bawahan penurut, tapi Jovian yang mendorongnya ke meja, merobek celana dalamnya, dan menghunjamkan benda "monster" itu ke dalam liangnya tanpa ampun.

"Jovian... masuk... ahhh, tusuk aku..." racau Vandella di ruangan kosong itu.

Gerakannya semakin cepat. Suara gesekan kain basah dan napas yang terengah memenuhi ruangan CEO yang kedap suara itu. Kaki Vandella menendang laci meja, tumit stiletto-nya mencakar karpet mahal.

Imajinasi tentang ketebalan Jovian yang meregangkan dinding kewanitaannya membawanya ke tepi jurang.

Vandella menekan kuat-kuat, menjepit pahanya, dan...

Pecah.

"AHHHH!"

Vandella berteriak panjang saat orgasme yang dahsyat menghantamnya. Tubuhnya kejang, melengkung di atas kursi kekuasaan. Gelombang kenikmatan menyengat dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun, membuatnya melihat bintang-bintang di balik kelopak mata.

Ia terkulai lemas, napasnya tersengal parah, keringat dingin membasahi pelipis dan dadanya yang naik-turun.

Ruangan kembali sunyi. Hanya ada suara desahan sisa dan aroma seks yang kental.

Vandella membuka matanya perlahan, menatap langit-langit Jakarta. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang mengerikan. Ia baru saja menemukan mainan favorit barunya.

"Kamu milikku, Jovian," bisiknya pada kekosongan. "Dan aku akan memerahmu sampai kering."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 13

    Lidah itu terasa begitu hangat dan basah, bergerak dengan ritme yang lambat namun menuntut dari pangkal hingga ke ujung kejantanan Jovian.Jovian memejamkan mata erat, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam sensasi hangat yang luar biasa di tengah kegelapan ruangan. Ia sedang berbaring terlentang di atas sofa, mencengkeram kain pelapis sofa hingga buku jarinya memutih. Di antara kedua kakinya yang terbuka lebar, ia bisa merasakan siluet seorang wanita yang sedang berlutut, menyibukkan diri dengan titik paling sensitif miliknya."Ahhh... Binar... pelan-pelan sayang..." erang Jovian parau. Aroma stroberi yang manis seolah memenuhi indra penciumannya.Wanita itu mendongak sebentar. Di bawah cahaya remang yang menerobos dari jendela, Jovian melihat kacamata bulat dan rambut bobcut

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 12

    "A…ada tikus besar, Pah!!!" Binar tersentak keras, menenggelamkan wajahnya kembali ke dada Jovian seolah mencari perlindungan sambil menunjuk ke arah sudut ruang tamu.Langkah Paul terhenti seketika. "Hah? Tikus besar??" Paul menolehkan wajahnya ke arah bagian rumah yang ditunjuk Binar.Detik itu juga, transformasi luar biasa terjadi pada diri Pendeta Paul. Wajahnya yang tadinya merah padam karena amarah, tiba-tiba berubah menjadi putih pucat seputih kapas. Matanya yang tajam kini membelalak ngeri, pupilnya mengecil drastis. Wibawa sang pendeta yang berwibawa menguap habis dalam hitungan seper seratus detik."OMG!!! TUHAN YESUS!!!" pekik Paul tiba-tiba dengan nada suara melengking tinggi yang sangat feminim, nyaris menyerupai jeritan histeris yang sama sekali tidak gagah.

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 11

    Suara deru mesin dan kilatan lampu SUV hitam dari luar menghantam kesadaran Jovian dan Binar seperti tamparan telak. Genggaman hangat tangan Binar pada kejantanan Jovian seketika terlepas, meninggalkan rasa dingin yang mendadak menggigit kulit. Wajah Binar berubah pucat pasi, matanya membelalak ketakutan menatap pintu depan yang perlahan terbuka dengan derit panjang, menyingkap celah sempit cahaya jalanan yang mulai menyusup ke dalam ruang tamu yang redup.Tidak ada waktu untuk bersembunyi. Tidak ada waktu untuk menarik ritsleting atau merapikan piyama. "Monster" Jovian yang berdenyut ungu—masih basah kuyup oleh hasrat yang memuncak—sudah terlanjur melompat keluar dengan kurang ajar dari balik celananya.Jovian dihantam adrenalin gila yang membuat jantungnya serasa ingin meledak, namun otaknya bekerja cepat saat insting liarnya mengambil alih.Sebuah seringai tipis namun dingin terlintas di bibir Jovian. Gerakannya secepat kilat, nyaris tidak terlihat di dalam pencahayaan yang remang-

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 10

    Dalam hening yang menyesakkan, Jovian mematung. Matanya yang menggelap karena nafsu menelusuri setiap jengkal tubuh polos Binar yang tergeletak pasrah di bawah dekapannya. Keringat tipis berkilau di atas kulit Binar yang seputih porselen, menciptakan bias cahaya yang sangat sensual. Jovian memperhatikan bagaimana dada Binar yang ranum naik-turun dengan cepat, mencoba menangkap oksigen di tengah kabut berahi yang mencekik.Pandangan Jovian merambat turun, menyisiri paha mulus Binar yang masih sedikit bergetar, hingga ke leher jenjangnya yang kini dihiasi rona merah akibat ciuman-ciuman panas tadi. Setiap jengkal tubuh Binar seolah mengundang Jovian untuk melangkah lebih jauh, untuk menuntaskan dahaga yang selama ini tertahan.“Ayo Jovian, tinggal sedikit lagi,..!” suara iblis dalam benaknya berteriak parau, m

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 9

    Napas Binar tersentak hebat, sebuah kejutan elektrik yang merambat ke seluruh sarafnya saat merasakan kain tipis pakaian dalamnya ditarik paksa ke bawah oleh tangan besar Jovian yang kokoh. Suara kain yang bergesekan dengan kulit paha terdengar sangat nyaring, memecah kesunyian ruang tamu yang seolah ikut menahan napas. Cahaya lampu yang redup dari pojok ruangan memberikan bias jingga, memperlihatkan pemandangan yang sanggup melumpuhkan logika pria mana pun; paha Binar yang putih bersih kini merona merah muda karena gairah yang meluap, dengan area sensitif yang sudah berkilau basah, memantulkan sedikit cahaya remang yang menggoda.Kemurnian yang selama ini dijaga Jovian dengan penuh rasa hormat seolah sedang memohon untuk dirusak malam ini. Jovian tidak membuang waktu lagi. Dengan gerakan yang menuntut, ia menyibakkan piyama sutra merah muda Binar ke atas, mengekspos bentuk tubuh gadis itu yang masih sanga

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 8

    Jovian tertegun. Sebelum ia sempat bertanya, wanita itu sudah membereskan segalanya dan pergi setengah berlari. Jovian tetap tenang. Alih-alih panik karena dikuntit, sebuah senyum tipis yang sarat akan makna muncul di sudut bibirnya saat ia menatap pantulan spion motornya. Jovian melihat sekilas sebuah tangan yang memegang ponsel. Cahaya dari layar ponsel itu berkedip singkat dari dalam kegelapan kabin belakang, menerangi separuh wajah seorang wanita yang tampak sedang mengamati gerak-geriknya.Ia sengaja merapikan rambutnya perlahan, memberi waktu bagi sosok di dalam mobil itu memperhatikannya dengan cukup jelas. Setelah memastikan "umpan" telah ditelan, Jovian menyalakan mesin motornya dan melaju pergi, meninggalkan area parkir Arthesia Capital tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.Di dalam kabin belakang sedan hitam yang kedap suara, seorang wanita duduk de

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status