Mag-log inJovian bisa merasakan kedutan di sana. Otot-otot kewanitaan Vandella berkontraksi, seolah mencoba "menggigit" dan menelan jari Jovian. Cairan hangat terus membanjiri sela-sela jari Jovian, lengket dan beraroma feromon yang memabukkan—campuran Black Opium dan aroma musk alami wanita yang sedang di puncak berahi.
Gairah Jovian meledak hingga ke titik kritis. Kejantanannya di tangan Vandella berdenyut keras, menuntut untuk dikeluarkan, menuntut untuk menggantikan jari itu dan menusuk ke dalam kehangatan yang sempit dan basah itu.
Jovian menatap wajah Vandella yang berantakan—lipstik merahnya sedikit luntur, rambutnya kusut, dan ekspresi angkuhnya hancur oleh kenikmatan.
"Saya... saya siap, Madam," desah Jovian, suaranya berat, parau, dan penuh penyerahan total. "Izinkan saya... memasukinya."
Kalimat itu adalah kemenangan mutlak bagi Vandella.
Namun, Vandella adalah seorang Ratu. Dan Ratu tidak memberikan hadiah semudah itu.
Tepat saat Jovian hendak menyusupkan tangannya ke balik kain celana dalam untuk menyentuh daging yang telanjang, Vandella membuka matanya. Kilatan kabut nafsu itu lenyap dalam sekejap, digantikan oleh kilatan dingin seorang predator yang memegang tali kekang.
"Anak pintar," bisik Vandella.
Sret.
Dengan satu gerakan kasar, Vandella menarik tangan Jovian keluar dari balik roknya. Ia mendorong dada Jovian mundur.
Kehilangan kontak fisik yang tiba-tiba itu terasa seperti tamparan. Udara dingin AC langsung menyambar tangan Jovian yang basah oleh cairan Vandella, dan juga selangkangannya yang terekspos.
"Tapi... cukup untuk hari ini," kata Vandella, napasnya masih tersengal, namun nadanya kembali berkuasa.
Jovian terhuyung mundur, matanya membelalak tak percaya. Tubuhnya yang menegang sakit, zakarnya yang berdenyut ungu karena darah yang terkumpul, semuanya berteriak protes.
"Apa...?" Jovian tergagap, rasa frustrasi seksual menghantamnya seperti palu godam.
Vandella turun dari meja, merapikan rok mininya dengan santai, seolah baru saja selesai rapat direksi, bukan baru saja nyaris orgasme di tangan bawahan. Ia mengambil tisu, lalu membersihkan sedikit sisa cairan di paha bagian dalamnya, sengaja membiarkan Jovian menonton.
Jovian tertegun. Tubuhnya yang sedang berada di puncak ketegangan seolah disiram air es. Kejantanannya masih menegang luar biasa di balik celana yang terbuka, berdenyut nyeri karena interupsi yang tiba-tiba. Ia menatap Vandella dengan pandangan bingung, matanya yang menggelap seolah memohon untuk dilanjutkan.
Vandella kembali ke meja kerjanya, merapikan sedikit blus sutranya yang berantakan tanpa beban sedikit pun. "Rapikan pakaianmu, Jovian. Pergilah ke lantai 12, menghadaplah ke kepala HRD. Mulai besok, kau akan mulai mendampingiku di setiap pertemuan."
Vandella menatap Jovian yang masih berdiri kaku dengan napas memburu. "Dan Jovian... pastikan kau menenangkan dirimu sebelum keluar. Aku tidak ingin staf lain melihat asisten baruku dalam kondisi berantakan seperti ini. Ingat, apa pun yang terjadi di ruangan ini adalah rahasia kita. Jika kau membocorkannya sedikit saja melalui sikap atau bicaramu, kariermu akan mati sebelum sempat dimulai."
Jovian hanya bisa mengangguk pelan dengan wajah yang memerah padam—campuran antara gairah yang tak tuntas, rasa malu, dan frustrasi yang membakar dada. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menarik resleting celananya dan merapikan kemejanya yang kusut. Ia melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai, melewati pintu kaca yang menutup dengan denting halus.
Begitu masuk ke dalam lift eksekutif yang sepi, Jovian menyandarkan kepalanya ke dinding baja dingin itu. Ia memejamkan mata, mencoba menetralkan degup jantungnya. Bayangan kelembapan di selangkangan Vandella dan aroma parfum Black Opium itu seolah masih menempel di kulitnya, membuatnya tetap menegang meski ia sudah berusaha keras untuk tenang.
===
Pintu tertutup. Hening.
Vandella berdiam diri selama tiga detik. Topeng dinginnya runtuh seketika.
Kakinya lemas. Ia merosot kembali ke kursi kulit kebesarannya. Napasnya memburu liar. Tangannya gemetar saat menyentuh bibirnya sendiri yang bengkak.
Gila. Itu gila.
Bayangan ukuran kejantanan Jovian—ketebalan yang tidak manusiawi itu—masih tercetak jelas di memori telapak tangannya. Vandella belum pernah memegang sesuatu yang sepadat dan sekeras itu. Rasanya seperti memegang besi panas yang dibalut beludru.
"Sialan kau, Jovian..." umpat Vandella lirih.
Tubuhnya menuntut penyelesaian. Gairah yang ia tahan demi gengsi tadi kini berbalik menyerangnya dengan brutal. Rahimnya berdenyut nyeri, kosong, minta diisi.
Vandella tidak tahan lagi.
Tangan kanannya—tangan yang tadi memegang Jovian—masih menyisakan aroma pria itu. Aroma keringat maskulin bercampur sabun murah yang entah kenapa terasa begitu jantan. Vandella menghirup aroma tangan itu dalam-dalam, matanya terpejam, membayangkan Jovian ada di sana, menekannya ke kursi.
Perlahan, tangan itu meluncur turun.
Vandella menyibakkan roknya lebar-lebar. Tanpa melepas celana dalamnya yang sudah basah kuyup, ia menekan telapak tangannya langsung ke pusat gairahnya.
"Ahhh!"
Vandella mendongak, leher jenjangnya melengkung indah. Jari-jarinya bergerak cepat, kasar, dan tidak sabaran. Ia menggosok klitorisnya melalui kain basah yang licin itu.
Di dalam kepalanya, ia tidak sedang sendirian.
Ia membayangkan Jovian yang kasar. Jovian yang bukan lagi bawahan penurut, tapi Jovian yang mendorongnya ke meja, merobek celana dalamnya, dan menghunjamkan benda "monster" itu ke dalam liangnya tanpa ampun.
"Jovian... masuk... ahhh, tusuk aku..." racau Vandella di ruangan kosong itu.
Gerakannya semakin cepat. Suara gesekan kain basah dan napas yang terengah memenuhi ruangan CEO yang kedap suara itu. Kaki Vandella menendang laci meja, tumit stiletto-nya mencakar karpet mahal.
Imajinasi tentang ketebalan Jovian yang meregangkan dinding kewanitaannya membawanya ke tepi jurang.
Vandella menekan kuat-kuat, menjepit pahanya, dan...
Pecah.
"AHHHH!"
Vandella berteriak panjang saat orgasme yang dahsyat menghantamnya. Tubuhnya kejang, melengkung di atas kursi kekuasaan. Gelombang kenikmatan menyengat dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun, membuatnya melihat bintang-bintang di balik kelopak mata.
Ia terkulai lemas, napasnya tersengal parah, keringat dingin membasahi pelipis dan dadanya yang naik-turun.
Ruangan kembali sunyi. Hanya ada suara desahan sisa dan aroma seks yang kental.
Vandella membuka matanya perlahan, menatap langit-langit Jakarta. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang mengerikan. Ia baru saja menemukan mainan favorit barunya.
"Kamu milikku, Jovian," bisiknya pada kekosongan. "Dan aku akan memerahmu sampai kering."
Jovian mendesis pelan saat alkohol itu menyentuh luka terbukanya."Maaf... apa aku terlalu keras?" bisik Binar, menatap wajah pria itu dengan raut bersalah."Tidak," jawab Jovian pelan. Ia menatap lekat wajah Binar yang sedang menunduk fokus membersihkan lukanya. "Ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang kau alami hari ini. Aku yang seharusnya meminta maaf, Binar."Binar menghentikan gerakannya. Ia membalas tatapan Jovian. Kesunyian yang pekat menyelimuti mereka selama beberapa detik, sebelum akhirnya Binar tak bisa lagi menahan pertanyaan yang sedari tadi menyiksa dadanya."Kenapa kamu berbohong padaku, Ian?" tanya Binar dengan suara lirih yang bergetar. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Kemarin... kamu mengusirku. Kamu bilang aku cuma staf magang yang
Namun, Jovian sama sekali tidak berniat berlutut.Tepat saat Markus lengah karena merasa permintaannya dituruti, tangan kanan Jovian yang tadi melepaskan pistol melesat kilat ke balik paha kanannya. Ia menarik sebuah pisau lempar taktis berukuran kecil yang terselip di sana.Dalam gerakan fluid yang nyaris tak terlihat oleh mata telanjang, Jovian mengayunkan lengannya dan melemparkan pisau itu dengan kekuatan dan presisi yang mematikan.Jleb!"AAAAAARRRGGGHH!!!"Pisau baja itu menancap telak di pergelangan tangan kanan Markus, tepat di antara urat nadi dan tulang. Rasa sakit yang luar biasa melumpuhkan saraf motorik Markus. Jari-ja
"Melepaskanmu?" Markus tertawa sumbang. Ia melangkah mendekat, lalu mencengkeram rahang Binar dengan cukup keras. "Kau pikir aku peduli padamu, Binar? Kau hanyalah alat. Umpan yang sempurna untuk memancing bajingan arogan itu keluar dari sarangnya.""Ian tidak akan datang," isak Binar, air mata mulai menetes di pipinya. Ia mengingat kembali kata-kata kasar Jovian di penthouse. "Dia sudah memecatku... dia bilang aku ini cuma sampah yang mengingatkannya pada masa lalu...""Oh, berhentilah menangis," potong Markus sinis, melepaskan cengkeramannya. "Kau mungkin percaya dengan akting murahan Jovian. Tapi Bram dan anak buahnya tidak. Begitu kau keluar dari gedung itu, sebuah mobil SUV berisi pengawal elit bayaran langsung membuntutimu dari jarak jauh. Jovian tidak pernah membuangmu
"Itu laporan pantauan yang kau minta," ucap Bram, menyalakan sebatang rokok. "Kami sudah mengawasi pergerakan Jovian Vaelis selama dua minggu terakhir. Tapi jujur saja, menyentuh pria itu secara langsung adalah tindakan bunuh diri."Markus membuka amplop itu, mengeluarkan beberapa lembar foto yang diambil dari jarak jauh. Foto-foto itu menunjukkan mobil Jovian yang dikawal ketat oleh Shadow Unit—pasukan keamanan pribadi Jovian yang dipimpin oleh Luna."Sistem keamanannya tanpa celah," lanjut Bram, menghembuskan asap rokok. "Gedung Vaelis Corp dijaga seperti markas militer. Pengawalnya bukan sekuriti biasa, mereka mantan tentara bayaran terlatih. Jika kita nekat menyerangnya, kita yang akan berakhir di kamar mayat."Markus me
Binar melangkah keluar dengan senyum cerah yang menghiasi wajahnya. Ia masih mengenakan seragam kerjanya. Di tangannya, ia menenteng sebuah kantong plastik berisi dua porsi sate ayam—makanan jalanan favorit Jovian saat mereka masih kecil di panti asuhan dulu.Setelah percakapan hangat mereka tadi pagi, Binar merasa dinding es di antara mereka akhirnya benar-benar runtuh. Ia sangat bersemangat untuk makan malam bersama pemuda itu."Ian? Aku bawa sate ayam kesukaanmu!" panggil Binar riang sambil berjalan menuju ruang tamu.Langkah Binar terhenti saat ia melihat Jovian sedang berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela kaca. Ruangan penthouse itu kembali dibuat sedikit redup. Pria itu sudah mengenakan jas rapinya, memegang
"Itu laporan pantauan yang kau minta," ucap Bram, menyalakan sebatang rokok. "Kami sudah mengawasi pergerakan Jovian Vaelis selama dua minggu terakhir. Tapi jujur saja, menyentuh pria itu secara langsung adalah tindakan bunuh diri."Markus membuka amplop itu, mengeluarkan beberapa lembar foto yang diambil dari jarak jauh. Foto-foto itu menunjukkan mobil Jovian yang dikawal ketat oleh Shadow Unit—pasukan keamanan pribadi Jovian yang dipimpin oleh Luna."Sistem keamanannya tanpa celah," lanjut Bram, menghembuskan asap rokok. "Gedung Vaelis Corp dijaga seperti markas militer. Pengawalnya bukan sekuriti biasa, mereka mantan tentara bayaran terlatih. Jika kita nekat menyerangnya, kita yang akan berakhir di kamar mayat."Markus me
Hening.Di lantai 50 yang menjulang di atas Jakarta itu, suara napas Jovian terdengar seperti deru ombak yang tertahan. Ia berdiri di antara kedua kaki Vandella yang terbuka di atas meja, terperangkap dalam gravitasi sang CEO.Jovian perlahan mengangkat wajahnya. Ia melepaskan pandangannya dari bel
"Karena tesis saya," jawab Jovian pelan tapi yakin. "Prediksi Krisis Melalui Psikologi Massa."Senyum miring terbit di bibir Vandella. Bingo."Tepat," bisik Vandella. Ia membungkuk sedikit, membuat belahan dadanya terlihat samar di balik blazer sutra merah marun itu. "Semua analis di luar sana hany
"Aku... aku harus pergi," bisik Jovian berat, suaranya parau dan bergetar. Dia menarik tangannya dari bahu Binar, menyisakan kekosongan yang tiba-tiba pada gadis itu.Binar mengangguk cepat dengan mata berkaca-kaca, jemarinya yang gemetar berusaha merapikan kemeja Jovian yang kusut. Ia berjinjit, m
Lantai lobi Arthesia Capital terbuat dari marmer hitam yang sangat mengilap. Tepat di tengahnya, huruf ‘V’ emas raksasa terukir angkuh, menyeringai tajam di bawah lampu kristal, siap menginjak siapa saja yang berani menantang kekuasaannya. Di layar raksasa, Vandella sedang wawancara. Blazer sutra







