LOGINSampainya di hotel, aku menemui Kevin yang ternyata sudah menungguku di lobi.
"Ada apa, Bos?" tanyaku, saat sudah di depan Kevin. "Gawat! Big Bos marah besar. Dia berencana untuk memutus kerja sama dengan perusahaan. Kamu bisa merayunya, 'kan? Dia luluh sama cewek tobrut kayak kamu!" pinta Kevin, menggoyang-goyang kedua pundakku. Sambil menatapnya datar, aku bersedia merayu Big Bos agar tetap percaya pada perusahaanku bekerja. "Di mana Big Bos?" tanyaku, ingin segera betindak. "Big Bos sedang makan siang di ruang VIP restoran hotel. Cepat kamu temani. Dia uring-uringan, kayak remaja labil," desak Kevin sambil mendorong-dorong punggungku. Aku menemui Big Bos yang... Sedang makan siang bersama Leon? Leon lagi? Apa yang dia lakukan? Dia? Duduk bersama Big Bos? Apa ini? Bukannya Leon tadi ada di panti asuhan? Apakah Kevin juga memanggil Leon untuk merayu Big Bos? Tunggu, bukankah Big Bos sukanya sama cewek semok? Atau... Ah! Aku tidak ingin berpikir buruk! Big Bos tidak mungkin menyimpang! Dia sudah punya empat anak! "Lia? Buat apa kamu di sini?" sungut Big Bos, tak senang melihatku. Sambil berjalan menghampiri Big Bos, aku mengembangkan senyum terbaikku. Aku tak menghiraukan keberadaan Leon. Kali ini perhatianku hanya tertuju pada Big Bos. "Jangan gitu, dong, Bos... Kita 'kan sudah kenal sejak remaja. Masak Bos tega ninggalin saya?" rayuku, bersuara lembut. "Cih, memangnya kenapa kalau kenal sejak remaja? Tidak akan mengubah keputusanku untuk memutus kerja sama dengan Vici Industri," lontar Big Bos, menaikkan dagu. Menunjukkan betapa berkuasa ia. "Kesalahan bisa diperbaiki. Tolong beri Vici Industri kesempatan," pintaku penuh harap. "Aku tidak mau berbicara denganmu. Suruh CEO Vici Industri menemuiku, dan memohon di kakiku," perintah Big Bos. Ya ampun, sifat Big Bos yang arogan telah kembali. Posisiku di perusahaan memang penting, tapi, aku belum terlalu memiliki kuasa untuk memanggil CEO Vici Industri. Bahkan Kevin saja tidak berani. Apalagi setelah tiga tahun CEO lama diganti, aku belum tahu siapa CEO Vici Industri yang baru. Identitas beliau dirahasiakan, dan hanya petinggi perusahaan yang mengetahuinya. "Tidak bisa mempertemukanku dengan CEO kalian ya? Dasar... Kalau begitu jangan bawa-bawa Vici Industri!" ketus Big Bos, meremehkanku. "Gege galak sekali. Memangnya ada masalah apa? Sampai pengen lihat wajah CEO Vici Industri?" ucap Leon, yang sedari tadi bungkam. Aku melempar tatapan membunuh pada Leon. Bukan tanpa alasan, ocehannya yang ngawur, bisa membuat Big Bos makin marah. "Makan siang dulu, baru ngobrol lagi," ajak Leon, mengelus punggung tangan Big Bos. "Ah... Kamu benar. Kita makan dulu." Dan Big Bos menurut. Bahkan aku juga diajak makan siang bersama mereka. Aku benar-benar bingung. Sebanarnya, apa hubungan Leon dan Big Bos. Mereka... Masih lurus 'kan? Tanpa sadar, aku memperhatikan Leon dan Big Bos secara bergantian. Entah ini hanya perasaanku belaka, atau wajah Leon dan Big Bos memang agak mirip? Maksudku, mereka seperti saudara kandung. Selesai makan siang, kami pindah ke ruangan pertemuan VIP. Sepertinya Big Bos meminta Kevin untuk mengadakan rapat dadakan. Yang aku heran, kenapa Leon ikut rapat? Dia ini karyawan magang. Sementara yang duduk sejajar denganku adalah orang-orang penting. "Aku ingin bertemu CEO Vici Industri yang baru... Kenapa kalian menyembunyikannya?" keluh Big Bos, frustasi. "Tuan CEO sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Beliau sangat sibuk, Bos," terang Kevin, dengan penuh kesopanan. "Lia! Kamu pernah menjadi sekretaris CEO Vici Industri. Kenapa sekarang kamu ada di bawah? Siapa yang memindahkanmu?" tanya Big Bos menyinggung soal karierku yang meredup. Bayangkan saja, dulu aku adalah sekretaris pribadi CEO Vici Industri, dan sekarang aku hanya menjadi Buyer yang lebih sering kerja di lapangan. Tentu, kemunduranku menjadi tanda tanya besar. Dengan senyum getir, aku menjawab, "Ada banyak orang yang memiliki kualitas di atasku. Wajar jika mereka menggantikanku." "Jika aku bertemu CEO Vici Industri yang baru, aku akan memintanya untuk mengangkatmu menjadi Sekretaris lagi," ujar Big Bos, terdengar seperti janji palsu pejabat. Sebenarnya aku sudah nyaman dengan posisiku sekarang. Aku tidak menginginkan posisi itu lagi. Posisi yang membuatku dicap sebagai simpanan CEO. Sungguh memuakkan. "Bos terlalu bertele-tele. Langsung saja ke tujuan rapat ini," cetus Leon, sangat berani. Andai saja aku duduk didekat Leon, pasti dia sudah aku pukul. *Bos... Tolong jangan memutus kerja sama. Tolong tetap percayakan kami untuk menggarap sepatu milikmu," pintaku, berusaha mengalihkan perhatian yang tertuju pada Leon. Big Bos menghembuskan napas kasar. "Baiklah... Aku beri kesempatan sekali lagi. Awas saja kalau garapan kalian tetap buruk. Aku tak akan segan lagi." Semua orang di dalam ruangan bernapas lega. Kecuali Leon yang keluar ruangan tanpa sopan santun. Anak itu! Aku yang geram, menyusulnya. "Leon...." panggilku. Leon melepas kembali helmnya begitu aku berdiri di sampingnya. "Iya, Mbak?" tanyanya, tanpa turun dari atas motor. "Apa hubunganmu dengan Big Bos? Kayaknya kalian akrap ya?" Aku bertanya tanpa basa-basi. Lagi-lagi Leon menyentuh daguku, membuatku kesal, dan langsung menepis tangannya. "Asal kamu tahu saja, Big Bos itu sudah punya istri dan anak. Jangan-jangan... Yang kamu ceritakan tadi bukan cewek, tapi cowok!" Baiklah, aku menuduhnya. "Mbak Lia ngomong apa? Aku laki-laki normal. Aku menyukai...." Leon berhenti bicara, matanya melirik dadaku sebentar sebelum beralih pada wajahku. "Aku masih menyukai wanita berdada besar," lanjutnya, sambil menyentuh dadanya sendiri. Aku memukul kepala Leon. "Kamu ini... Suka sekali menjahiliku. Aku atasanmu!" Berkali-kali aku mempertegas. Leon kalau dibaikin, kayak ngelunjak. Aku harus memberinya efek jera. "Mbak Lia, mau aku antar pulang?" tawarnya, masih berani menggodaku. "Nggak perlu, aku mau jemput suamiku!" Terpaksa aku berbohong, aku takut dia mengikutiku dari belakang seperti tadi malam. "Baiklah... Kalau begitu, aku pergi dulu," pamitnya, sebelum mengenakan helmnya kembali. *** Setelah rapat tak terduga di hotel, aku langsung pulang ke tempat tinggalku. Aku ingin sekali memasak untuk makan malam. Meskipun aku tak pandai memasak, aku tetap ingin mencoba dan berusaha. Dengan tanggap aku mengikuti tutorial video. Tak jarang, tanganku terluka akibat tidak berhati-hati ketika mengiris. Belum sempat aku menyelesaikan masakanku, suamiku telah pulang. Aku menyambutnya dengan ramah, walau penampilanku berantakan. "Mas Yuan mandi dulu, sebentar lagi masakanku matang," tuturku, bebarengan denganku yang mengambil tas suamiku. "Nggak perlu. Aku ada acara makan malam bareng teman-temanku," katanya, dingin. "Oh... Gitu ya? Yaudah, aku juga siap-siap," balasku, senang. Biasanya Mas Yuan selalu mengajakku ketika ia ada acara di luar. Tapi, kali ini ia tidak mengajakku, dengan alasan kalau yang hadir hanya laki-laki. Aku tidak boleh sedih, aku harus memaklumi. Lelaki juga burtuh bersenang-senang tanpa pasangan. "Mas... Gimana kalau aku berhenti kerja, dan fokus program hamil?" Tiba-tiba saja aku kepikiran hal itu. Jadi aku melontarkannya untuk mengetahui respons Mas Yuan. "Berhenti kerja? Kamu sudah tidak waras ya?" sosor Mas Yuan. Jujur, aku tersentak. Ini pertama kalinya Mas Yuan membentakku. "Kamu lupa? Kita sedang membangun rumah! Kalau kamu berhenti kerja, rumah impian kita, nggak bakal pernah selesai!" imbuhnya, menggebu-gebu. "Iya, Mas. Aku ngerti," jawabku, menundukkan kepala. Sebagai istri aku memang tidak berani menentang suamiku. Aku selalu menurut dan mengalah. "Kalau kamu nggak bisa kasih aku anak, ya sudah! Nggak perlu usaha lagi!" makinya. Mas Yuan beranjak menuju kamar dengan kaki yang dihentakkan. Perasaanku sekarang campur aduk. Aku bingung harus bagaimana lagi. Aku tidak ingin hubunganku dengan Mas Yuan renggang. Kalau dipikir-pikir lagi, selama ini hanya aku yang berusaha agar lekas hamil. Aku sudah melakukan berbagai cara, dan metode. Namun hasilnya nihil. Aku juga sudah meminum berbagai macam ramuan tak enak yang dipercaya menyuburkan rahim. Tapi, bukannya aku hamil, aku justru masuk rumah sakit karena keracunan. Akan tetapi, Mas Yuan tidak pernah berjuang. Dia tes kesuburan saja tidak mau. Aku... Juga manusia. Aku bisa merasakan lelah. *** Hari berlalu, aku menjalani hidupku seperti biasa, bekerja menjadi Buyer di sebuah perusahaan nomor satu di negeri ini. Aku sangat mencintai pekerjaanku. Tentu saja! Aku mengusai bidang ini. "Lia... Barang yang kamu pesan tiga bulan lalu, sudah tiba. Kamu bisa mengeceknya sekarang," ucap Kevin, yang membuatku terperanjat. Bagaimana tidak? Kevin muncul di belakangku tanpa permisi. "Ok Bos, bentar lagi aku lihat. Aku selesaikan laporan dulu," balasku, tetap fokus ke layar komputer. "Oh ya, kamu cari anak buahmu yang tobrut buat menemani Big Bos lihat-lihat produksi," pinta Kevin, menyentuh pundakku. "Beres... Bos! Mandor di sana juga tahu, apa yang disukai Big Bos," timpalku santai. Sebelum pergi, Kevin sempat berpesan, "Kamu ngeceknya sama Leon ya. Dia kelihatan nganggur mulu, sakit mata saya lihatnya." Aku menggelengkan kepala sebagai respons. Aku segera membereskan pekerjaanku, agar bisa mengecek bahan baku yang dikirim dari Taiwan. Setelah semua selesai, aku menghampiri meja Leon, bermaksud untuk mengajaknya ikut denganku. Tapi, aku dibuat geram olehnya yang tertidur dalam posisi duduk. "Leon!" panggilku, memukul kepalanya menggunakan lembaran kertas yang aku gulung. Leon otomatis terbangun. Dengan wajah mengantuk, dia memandangku. "Mbak Lia... Suka sekali masuk ke dalam mimpiku," gumamnya, tidak jelas. "Sadarlah! Ini buka mimpi!" sungutku, kembali memukulnya. "Ayo ikut aku! Kamu jangan enak-enakkan! Mau makan gaji buta huh?!" Leon membuntutiku dari belakang. Akhirnya kami berdua sampai di gudang. Aku meminta anak buahku untuk menurunkan barang dari kontainer. "Leon... Kamu jangan diam saja, cepat bantu mereka!" perintahku. Ini kesempatan bagus untuk menyiksa Leon yang akhir-akhir ini sering menggodaku. Leon mengindahkan perintah tanpa protes. *** Beberapa jam berlalu, masih banyak barang yang ada di dalam kontainer. Semua anak buahku terlihat lelah. Aku mengizinkan mereka melepas kaos supaya tidak terlalu kepanasan. Pandanganku terpaku pada Leon yang juga bertelanjang dada. Aku berkeringat meski ada di dalam ruangan ber-AC. Aku bergerak gelisah. Sepertinya... Ada sesuatu yang basah. Bersambung...Beberapa hari berlalu, semenjak aku meninggalkan apartemen.Awalnya semua terasa tenang, sampai Mas Yuan menghubungiku lewat telefon.Seperti biasa, suara Mas Yuan terdengar datar, tapi aku masih bisa merasakan kemarahannya.Mas Yuan menanyakan keberadaanku, dan menegurku karena ia sudah mengetahui bahwa aku sebenarnya tidak tinggal di panti jompo bersama ibuku. Aku yang tidak punya tenaga untuk menjelaskan apa pun, memilih mengakhiri panggilan itu, setelah menetapkan tempat dan waktu untuk bertemu.Begitu telefon tertutup, aku mendengus kasar."Siapa yang menelefonmu? Kok kamu kelihatan kesal?" tanya Leon yang muncul sambil membawa nampan berisi camilan.Refleks, aku mengubah ekspresi wajahku. Wajah jengkel yang tadi jelas terlihat, kuubah menjadi senyum ramah, seolah tidak terjadi apa-apa.Leon menaruh nampan tersebut di atas meja lalu duduk di sebelahku. Ia menatapku dengan penuh rasa ingin tahu."M
Keesokan harinya.Suasana kantor masih lengang ketika Leon tiba.Seperti biasa, Leon menata meja kerjanya dengan rapi sambil memerhatikan jam dinding. Sesekali, ia melirik ke arah pintu masuk, seolah menunggu seseorang.Tak lama kemudian, langkah sepatu terdengar. Desy muncul dengan gaun kerja pastel dan rambut yang ditata manis."Desy, kamu kelihatan cantik. Lagi bahagia kah?" tanya Leon, sambil menggeser kursinya lebih dekat ke sisi Desy.Nada suara Leon lembut, berbeda dari biasanya.Mendapat perlakuan sehangat itu, Desy sama sekali tidak menaruh curiga. Justru hati kecilnya mekar, merasa diperhatikan dan dihargai."Mas Leon bisa aja deh...." balas Desy, tersipu malu sambil merapikan rambutnya.Tanpa memutus momen, Leon mengambil kotak bekal dari atas mejanya, kotak makan dengan pita kecil di sudutnya, lalu menyerahkannya kepada Desy dengan penuh percaya diri."Aku sengaja bangun pagi buat masakin na
Sudut bibir Desy menurun, ia menanggapi perkataanku dengan sedih."Desy, apakah kamu memberitahu Mas Yuan kalau aku sedang mengumpulkan banyak bukti untuk menggugatnya di pengadilan?" tanyaku, meragukannya.Sambil mengibaskan kedua tangannya di depan dada, Desy menggelengkan kepalanya cepat."Aku nggak mungkin kasih tahu Paman Yuan. Aku... 'kan, ada dipihakmu, Mbak," kilah Desy, menebar senyum ramah.Aku meringis. Desy pasti berbohong. Mana mungkin ia tidak memberitahu Mas Yuan soal diriku yang hendak menggugat cerai. Huh... Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini?Sebenarnya... Apa yang sedang direncanakan Mas Yuan dan Desy? Aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang."Mbak Lia... Jangan berpisah sama Paman Yuan. Beliau pria yang baik, dan menerimamu apa adanya," tutur Desy, mulai mengagung-agungkan Mas Yuan."Desy, kamu masih kecil, wajar jika tidak tahu bagaimnana rasanya hidup berumah tangga." A
Nama lengkapku Alia Yuanita Baskoro. Aku terlahir di sebuah desa yang aman dan damai. Ayahku meninggal akibat terkena serangan jantung. Beliau meninggalkan warisan berupa sawah satu hektar yang akhirnya dikelola ibuku seorang. Meski sederhana, hidupku di kampung bisa dibilang cukup, tak kekurangan. Bahkan ibuku bisa menyekolahkanku hingga aku lulus S2. Ibuku... Sangat hebat, bukan? Setelah lulus kuliah, aku langsung diterima kerja menjadi Sekretaris di sebuah perusahaan besar, Vici Industri. Aku harus meninggalkan ibuku di desa, dan merantau di ibu kota untuk bekerja. Tenang saja, komunikasi kami berjalan lancar. Aku sempat mengajari ibuku bermain ponsel pintar. Saat sedang santai di sebuah kedai kopi, aku bertemu dengan Mas Yuan, pria yang lembut, dewasa, dan baik (Pada saat itu). Mas Yuan secara blak-blakan mengajakku berkenalan, dan meminta bertukar nomor ponsel. Dari sinilah hubungan kami dimulai. Kami memutuskan menikah, setelah berjuang keras untuk mendapatkan re
"Bos Kevin terlalu berlebihan," sahutku, menolak pernyataan tak berdasar yang baru saja dilontarkannya. Kevin hanya menatapku sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada Mas Yuan. "Ini kesempatan yang bagus... Jangan terlalu lama berpikir," kata Kevin pada Mas Yuan. "Tanpa mengurangi rasa hormat, aku agak... Ragu. Tapi...." Mas Yuan menggantung kalimatnya. Ia menarik napas panjang, seolah ada beban berat di dadanya yang sulit diungkapkan. "Karena Tuan CEO tak ada di sini, bukan berarti ajakan kerja sama dengan perusahaanmu hanya bualan semata," sahut Kevin menegaskan. "Bos Kevin, wajar jika Tuan Yuan tidak yakin. Bagaimana jika mengikuti rencana cadangan dari Pak CEO?" usul Leon, nada suaranya tenang namun berwibawa. Dari caranya berbicara, aku bisa menebak Leon punya hubungan cukup dekat dengan CEO baru Vici Industri. Kevin menoleh pada Leon dengan senyum tipis. Ekspresinya menunjukkan seolah ia setuju dengan saran itu. "Pak Yuan, beri tahu aku rekening perusahaanmu,"
Dari awal pertandingan, aku sudah unggul. Pukulan demi pukulan terasa begitu ringan, seperti tubuhku dipenuhi energi positif. Untung saja rekan setimku ternyata jago bermain voli. Ia berkali-kali mencetak poin dengan mudah, membuat semangatku semakin membara. Sebaliknya, tim lawan terlihat mulai kewalahan. Desy dan Mas Yuan sama sekali tidak kompak. Gerak mereka kaku, seperti orang yang terpaksa bermain bersama. Aku bisa menebak penyebabnya. Sepertinya Desy marah pada Mas Yuan setelah mengetahui kebiasaan bejat Mas Yuan yang suka bermain dengan banyak wanita. Aduh, Desy... Kadang aku kasihan juga padamu. "Mbak Lia! Semangat!" teriak seseorang yang langsung disambut sorak-sorai dari lainnya. Refleks aku menoleh ke arah sumber suara, dan mataku langsung terpaku pada sosok Leon yang berdiri di pinggir lapangan sambil mengangkat spanduk besar bertuliskan 'Go Mbak Lia!' dengan tinta warna mencolok. Aku melongo. Dari mana Leon mendapatkan spanduk itu? Apa dia membuatnya sendiri? Duh







