Beranda / Romansa / Godaan Panas Pegawai Magang / Bab. 02. Godaan Anak Magang

Share

Bab. 02. Godaan Anak Magang

Penulis: Kurnia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-03 16:54:45

"Please... Ibu jangan sembarangan kalau ngomong!" tegurku cukup keras.

Aku memang selalu meluruskan segalanya agar tidak tercipta skandal dan gosip.

Aku tak ingin melanjutkan obrolan tidak penting ini. Aku meminta wanita itu mengantarku ke tempat di mana Big Bos mengamuk.

Baru saja aku membuka pintu ruangan inspeksi, sebuah sepatu melayang ke arahku, dan sukses mengenai kepalaku. Badanku terhuyung ke belakang.

Untungnya ada Leon yang sigap menangkapku.

Mataku yang buram, menatap wajah penuh khawatir Leon. Sungguh, Leon sangat tampan, seperti pahatan patung Dewa Yunani. Aku terpukau dengan visualnya.

"Mbak Lia baik-baik saja?" tanyanya.

Aku berusaha memperbaiki posisiku. Menunjukkan sikapku yang profesional. Lalu aku fokus pada Big Bos yang juga menatapku khawatir.

"Ada apa, sih, Bos? Kok lempar-lempar sepatu segala?" Aku meraih sepatu yang barusan mengenaiku.

Para mandor menatapku penuh harap. Dilihat dari ekspresi mereka, sepertinya mereka telah dimarahi habis-habisan oleh Big Bos.

"Kamu itu tidak becus! Meloloskan sepatu buruk! Mangkanya aku sampai disuruh balik lagi ke sini!" makinya.

"Can you please calm down, when talking to my boss?" Leon dengan berani menegur Big Bos, dan melindungiku.

Big Bos menyipitkan matanya saat Leon berdiri tepat di hadapannya. Aku bisa merasakan hawa mencekam dari keduanya. Aku jadi panik, takut jika Leon membuat Big Bos marah, dan berakhir dipecat.

"Bos... Mari kita bicarakan dengan baik-baik," pintaku, merayu Big Bos. "Jangan kebanyakan marah-marah. Nanti cepat tua loh...."

Big Bos sepertinya mau mengerti. Terbukti dengan ia yang tak lagi mengomel, dan fokus memeriksa kualitas sepatu.

"Kirim ke Amerika berapa pasang?" tanya Big Bos.

Aku melihat data yang tertera di dalam berkas, lalu menjawb, "Hampir tiga ribu pasang, Bos. Kirim ke Hongkong seratus pasang, ke China tiga ratus pasang."

"Semua barang ok?" tanyanya lagi.

"Semua kirim besok, harusnya sih ok," kataku sambil melirik Kapten ruang inspeksi.

"Kirim besok? No no no! Kualitas busuk begini! Saya mau bongkar semua! Hari ini harus selesai!"

Waduh... Nih orang baru datang, tapi sudah mengacak-ngacak pabrik. Barang segitu banyaknya, masak bisa dibongkar dalam sehari?

Tak ada logika.

"Saya setuju. Memang harus dibongkar." Leon menimpali Big Bos.

Aku melempar tatapan menusuk pada Leon yang sibuk melihat-lihat sepatu. Astaga... Dia tahu apa soal kualitas sepatu? Bisa-bisanya setuju dengan Big Bos.

Bukankah tadi mereka berdua sempat berselisih?

"Ok, perintahkan kepala pabrik untuk menyuruh anak buahnya lembur!" pinta Big Bos dengan suara keras dan tegas.

***

Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tapi... Kenapa aku masih di ruangan inspeksi bersama Big Bos dan mandor pabrik?

Hey! Aku ini orang kantor!

Seharusnya aku tidak berakhir di sini! Aku benar-benar ingin mengutuk Kevin!

Aku menatap Big Bos secara seksama. Lelaki itu terlihat serius dengan pekerjaannya, sementara aku dan yang lainnya sudah mengantuk.

Mungkin karena tidak menyukai suasana yang sunyi, Big Bos memutar musik berbahasa mandarin. Tentu saja, musik yang hanya ia saja yang memahami.

"Nggak ada musik lain kah, Bos? Malah bikin makin ngantuk loh...." protesku.

Big Bos meraih ponselnya, jemari panjangnya mematikan musik sambil matanya menatapku datar.

"Besok lagi, ya," ucapnya.

"Besok hari Sabtu, Bos! Saya nggak mau ikut. Waktunya istirahat," tolakku secara halus.

Big Bos mengangkat sebelah alisnya. "Siapa juga yang mau ngajak kamu," celetuknya. "Aku mau orang yang membongkar yang lembur," jelasnya.

Gege satu ini sungguh menyebalkan. Lagipula, siapa sih yang mengajarinya ngomong Bahasa Indonesia, pengen aku maki-maki tuh orang.

Kendati demikian, aku tetap merasa lega, karena besok aku libur, dan bisa pergi ke panti asuhan untuk melihat anak-anak kecil.

Big Bos meletakkan sepatu yang ia pegang. Ia menghela napas lelah. "Sudah ah... Capek. Aku mau pulang saja. See you...." pungkasnya sembari berjalan keluar.

Aku dan Leon mengikuti Big Bos dari belakang. Aku tidak perlu membantu membereskan ruang inspeksi, karena itu bukan tugasku.

Aku bernapas lega melihat Big Bos pulang bersama orang kepercayaannya. Aku berencana untuk kembali ke kantor pusat, tapi kantor pasti sudah tutup.

"Mbak Lia, mau aku antar pulang?" Leon menawarkan diri. "Wanita nggak baik kalau pulang malam sendirian," terangnya.

"Pakai mobil kantor yang kita pakai tadi pagi?" tanyaku, memastikan.

Aku memang sering membawa pulang mobil kantor. Sedangkan Leon masih anak magang, dia tidak mungkin mengantarku pulang, lalu membawa mobil kantor 'kan?

Bisa-bisa Kevin membunuhku.

Leon sedikit merendahkan tubuhnya, lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Tadi waktu makan siang, aku ngambil motorku, Mbak," jelasnya. "Mbak nggak keberatan naik motor?" tanyanya, melirik pakaian bawah yang aku kenakan.

"Oh... Kalau gitu, aku pulang sendiri saja naik mobil kantor. Kamu nggak perlu nganterin aku. Kamu pulang saja. Rumahmu jauh dari sini." Tentu saja aku menolak perbuatan baik Leon.

Bagamana pun juga, aku ini wanita bersuami. Akan sangat tidak elok apabila ada pria lain yang mengantarku. Apa kata tetangga? Ya, walaupun aku tinggal di apartemen sih.

"Aku nggak bakal biarin Mbak Lia pulang sendirian!" tegas Leon, memaksaku.

Baiklah, karena aku tidak memiliki tenaga untuk memulai perdebatan, aku memilih untuk menurut.

Aku mengendarai mobil sendirian, sedangkan Leon dengan motor sportnya mengikutiku dari belakang.

Leon... Benar-benar tipe boyfriend material. Duh, kalau aku masih remaja labil, pasti sudah tergila-gila dengannya. Untungnya... Aku wanita dewasa yang tak mungkin tergoda dengan lelaki macam Leon.

Setelah membelah gelapnya malam, akhirnya aku sampai di apartemen tempat tinggalku. Aku menyimpan mobil di parkiran apartemen. Saat aku keluar dari mobil, aku agak terkejut dengan Leon yang sudah menungguku.

"Loh, Leon? Kok kamu ada di sini? Tadi kamu nggak langsung pulang?" tanyaku, menghampirinya.

Leon tersenyum tipis. "Aku ingin mengantar Mbak sampai pintu apartemen," ucapnya.

Waduh... Kok ngeri ya?

"Eh... Enggak perlu. Wilayah apartemen aman kok. Kamu nggak perlu nganterin," tolakku halus.

"Aku mau nganterin Mbak Lia," tegas Leon.

Aku bergidik ngeri saat ekspresi Leon berubah datar dan terkesan dingin.

Mau tak mau aku membiarkannya mengantarku sampai ke unit apartemenku. Terpaksa ya!

Leon mengikutiku dari belakang, karena aku memang tidak berkenan untuk berjalan berdampingan dengannya.

Saat udah berada di depan pintu apartemenku, aku berterima kasih padanya.

"Aku mau masuk," kataku, menekankan di setiap kata.

"Silakan masuk. Aku ingin memastikan Mbak Lia beneran masuk ke dalam," balasnya, masih dengan wajahnya yang datar.

Serius! Ada apa dengan Leon? Tingkahnya seperti seorang kekasih yang posesif kepada wanitanya.

Dengan wajah aneh, aku masuk ke dalam apartemen. Ingin sekali aku mengacungkan jari tengah pada Leon sebelum menutup pintu. Namun aku justru tersenyum ramah padanya, dan melambaikan tanganku.

Sambil melepas sepatu high heels, aku mengeluarkan napas panjang dan berat. Aku menyalakan lampu ruang tamu sebelum masuk ke dalam kamar.

"Mas Yuan sudah tidur," lirihku, melihat suamiku berbaring pulas di atas kasur.

Aku berjalan menghampirinya. Aku memandanginya sebentar, lalu membenarkan selimutnya yang berantakan.

"Aku cinta banget sama kamu, Mas." Kalimat pengakuan itu meluncur begitu saja dari bibirku.

***

Keesokan harinya, berhubung aku libur kerja, aku memutuskan untuk pergi ke panti asuhan yang letaknya tak jauh dari rumahku.

Aku memang sering berkunjung untuk memberi makanan pada anak-anak dan sedikit uang untuk pengurus panti.

Saat aku sedang asyik bermain dengan beberapa anak, aku terkejut dengan kehadiran Leon.

Maksudku... Ngapain dia ada di sini! Terlebih, sepertinya anak-anak panti sudah mengenal Leon. Menandakan jika Leon sering berkunjung.

"Mbak Lia?" Dia menyapaku terlebih dahulu.

Aku tersenyum canggung. "Kamu juga suka anak kecil, ya?" tanyaku, basa-basi.

"Tidak. Aku tidak suka anak kecil."

Jawaban Leon langsung menghilangkan senyum di wajahku.

"Tapi karena wanita yang aku sukai menyukukai anak kecil. Aku jadi berusaha menyukai anak kecil." Leon memberi keterangan.

"Begitu, ya? Baguslah... Kamu juga harus menyukai apa yang wanita kamu sukai," timpalku, mengangguk mengerti.

Entah mengapa, kami berdua malah duduk bersama di taman panti asuhan. Hanya sekedar mengobrolkan hal-hal yang tidak penting.

"Suami Mbak Lia mana? Nggak ikut?" tanyanya.

"Suamiku kerja," jawabku seadanya.

"Kerja di mana kalau boleh tahu?"

Aku memberitahu Leon bahwa suamiku merupakan seorang pemborong. Jam kerjanya pun tidak menentu. Mangkanya aku dan suamiku kerap tak memiliki waktu untuk bersama.

Tunggu, kenapa aku memberitahu Leon terlalu banyak? Aku menengok pelan ke arahnya, berharap Lelaki itu tak terlalu mendengarkan jawabanku.

"Tidak memiliki waktu bersama? Jangan bilang kalau Mbak Lia kesepian," cetus Leon, tersenyum miring.

Sial, dia malah memperjelas.

"Enggak gitu maksudku. Sudah ya, jangan dibahas. Nggak penting," kelitku.

Dengan kilat, aku mengganti topik pembicaraan. Kini giliranku menanyakan perihal wanita yang ditaksir Leon.

"Hm... Aku menyukai wanita yang sudah memiliki suami," lontar Leon, sepertinya dia berbicara tanpa berpikir.

"Leon... Banyak gadis di luar sana. Ngapain kamu menyukai istri orang? Ya ampun. Jangan begitu. Gantengmu nanti sia-sia." Sebagai atasan, dan orang yang lebih dewasa dari Leon, aku tak sungkan untuk menasihatinya.

"Mau gadis ataupun tidak, sama saja," timpal Leon, acuh tak acuh.

Aku berdecap, "Ya nggak sama, dong! Gadis masih perawan."

"Itu... Tidak penting," kata Leon.

Aku menyerah, tidak ada gunanya menasihati orang yang sedang jatuh cinta. Aku hanya bisa mengingatkan Leon agar tidak terlalu jauh. Merusak rumah tangga orang lain, bukanlah sifat lelaki sejati.

"Aku tidak berniat untuk merusak rumah tangganya. Aku...." Leon menarik daguku, memaksaku menatap matanya. "Aku hanya menunggunya menjadikanku yang kedua."

Dalam kondisi shock berat, aku tak bisa melepaskan tatapan Leon yang mengunciku. Aku memaki diriku sendiri yang justru terlena dengan pesona Leon. Dia... Sangat...

Aku yang tersadar dari jeratannya, langsung menarik tangan Leon, dan menjauh dari lelaki itu. Dia sangat berbahaya.

"Leon! Kamu jangan macam-macam sama saya ya! Awas saja kalau kamu berani menyentuh saya sembarangan! Saya bakal pukulin kamu!" Aku yang gelagapan, malah mencerocos tak jelas.

Sedangkan Leon santai. Seolah puas dengan perbuatannya.

Wah... Leon pasti sering begini. Aku harus memberinya pelajaran. Tapi... Jangan sekarang. Lebih baik aku minggat dulu.

Aku bergegas pergi meninggalkan Leon. Bahkan, saking terburu-buru, aku tak sempat berpamitan pada pemilik panti.

***

Sampainya di apartemen, baru saja aku duduk di sofa kesayanganku, aku mendapat pesan dari Pak Direktur yang memintaku untuk menemuinya di hotel.

"Apa sih, Kevin sialan!"

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 32. KEHIDUPAN ASLI LEON

    Besoknya, aku terbangun di siang bolong. Saat menyadarinya, aku bergegas membersihkan diri, dan turun untuk menemui Nyonya Lusi. Rupanya, Nyonya Lusi telah menungguku, dan beliau tak marah atau kesal karena aku bangun kesiangan. Aku bisa bernapas lega. Aku pikir, sikap Nyonya Lusi akan berubah sinis. "Lia... Ayo makan siang dulu. Aku sengaja masak makanan kesukaan kamu," ajak Nyonya Lusi, tersenyun ramah. Aku duduk di kursi yang ditunjuk Nyonya Lusi. Dan beliau langsung mengisi piringku dengan beberapa makanan. "Terima kasih, Nyonya," kataku. "Jangan panggil nyonya. Aku ini calon ibu mertuamu. Panggil ibu saja, biar lebih akrab," timpal Nyonya Lusi, menepuk punggung tanganku pelan. Aku mengangguk penuh antusias. "Iya, Ibu...."Kami pun makan berdua tanpa ditemani Leon yang sedang mengurus suatu hal penting. Setelah makan siang, Nyonya Lusi mengajakku berkeliling mansion. Beliau menceritakan mengenai Leon,

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 31. BERTEMU CALON IBU MERTUA

    Leon baru puas dan berhenti setelah keluar lima kali. Dia benar-benar gila. Sekarang ia berbaring di sampingku sambil meny*su seperti bayi. "Leon...." panggilku lirih. "Hm?" Leon menanggapi tanpa membuka matanya. "Dadaku sakit...." keluhku. "Sudah, jangan dihisap lagi," pintaku, suaraku parau.Leon menurut tanpa drama. Bahkan ia langsung meminta maaf. Aku tak mempermasalahkan hal tersebut.Aku meraih ponsel milik Leon yang tergeletak di atas nakas. Aku menyalakannya, dan terkejut mengetahui jika waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Itu artinya, kami berdua bermain seharian penuh. Pantas saja, tubuhku terasa hancur. Aku menggoyang-goyang pelan pundak Leon, membangunkan lelaki itu."Leon... Ayo kita pindah kamar. Ranjang di sini basah. Aku... Tidak bisa tidur nyeyak," ajakku, ketika Leon memperhatikanku.Dengan wajah lelah, dan napas berat, Leon bangkit dari ranjang. Ia meraih celana pendek, lalu mengenakan

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 30. HAMPIR BERCINTA DI MEJA DAPUR

    Aku tertawa melihat Desy kebingungan."Desy... Desy... Rumah ini dibangun menggunakan uangku. Tentu saja, rumahku. Masak... Rumahmu?" ledekku."Ini rumah Mas Yuan yang dikasih ke aku!" ujar Desy, menyangkal pernyataanku.Suara tawaku semakin kencang. Kalimat yang dilontarkan Desy barusan, sangat menghiburku.Baiklah, aku harus menghentikan tawaku dan memberitahu Desy yang sebenarnya. "Mas Yuan menipumu," kataku."Apa? Menipuku? Enggak mungkin. Rumah ini... Mahar dari Mas Yuan," gumam Desy, terduduk di atas lantai dengan tubuh lemas. "Mas Yuan keterlaluan! Tak hanya menikahiku secara palsu, bahkan dia menikahimu dengan mahar palsu! Benar-benar berengs*k!" seruku, sambil menghentakkan kakiku, pura-pura kesal. "Desy... Bagaimana jika kamu pastikan dulu, apakah harta gono-gini yang diberikan Yuan itu beneran asli," saran Leon, yang sedari tadi diam. Aku langsung setuju dengan Leon. "Mas Yuan j

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 29. AKHIRNYA BERCERAI JUGA

    Mas Yuan mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya merah padam, menandakan jika ia benar-benar marah. "Desy! Coba, ulangi lagi perkataanmu!"Baru kali ini aku mendengar Mas Yuan membentak Desy. Pertunjukkan yang menarik. "Aku! Men-cin-tai Mas Leon! Hanya Mas Leon!" teriak Desy tepat di wajah Mas Yuan. 'Plak!' Satu tamparan keras menghantam pipi Desy hingga wanita itu terhuyung, dan jatuh di atas lantai.Semua orang tercengang, tak terkecuali aku. Pak Wan buru-buru naik ke atas panggung untuk menolong putrinya yang akan mendapat pukulan lagi dari Mas Yuan. Bisik-bisik dari tamu mulai bermunculan. Aksi tak terduga Mas Yuan sangat cocok untuk dijadikan bahan gosip. Ah sial, aku ingin sekali tertawa lepas. Tapi aku harus menahannya. Simpan perayaan ini untuk nanti di rumah."Wanita sialan! Coba ulangi kata-katamu!" perintah Mas Yuan, menarik rambut Desy.Dilihat dari respons Mas Yuan yang begitu marah, di

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 28. DRAMA RESEPSI DIMULAI

    “Walaupun kamu turut andil dalam menipuku. Tapi aku bisa mengerti, kamu pasti dipaksa oleh Mas Yuan. Jadi, sangat sulit bagiku untuk membencimu,” tuturku, bersuara lembut dan penuh perhatian.Desy meletakkan kembali sendok dan garpu yang ia pegang untuk memberiku atensi.“Mbak Lia? Kamu....” Desy tak melanjutkan kalimatnya. Mungkin ia tak memiliki kata yang pas untuk disuarakan.“Di mataku, kamu tetaplah gadis kecil yang aku sayangi. Aku ingin yang terbaik untukmu. Maka dari itu, aku sarankan untuk menceraikan Mas Yuan,” kataku, meyakinkan Desy.Aku membeberkan semua keburukan Mas Yuan selama kami tinggal bersama pada Desy. Aku juga mengatakan bahwa aku tak ingin Desy bernasib sama sepertiku, terbuang, dikhianati, dan diperlakukan seperti sapi perah.“Kamu sudah masuk dunia hiburan. Penghasilanmu bisa mencapai ratusan juta sekali posting. Kamu kira, Mas Yuan tidak akan memanfaatkan itu? Dia akan menghisapmu, menyuruhmu membayar biaya hidu

  • Godaan Panas Pegawai Magang   Bab. 27. PILIHAN SULIT DESY

    Hari ini niatku datang ke kantor untuk menemui Kevin, dan melayangkan protes atas cutiku yang diperpanjang, eh... Malah bertemu dengan Desy. Kebetulan, karena Desy yang duluan mengejekku, tak ada salahnya untuk membalasnya. "Kamu kira, setelah bercerai dari pernikahan palsu, aku bakal menghabiskan sisa hidupku dengan meratap dan menangis?" ucapku, tersenyum miring."Aku... Akan melanjutkan hidupku dengan suka cita. Apalagi, sekarang aku sudah memiliki pengganti Yuan," imbuhku, sambil terus memandang rendah Desy.Desy yang semula terduduk di lantai, perlahan mendirikan tubuhnya sendiri. Ia menarik napas dalam, lalu mengembalikan ekspresi wajahnya yang tadi bengong seperti orang kehilangan jiwa, menjadi Desy yang sombong, manja, dan penuh percaya diri.Tatapan matanya kembali tajam, dagunya sedikit terangkat, seolah tak pernah ada momen rapuh yang barusan singgah. Ia kembali mengenakan topengnya dengan rapi, menutup segala kegamangan yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status