Masuk"Mbak Lia...."
Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. "Apa?" tanyaku, menggebu dan sedikit goyah. "Semua bahan sudah siap dicek," kata Leon, melaporkan. "Ya-yasudah! Kenapa kamu nggak pakai kemejamu!" Aku mengutuk diriku sendiri yang gugup, dan salah tingkah. "Maaf, bolehkah aku mandi dulu? Badanku mungkin bau." Dia meminta izin padaku. "Aku ngeceknya setelah makan siang kok. Kamu boleh istirahat dulu, sama kayak yang lain," kataku bijak, sambil mencoba menutupi kegugupanku. "Mbak Lia nggak mau mandiin aku?" godanya. Aku melotot, sopankah begitu pada atasan? "Mbak Lia dari tadi lihatin aku," ucapnya, dengan senyum genit. "Siapa juga yang lihatin kamu? GR banget...." kelitku. Ya masak aku ngaku? Leon tersenyum miring sambil menyentuh perutnya yang berbentuk kotak-kotak. "Padahal kalau Mbak pengen, nggak cuma dilihat, aku bolehin nyentuh juga," tambahnya. Leon... Kenapa begini? Genit banget! "Sudah Leon! Sekarang kamu istirahat saja! Nanti kamu bantuin saya nyatet!" Aku harus tegas, dan memberi batasan. Aku baik pada Leon karena waktu pertama kali Leon masuk menjadi karyawan magang, ia sering dimarahai Kevin. Mangkanya aku iba, dan berniat baik untuk mengajarinya. Tapi, dia malah kurang ajar begini. *** Setelah istirahat, Leon kembali tepat waktu. Kami mulai mengecek bahan. Aku melirik Leon, dia mengerjakan tugasnya dengan baik. Aku harus mengakui kemampuannya dalam belajar. "Leon, kamu tinggal sendiri atau masih tinggal bareng orang tua?" tanyaku, hanya penasaran, tidak lebih. "Kenapa? Kalau aku tinggal sendiri, Mbak mau nemenin?" Leon menjawab dengan tidak serius, aku sudah menduganya. "Kamu kalau diajak bicara nggak pernah serius ya? Aku bakal diemin kamu," ancamku, sudah muak. Leon tertawa kecil, ia meminta maaf dan membenarkan jawabannya. "Aku tinggal sendirian, Mbak. Mbak boleh mampir kalau butuh teman," tuturnya, melirikku. Entah mengapa, aku merasa jika Leon menyindirku yang tengah dilanda sepi. "Iya, kapan-kapan aku mampir bareng teman-teman kantor lainnya," balasku, sekenanya. "Apartemenku hanya terbuka untuk Mbak, bukan teman kantor," celetuknya yang membuatku memukul kepalanya pelan. Berhubung semua pekerjaan telah rampung, aku memutuskan untuk pulang. Lagi-lagi, Leon mengikutiku dari belakang, padahal ini masih sore. Sampainya di apartemen, baru saja aku membuka pintu, aku disambut hangat oleh Desy, keponakan jauh suamiku. "Mbak... Ayo makan, aku sudah masak makanan enak loh...." ajaknya, menggenggam pergelangan tanganku. Aku terkejut melihat suamiku duduk manis di meja makan. Hm... Mereka berduaan ya? Aku tahu, mereka saudara, dan usia Desy baru menginjak dua puluh tahun, tapi, kenapa perasaanku tidak enak? "Masakan Desy selalu enak. Nggak pernah gagal." Dengan wajah semringah, suamiku memuji Desy. Aku kurang nyaman. Interaksi yang terjalin antara Desy dan Mas Yuan terlau intens dan akrap. "Mbak Lia, kuota buat anak magang di kantor Mbak masih ada kah? Aku pengen nambah pengalaman," ujar Desy, penuh harap. "Desy? Jangan-jangan kamu baik begini, gara-gara pengen kerja di tempat Lia ya?" kelakar Mas Yuan. Desy tertawa canggung sambil menyemtuh tengkuknya. "Habisnya, mama sudah stop uang bulananku. Ya, mau nggak mau, aku cari uang sendiri," dalih Desy, sungkan. Aku memperhatikan Desy. Gadis ini suka berdandan, dan tampilannya lebih ke dewasa dan seksi. Kalau dia masuk kantor, pasti sudah menjadi primadona. Dan mungkin bisa mengalihkan Leon dariku. "Nanti aku lihat ya... Semoga saja masih bisa menerima karyawan magang," ucapku, memberinya harapan. Desy terlihat senang. "Wah! Beneran? Terima kasih Mbak Lia.... Ayo habiskan semua makanan!" Kami bertiga lanjut makan. Aku bisa merasakan bagaimana Mas Yuan yang cuek padaku, namun begitu tanggap ketika Desy mengajak ngobrol. Aku... Jadi sedih. *** Beberapa hari berlalu, aku berhasil memasukkan Desy ke kantor, dan aku menempatkannya di sebelah Leon. "Leon... Kamu ajari Desy, ya," pintaku, sambil mengelus pundaknya. "Nggak mau. Saya sibuk," tolak Leon, mentah-mentah. Buset... Galak bener. Emangnya sibuk apa sih? Perasaan aku tidak memberinya pekerjaan berat hari ini. Aku melirik Desy yang menyentuh lengan Leon, namun langsung ditepis oleh lelaki itu. "Jangan sembarangan nyentuh orang," ketus Leon, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Desy. Aku menoyor pelan kepala Leon dari belakang. Sekarang dia protes ketika disentuh orang, kemarin-kemarin dia gemar menyentuhku tanpa izin. Dasar lelaki aneh. "Yang lembut sama keponakanku." Aku menegur Leon. "Nepotisme," gumam Leon, masih bisa terdengar telingaku. Aku memang melakukan nepotisme. Kenapa? Tidak terima? Salah satu cita-citaku adalah menjadi orang dalam. Maaf, aku hanya bercanda. Nyatanya, baru Desy orang yang aku masukkan ke perusahaan menggunakan kekuatan jabatanku. Semoga tidak ada yang lain ya. Nepotisme bukan tindakan yang dibenarkan. "Mbak Lia, dipanggil Bos Kevin ke ruangannya." Asistenku mengabari. Aku melangkah menuju ruangan Kevin sembari mendengus dan menerka-nerka, pekerjaan menyebalkan apa lagi yang akan pria jomblo itu berikan padaku. Aku membuka pintu ruangan Kevin, nyelonong masuk tanpa permisi. "Lia... Kamu lemot banget! Dipanggil dari tadi juga," semprot Kevin, menyambutku. Seperti biasa, dia selalu marah-marah tidak jelas. Pantas saja, mendapat julukan orang gila di pabrik. "Maaf, Bos. Saya 'kan jalan kaki, tidak terbang," balasku, seadanya. "Kamu itu! Kenapa kasih masuk cewek krempeng, kurang gizi ke devisi yang saya pimpin?" protes Kevin, meninggikan suaranya. "Eits, Bapak jangan body shaming dong! Desy itu masih keluarga saya loh! Keponakan yang saya sayangi!" Tenang saja, aku akan membela Desy. Aku yang memasukkan Desy, otomatis ia menjadi tanggung jawabku. "Dunia kerja kejam! Saya nggak peduli hubungan darah!" sahut Kevin, menatapku tajam. Aku mangguk-mangguk mengerti. Aku harus mengeluarkan jurus pegawai tak berdaya dan tunduk ada atasan. "Bos... Jangan galak-galak. Desy anaknya pintar kok. Dia lagi libur kuliah, mangkanya aku tarik ke sini untuk cari pengalaman. Siapa tahu, nanti kalau sudah lulus, bisa mahir dan siap bekerja secara profesional." Aku mengatakannya dengan cepat. Sengaja supaya Kevin berpikir keras. "Sth... Kamu ngomong apa?" Tuh kaaan... Lemot otaknya. "Oh ya, saya mau kamu mengawasi Leon," perintahnya, sesuai dengan dugaanku. Dia memberiku pekerjaan yang melenceng dari jobku. Sebagai pegawai yang patuh, aku mengiyakan. "Kemarin aku lihat Leon ada di acara pameran mobil mewah. Gayanya udah kayak Bos Mafia aja," cibir Kevin. "Ya, mungkin Leon cuma iseng ke sana, Bos. Jangan berpikir buruk dulu." Sebagai manusia yang menjunjung tinggi positif vibes, aku harus menasihati Bosku. "Iseng katamu? Kamu belain dia, ya!" sungutnya, tiba-tiba menyudukanku tanpa alasan jelas. Yang pasti, Kevin memintaku untuk mengawasi gerak-gerik Leon, dan sebisa mungkin memberi pekerjaan yang sulit pada Leon. "Pokoknya... Bikin Leon menderita di sini! Saya nggak mau ada yang menyaingi kegantengan dan kekerenan saya! Nggak ada yang boleh lebih tajir dari saya! Mengerti kamu!" lontarnya dengan suara tinggi. Walau aku waras, aku tetap mengiyakan tugas tidak penting dari Kevin. Ingat... Dia adalah atasanku. "Oh ya, satu hal lagi. Carikan aku pacar. Masak kamu tega, biarin titidku hanya digunakan untuk pipis?" Satu lagi permintaan atau tugas dari manusia gila ini. "Bos... Aku mana ada waktu untuk mencarikanmu pacar? Cari sendiri 'kan bisa." Tentu saja aku menolak. "Hey! Kalau saya bisa, pasti sudah cari sendiri! Haduh... Kamu ini bikin kesal saja!" geramnya sambil menyentuh batang hidungnya yang tinggi. "Kalau nggak, kamu cerai saja sama suamimu, terus nanti nikah sama aku," cetusnya, makin ngawur. Aku menatapnya tanpa ekspresi, lalu berkata, "Bapak jangan sembarangan ngomong. Lagian, Bapak bukan tipe saya." Mendengar penolakan dingin dariku, Kevin berlagak patah hati. Ia menyentuh dadanya, dan mengeluarkan ekspresi terkejut. Aku sudah sering melihatnya seperti itu, jadi tidak kaget. Apalagi menganggapnya serius. "Kamu hari ini senggang 'kan?" tanyanya. Belum sempat aku menjawab, ia menyosor dengan memintaku menyiapkan menu makan siang untuknya. Lagi-lagi aku mengiyakan. Aku harus sabar, Kevin ini tipe atasan yang tidak senang melihat bawahannya sedikit bersantai, tapi ia sendiri sering menganggur dan ngeteh di ruangannya. "Begitu saja, kamu boleh kembali bekerja," usirnya, mengibas-ngibaskan tangan, seperti mengusir ayam. Sialan memang. Aku merasa lega saat sudah berada di luar ruangan Kevin. Berlama-lama dengannya bisa membuatku sesak napas. Saat aku berjalan melewati koridor menuju kantin, secara kebetulan aku memergoki Desy dan Leon yang lagi mojok. Karena aku sangat penasaran, aku memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka. Apa yang sedang mereka lakukan di jam kerja Dalam posisi bersembunyi, aku masih bisa melihat Desy yang berusaha menyentuh Leon, namun selalu ditolak oleh Leon. Halah, Leon sok jual mahal. "Mas Leon... Bentar lagi makan siang. Temani aku ya," pinta Desy, suaranya terdengar manja. Duh, imutnya. "Ck, lagi puasa, nggak makan." Leon menolak dengan keji. Awas saja, aku bakal kasih pelajaran pada Leon kalau dia berani menyakiti keponakan kesayangan suamiku. Kesayangan suamiku, otomatis kesayanganku juga. Jangan salah paham ya. "Aku baru di sini... Belum punya teman. Aku cuma kenal kamu." Desy masih berusaha menarik perhatian Leon. "Lah, bodo amat," sahut Leon, dingin. "Mas Leon...." Aku menghembuskan napas melihat Leon pergi meninggalkan Desy yang mengejar. Leon ini benar-benar songong, dan tak berperasaan. Dia memperlakukan wanita semena-mena. Aku ingin menyusul mereka, tapi aku harus mengurus menu makan siang Kevin. Sampainya di kantin, aku bertemu dengan salah satu temanku yang juga ada di posisi Buyer, cuma bedanya, dia selalu berada di pabrik, dan bertanggung jawab untuk memastikan kualitas produksi. "Lia, kemarin aku melihat suamimu bareng wanita lain di hotel." Aku menegur temanku yang kerap aku panggil Intan itu. "No foto berarti hoax," celetukku. "Mana buktinya, kasih unjuk," desakku sambil menggelitik pinggangnya. "Ya, aku nggak punya bukti sih... Tapi aku nggak bohong," ujar Intan. Ia mendempet ke arahku, lalu berkata lirih, "Mending kamu selidiki suamimu." Aku menolak saran dari Intan. "Aku percaya suamiku. Dia nggak mungkin macam-macam," tegasku. "Wanita jaman sekarang beringas semua. Laki udah setia pun, bisa didapat." Bersambung...Besoknya, aku terbangun di siang bolong. Saat menyadarinya, aku bergegas membersihkan diri, dan turun untuk menemui Nyonya Lusi. Rupanya, Nyonya Lusi telah menungguku, dan beliau tak marah atau kesal karena aku bangun kesiangan. Aku bisa bernapas lega. Aku pikir, sikap Nyonya Lusi akan berubah sinis. "Lia... Ayo makan siang dulu. Aku sengaja masak makanan kesukaan kamu," ajak Nyonya Lusi, tersenyun ramah. Aku duduk di kursi yang ditunjuk Nyonya Lusi. Dan beliau langsung mengisi piringku dengan beberapa makanan. "Terima kasih, Nyonya," kataku. "Jangan panggil nyonya. Aku ini calon ibu mertuamu. Panggil ibu saja, biar lebih akrab," timpal Nyonya Lusi, menepuk punggung tanganku pelan. Aku mengangguk penuh antusias. "Iya, Ibu...."Kami pun makan berdua tanpa ditemani Leon yang sedang mengurus suatu hal penting. Setelah makan siang, Nyonya Lusi mengajakku berkeliling mansion. Beliau menceritakan mengenai Leon,
Leon baru puas dan berhenti setelah keluar lima kali. Dia benar-benar gila. Sekarang ia berbaring di sampingku sambil meny*su seperti bayi. "Leon...." panggilku lirih. "Hm?" Leon menanggapi tanpa membuka matanya. "Dadaku sakit...." keluhku. "Sudah, jangan dihisap lagi," pintaku, suaraku parau.Leon menurut tanpa drama. Bahkan ia langsung meminta maaf. Aku tak mempermasalahkan hal tersebut.Aku meraih ponsel milik Leon yang tergeletak di atas nakas. Aku menyalakannya, dan terkejut mengetahui jika waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Itu artinya, kami berdua bermain seharian penuh. Pantas saja, tubuhku terasa hancur. Aku menggoyang-goyang pelan pundak Leon, membangunkan lelaki itu."Leon... Ayo kita pindah kamar. Ranjang di sini basah. Aku... Tidak bisa tidur nyeyak," ajakku, ketika Leon memperhatikanku.Dengan wajah lelah, dan napas berat, Leon bangkit dari ranjang. Ia meraih celana pendek, lalu mengenakan
Aku tertawa melihat Desy kebingungan."Desy... Desy... Rumah ini dibangun menggunakan uangku. Tentu saja, rumahku. Masak... Rumahmu?" ledekku."Ini rumah Mas Yuan yang dikasih ke aku!" ujar Desy, menyangkal pernyataanku.Suara tawaku semakin kencang. Kalimat yang dilontarkan Desy barusan, sangat menghiburku.Baiklah, aku harus menghentikan tawaku dan memberitahu Desy yang sebenarnya. "Mas Yuan menipumu," kataku."Apa? Menipuku? Enggak mungkin. Rumah ini... Mahar dari Mas Yuan," gumam Desy, terduduk di atas lantai dengan tubuh lemas. "Mas Yuan keterlaluan! Tak hanya menikahiku secara palsu, bahkan dia menikahimu dengan mahar palsu! Benar-benar berengs*k!" seruku, sambil menghentakkan kakiku, pura-pura kesal. "Desy... Bagaimana jika kamu pastikan dulu, apakah harta gono-gini yang diberikan Yuan itu beneran asli," saran Leon, yang sedari tadi diam. Aku langsung setuju dengan Leon. "Mas Yuan j
Mas Yuan mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya merah padam, menandakan jika ia benar-benar marah. "Desy! Coba, ulangi lagi perkataanmu!"Baru kali ini aku mendengar Mas Yuan membentak Desy. Pertunjukkan yang menarik. "Aku! Men-cin-tai Mas Leon! Hanya Mas Leon!" teriak Desy tepat di wajah Mas Yuan. 'Plak!' Satu tamparan keras menghantam pipi Desy hingga wanita itu terhuyung, dan jatuh di atas lantai.Semua orang tercengang, tak terkecuali aku. Pak Wan buru-buru naik ke atas panggung untuk menolong putrinya yang akan mendapat pukulan lagi dari Mas Yuan. Bisik-bisik dari tamu mulai bermunculan. Aksi tak terduga Mas Yuan sangat cocok untuk dijadikan bahan gosip. Ah sial, aku ingin sekali tertawa lepas. Tapi aku harus menahannya. Simpan perayaan ini untuk nanti di rumah."Wanita sialan! Coba ulangi kata-katamu!" perintah Mas Yuan, menarik rambut Desy.Dilihat dari respons Mas Yuan yang begitu marah, di
“Walaupun kamu turut andil dalam menipuku. Tapi aku bisa mengerti, kamu pasti dipaksa oleh Mas Yuan. Jadi, sangat sulit bagiku untuk membencimu,” tuturku, bersuara lembut dan penuh perhatian.Desy meletakkan kembali sendok dan garpu yang ia pegang untuk memberiku atensi.“Mbak Lia? Kamu....” Desy tak melanjutkan kalimatnya. Mungkin ia tak memiliki kata yang pas untuk disuarakan.“Di mataku, kamu tetaplah gadis kecil yang aku sayangi. Aku ingin yang terbaik untukmu. Maka dari itu, aku sarankan untuk menceraikan Mas Yuan,” kataku, meyakinkan Desy.Aku membeberkan semua keburukan Mas Yuan selama kami tinggal bersama pada Desy. Aku juga mengatakan bahwa aku tak ingin Desy bernasib sama sepertiku, terbuang, dikhianati, dan diperlakukan seperti sapi perah.“Kamu sudah masuk dunia hiburan. Penghasilanmu bisa mencapai ratusan juta sekali posting. Kamu kira, Mas Yuan tidak akan memanfaatkan itu? Dia akan menghisapmu, menyuruhmu membayar biaya hidu
Hari ini niatku datang ke kantor untuk menemui Kevin, dan melayangkan protes atas cutiku yang diperpanjang, eh... Malah bertemu dengan Desy. Kebetulan, karena Desy yang duluan mengejekku, tak ada salahnya untuk membalasnya. "Kamu kira, setelah bercerai dari pernikahan palsu, aku bakal menghabiskan sisa hidupku dengan meratap dan menangis?" ucapku, tersenyum miring."Aku... Akan melanjutkan hidupku dengan suka cita. Apalagi, sekarang aku sudah memiliki pengganti Yuan," imbuhku, sambil terus memandang rendah Desy.Desy yang semula terduduk di lantai, perlahan mendirikan tubuhnya sendiri. Ia menarik napas dalam, lalu mengembalikan ekspresi wajahnya yang tadi bengong seperti orang kehilangan jiwa, menjadi Desy yang sombong, manja, dan penuh percaya diri.Tatapan matanya kembali tajam, dagunya sedikit terangkat, seolah tak pernah ada momen rapuh yang barusan singgah. Ia kembali mengenakan topengnya dengan rapi, menutup segala kegamangan yang







