Home / Romansa / Godaan Panas Sang Asisten CEO / 7. Hukuman yang Panas

Share

7. Hukuman yang Panas

Author: Dezaa_Author
last update Last Updated: 2025-12-01 00:50:50

“Hmmph!“

Pintu ruang kerja Leon menutup keras, dan sebelum Shenina sempat menarik napas, tubuhnya sudah disergap.

Leon mencium bibirnya dengan brutal dan penuh amarah yang ia tahan sejak dari ruang kerja Thomas.

Shenina terhempas pada dinding, tangannya otomatis menggenggam kerah jas Leon agar tidak jatuh. Ciuman itu bukan sekadar nafsu. Ada kemarahan terselubung yang ditumpahkan Leon tanpa kontrol.

“Pelan-pelan, Tuan—Ahhh!” Suara Shenina terputus oleh desah tertahan ketika bibir Leon berpindah ke lehernya, meninggalkan jejak-jejak panas.

Tapi bukannya melambat, gerakan Leon semakin keras dan mendesak, seolah ingin menghapus bayangan Shenina dan Thomas yang masih menghantuinya.

Srek!

Resleting gaun Shenina terlepas dalam satu tarikan liar. Napas Leon kini bergetar di kulit dadanya. Shenina menahan desahan karena ia tahu Leon sedang kehilangan kendali.

Ternyata beginilah Leon Karlsson ketika cemburu. Pria yang dingin dan terkendali itu berubah menjadi badai yang kasar dan tak peduli pada apa pun selain satu hal:

menandai kepemilikannya.

Tapi Shenina tidak mau dikalahkan oleh pria itu.

Saat Leon sedikit lengah, Shenina langsung mengambil alih. Ia mendorong tubuh besar itu hingga punggung Leon beradu keras dengan pembatas balkon.

Leon terpaku sejenak oleh perlawanan kecil itu.

Dan Shenina tidak menyia-nyiakannya.

Ia mencengkeram rahang Leon, menarik wajah pria itu, lalu mencium balik dengan buas. Bibirnya menggigit bibir Leon sampai pria itu mengerang rendah.

“Shenina…” Leon menahan napas, antara marah dan kehilangan kendali. “Kau—”

“Aku hanya mengimbangi tuanku,” bisik Shenina. Suaranya terdengar sensual dan penuh tantangan.

“Bukankah ini yang kau inginkan sekarang?”

Ciumannya turun ke leher Leon, berhenti di tonjolan tenggorokan pria itu.

Ia menggigitnya perlahan, cukup untuk membuat seluruh tubuh Leon menegang. Kepalanya terangkat, rahangnya mengeras menahan sensasi yang melumpuhkan.

Shenina tersenyum kecil ketika Leon terdengar mengutuk pelan, menikmati sensasi yang ia benci untuk akui.

“Shenina,” Leon memejamkan matanya, tapi sial bayangan Shenina memeluk Thomas kembali muncul di kepala pria itu dan seketika emosinya meledak lagi.

Ia berbalik mendominasi. Dalam gerakan cepat, tubuh Shenina yang kini terdorong ke pembatas balkon. Tangan Leon mencengkeram wajahnya, menahan dagu sang asisten agar menatap lurus ke matanya.

“Jelaskan, Shenina,” katanya dingin dan tajam. Suaranya hampir menggeram.

Shenina menatapnya polos. Bahaya tersembunyi di balik kepolosan itu, tapi Leon tak mampu membacanya.

“Apa yang harus aku jelaskan, Tuan?”

Leon mendekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan, suara dan napasnya sama panasnya.

“Kau pikir aku tidak melihat cara kau memeluknya?”

Napas Leon turun ke pangkal leher Shenina, membuat bulu kuduknya meremang.

“Kau menahan tubuhnya seperti… menahan kekasihmu sendiri.”

Shenina hampir tertawa oleh lelucon ini.

“Oh, ekspresi cemburu itu begitu indah.”

“Tuan Leon,” ucapnya lembut dengan nada menyesal yang palsu, “kau salah paham. Aku hanya membantu.”

Kebohongan yang manis itu bekerja seperti bensin pada api kecemburuan Leon.

Untuk pertama kalinya seumur hidup, Leon merasakan sesuatu yang ia sendiri tak bisa pahami. Ia takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum menjadi miliknya.

“Kenapa kau lakukan itu?” suara Leon semakin berat. “Apa kau menikmati perhatian pria tua itu?”

Shenina mendekat perlahan, menggoda batas kesabaran pria itu.

Ia menempelkan bibirnya ke telinga Leon sambil berbisik, “Aku tidak butuh perhatian pria tua…”

Shenina menyentuh cuping telinga Leon dengan bibirnya.

Leon langsung menegang, napasnya tertahan.

“…kalau aku sudah mendapatkannya cukup darimu, Tuan.”

Tangan Leon langsung mencengkeram pinggang Shenina dengan erat. Bibirnya sudah memangkas jarak dengan bibir Shenina.

“Kalau kau ulangi lagi—” Leon menggigit bibir Shenina lagi, namun kali ini sedikit lembut. “—hukumanmu akan lebih berat dari ini.”

Shenina mengangguk manis, seolah patuh. Padahal dalam hatinya ia tertawa puas. Ia sudah berhasil menguasai perasaan Leon, menusuk celah paling berbahaya darinya, yaitu rasa memiliki.

Tanpa berkata lagi, Leon mengangkat tubuh Shenina dengan mudah dan membawanya masuk.

Ia meletakkan Shenina ke ranjang kerja pribadinya dengan sedikit kasar.

Ia menatap wanita itu dari atas, matanya gelap, penuh sesuatu yang tak pernah ia rasakan pada wanita mana pun.

“Tidak akan kubiarkan siapa pun menyentuhmu… Shenina,” gumamnya dalam hati.

“Cobalah…” rahangnya mengeras, “dan orang itu tidak akan hidup lama.”

Leon Karlsson tidak pernah bercanda ketika ia berkata seperti itu.

***

Sementara di sisi lain, Thomas berdiri membatu di balkon ruang kerjanya. Tatapan matanya menatap lurus ke halaman rumah yang gelap. Bukan karena pemandangan malam yang menenangkan...

Melainkan karena apa yang baru saja ia lihat dari balkon sebelah.

Ia menelan ludah untuk kelima kalinya.

Kerongkongannya terasa kering, jantungnya seperti terpukul keras dari dalam.

Di sebelah ruang kerjanya adalah ruang kerja Leon. Dan tadi, tanpa sengaja…

Ia menyaksikan pemandangan panas yang seharusnya tidak boleh ia lihat.

Shenina.

Gadis muda yang tadi menahan tubuhnya saat dadanya sakit. Sekarang ia melihat gadis itu dalam keadaan yang…

Thomas menutup mata sejenak untuk mendesah berat. Perutnya berkontraksi, napasnya tersengal.

Leon mencium Shenina dengan kasar dan rakus, seperti pria muda yang kehilangan akal.

Dan gadis itu membalasnya.

Tidak ada keluguan dan juga rasa takut.

Gadis itu sensual, liar, dan penuh permainan.

Thomas memijat pelipisnya, tetapi matanya tak bisa menghapus adegan tersebut dari kepalanya.

Gadis itu… tubuh itu…

“Dia lebih…” gumam Thomas nyaris tanpa suara.

“…lebih baik dari Maria.”

Itu fakta. Dan ia benci karena tubuh tuanya meresponsnya dengan cara yang memalukan.

Pikirannya kembali ke bayangan kilat saat Shenina memegang Leon.

Cara Leon menekan tubuh gadis itu pada pembatas balkon.

Dan ketika Shenina dengan mata setengah tertutup menggigit leher putra Maria.

Thomas menelan ludah lagi, lebih keras.

Ini benar-benar gila.

Namun mata pria tua itu kini sudah berubah, penuh kilat yang berbahaya.

Di sisi lain, Maria sedang berdiri terpaku di depan pintu ruang kerja Leon yang terbuka separuh.

Napasnya tiba-tiba memburu dengan tangan yang gemetar. Jantungnya berdegup tidak karuan.

Tadinya ia ingin menegur Leon untuk mengingatkan bahwa Shenina tidak boleh berada terlalu dekat.

Wanita itu berbahaya dan penuh ancaman.

Tapi begitu ia mendorong pintu dan melangkah masuk satu langkah...

Ia melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya ambruk dari dalam.

Leon berada di atas tubuh asistennya, dengan cara yang begitu panas, dan agresif.

Suara-suara desahan dan erangan terdengar semakin jelas, menusuk kepala Maria seperti jarum panas.

Matanya membesar. Tangannya mencengkeram gagang pintu. Lututnya kini terasa goyah.

Dan ingatan lama menyerang seperti tsunami. Dulu saat ia sebagai asisten Thomas. Bagaimana ia menggoda pria itu dengan senyum-senyk kecil yang disetel sengaja. Tubuhnya yang ia tawarkan tanpa malu demi meraih hati bosnya.

Dulu, ia juga melakukannya di rumah Thomas dan Briana. Di ruangan yang masih berbau parfum istri sah pria itu.

Dan yang paling menyerang kepalanya sekarang adalah, Briana pernah melihatnya.

Maria memejamkan mata keras-keras.

Suara desahan Shenina kini terasa terlalu mirip dirinya di masa lalu.

“Berani sekali…” suara Maria pecah, bibirnya gemetar.

Ia mundur selangkah, lalu bersandar pada dinding seakan tidak mampu menahan berat tubuhnya.

“…berani sekali mereka melakukannya di rumahku!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   37. Memutuskan Hubungan

    Eren tidak membalas pelukan itu. Hatinya terlalu sakit dengan semua fakta ini, tapi kehadiran Shenina selalu membuatnya kembali luluh. Meski begitu, hati Eren yang menghangat tiba-tiba menjadi dingin.Shenina melepas pelukannya, ia bisa merasakan hawa dingin itu. Shenina mundur beberapa langkah. Ia bahkan tak berani menatap wajah Eren.“Maaf, Eren,” ucap Shenina lirih, menyadari beberapa hal.Ia langsung bergegas hendak pergi. Lagipula jika terus berada di sini, hati nuraninya bisa saja berubah menjadi iba. Jujur saja, Shenina sedikit sulit untuk mengontrol perasaannya. Eren adalah pria baik, tapi kehancuran Eren juga adalah kehancuran Maria yang sangat diinginkan oleh Shenina.Ketika langkah Shenina mulai menjauh, tiba-tiba tubuhnya melayang ke pelukan Eren. Pria itu menariknya lembut lalu memeluk Shenina begitu erat. Eren masih diam seribu bahasa, tapi Shenina bisa merasakan bahunya mulai menghangat. Itu adalah air mata yang menetes dari wajah Eren.Shenina terdiam. Dia seharusnya

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   36. Diselamatkan lagi

    Wajah Shenina nyaris tak bisa menyembunyikan kepuasannya.Dari kejauhan, matanya beberapa kali melirik Maria yang berdiri kaku di antara para tamu. Wanita itu tampak semakin masam, senyumnya kaku, sorot matanya penuh tekanan. Semakin banyak tamu berdatangan, semakin jelas bahwa Maria kehilangan kendali atas pesta Leon dan Shenina. Dan yang paling menyiksa, Maria tidak bisa berbuat apa-apa.Saat Leon tengah sibuk berbincang dengan para relasi bisnis dan para pria penting yang sengaja ia undang untuk menegaskan dominasinya, Shenina melepaskan genggaman lengan suaminya.Ia melangkah pelan menuju arah Maria.Senyum tetap terukir di bibir Shenina.Senyum itu justru membuat Maria ingin merobek wajah Shenina.Langkah Shenina terhenti sejenak ketika melihat beberapa wanita yang seumuran dengan Maria, berbalut perhiasan mencolok dan gaun mahal, mendekati Maria. Tawa mereka dibuat-buat. Gerak-gerik mereka terlalu terlatih.Shenina mengamati dari kejauhan, matanya menyipit tipis. “Para nenek sos

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   35. Ancaman

    “Dan orang itu adalah ibumu, Leon. Maria Karlsson.”Shenina baru tersadar ketika sepasang lengan kuat memeluknya tiba-tiba. “Leon?”Shenina sedikit terkejut. Kalimat itu beruntungnya hanya bergaung di kepalanya. Tapi pelukan ini terasa nyata. Ia bisa merasakan kehangatan yang tulus. “Shenina,” panggil Leon lirih.Pria itu merasakan sesuatu yang perih, sesuatu yang asing, setelah mendengar penderitaan masa kecil Shenina. Ia memeluk istrinya begitu ingin melindungi, meski egonya menolak mengakui bahwa cerita itu benar-benar melukai hatinya.“Aku janji,” ucap Leon tiba-tiba. “Mulai sekarang, kau akan merasakan kebahagiaan.”Nada suaranya tetap datar, namun Shenina mendengar ketulusan yang tak biasa di sana. Meski begitu, Shenina tidak goyah. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan datar.“Kebahagiaanku sudah mati sejak dulu, Leon,” batinnya dingin. “Kini hidupku hanya untuk menghancurkan keluarga kalian.”Ia justru membalas pelukan itu lebih erat, seolah perempuan yang sangat m

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   34. Sisi Lain Shenina

    “Kita tidak akan ke rumah?” tanya Shenina saat mobil yang seharusnya berbelok ke kanan justru melaju lurus.Leon menyetir dengan kecepatan sedang bahkan terlalu pelan untuk ukuran dirinya. Tidak ada lagi raungan mesin dan desakan emosi. Jalanan terasa stabil, cukup membuat napas Shenina kembali teratur, meski sisa trauma masih mengendap di dadanya.“Tidak,” jawab Leon singkat. “Kita ke rumah baru. Kau perlu menenangkan diri dulu.”Kata-kata itu menusuk telinga Shenina. Rumah baru dan ketenangan bukan bagian dari rencananya. Shenina tidak memerlukan semua itu. Justru yang ia tunggu adalah bagian dari menjadi parasit di keluarga Karlsson.Shenina menatap lurus ke depan, lalu suaranya turun menjadi dingin.“Aku kira setelah menikah, aku akan langsung mendapat pengakuan sebagai bagian keluarga Karlsson. Rupanya aku terlalu berharap.”Ia menoleh, menampilkan raut sedih yang nyaris sempurna. Namun Leon tetap menatap jalanan, ekspresinya tak berubah.“Kita akan datang malam ini,” balas Leon

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   33. Pertemuan dan rasa trauma

    Shenina tercekat. Kata-kata seolah lenyap dari tenggorokannya. Seharusnya pertemuan ini membuat Shenina senang atau setidaknya puas. Namun wajah Eren yang pucat dan terluka justru membuat dadanya mengencang tanpa alasan yang ia suka. Eren melangkah mendekat dengan langkah goyah, seolah setiap jarak yang ia tempuh adalah pertaruhan antara harapan dan kenyataan. Dalam benaknya, ia masih berharap ini semua hanya mimpi buruk. “Shenina…” panggil Eren lagi, lirih dan serak. “Eren,” balas Shenina pelan. Satu detik yang hening sebelum akhirnya pecah. Leon menatap Eren dengan sorot tajam yang langsung membeku. “Eren!” sentaknya. Terlalu kaget dan tidak percaya jika adiknya bisa mengenal Shenina. Eren mengangkat wajahnya. Tatapannya yang penuh luka bercampur amarah, kini bertabrakan dengan mata kakaknya. “Leon.” Leon beralih menatap Shenina, dingin, menuntut jawaban. “Kau mengenalnya?” Namun Eren lebih dulu berbicara, emosinya tumpah tanpa kendali. “Tentu saja dia menge

  • Godaan Panas Sang Asisten CEO   32. Kembali ke Austria

    Leon tertidur begitu nyenyak sepanjang perjalanan. Nafasnya teratur, wajahnya terlihat begitu lelah. Shenina menatapnya datar dari samping, tanpa emosi yang jelas terbaca.“Sejak dulu...”Meski kalimat itu keluar dari bibir Leon berjam-jam yang lalu, gema katanya masih berputar-putar di kepala Shenina, menolak pergi. Leon mengaku mencintainya sejak dulu, namun saat Shenina mencoba bertanya lebih jauh, pria itu memilih diam seolah kalimat itu tidak pernah diucapkan.“Ini tidak perlu menjadi pikiran,” gumam Shenina, berulang kali menenangkan dirinya sendiri.Ia hanya perlu fokus pada langkah selanjutnya.Shenina menyandarkan punggung, senyum miring terbit di sudut bibirnya saat membayangkan betapa kacaunya keluarga Karlsson setelah mereka sampai. Retakan yang selama ini ia ciptakan akan segera berubah menjadi kehancuran nyata.“Aku jadi sudah tidak sabar,” bisiknya lirih.Pandangan Shenina kembali jatuh pada Leon. Ia mendekat perlahan, nyaris tanpa suara, lalu mengangkat tangan dan memb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status