INICIAR SESIÓNBianca mengerutkan kening saat melihat mamahnya turun dari sebuah mobil hitam mewah yang berhenti tepat di hadapannya.
“Maaf, Mamah telat,” ucap Yasmin sambil menghampiri putrinya. “Nggak apa-apa. Belum lama kok keluarnya,” balas Bianca. Pandangannya lalu beralih ke pria di sisi Yasmin. “Papahnya Kayla, kan? Kok kalian bisa bareng?” tanyanya, kembali menatap mamahnya. Yasmin melirik Satrio sekilas, lalu menjawab, “Kami nggak sengaja ketemu di supermarket tadi. Jadi Papahnya Kayla nawarin Mamah tumpangan.” “Ohhh .…” Bianca mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. “Kaylanya mana?” tanya Satrio, matanya menyapu sekitar karena belum melihat putrinya. “Belum keluar, Om. Aku juga lagi nungguin Brayan,” jawab Bianca. “Oh …” Satrio membulatkan mulutnya. “Kalau gitu, kita tunggu di mobil saya aja gimana?” tawarnya, karena mereka berdiri tak jauh dari gerbang. Yasmin hendak membuka mulut, namun Bianca lebih dulu angkat suara. “Nggak usah, Om. Bentarnya juga keluar kok,” tolak Bianca sopan. Satrio mengangguk, lalu bersandar santai pada badan mobilnya. Dan benar saja, tak lama kemudian Brayan dan Kayla muncul sambil bergandengan tangan—seolah Brayan menjadi pelindung kecil bagi . “Mamah!” teriak Brayan begitu melihat Yasmin. “Hai,” balas Yasmin sambil melambaikan tangan. “Papaaah!” seru Kayla, lalu melompat ke dalam pelukan ayahnya. “Astaga!” Untung refleks Satrio sigap, sehingga Kayla bisa tertangkap sempurna. “Kamu ini, udah besar masih kayak bocil aja!” “Hahaha … maaf, Papah,” ucap Kayla cekikikan. Hati Yasmin menghangat melihat bagaimana Satrio memperlakukan putrinya—begitu lembut dan penuh perhatian. Sangat berbeda dengan… “Mamah, udah pesen taksi?” Pertanyaan Bianca sontak membuyarkan lamunan Yasmin. “Ah … iya.” Yasmin hendak membuka layar ponselnya, namun Satrio lebih cepat mencegah. “Bareng kita aja,” tawarnya sambil menutup layar ponsel Yasmin. “Hah .…” Yasmin tercengang. “Saya anterin kalian. Kebetulan searah.” “Tapi—" Belum sempat Yasmin menolak, Kayla dan Brayan sudah berseru kegirangan. Kayla bahkan hampir tersungkur karena meloncat turun terlalu cepat dari gendongan ayahnya. “Hati-hati, sayang,” ujar Satrio sambil menggeleng-geleng melihat kelakuan putrinya. “Mamah,” bisik Bianca sambil menarik ujung cardigan Yasmin. “Iya?” Yasmin menoleh. “Nggak apa-apa kita ikut ayahnya Kayla?” tanya Bianca pelan. “Nggak apa-apa, cantik,” jawab Satrio lebih dulu sambil membuka pintu mobil. “Ayo, naik.” Bianca melirik Yasmin. Setelah mendapat anggukan kecil dari mamahnya, ia pun masuk ke dalam mobil. “Yas, mau masuk atau bengong di situ?” sindir Satrio ringan karena Yasmin masih terdiam. “Aah … iya,” gumam Yasmin. Dengan sedikit ragu, ia akhirnya ikut masuk ke dalam mobil itu. Satrio tersenyum penuh arti, lalu menutup pintu mobil dengan hati-hati. Ia berlari kecil mengitari mobil, lalu masuk ke kursi kemudi. “Papah, mampir dulu ke rumah Brayan, ya…” rengek Kayla saat ayahnya sudah duduk di balik kemudi. “Papah masih ada kerjaan, sayang,” jawab Satrio sambil menyalakan mesin mobil. “Yah .…” Kayla mendesah kecewa, lalu kembali duduk rapi di kursi belakang. Satrio melirik Yasmin yang duduk kaku di sampingnya, menatap lurus ke luar jendela. Senyum tipis terbit di bibirnya—melihat betapa canggungnya wanita itu berada di dekatnya. Tidak ada percakapan berarti selama perjalanan, untung ada celotehan Kayla dan Brayan yang membuat suasana terasa lebih hangat. Sepuluh menit kemudian, mobil Satrio berhenti tepat di depan gerbang rumah Yasmin. "Ini rumah kamu, Yas?" tanyanya sambil memperhatikan rumah berlantai dua itu, tampak asri dan ... Hangat. "Iyaa," jawab Yasmin, sambil membuka sabuk pengamannya. Di kursi belakang, Bianca langsung membuka pintu mobil di sampingnya, lalu turun dari sana. "Terima kasih tumpangannya, Om." ucapnya sopan. "Sama-sama," balas Satrio, menoleh kebelakang sambil tersenyum manis. "Mamah aku duluan!" seru Bianca, seraya berlari masuk kedalam rumah dengan terburu-buru. "Ya ampun anak itu ...." Yasmin menggeleng, lalu ikut turun. "Kay, aku pulang dulu." pamit Brayan, turun dari mobil. "Dadah Ian, ketemu lagi besok!" Kayla melambaikan tangannya dengan ceria. Brayan balas melambaikan tangannya, lalu masuk lebih dulu kedalam rumah. Yasmin berdiri di sisi mobil, ia sedikit membungkuk lalu berpamitan kapada Satrio. "Pak Satrio, terima kasih atas tumpangannya." ucapnya tulus. "Sama-sama, Yas. Maaf kami gak bisa mampir dulu," balas Satrio, tatapan matanya tak lepas memandangi Yasmin di balik jendela mobilnya. "Iyaa," Yasmin mengangguk pelan, lalu tersenyum lembut pada Kayla yang sudah berpindah duduk di samping ayahnya. "Kay, Tante pulang dulu." "Dadah, Tante ...." Kayla balas melambai dengan ceria. Yasmin kembali menegakan tubuhnya, mundur dua langkah saat Satrio mulai melajukan mobilnya. Yasmin berdiri di sana sampai mobil Satrio menghilang dari pandangannya. "Haahh ...." Yasmin menghela napas dalam-dalam, kemudian berbalik masuk kedalam gerbang rumahnya. Namun .... Ia ketika menutup pintu gerbangnya kembali, ia reflek menepuk jidatnya sendiri. Ketika teringat sesuatu. "Astaga, belanjaannya!" serunya sambil terkekeh pelan. Bisa-bisanya ia melupakan hal itu. "Biarin sajalah, toh yang bayar pak Satrio juga." gumamnya tak ambil pusing. Yasmin pun kembali melanjutkan langkahnya masuk kedalam rumah, sebentar lagi ia harus memasak makan malam buat keluarga kecilnya. Meskipun ia sendiri masih merasa kenyang. Ohh iyaa, Yasmin tidak jadi mentraktir Satrio, sebab pria itu kembali yang membayarnya. Aneh bukan .... *** Sementara itu Angga berjalan keluar dari dalam lift ke arah lobby perusahaan, di belakangnya... Sabrina dengan setia menjaga jarak dua langkah darinya. "Sore, Mbak-Mbak ...." sapa Angga ramah, saat melewati kedua resepsionis di lobby. Yang langsung mendapat denggusan sebal dari Sabrina. "Sore juga, pak ...." "Mana bekas kotak bekal dari istri saya?" seperti biasa, Angga akan meminta bekas kotak makan siangnya kepada dua perempuan itu. Dua resepsionis itu saling tatap, kemudian kompak menggeleng. "Beliau gak datang, Pak." ucap si rambut pirang. "Gak datang lagi?" tanya Angga dengan kening mengerut. "Iyaa, Pak." Angga terdiam sesaat, sudah beberapa hari Yasmin tidak datang seperti biasanya. "Apa dia jadi jualan kuenya, yaa ...." gumamnya nyaris seperti bisikkan. Ada apa dengan Yasmin? Entah kenapa ... ada sesuatu yang hilang saat wanita itu tidak lagi melakukan kebiasaannya. Perasaan apa ini?"Sayang... buka pintunya..." Angga mengetuk pelan pintu kamar mandi. Tangannya terkepal erat hingga urat-uratnya menonjol jelas.Sudah hampir lima belas menit Yasmin mengurung diri di dalam.Yang membuat dadanya semakin perih adalah suara isakan yang terdengar samar di sela gemericik air shower yang sengaja dinyalakan. Tangisan itu teredam, tapi justru terdengar lebih menyayat."Yasmin... sayang... buka, nanti kamu sakit..." bujuk Angga lagi, suaranya mulai bergetar.Tak ada jawaban. Hanya tangis yang semakin pecah."Yasmin... aku minta maaf, sayang... Tolong jangan siksa diri kamu seperti ini. Kamu mau marah? Pukul aku. Hina aku. Apa pun... asal jangan begini." Suaranya pecah. "Tolong, sayang... jangan siksa diri kamu...""Yasmin... jangan buat aku makin merasa bersalah..." Angga berbalik, menyandarkan punggungnya ke pintu kamar mandi. Perlahan tubuhnya meluruh ke lantai. Ia memeluk lututnya sendiri, napasnya tak teratur."Yasmin... maafkan aku..." jemarinya menjambak rambutnya frust
Angga melepas pelukannya, ia menunduk dalam di hadapan Yasmin. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan, tubuhnya terasa kaku seolah membawa beban berat yang tak bisa ditanggung lagi."Dia pacar gelap kamu?"Deg.Pertanyaan Yasmin mampu membuat jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak. Tubuhnya sedikit menggigil, tangan kanannya menggenggam ujung sprei dengan kuat. "Maaf..." dan akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulutnya—suara yang hampir tak terdengar."Sejak kapan?" tanya Yasmin kembali, nada suaranya semakin dingin dan datar seperti es yang membeku. Matanya menatap Angga dengan pandangan yang menyakitkan, namun tak ada satu pun air mata yang keluar."Satu tahun terakhir..." jawab Angga dengan suara yang terengah-engah, membuat dada Yasmin sesak seperti di timpa beban berat yang tak tertahankan. Ia merasa dunia seolah runtuh di depannya—setahun lamanya dia merasa ada yang salah namun selalu membujuk diri sendiri bahwa itu hanya khayalan."Kalian... Sudah tidur bersama?" pe
Satrio menepikan mobilnya di komplek perumahan Yasmin, hanya terhalang tiga rumah lagi dengan rumahnya. "Kamu yakin mau pulang, sayang?" Satrio menoleh, bertanya dengan nada lembut. Yasmin balas menatapnya, kemudian mengangguk mantap. "Iyaa, gak baik lari dari masalah." "Heemm," Satrio mengulurkan tangannya, mengusap wajah kekasihnya dengan lembut. "Pikirkan baik-baik tawaran aku sayang, aku sedang proses cerai kita bisa bersama nanti." Yasmin hanya terdiam menatapnya, bingung harus menjawab apa. "Pelan-pelan aja sayang... Aku pasti bakal nungguin kamu." ucap Satrio lagi, yang kini di balas anggukan oleh Yasmin."Iyaa, aku pulang dulu." Yasmin menurunkan tangan Satrio dari wajahnya, kemudian berbalik membuka pintu mobil di sampingnya. Satrio menatap kepergian Yasmin dengan kedua tangannya yang terkepal erat, ingin sekali rasanya ia menahan wanita itu. Tapi ia sadar... Yasmin harus nyelesaikan masalahnya bukannya lari dari masalah. Satrio berdiam dengan mesin dan lampu mobilnya
Angga melangkah lebar masuk kedalam rumahnya, setelah tadi sore tidak menemukan Yasmin, Angga segera pulang kembali ke rumahnya tanpa memperdulikan Sabrina yang menahannya di rumah ibunya.Angga membuka pintu dengan kasar, pelat pintunya berdengung keras menyambut pukulan tangannya. Ia berlari cepat menaiki tangga yang berderak keras di bawah tapak kakinya, langsung ke arah kamarnya di lantai dua."Yasmin!" panggil Angga dengan napas memburu ketika membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa. Udara di kamar terasa sejuk dan sunyi, tidak ada satu pun bau parfum kesukaan Yasmin yang biasanya memenuhi ruangan itu.Kosong.Ranjangnya masih rapi seperti baru saja disusun, seprai putihnya rata tanpa sedikit pun kerutan. Tidak ada suara atau sosok sang istri di sana—tidak ada jejak bahwa ia pernah berada di kamar itu sejak pagi hari.Angga mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar dengan mata yang penuh kegelisahan. Ia melihat lemari pakaian masih tertutup rapat, meja riasnya rapi tanp
Satrio memarkirkan mobilnya asal di depan rumah yang biasa ia datangi bersama Yasmin. Pintu mobil bahkan tak ia tutup dengan benar. Ia melangkah lebar memasuki rumah yang dari luar tampak gelap dan sunyi, membuat dadanya semakin dipenuhi rasa cemas."Yasmin!" panggil Satrio dengan napas memburu, suaranya menggema di dalam rumah yang hening. Matanya menelisik ke segala penjuru, mencari keberadaan wanita yang begitu ia khawatirkan."Yasmin!"Tak ada sahutan. Keheningan itu justru terasa menyesakkan.Dengan tangan sedikit gemetar, Satrio menyalakan lampu ruang utama. Seketika cahaya menerangi ruangan—dan di sanalah Yasmin terlihat, duduk di lantai bersandar pada sofa, memeluk lututnya sendiri dalam gelap yang tadi menyelimutinya."Sayang..." Suara Satrio melembut seketika. Ia segera menghampiri, berlutut di hadapan Yasmin. "Yas... kamu kenapa?" tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran.Saat Yasmin mengangkat wajahnya, hati Satrio seperti diremas kuat. Wajah itu sembab, mata memerah, pipin
Yasmin memandang dua sosok yang tengah tertawa bersama di ruang tamu rumah mertuanya, acara arisan sejak tadi sudah selesai, tapi wanita itu belum juga beranjak dari sana.Dan itu membuatnya semakin muak dan sesak."Yaampun... Tante juga aslinya dari sana," ucap Utari berseru heboh."Iyaa kah, Tante?" Sabrina pura-pura menutup mulutnya, terkaget-kaget. "Yaampun, ternyata kita satu daerah...""Heemmm," Utari mengangguk semangat. "Kayaknya nanti kalo mudik kita bisa barengan.""Boleh banget, Tente..." Sabrina tersenyum lembut.Namun yang terlihat oleh Yasmin, itu adalah senyum penuh kepalsuan.Tak tahan, Yasmin mengeluarkan ponselnya, lalu memotret momen dua orang itu. Mengirimkannya kepada Angga.Yasmin ingin tau reaksi Angga saat mengetahui kekasih gelapnya bersama ibunya, bahkan sangat terlihat akrab. Berbeda dengan dirinya... Yang hanya terlihat sebagai bayangan di sana."Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Sabrina?" gumamnya dengan menahan perih yang terus menggerogoti hatinya.Yasm
Yasmin meraba bibirnya yang sedikit bengkak akibat ciumannya tadi bersama Satrio, entah ada di mana akal sehatnya saat itu, karena bukannya menghindar, Yasmin malah ikut terhanyut. Untung saja tidak ada yang memergoki mereka, karena anak-anak sibuk dengan permainannya sendiri. Keduanya tersadar sa
Satrio mengusap lembut lengan polos Yasmin yang masih berada dalam pelukannya. Setelah pelepasannya di mobil tadi, Yasmin langsung terlelap, napasnya teratur, wajahnya tampak lelah namun tenang. Namun yang jelas ada rasa puas di raut wajahnya itu. Kasihan melihat Yasmin yang terlihat tidak nyama
Yasmin mengerutkan keningnya, saat melihat Angga yang baru saja masuk kedapur sambil mendorong sebuah koper kecil di tangannya. "Kamu mau kemana, Mas?" tanya Yasmin. Angga menaruh kopernya di pojokan dapur, lalu duduk di kursinya. "Ada kerjaan di luar kota," jawabnya, lalu meraih kopi yang sudah







