共有

Bab 9

作者: Neng_gemoyy
last update 公開日: 2025-12-20 07:16:51

“Ah, maaf,”

Satrio yang pertama memutuskan tatapan. Ia berdiri lebih dulu, lalu mengambil dompet Yasmin dan menyerahkannya kembali.

“Terima kasih,” ucap Yasmin sambil menerimanya.

keduanya kembali menegakan tubuhnya, berdiri dengan sama-sama merasa canggung.

“Iya,” sahut Satrio singkat, mengusap tengkuknya—jelas salah tingkah.

“Ahhh, Ini uang yang tadi,” Yasmin menyodorkan uang yang sejak awal sudah ia siapkan.

Di kasir tadi, Satrio bersikeras membayar seluruh belanjaan mereka, meski Yasmin sudah berusaha menolak.

“Nggak usah. Saya ikhlas kok,” tolak Satrio halus, sambil mendorong pelan tangan Yasmin.

“Nggak bisa gitu dong, Pak. Ini belanjaan saya, harus saya yang bayar.”

“Nggak apa-apa, Mamahnya temannya Kayla. Nggak seberapa,” tolaknya sedikit sombong.

“Nggak bisa dong, Papahnya Kayla. Saya nggak mau berutang nantinya, saya gak enak.” kekeh Yasmin.

“Serius, nggak usah. Anggap saja rezeki.”

“Saya maunya bayar, Papahnya Kayla.”

“Nggak usah, Mamahnya temannya Kayla.”

Perdebatan kecil pun tak terhindarkan. Keduanya sama-sama keras kepala, tak ada yang mau mengalah—tanpa sadar telah menjadi pusat perhatian orang-orang yang lalu-lalang di sekitar mereka.

Yang lebih aneh lagi, mereka terus saling menyebut berdasarkan status anak masing-masing. Sadar atau tidak, keduanya bahkan belum saling memperkenalkan diri.

“Oke! Gini saja.” Satrio mengangkat kedua tangannya, menyerah. “Tolong traktir saya makan. Gimana?” usulnya.

Bagaimanapun, Satrio pantang menerima uang dari seorang wanita. Harga diri bro!

“Traktir .…” Yasmin mengulang pelan.

Satrio mengangguk, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Iya. Jadi kita impas.”

“ …, ”

Yasmin terdiam sejenak. Ia melirik jam di pergelangan tangannya—masih ada satu jam sebelum anak-anak pulang.

“Bagaimana?” tanya Satrio, membuyarkan lamunannya.

Yasmin berkedip pelan, lalu mengangguk. “Baiklah. Tapi jangan lama-lama. Saya harus jemput anak-anak,” putusnya akhirnya.

Senyum Satrio langsung mengembang penuh kemenangan. “Tentu saja.”

Yasmin kembali mengangguk, namun langsung membelalakkan mata ketika Satrio tiba-tiba mengambil belanjaannya.

“Eh, itu—”

“Saya yang bawa, ayo!” ajak Satrio santai, melenggang membawa belanjaan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari pintu masuk.

“Ck, dasar pemaksaan .…” gumam Yasmin lirih, mau tak mau mengikuti langkah ayah Kayla itu.

Satrio membawa Yasmin ke sebuah restoran yang tak jauh dari supermarket. Begitu duduk di salah satu meja, pria itu langsung sibuk memesan berbagai menu tanpa banyak pertimbangan.

Sementara itu, Yasmin mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dari interior restoran saja sudah terlihat—harga makanan di tempat itu pasti tidak murah. Ia sempat mengintip isi dompetnya, cemas uang yang dibawanya tidak cukup.

Saldo ATM-nya pun tinggal sedikit. Maklum, sudah akhir bulan.

“Kamu mau makan apa—” Satrio menggantung ucapannya, seolah baru teringat sesuatu. “Eh… kita belum kenalan.”

“Hah?”

“Saya Satrio,” ujarnya sambil tersenyum lembut dan mengulurkan tangan. mengabaikan raut bingung Yasmin. “Papahnya Kayla.”

Yasmin sempat tertegun oleh senyum itu. Namun ia cepat tersadar, lalu menyambut uluran tangan Satrio.

Dengan sedikit malu-malu, ia menyebutkan namanya.

“Yasmin.”

“Hemmm … nama yang cantik,” ujar Satrio sambil tersenyum semakin lebar. “Secantik orangnya.”

Yasmin tersipu. “Terima kasih.”

Satrio mengulum senyum, merasa gemas melihat reaksi Yasmin. “Menggemaskan,” gumamnya tanpa sadar.

“Ini kita mau makan, apa mau diam terus kayak gini?” Yasmin melirik jam tangannya. Tak lama lagi jam pulang anak-anak.

“Oh … iya. Maaf,” Satrio tersadar dari lamunannya, lalu kembali membuka buku menu.

Ia melambaikan tangan pada pelayan yang sejak tadi berdiri tak jauh dari meja mereka, lalu menyebutkan pesanan yang tadi ia pilih.

Tak berselang lama, hidangan pun satu per satu dihidangkan.

Yasmin menelan ludah dengan susah payah melihat deretan makanan di hadapannya.

Udang asam manis, sambal cumi mercon, iga bakar jeruk limau dengan sambal dabu-dabu, rawon, dan tiga menu pelengkap lainnya.

berapa billnya nanti? Yasmin sudah panas dingin duluan membayangkannya.

“In i… yakin habis?” tanya Yasmin dengan ekspresi tak percaya.

“Yakinlah. Saya lapar,” sahut Satrio santai sambil menggosokkan kedua telapak tangannya, tampak tak sabar menyantap makanan.

“Ah… iya. Silakan,” ujar Yasmin, lalu mengambil sendok dan mulai menyuapkan makanannya.

. Keduanya makan dalam diam, sesekali saling melempar senyum ketika pandangan mereka tak sengaja bertubrukan.

Yasmin menyantap makanannya dengan lahap. Entah mengapa, rasanya begitu nikmat—padahal biasanya apa pun yang masuk ke mulutnya terasa hambar.

“Mau tambah lagi?” tawar Satrio saat melihat piring Yasmin hampir bersih.

Yasmin mengalihkan pandangannya dari piring, lalu menggeleng pelan. “Tidak, terima kasih. Saya sudah kenyang,” tolaknya halus.

Satrio mengangguk, lalu meraih gelas air mineral dan meneguknya hingga tandas. Tatapannya tak lepas dari wanita di hadapannya.

Drttt… drttt…

Getaran ponsel memecah keheningan. Dengan sedikit malas, Satrio meraihnya. Alisnya berkerut, tanpa sadar ia berdecak saat melihat nama yang tertera di layar.

“Kok nggak diangkat?” tanya Yasmin heran, karena Satrio justru membalik ponselnya.

“Nggak penting,” jawab Satrio santai. “Ayo, habiskan makan kamu."

Yasmin mengangguk pelan. Pandangannya lalu beralih ke luar jendela kaca besar di samping mereka. Dari sana, ia bisa melihat jelas suasana di seberang jalan.

Hingga .…

Mata Yasmin tak sengaja menangkap sosok yang begitu ia kenal, baru saja keluar dari sebuah toko perhiasan tepat di seberang restoran.

Angga berjalan santai dengan sebuah paper bag kecil di tangannya. Senyum tipis tak lepas dari bibirnya.

Seketika, senyum Yasmin pun mengembang.

Hari ini peringatan pernikahan kami… mungkinkah Mas Angga sedang menyiapkan hadiah untukku? gumamnya dalam hati.

Jika benar demikian, Yasmin mendadak tak sabar menunggu suaminya pulang nanti.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Godaan Papa Teman Anakku   perceraian

    "Sayang... buka pintunya..." Angga mengetuk pelan pintu kamar mandi. Tangannya terkepal erat hingga urat-uratnya menonjol jelas.Sudah hampir lima belas menit Yasmin mengurung diri di dalam.Yang membuat dadanya semakin perih adalah suara isakan yang terdengar samar di sela gemericik air shower yang sengaja dinyalakan. Tangisan itu teredam, tapi justru terdengar lebih menyayat."Yasmin... sayang... buka, nanti kamu sakit..." bujuk Angga lagi, suaranya mulai bergetar.Tak ada jawaban. Hanya tangis yang semakin pecah."Yasmin... aku minta maaf, sayang... Tolong jangan siksa diri kamu seperti ini. Kamu mau marah? Pukul aku. Hina aku. Apa pun... asal jangan begini." Suaranya pecah. "Tolong, sayang... jangan siksa diri kamu...""Yasmin... jangan buat aku makin merasa bersalah..." Angga berbalik, menyandarkan punggungnya ke pintu kamar mandi. Perlahan tubuhnya meluruh ke lantai. Ia memeluk lututnya sendiri, napasnya tak teratur."Yasmin... maafkan aku..." jemarinya menjambak rambutnya frust

  • Godaan Papa Teman Anakku   kabar yang menyakitkan

    Angga melepas pelukannya, ia menunduk dalam di hadapan Yasmin. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan, tubuhnya terasa kaku seolah membawa beban berat yang tak bisa ditanggung lagi."Dia pacar gelap kamu?"Deg.Pertanyaan Yasmin mampu membuat jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak. Tubuhnya sedikit menggigil, tangan kanannya menggenggam ujung sprei dengan kuat. "Maaf..." dan akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulutnya—suara yang hampir tak terdengar."Sejak kapan?" tanya Yasmin kembali, nada suaranya semakin dingin dan datar seperti es yang membeku. Matanya menatap Angga dengan pandangan yang menyakitkan, namun tak ada satu pun air mata yang keluar."Satu tahun terakhir..." jawab Angga dengan suara yang terengah-engah, membuat dada Yasmin sesak seperti di timpa beban berat yang tak tertahankan. Ia merasa dunia seolah runtuh di depannya—setahun lamanya dia merasa ada yang salah namun selalu membujuk diri sendiri bahwa itu hanya khayalan."Kalian... Sudah tidur bersama?" pe

  • Godaan Papa Teman Anakku   Yasmin pulang

    Satrio menepikan mobilnya di komplek perumahan Yasmin, hanya terhalang tiga rumah lagi dengan rumahnya. "Kamu yakin mau pulang, sayang?" Satrio menoleh, bertanya dengan nada lembut. Yasmin balas menatapnya, kemudian mengangguk mantap. "Iyaa, gak baik lari dari masalah." "Heemm," Satrio mengulurkan tangannya, mengusap wajah kekasihnya dengan lembut. "Pikirkan baik-baik tawaran aku sayang, aku sedang proses cerai kita bisa bersama nanti." Yasmin hanya terdiam menatapnya, bingung harus menjawab apa. "Pelan-pelan aja sayang... Aku pasti bakal nungguin kamu." ucap Satrio lagi, yang kini di balas anggukan oleh Yasmin."Iyaa, aku pulang dulu." Yasmin menurunkan tangan Satrio dari wajahnya, kemudian berbalik membuka pintu mobil di sampingnya. Satrio menatap kepergian Yasmin dengan kedua tangannya yang terkepal erat, ingin sekali rasanya ia menahan wanita itu. Tapi ia sadar... Yasmin harus nyelesaikan masalahnya bukannya lari dari masalah. Satrio berdiam dengan mesin dan lampu mobilnya

  • Godaan Papa Teman Anakku   penyesalan Angga

    Angga melangkah lebar masuk kedalam rumahnya, setelah tadi sore tidak menemukan Yasmin, Angga segera pulang kembali ke rumahnya tanpa memperdulikan Sabrina yang menahannya di rumah ibunya.Angga membuka pintu dengan kasar, pelat pintunya berdengung keras menyambut pukulan tangannya. Ia berlari cepat menaiki tangga yang berderak keras di bawah tapak kakinya, langsung ke arah kamarnya di lantai dua."Yasmin!" panggil Angga dengan napas memburu ketika membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa. Udara di kamar terasa sejuk dan sunyi, tidak ada satu pun bau parfum kesukaan Yasmin yang biasanya memenuhi ruangan itu.Kosong.Ranjangnya masih rapi seperti baru saja disusun, seprai putihnya rata tanpa sedikit pun kerutan. Tidak ada suara atau sosok sang istri di sana—tidak ada jejak bahwa ia pernah berada di kamar itu sejak pagi hari.Angga mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar dengan mata yang penuh kegelisahan. Ia melihat lemari pakaian masih tertutup rapat, meja riasnya rapi tanp

  • Godaan Papa Teman Anakku   pilihan Yasmin

    Satrio memarkirkan mobilnya asal di depan rumah yang biasa ia datangi bersama Yasmin. Pintu mobil bahkan tak ia tutup dengan benar. Ia melangkah lebar memasuki rumah yang dari luar tampak gelap dan sunyi, membuat dadanya semakin dipenuhi rasa cemas."Yasmin!" panggil Satrio dengan napas memburu, suaranya menggema di dalam rumah yang hening. Matanya menelisik ke segala penjuru, mencari keberadaan wanita yang begitu ia khawatirkan."Yasmin!"Tak ada sahutan. Keheningan itu justru terasa menyesakkan.Dengan tangan sedikit gemetar, Satrio menyalakan lampu ruang utama. Seketika cahaya menerangi ruangan—dan di sanalah Yasmin terlihat, duduk di lantai bersandar pada sofa, memeluk lututnya sendiri dalam gelap yang tadi menyelimutinya."Sayang..." Suara Satrio melembut seketika. Ia segera menghampiri, berlutut di hadapan Yasmin. "Yas... kamu kenapa?" tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran.Saat Yasmin mengangkat wajahnya, hati Satrio seperti diremas kuat. Wajah itu sembab, mata memerah, pipin

  • Godaan Papa Teman Anakku   telpon dari Yasmin

    Yasmin memandang dua sosok yang tengah tertawa bersama di ruang tamu rumah mertuanya, acara arisan sejak tadi sudah selesai, tapi wanita itu belum juga beranjak dari sana.Dan itu membuatnya semakin muak dan sesak."Yaampun... Tante juga aslinya dari sana," ucap Utari berseru heboh."Iyaa kah, Tante?" Sabrina pura-pura menutup mulutnya, terkaget-kaget. "Yaampun, ternyata kita satu daerah...""Heemmm," Utari mengangguk semangat. "Kayaknya nanti kalo mudik kita bisa barengan.""Boleh banget, Tente..." Sabrina tersenyum lembut.Namun yang terlihat oleh Yasmin, itu adalah senyum penuh kepalsuan.Tak tahan, Yasmin mengeluarkan ponselnya, lalu memotret momen dua orang itu. Mengirimkannya kepada Angga.Yasmin ingin tau reaksi Angga saat mengetahui kekasih gelapnya bersama ibunya, bahkan sangat terlihat akrab. Berbeda dengan dirinya... Yang hanya terlihat sebagai bayangan di sana."Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Sabrina?" gumamnya dengan menahan perih yang terus menggerogoti hatinya.Yasm

  • Godaan Papa Teman Anakku   Bab 14

    Satrio mengusap lembut lengan polos Yasmin yang masih berada dalam pelukannya. Setelah pelepasannya di mobil tadi, Yasmin langsung terlelap, napasnya teratur, wajahnya tampak lelah namun tenang. Namun yang jelas ada rasa puas di raut wajahnya itu. Kasihan melihat Yasmin yang terlihat tidak nyama

    last update最終更新日 : 2026-03-17
  • Godaan Papa Teman Anakku   Bab 12

    Yasmin mengerutkan keningnya, saat melihat Angga yang baru saja masuk kedapur sambil mendorong sebuah koper kecil di tangannya. "Kamu mau kemana, Mas?" tanya Yasmin. Angga menaruh kopernya di pojokan dapur, lalu duduk di kursinya. "Ada kerjaan di luar kota," jawabnya, lalu meraih kopi yang sudah

    last update最終更新日 : 2026-03-17
  • Godaan Papa Teman Anakku   Bab 13

    Yasmin meraba bibirnya yang sedikit bengkak akibat ciumannya tadi bersama Satrio, entah ada di mana akal sehatnya saat itu, karena bukannya menghindar, Yasmin malah ikut terhanyut. Untung saja tidak ada yang memergoki mereka, karena anak-anak sibuk dengan permainannya sendiri. Keduanya tersadar sa

    last update最終更新日 : 2026-03-17
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status