INICIAR SESIÓN“Ah, maaf,”
Satrio yang pertama memutuskan tatapan. Ia berdiri lebih dulu, lalu mengambil dompet Yasmin dan menyerahkannya kembali. “Terima kasih,” ucap Yasmin sambil menerimanya. keduanya kembali menegakan tubuhnya, berdiri dengan sama-sama merasa canggung. “Iya,” sahut Satrio singkat, mengusap tengkuknya—jelas salah tingkah. “Ahhh, Ini uang yang tadi,” Yasmin menyodorkan uang yang sejak awal sudah ia siapkan. Di kasir tadi, Satrio bersikeras membayar seluruh belanjaan mereka, meski Yasmin sudah berusaha menolak. “Nggak usah. Saya ikhlas kok,” tolak Satrio halus, sambil mendorong pelan tangan Yasmin. “Nggak bisa gitu dong, Pak. Ini belanjaan saya, harus saya yang bayar.” “Nggak apa-apa, Mamahnya temannya Kayla. Nggak seberapa,” tolaknya sedikit sombong. “Nggak bisa dong, Papahnya Kayla. Saya nggak mau berutang nantinya, saya gak enak.” kekeh Yasmin. “Serius, nggak usah. Anggap saja rezeki.” “Saya maunya bayar, Papahnya Kayla.” “Nggak usah, Mamahnya temannya Kayla.” Perdebatan kecil pun tak terhindarkan. Keduanya sama-sama keras kepala, tak ada yang mau mengalah—tanpa sadar telah menjadi pusat perhatian orang-orang yang lalu-lalang di sekitar mereka. Yang lebih aneh lagi, mereka terus saling menyebut berdasarkan status anak masing-masing. Sadar atau tidak, keduanya bahkan belum saling memperkenalkan diri. “Oke! Gini saja.” Satrio mengangkat kedua tangannya, menyerah. “Tolong traktir saya makan. Gimana?” usulnya. Bagaimanapun, Satrio pantang menerima uang dari seorang wanita. Harga diri bro! “Traktir .…” Yasmin mengulang pelan. Satrio mengangguk, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Iya. Jadi kita impas.” “ …, ” Yasmin terdiam sejenak. Ia melirik jam di pergelangan tangannya—masih ada satu jam sebelum anak-anak pulang. “Bagaimana?” tanya Satrio, membuyarkan lamunannya. Yasmin berkedip pelan, lalu mengangguk. “Baiklah. Tapi jangan lama-lama. Saya harus jemput anak-anak,” putusnya akhirnya. Senyum Satrio langsung mengembang penuh kemenangan. “Tentu saja.” Yasmin kembali mengangguk, namun langsung membelalakkan mata ketika Satrio tiba-tiba mengambil belanjaannya. “Eh, itu—” “Saya yang bawa, ayo!” ajak Satrio santai, melenggang membawa belanjaan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari pintu masuk. “Ck, dasar pemaksaan .…” gumam Yasmin lirih, mau tak mau mengikuti langkah ayah Kayla itu. Satrio membawa Yasmin ke sebuah restoran yang tak jauh dari supermarket. Begitu duduk di salah satu meja, pria itu langsung sibuk memesan berbagai menu tanpa banyak pertimbangan. Sementara itu, Yasmin mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dari interior restoran saja sudah terlihat—harga makanan di tempat itu pasti tidak murah. Ia sempat mengintip isi dompetnya, cemas uang yang dibawanya tidak cukup. Saldo ATM-nya pun tinggal sedikit. Maklum, sudah akhir bulan. “Kamu mau makan apa—” Satrio menggantung ucapannya, seolah baru teringat sesuatu. “Eh… kita belum kenalan.” “Hah?” “Saya Satrio,” ujarnya sambil tersenyum lembut dan mengulurkan tangan. mengabaikan raut bingung Yasmin. “Papahnya Kayla.” Yasmin sempat tertegun oleh senyum itu. Namun ia cepat tersadar, lalu menyambut uluran tangan Satrio. Dengan sedikit malu-malu, ia menyebutkan namanya. “Yasmin.” “Hemmm … nama yang cantik,” ujar Satrio sambil tersenyum semakin lebar. “Secantik orangnya.” Yasmin tersipu. “Terima kasih.” Satrio mengulum senyum, merasa gemas melihat reaksi Yasmin. “Menggemaskan,” gumamnya tanpa sadar. “Ini kita mau makan, apa mau diam terus kayak gini?” Yasmin melirik jam tangannya. Tak lama lagi jam pulang anak-anak. “Oh … iya. Maaf,” Satrio tersadar dari lamunannya, lalu kembali membuka buku menu. Ia melambaikan tangan pada pelayan yang sejak tadi berdiri tak jauh dari meja mereka, lalu menyebutkan pesanan yang tadi ia pilih. Tak berselang lama, hidangan pun satu per satu dihidangkan. Yasmin menelan ludah dengan susah payah melihat deretan makanan di hadapannya. Udang asam manis, sambal cumi mercon, iga bakar jeruk limau dengan sambal dabu-dabu, rawon, dan tiga menu pelengkap lainnya. berapa billnya nanti? Yasmin sudah panas dingin duluan membayangkannya. “In i… yakin habis?” tanya Yasmin dengan ekspresi tak percaya. “Yakinlah. Saya lapar,” sahut Satrio santai sambil menggosokkan kedua telapak tangannya, tampak tak sabar menyantap makanan. “Ah… iya. Silakan,” ujar Yasmin, lalu mengambil sendok dan mulai menyuapkan makanannya. . Keduanya makan dalam diam, sesekali saling melempar senyum ketika pandangan mereka tak sengaja bertubrukan. Yasmin menyantap makanannya dengan lahap. Entah mengapa, rasanya begitu nikmat—padahal biasanya apa pun yang masuk ke mulutnya terasa hambar. “Mau tambah lagi?” tawar Satrio saat melihat piring Yasmin hampir bersih. Yasmin mengalihkan pandangannya dari piring, lalu menggeleng pelan. “Tidak, terima kasih. Saya sudah kenyang,” tolaknya halus. Satrio mengangguk, lalu meraih gelas air mineral dan meneguknya hingga tandas. Tatapannya tak lepas dari wanita di hadapannya. Drttt… drttt… Getaran ponsel memecah keheningan. Dengan sedikit malas, Satrio meraihnya. Alisnya berkerut, tanpa sadar ia berdecak saat melihat nama yang tertera di layar. “Kok nggak diangkat?” tanya Yasmin heran, karena Satrio justru membalik ponselnya. “Nggak penting,” jawab Satrio santai. “Ayo, habiskan makan kamu." Yasmin mengangguk pelan. Pandangannya lalu beralih ke luar jendela kaca besar di samping mereka. Dari sana, ia bisa melihat jelas suasana di seberang jalan. Hingga .… Mata Yasmin tak sengaja menangkap sosok yang begitu ia kenal, baru saja keluar dari sebuah toko perhiasan tepat di seberang restoran. Angga berjalan santai dengan sebuah paper bag kecil di tangannya. Senyum tipis tak lepas dari bibirnya. Seketika, senyum Yasmin pun mengembang. Hari ini peringatan pernikahan kami… mungkinkah Mas Angga sedang menyiapkan hadiah untukku? gumamnya dalam hati. Jika benar demikian, Yasmin mendadak tak sabar menunggu suaminya pulang nanti.Pagi ini ada yang sedikit berbeda, Yasmin keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian rapi sambil mengusap rambutnya yang setengah basah. Angga yang tengah memasang dasi mengerutkan keningnya melihat penampilan sang istri. "Kamu mau kemana?" tanyanya penasaran. "Liburan." jawab Yasmin cuek. "Liburan?" Angga mengulang kata itu. "Liburan kemana?""Jogja." jawab Yasmin tanpa menoleh sedikitpun. Lalu ia dengan santai berjalan ke meja riasnya, mulai memakai perlengkapan make-up yang sudah hampir berjemur itu dengan terampil. Entah kapan terakhir kali ia berdandan, haahh... Rasanya sudah lama sekali. Angga terus mengikuti apapun yang tengah istrinya lakukan, heran tentu saja... Heran bin ajaib. "Kalo kamu pergi, anak-anak gimana?" tanya Angga, membuat Yasmin menoleh sekilas padanya. "Aku titipin sama bi Iroh."Bi Iroh adalah wanita tua yang sering datang kerumahnya, untuk membantu Yasmin menyetrika yang datang tiga hari sekali. "Bi iroh? Kamu yakin?" tanya Angga tak percaya, seben
Pukul sebelas malam, Angga baru saja tiba di rumahnya. Ia melangkah masuk sambil menarik kopernya dengan santai, tanpa perlu mengetuk atau menekan bel, sebab ia selalu membawa kunci cadangan setiap kali pergi ke luar kota.Hampir satu minggu ia pergi, dan selama itu pula ia tidak pernah mengabari ataupun menanyakan keadaan anak dan istrinya. Bukannya tidak mau… hanya saja Sabrina menyita ponselnya selama liburan kemarin. Katanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. Ah, kekasihnya itu memang sangat menggemaskan.“Kamu sudah pulang?”Langkah Angga terhenti saat hendak menaiki tangga. Ia menoleh dan mendapati Yasmin berdiri di ambang pintu dapur.Sepertinya istrinya itu terbangun karena kehausan, terlihat dari gelas berisi penuh di tangannya.“Kamu belum tidur?” Angga malah balik bertanya.“Haus,” jawab Yasmin sambil mengangkat gelasnya sedikit.“Oh,” Angga mengangguk, lalu kembali melanjutkan langkahnya.“Ponsel kamu digadaikan?”Deg.Pertanyaan sarkas Yasmin membuat langka
Satrio mengusap lembut lengan polos Yasmin yang masih berada dalam pelukannya. Setelah pelepasannya di mobil tadi, Yasmin langsung terlelap, napasnya teratur, wajahnya tampak lelah namun tenang. Namun yang jelas ada rasa puas di raut wajahnya itu. Kasihan melihat Yasmin yang terlihat tidak nyaman tertidur di kursi mobil, Satrio akhirnya membopongnya masuk ke dalam rumahnya yang masih kosong, hanya beberapa perabotan yang menandakan tempat itu belum dihuni. Ia membaringkan Yasmin perlahan di atas ranjangnya. “Emmmh .…” Yasmin melenguh pelan dalam tidurnya. Tanpa sadar ia berbalik, menyusupkan wajahnya ke dada bidang Satrio, seolah mencari rasa aman. Tangannya melingkar erat, memeluk tubuh kokoh itu dengan refleks yang jujur. “Bangun, Yas .…” bisik Satrio sambil mengecup lembut puncak kepala Yasmin. “Heemmm…” Yasmin hanya bergumam, matanya tetap terpejam. Satrio tersenyum kecil, gemas dengan wajah damai Yasmin, ia dengan sengaja meremas bokong wanita itu, hingga membuat Yasmin t
Yasmin meraba bibirnya yang sedikit bengkak akibat ciumannya tadi bersama Satrio, entah ada di mana akal sehatnya saat itu, karena bukannya menghindar, Yasmin malah ikut terhanyut. Untung saja tidak ada yang memergoki mereka, karena anak-anak sibuk dengan permainannya sendiri. Keduanya tersadar saat Satrio mulai menggesek miliknya di paha dalam Yasmin, dan langsung membuatnya sadar kemudian meninggalkan Satrio. "Mah, Mamah!"Panggilan dan tepukan dari Bianca mampu menyadarkan Yasmin dari lamunannya, ia mengerjap pelan, lalu menoleh kepada putrinya itu. "Kenapa, Kak?" "Mamah kenapa bengong?" tanya Bianca menatap mamahnya dengan intens. Yasmin menggeleng pelan. "Gak apa-apa, kak. Ada apa?" tanyanya kemudian. Bianca duduk di samping mamahnya, lalu bersandar di bahu ringkih sang mamah. "Lagi pengen manja aja," ucapnya dengan manja, sambil bergelayut di lengan Yasmin. Yasmin tertawa kecil, lalu mencium pelipis Bianca dengan sayang. "Maaf, yaa... Mamah kurang perhatian sama kalian,"
Yasmin mengerutkan keningnya, saat melihat Angga yang baru saja masuk kedapur sambil mendorong sebuah koper kecil di tangannya. "Kamu mau kemana, Mas?" tanya Yasmin. Angga menaruh kopernya di pojokan dapur, lalu duduk di kursinya. "Ada kerjaan di luar kota," jawabnya, lalu meraih kopi yang sudah di sudah di siapkan Yasmin. "Tumben dadakan?" tanya Yasmin heran. Biasanya Angga akan memberitahunya tiga hari sebelumnya, untuk mempersiapkan keperluannya selama pergi. "Iya, ini perintah dadakan." jawab Angga, lalu sibuk dengan ponselnya. Yasmin mengangkat bahunya acuh, lalu menyiapkan sarapan mereka satu persatu. "Makan yang banyak, sayang." ucapnya, sambil mengelus kepala Brayan. "Iyaa, Mamah." "Good, boy."Setelah semuanya mendapat bagiannya, baru ia duduk dan mulai menyantap lontong kari menu sarapannya pagi ini. Semuanya nampak lahap menyantap sarapannya, memang masakan Yasmin tidak ada duanya. Sangat pas di lidah semua orang. Semuanya makan dalam senyap, hanya ada suara dent
Pukul sepuluh malam Angga baru sampai di rumah, saat akan naik ke lantai dua, tak sengaja matanya melirik ke arah dapur yang lampunya masih menyala. Tanpa sadar ia pun melangkah ke arah sana. Dan dilihatnya Yasmin yang tengah duduk sambil menikmati secangkir teh, sepertinya... "Kamu belum tidur?" tanya Angga, lalu menarik kursi di hadapan istrinya. Yasmin mengalihkan pandangannya dari cangkir yang ia pegang, lalu mengangguk pelan. "Gak bisa tidur, jadi bikin teh camomile. Mas mau?" tawarnya basa-basi. Namun siapa sangka Angga mengiyakannya. "Boleh," "Iya," Yasmin pun beranjak, membuatkan teh yang sama buat Angga. Angga menatap punggung Yasmin yang tengah memunggunginya, sambil menuang air panas kedalam cangkir yang sudah di isi teh camomile. "Kamu sibuk?" tanya Angga, membuat gerakan tangan Yasmin terhenti. "Enggak, biasa aja. Kenapa?" Yasmin balik bertanya. "Tumben sekarang gak pernah bawain makan siang?" Yasmin tersenyum getir, buat apa masak capek-capek kalo ujung-ujung







