เข้าสู่ระบบPukul sepuluh malam Angga baru sampai di rumah, saat akan naik ke lantai dua, tak sengaja matanya melirik ke arah dapur yang lampunya masih menyala. Tanpa sadar ia pun melangkah ke arah sana.
Dan dilihatnya Yasmin yang tengah duduk sambil menikmati secangkir teh, sepertinya... "Kamu belum tidur?" tanya Angga, lalu menarik kursi di hadapan istrinya. Yasmin mengalihkan pandangannya dari cangkir yang ia pegang, lalu mengangguk pelan. "Gak bisa tidur, jadi bikin teh camomile. Mas mau?" tawarnya basa-basi. Namun siapa sangka Angga mengiyakannya. "Boleh," "Iya," Yasmin pun beranjak, membuatkan teh yang sama buat Angga. Angga menatap punggung Yasmin yang tengah memunggunginya, sambil menuang air panas kedalam cangkir yang sudah di isi teh camomile. "Kamu sibuk?" tanya Angga, membuat gerakan tangan Yasmin terhenti. "Enggak, biasa aja. Kenapa?" Yasmin balik bertanya. "Tumben sekarang gak pernah bawain makan siang?" Yasmin tersenyum getir, buat apa masak capek-capek kalo ujung-ujungya di kasih ke orang. ujarnya dalam hati. Secepat kilat Yasmin mengubah ekspresi raut wajahnya, lalu berbalik dengan cangkir di tangannya, menghampiri Angga. "Lagi males aja, kenapa?" jawab Yasmin santai, sambil menaruh cangkir di hadapannya. "Ohh, gak apa-apa." Angga menggeleng pelan, lalu menggangkat cangkirnya.menghirup aroma teh yang langsung membuatnya tenang. "Ini aku bawa yaa, sekalian ke kamar." Yasmin menunjuk jas Angga yang tersampir di sandaran kursi. "Ahh, iya. Boleh.." "Heemmm ..." Yasmin bergumam, lalu beranjak meninggalkan Angga seorang diri di dapur. Angga menatap kepergian Yasmin hingga wanita itu menghilang di balik pembatas dapur. "Kenapa wanita itu tampak berbeda yaa ....?" gumamnya bertanya-tanya. Angga baru sadar, beberapa hari ini Yasmin tidak pernah mendekatinya lagi. Dan... Malam pun Yasmin hanya mengenakan daster biasa, bukan lingerie sexy yang biasa ia kenakan. Jangan lupakan tatapan matanya yang dingin saat menatapnya, Yasmin seperti orang yang berbeda. "Mungkin dia hanya kelelahan, gak mungkin dia gak cinta sama gue lagi," ujarnya penuh percaya diri. Sudut bibir Angga tertarik, tersenyum sinis. Angga tau... Yasmin itu cinta mati padanya, jadi apapun yang ia lakukan. Angga yakin ... Yasmin akan selalu bertekuk lutut sama dia. Yaa, Yasmin secinta itu sama Angga. Namun ... Perasaan manusia pasti bisa berubah bukan? *** Sementara Yasmin masuk kedalam kamarnya, sebelum menutup pintunya ia memastikan Angga tidak menyusulnya ke atas. "Aman ..." gumam Yasmin, lalu segera menutup pintu kamar dengan pelan. Yasmin berjalan ke tempat tidur, duduk di sisi ranjang, sambil tangannya sibuk merogoh kantung jas milik Angga. "Nah, ini dia!" serunya dengan wajah berbinar. Dari kantung jas Angga, Yasmin menemukan kotak perhiasan kecil dengan merek toko yang ia di lihatnya tadi. "Apa, yaa?" Yasmin menggoyangkan kotak itu di dekat telinganya, dengan kening mengerut. "Buka jangan, yaa?" Yasmin mengigit bibir bawahnya, bingung. "Kalo aku buka gak bakal surprise lagi, dong!" Di angkatnya tinggi-tinggi kotak beludru berwarna merah itu, dari segi kotaknya, pasti isinya cincin. "Aah, buka aja! Dari pada penasaran," Akhirnya dengan jantung bedebar kencang, Yasmin membuka kotak itu. Dan matanya langsung terbelalak saat melihat isi di dalamnya. Sepasang anting dengan bandul batu permata berwarna biru, sangat cantik dan elegan. "Waaahh ... Cantik bangettt ...." Dengan tangan bergetar Yasmin menyentuhnya, sungguh anting yang sangat indah, Yasmin akui... Selera Angga sangat tinggi. "Cocok gak yaa ...." Yasmin beranjak dari sisi ranjang, lalu berjalan ke meja rias. Di ambilnya sebelah anting itu, lalu menempelkannya di telinganya. "Cantik ...." Yasmin tidak bisa menahan senyumnya, tidak menyangka Angga akan memberikan barang mewah seperti ini, dan ini kali pertamanya Angga memberikan hadiah untuknya. "Aduuh, mas Angga nanti keburu ke sini. nanti gagal rencananya." Dengan cepat Yasmin menaruh anting itu kedalam kotaknya, lalu memasukannya lagi kedalam saku jas Angga. Yasmin menaruhnya di tempat biasa, kemudian naik ke atas tempat tidur, merebahkan tubuhnya ia menarik selimut sebatas dada. "Aduuh, mas Angga nanti ngasihnya kek mana yaa? Apa... aku akan di ajak diner di luar? Argghhh ...." Yasmin berteriak dengan suara tertahan, sambil menendang udara hingga selimutnya ikut terbang karena tendangan kakinya. Namun, ketika mendengar suara langkah kaki di luar, ia langsung pura-pura tertidur dengan membelakangi pintu. Ceklek. Suara pintu terbuka di susul suara langkah kaki mendekat, semakin membuat jantungnya berdegup kencang "Tumben dia udah tidur ...." gumam Angga pelan, yang masih bisa Yasmin dengar. "Baguslah, setidaknya gue gak perlu nyari cara buat nolak kalo dia pengen." Angga kembali bersuara, lalu melangkah ke kamar mandi. Ada suara yang retak namun tak terlihat. Yasmin meremas dadanya yang terasa sesak, apa kata suaminya tadi? Mencari alasan menolaknya? Apa semenjijikan itukah dirinya? Suara percikan air di kamar mandi mulai terdengar, beriringan dengan air mata Yasmin yang perlahan turun di sudut matanya. Rasa semangatnya yang tadi sempat bangkit, kini kembali terjun hingga kedasar lagi. Yasmin mengigit bibir bawahnya agar isakannya tidak keluar, kalo begini caranya Yasmin sedang mengali luka yang tidak pernah akan sembuh. "Apa sudah tidak ada aku di hatimu, mas?" Yasmin menjadi ragu, apa benar hadiah itu untuknya? atau ... Angga mempunyai wanita lain?Tergoda papah teman anakku. Bab 90Satrio mengantarkan Kayla hingga gerbang sekolah, ketika hendak berbalik menuju mobilnya kembali. Terdengar seseorang memanggilnya dari dalam sekolah. “Om Satrio tunggu!” Satrio kembali menoleh, dan mendapati Bianca tengah berlari kecil ke arahnya. Ia pun kembali berbalik menunggu gadis itu menghampirinya. “Kenapa, Bi?” tanya Satrio begitu Bianca ada tiba dihadapannya. “Aku mau bicara sebentar, bisa?” Bianca balik bertanya dengan nafasnya yang masih terengah. “Boleh, mau tanya apa?” tanya Satrio dengan kening mengkerut. “Tapi sebentar lagi jam masukkan?” ucapnya sembari melirik jam tangannya. Bianca mengangguk pelan. “Iya, aku bentar aja kok.” “Kenapa, ada yang penting banget?” tanya Satrio menatap Bianca penasaran. Dalam hatinya takut terjadi sesuatu dengan Yasmin. Namu Bianca kembali menggeleng. “Aku gak tau ini penting atau tidak, aku mau ketemu Om nanti pas jam makan siang, bisa?” Kening Satrio mengerut dalam. “Ketemu pas jam makan sia
Bianca menatap kosong ke arah lapangan basket yang terbentang di hadapannya. Pikirannya melayang jauh, dipenuhi segala peristiwa yang belakangan ini bergemuruh di hidupnya.Orang tuanya berselingkuh, bercerai, dan kini... masing-masing berusaha mencari kebahagiaannya sendiri.Bianca sedikit terlonjak kaget saat hawa dingin menyentuh pipinya. Ia mendongak dan mendapati Niko berdiri di depannya, menutupi pandangannya ke arah lapangan."Jangan melamun terus. Nanti yang lewat bisa terserap," sindir Niko lembut, disertai senyum hangat yang tersungging."Aku tidak melamun," bantah Bianca, tangannya terulur menerima minuman dingin yang disodorkan Niko."Namanya saja tidak melamun. Aku berdiri di depanmu saja tak sadar," Niko memutar bola matanya, lalu duduk di sisi Bianca.Bianca menghela napas panjang, lalu meneguk minuman yang tutupnya sudah dibukakan Niko."Rasanya aku ingin menghilang saja, Nik," ucap Bianca setelah menelan minumannya."Masuk saja ke lubang buaya, pasti langsung lenyap t
Yasmin menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak sempurna ketika melihat Satrio tiba-tiba berlutut tepat di hadapannya. Di tengah ruangan yang telah disulap begitu indah dan memukau, pemandangan itu membuat napasnya tercekat."Maas..." Bibir Yasmin bergetar hebat, tak mampu merangkai kata-kata lagi. "Ini... apa maksudnya..."Tatapan mata Satrio yang lembut dan penuh cinta yang tulus, membuat jantung Yasmin berpacu semakin kencang seolah ingin melompat keluar."Yasmin..." panggil Satrio lembut, mendongak menatap lurus ke manik mata wanita itu."Iy–iya..." Yasmin mundur selangkah dengan tubuh yang sedikit gemetar."Aku sadar, mungkin ini bukan momen yang paling tepat untuk melakukan hal seperti ini. Tapi aku tak tahu lagi harus menundanya sampai kapan lagi," ucap Satrio dengan nada yang begitu tulus, membuat kening Yasmin berkerut penuh haru."Mas...""Yas... Sejak awal pertemuan kita, hati ini selalu bergetar menahan gejolak yang seharusnya tak kurasakan. Namun bukannya
"Mas, kamu nggak salah mengajak aku makan malam di siang bolong begini?" Yasmin menatap Satrio dengan kening berkerut ragu.Sementara Satrio berusaha keras menahan tawa melihat wajah bingung itu. "Nggak salah kok. Aku cuma mau suasana yang beda, yang nggak dimiliki orang lain."Yasmin menghela napas panjang, tak tahu lagi harus berkata apa.Pasalnya, Satrio mengajaknya menikmati makan siang romantis di sebuah restoran mewah, namun disusun persis seperti makan malam. Bahkan ada lilin yang menyala di tengah meja—sungguh hal yang terasa ganjil dilakukan saat matahari masih tinggi.Dan yang lebih membuatnya heran, restoran itu tampak lengang, tak ada satu pun pengunjung lain selain mereka berdua. Apakah restoran ini sepi karena makanannya kurang enak? batinnya bertanya-tanya."Sudah, jangan dipikirkan soal waktu yang terasa tidak tepat itu. Yang penting kita bisa menghabiskan waktu bersama," Satrio menautkan jemarinya ke tangan Yasmin, membuat lamunan wanita itu seketika buyar. Ia pun men
"Bunda sekarang kita gak bisa tinggal lagi sama Ayah?" Hati Yasmin seketika terasa diremas, ketika mendapat pertanyaan seperti itu dari Brayan. Putranya itu memang masih belum terlalu mengerti dengan situasi sekarang, berbeda dengan Bianca yang sudah bisa mengerti. "Kata siapa? Adek sama kakak masih bisa kok kalo mau nginep dirumah ayah." jawab Yasmin lembut."Gak bisa bareng sama Bunda lagi?" tanya Brayan polos. Yasmin mengeleng pelan, tersenyum dipaksakan. "Enggak sayang, Bunda gak bisa tinggal sama ayah lagi. Maaf yaa.." "Iyaa, Bunda..." "Yasudah, sekarang Brayan tidur yaa. Besok masih harus sekolah." Yasmin menarik selimut Brayan, menyelimuti tubuh mungil itu sampai dada. Lalu mengecup keningnya dengan sayang. "Good night Bunda." "Goodnight sayangnya Bunda, mimpi yang indah hmm..." "Hu'um," Yasmin menepuk pelan dada Brayan, menunggu putranya itu memejamkan mata. Barulah ia bangkit dari duduknya di sisi ranjang Brayan. Yasmin berjalan ke arah pintu, setelah mematikan lam
“Oalah… sekarang kalian berani berterus‑terang begini, ya?”Sindiran tajam Angga nyaris membuat Satrio melangkah maju, jika saja Yasmin tidak segera menahan lengannya.“Mas, jangan,” Yasmin menggeleng lemah menatap Satrio.“Tapi Yasmin…”“Tolong…” mohonnya pelan. Bukan bermaksud membela Angga, ia hanya tak ingin keributan meletus di sini.Satrio mengembuskan napas kasar, lalu menuruti permintaan itu dan berdiri kembali di samping Yasmin.Yasmin berbalik menatap Angga dengan raut tenang namun dingin. “Ada apa, Mas?”Angga menyunggingkan senyum sinis. “Kamu tidak merasa malu, Yas?” tanyanya sarkas.“Malu?” kening Yasmin berkerut bingung. “Malu untuk apa?”“Kamu datang ke sini membawa orang lain,” ucap Angga sambil melirik tajam ke arah Satrio.Yasmin menahan tawa yang hampir pecah. “Kamu tidak bercermin dulu di rumah, Mas?” balasnya tak kalah tajam.“Apa maksudmu?”“Itu lihat sendiri.” Yasmin menunjuk dua wanita yang berdiri di belakang Angga. “Kamu malah membawa selingkuhanmu yang seda







