LOGINLucy terdiam sejenak, keputusannya sudah bulat. Ia akan mendapatkan paman Noah, bagaimanapun caranya ia harus menjadi bibinya. Dengan begitu ia dapat menindas pasangan tidak tahu malu itu.
“Aku tidak akan menyesal,” jawab Lucy.
Andrew akhirnya bangkit. Lucy menatap punggung Andrew yang kini berjalan ke arah kamar mandi.
“Paman,” panggil Lucy. Andrew menoleh ke belakang. “Anda sangat seksi,” kata Lucy mengedipkan sebelah matanya menggoda.
Andrew tidak berekspresi, tetapi ketika ia masuk ke dalam kamar mandi ia tersenyum tipis.
“Nona kecil, kau sangat menarik.”
Lucy membenamkan wajahnya usai Andrew masuk ke dalam kamar mandi. Ia merasa malu kepada dirinya sendiri, ia tidak menyangka akan bersikap seperti itu pada pria yang baru pertama kali ia temui.
“Lucy, demi mendapatkan paman Noah, kamu harus menebalkan muka.”
Saat Andrew keluar dari dalam kamar mandi, ia sudah memakai pakaian ganti. Sementara itu Lucy masih duduk di tempat tidur, dengan wajah tersenyum.
“Mandilah. Kamu tidak bisa tidur dengan pakaian seperti itu,” kata Andrew.
“Aku …” Lucy ragu, jika harus mandi. Bagaimana kalau Andrew tiba-tiba menyerangnya di saat ia lengah.
Andrew menghampiri seraya meraih dagu Lucy membuat wajahnya menengadah menatapnya. “Atau … ingin aku mandikan?” kata Andrew seraya menatap mata Lucy dengan tatapan teduh.
Lucy tidak ingin diam saja, dan membalas Andrew dengan cara meraih pinggang Andrew. Pria itu, dapat merasakan tangan Lucy memegang kedua pinggangnya, mengelus hingga punggungnya.
“Kalau begitu, Paman harus mandi lagi denganku.”
Andrew mendekatkan kepalanya pada Lucy. “Aku tidak akan mengecewakanmu, Nona.”
Andrew mengangkat tubuh Lucy, jantung Lucy berdegup kencang. Namun, ia berusaha tetap tenang menyembunyikan rasa gugup. Lucy melingkarkan kedua tangannya, ia dapat merasakan kedua tangan Andrew memegang kedua pahanya. Mata mereka bertemu, dengan langkah pelan Andrew mengayunkan kakinya menuju kamar mandi.
Sesampainya di dalam kamar mandi, Andrew tidak menurunkan Lucy. Pria itu duduk di sofa, sementara Lucy masih berada di atas pangkuannya.
“Mau aku bantu lepaskan gaunmu?” bisik Andrew.
Lucy tersenyum, jemari tangannya menyapu kemeja baru yang dikenakan oleh Andrew.
“Bagaimana, kalau kita sama-sama membantu melepaskan pakaian?”
Andrew tersenyum lebar, ia mendekatkan wajahnya pada Lucy hampir mencium bibir Lucy. Jika saja ponsel pria itu tidak berdering.
“Sepertinya panggilan itu lebih penting daripada menemaniku mandi.”
“Aku bisa mengabaikannya jika kamu mau,” jawab Andrew.
Jemari tangan Lucy perlahan membuka satu kancing kemeja Andrew seraya berkata. “Lagi pula, Paman sudah menjadi milikku. Kita bisa mandi bersama kapan saja,” jawab sembari bergelayut manja.
Ponsel Andrew terus berdering.
“Terimalah. Panggilan itu pasti penting.” Lucy turun dari tubuh Andrew dan berdiri di depannya.
Andrew bangkit, seraya merogoh ponselnya dan pergi begitu saja. Setelah Andrew pergi, Lucy menghela napas lega. Wajahnya merah.
“Sepertinya aku berhasil menggodanya.”
Namun, Lucy cemas ia harus menghabiskan malam bersama pria itu. Bagaimanapun malam akan terasa panjang. Lucy cemas jika ia benar-benar harus merelakan kesuciannya begitu saja.
Di ruangan sebelah Andrew sedang menerima panggilan telepon, ia sempat menoleh ke belakang dan tersenyum. Entah apa yang ia pikirkan hingga dirinya tersenyum seperti itu.
Lucy keluar dari kamar mandi mengenakan handuk kimono. Samar-samar ia mendengar suara dua orang pria di seberang ruangan. Dengan langkah pelan, diam-diam Lucy mengintip dari balik pintu kamar.
“Tuan, kalau begitu saya permisi.”
Pria bersetelan jas berwarna abu itu keluar dari kamar hotel. Sebelumnya Lucy tidak pernah melihat wajah pria itu, saat Lucy menarik diri. Suara Andrew terdengar.
“Keluarlah.”
Kepala Lucy muncul di balik pintu, Lucy tersenyum dan perlahan menghampiri Andrew. Andrew berbalik badan melirik Lucy dari atas kepala hingga ujung kaki. Lucy tampak ragu seraya memainkan tangannya. Andrew mengangkat dua tas belanjaan besar dan mengarahkannya kepada Lucy.
“Untuk malam ini dan besok.”
Lucy membelalak. “Paman, kamu membelikan aku pakaian?”
Andrew mencondongkan tubuhnya. “Lalu, kamu ingin tidur dengan pakaian seperti ini, atau lebih senang telanjang?”
Wajah Lucy merona, ia memalingkan wajahnya. “Kalau Paman lebih suka yang mana?” Lucy balik bertanya.
Andrew menatap Lucy lekat-lekat. ‘Padahal kamu jelas ketakutan, tetapi tetap menahan diri.’
Andrew mengangkat tas itu kepada Lucy sebagai isyarat agar Lucy segera menerimanya. Lucy mengambilnya dan mengatakan akan mengganti uang Andrew nanti. Setelah itu ia berganti pakaian dan memakai piama tidur dengan luarannya.
Saat kembali ke kamar, Lucy melihat Andrew sedang membuka laptop di depan sana.
“Kamu bisa tidur lebih dulu.”
Lucy menghampiri Andrew. “Aku ingin menemani Paman. Aku akan tidur saat Paman juga tidur.”
Andrew mengangkat wajahnya menatap Lucy. “Atau kamu takut, aku akan menerkammu di saat kamu tidur?”
Lucy membelalak, ia menggelengkan kepala.
“Tentu saja tidak. Lagi pula tadi, kita sudah berada di dalam selimut yang sama,” jawab Lucy berusaha mengelak.
“Kalau begitu tidurlah,” kata Andrew memberikan isyarat agar Lucy segera naik ke atas tempat tidur.
Lucy tidak memiliki pilihan, ia harus mengikuti apa kata Andrew dan memikirkan rencana lain. Jika memang pada akhirnya Andrew menyerangnya.
Lucy menarik selimut, jantungnya berdetak kencang. Saat ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan menyatu dengan bantal. Lucy berguling ke kanan dan kiri, Andrew sempat menoleh melihat Lucy yang sudah terbungkus selimut seperti kepompong.
Andrew tersenyum tipis, setelah hampir dua jam menunggu Andrew dan merasa bosan. Akhirnya Lucy tertidur.
***
Esok harinya, Lucy perlahan terbangun dari tidurnya. Ia meraba tempat tidur, matanya masih terasa berat. Ia juga menguap, dan memeluk sebuah tubuh. Pelukannya dibalas oleh pelukan hangat, Lucy dapat merasakan kehangatan yang tidak biasa dan membuatnya begitu nyaman. Ia juga dapat merasakan napas seseorang selain dirinya.
Perlahan matanya terbuka sedikit demi sedikit, saat terbuka lebar Lucy membeku. Dirinya dan Andrew saling berpelukan, seperti perangko yang tidak dapat dipisahkan. Ia melihat wajah tampan Andrew yang tertidur memeluk tubuh mungil miliknya. Membuatnya tenggelam dalam pelukan pria itu.
‘Apa yang terjadi, kenapa kami bisa berpelukan seperti ini?’
Lucy berusaha melepaskan diri. Namun, pelukan Andrew begitu kuat dan berhasil membuat pria itu terbangun dari tidurnya. Mata mereka bertemu, Lucy membuka katup bibirnya. Hingga suaranya terdengar serak dan pelan menyapa Andrew.
“Selamat pag—”
Cup! Bibir Andrew mendarat di bibir Lucy, mengunci bibirnya menyesapnya sangat hangat. Andrew juga memeluk tubuh Lucy membuat gadis itu hampir tidak bisa bernapas.
Roselia tercengang mendengar perkataan Lucy.“Lucy, kamu terlalu sombong. Kamu pikir kamu siapa, hah?”“Aku, jelas Lucianna Gwyneira.” Lucy melangkah lebih dekat lagi pada Roselia. “Berhentilah sok lemah di depanku. Awalnya aku mengabaikan semua itu karena kupikir kamu membutuhkan kasih sayang orang tuaku. Jadi, kamu selalu mencari perhatian mereka. Namun, seiring jalannya waktu aku mulai sadar kamu ingin menjadi sepertiku.”Roselia terkejut, matanya berbinar.“Kamu ingin memiliki semua yang kupunya. Pakaian, septu, tas, perhiasan. Bahkan Noah. Semua yang kumiliki, kamu harus memilikinya juga.”Lucy tidak pernah melupakan saat mereka ia SMP, ia pernah kehilangan sebuah gaun yang dibelikan ibunya. Saat mencari gaun itu, ia menemukan gaunnya berada di dalam kamar Roselia. Saat Lucy hendak mengambil buku yang dipinjam Lucy.Namun, Roselia mengatakan kalau gaun itu diberikan oleh sang nenek. Ini bukan pertama kalinya, saat SMA Lucy kehilangan sepatu. Dan benar saja, ia melihat Roselia men
Lucy membelalak, ia menelan saliva nya.“Tapi, sejak awal Paman tahu, kalau aku mencari Andrew. Jika sejak awal aku tahu, Paman bukan orang yang aku cari. Aku tidak akan sampai sejauh itu.”Mata Neil menajam. “Saat menggodaku, kamu sangat percaya diri. Pernahkah kamu berpikir sampai ke situ?”Lucy terdiam dan hanya menatap wajah tampan pria yang terpaut jauh darinya. Namun, mengingat itu semua membuatnya malu.“A-aku—”“Menikah denganku, tidak akan membuat kamu rugi. Aku sudah memutuskan malam ini akan melamarmu. Dan kau tidak boleh menolak.”“Apa?” Lucy tertegun.Neil melepaskan Lucy, lalu meraih sebuah kotak perhiasaan dari dalam saku celananya. Dan mengeluarkan sebuah cincin berlian yang sangat indah.“Lucianna Gwyneira, menikahlah denganku.”Lucy membelalak. Apa yang dilihat di depan matanya, bukanlah sebuah ilusi melainkan sungguhan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa orang lain yang akan melamarnya. Bukan pria yang dicintainya, matanya perlahan berkabut.Lucy diam untuk waktu ya
Pernyataan Neil mengejutkan orang-orang yang mendengarnya. Termasuk Lucy yang kini membeku, tanpa sepatah kata menatap Neil dengan tatapan tidak biasa. Ia berusaha mencerna semua ini, kenapa Andrew menjadi Neil Chesney Dravencourt.Rosalia menatap Lucy tidak percaya, dan membuka suara. “Anda ingin menikahi Lucy?” tanya Roselia.Neil sama sekali tidak menoleh kepada Roselia. Ia juga mengabaikan perkataan Roselia, Neil meraih tangan Lucy. “Maaf membuatmu menunggu.” Neil mengecup punggung tangan Lucy di hadapan semua orang.Lucy terpaku menatap Neil yang dikenalnya sebagai Andrew paman mantan kekasihnya. Lucy bertanya-tanya kenapa Neil bisa menjadi Andrew? Ingatannya kembali ke malam dimana ia mencari sosok Andrew, Lucy menyadari kalau selama ini ia telah salah orang. Dan ia merasa malu, tetapi nasi sudah menjadi bubur.Pria yang ia goda selama ini bukanlah Andrew Valcor, melainkan Neil Chesney Dravencourt. Keluarga konglomerat di negara Bravenia. Keluarga Dravencourt lebih kaya dari ke
“Mmmpth! “ Lucu berusaha melepaskan diri dari Andrew. Usai melepaskan ciuman hangat itu, Andrew turun dari tempat tidur. Lucy membelalak, seolah tidak ada rasa bersalah setelah menciumnya. Lucu ingin sekali menegurnya. Namun, ia mengurungkan niatnya dan menyentuh bibirnya yang masih terasa berdenyut. Saat Andrew berada di dalam kamar mandi. Diam-diam Lucy mengamati dan langsung ganti pakaian dan pergi meninggalkan kamar hotel. Andrew yang berada di kamar mandi mendengar suara pintu. Dan setelah keluar dari kamar mandi, benar saja Lucy sudah tidak ada. Manik mata pria itu tertuju pada sebuah kartu nama yang tergeletak di atas nakas. Ia meraih kartu nama itu dan dilihatnya. “Apa kamu selalu memberikan kartu namamu ke setiap orang asing? “ Andrew membawa kartu nama itu bersamanya. Sebelum meninggalkan kamar hotel, ia melihat tumpukkan pakaian di sudut kursi. Ia tersenyum tipis, lalu pergi. ***Dua hari berlalu sejak malam itu. Lucy menatap ponselnya, ia bertanya-tanya pada diriny
Lucy terdiam sejenak, keputusannya sudah bulat. Ia akan mendapatkan paman Noah, bagaimanapun caranya ia harus menjadi bibinya. Dengan begitu ia dapat menindas pasangan tidak tahu malu itu.“Aku tidak akan menyesal,” jawab Lucy.Andrew akhirnya bangkit. Lucy menatap punggung Andrew yang kini berjalan ke arah kamar mandi.“Paman,” panggil Lucy. Andrew menoleh ke belakang. “Anda sangat seksi,” kata Lucy mengedipkan sebelah matanya menggoda.Andrew tidak berekspresi, tetapi ketika ia masuk ke dalam kamar mandi ia tersenyum tipis.“Nona kecil, kau sangat menarik.”Lucy membenamkan wajahnya usai Andrew masuk ke dalam kamar mandi. Ia merasa malu kepada dirinya sendiri, ia tidak menyangka akan bersikap seperti itu pada pria yang baru pertama kali ia temui.“Lucy, demi mendapatkan paman Noah, kamu harus menebalkan muka.”Saat Andrew keluar dari dalam kamar mandi, ia sudah memakai pakaian ganti. Sementara itu Lucy masih duduk di tempat tidur, dengan wajah tersenyum.“Mandilah. Kamu tidak bisa t
Lucy membelai wajah Andrew. “Tapi, saya tidak akan menyesal. Om pasti perkasa,” ucapnya lirih sambil mengelus punggung pria itu.Manik mata Andrew sempat tertuju pada jam tangannya. Lalu senyuman tipis terukir di wajahnya.“Aku tidak akan membuatmu kecewa.”Andrew menarik selimut, menutupi tubuh mereka berdua. Lucy menahan napas ketika jarak wajah sangat dekat. Hangat napas Andrew menyapu bibirnya, membuat jantung Lucy berdetak lebih cepat.Tiba-tiba suara pintu terbuka dari luar. Lucy tersentak. Ia refleks ingin bangkit, namun lengan Andrew menahannya, membuat tubuhnya kembali terkunci dalam pelukan pria itu. Tatapan Andrew menegas, memberi isyarat agar Lucy tetap diam.“Ternyata benar kamu ada di sini?”Suara perempuan itu membuat mata Lucy membelalak. Pandangannya langsung tertuju pada Andrew, sementara Andrew memilih bungkam dan tetap menahannya untuk tidak bergerak sama sekali.“Kenapa kamu tidak datang ke acara makan malam?” lanjut perempuan itu. “Kamu sedang menghindariku?” Lu







