MasukLucy membelai wajah Andrew. “Tapi, saya tidak akan menyesal. Om pasti perkasa,” ucapnya lirih sambil mengelus punggung pria itu.
Manik mata Andrew sempat tertuju pada jam tangannya. Lalu senyuman tipis terukir di wajahnya.
“Aku tidak akan membuatmu kecewa.”
Andrew menarik selimut, menutupi tubuh mereka berdua. Lucy menahan napas ketika jarak wajah sangat dekat. Hangat napas Andrew menyapu bibirnya, membuat jantung Lucy berdetak lebih cepat.
Tiba-tiba suara pintu terbuka dari luar. Lucy tersentak. Ia refleks ingin bangkit, namun lengan Andrew menahannya, membuat tubuhnya kembali terkunci dalam pelukan pria itu. Tatapan Andrew menegas, memberi isyarat agar Lucy tetap diam.
“Ternyata benar kamu ada di sini?”
Suara perempuan itu membuat mata Lucy membelalak. Pandangannya langsung tertuju pada Andrew, sementara Andrew memilih bungkam dan tetap menahannya untuk tidak bergerak sama sekali.
“Kenapa kamu tidak datang ke acara makan malam?” lanjut perempuan itu. “Kamu sedang menghindariku?”
Lucy yang peka segera menyadari, kalau Andrew sedang memanfaatkannya untuk menyingkirkan perempuan itu.
Karena tak mendapat jawaban, perempuan tersebut melangkah lebih dekat. Tangannya menarik selimut. Matanya membelalak saat mendapati sosok perempuan lain berada dalam pelukan Andrew.
Dengan gerak cepat, Andrew berbalik dan menutupi tubuh Lucy dengan punggungnya. Perempuan itu terkejut, melihat Andrew yang hanya memakai celana panjang dan sudah tidak lagi mengenakan pakaian.
“Enyah,” ucap Andrew dingin. “Kau sudah membuat istri kecilku ketakutan.”
Perempuan itu terkejut. Wajahnya memerah, amarah jelas terlukis di wajahnya, meski ia berusaha menahannya.
“Kamu pikir aku akan percaya?” katanya dengan senyum tipis meremehkan. “Perempuan bayaran mana lagi yang kamu sewa?”Ucapan itu membuat Lucy tersentak. Ia tidak terima dibilang wanita bayaran.
“Lepaskan aku,” bisik Lucy cepat. “Percaya padaku. Aku bisa membantumu bersandiwara.”
Andrew melepaskan pelukannya. Lucy pun berdiri, sosoknya kini terlihat jelas di hadapan perempuan bernama Helen—perempuan yang sejak lama mengejar Andrew, namun cintanya selalu bertepuk sebelah tangan.
Tatapan mereka bertaut tajam. Lucy merapikan rambutnya, berdiri tegak. Sementara Andrew dengan santai duduk di tepi tempat tidur, menyilangkan tangan di bawah dada.
“Perlu aku tegaskan, Nona,” ucap Lucy tenang. “Aku bukan perempuan bayaran seperti yang kamu tuduhkan.”
Lucy mendekat ke arah Andrew, membelai wajah pria itu, lalu duduk di pahanya. Tatapan Andrew menajam, namun ia tidak menghentikannya. Tangan Lucy kembali menyentuh wajah dan dada Andrew, membuat mata Helen melotot.
“Kami saling mencintai,” kata Lucy sambil tersenyum, kemudian menatap Helen penuh percaya diri.
“Cinta?” Helen tertawa kecil, sinis. “Anak kecil sepertimu berani bicara cinta denganku? Kau tahu siapa aku?”
Lucy melingkarkan kedua tangannya di leher Andrew, menyandarkan kepalanya di dada pria itu.
“Yang aku tahu kamu hanyalah perempuan tidak tahu malu, mengejar pria yang bukan milikmu.”
Helen membelalak. “Kau tidak tahu apa-apa! Aku calon tunangannya!”
“Oh?” Lucy tersenyum miring. “Kalau begitu, biar aku beri tahu. Aku calon istrinya.”
Lucy mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin berlian yang tersemat di jarinya. Helen terpaku. Ia mengenali cincin itu, bukan cincin sembarangan. Sebuah cincin yang hanya ada 5 di dunia.
“Masih belum percaya?” Lucy menyeringai. “Kalau begitu, akan aku buktikan.”
Lucy menarik tubuh pria itu dan menempelkan bibirnya ke bibir Andrew. Andrew melotot sesaat, tak berkedip. Namun detik berikutnya, ia meraih tubuh Lucy dan membalas ciuman itu,Lucy terkejut saat Andrew membalas ciumannya dan menyesap bibirnya hingga ketitik terdalam.
Helen tak sanggup lagi melihatnya. Dengan wajah merah dan mata berkaca-kaca, ia berbalik dan pergi. Setelah pintu tertutup, Lucy hendak menarik diri. Namun, Andrew justru mempererat pelukannya, ia tidak memiliki niat untuk melepaskan ciumannya.
Lucy memukul dada Andrew pelan. Ia hampir tidak bisa bernapas, Andrew akhirnya melepaskan ciuman itu dan menatapnya lembut.
“Paman, kau terlalu mendalami peran,” gumam Lucy.
Andrew mencondongkan wajahnya, sehingga membuat Lucy gugup. Takut pria itu menciumnya lagi. Namun, ia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya itu.
“Kamu keberatan?” tanya Andrew. “Menginaplah di sini, malam ini.”
Lucy mendekatkan wajahnya pada Andrew. “Paman, apa kau sedang memohon?”
Andrew menahan napas, lalu berkata pelan. “Saat ini kita sedang diawasi, jadi mari kita lanjutkan sandiwara ini.”
Lucy tersenyum, tangannya masih melingkar di bahu pria itu.
“Daripada bersandiwara, kenapa tidak jadikan aku istri Paman saja?” tanya Lucy dengan nada sedikit menggoda dan perlahan tangan manjanya mengelus dada pria itu. “Kita sudah berciuman, malam ini kita juga tidur di kamar yang sama.”
“Lalu?”
“Paman harus bertanggung jawab,” kata Lucy menatap lekat wajah Andrew. “Jika aku menjadi istri Paman, perempuan bernama Helen itu, tidak akan berani lagi mendekati Paman.”
Andrew mengangkat tubuh Lucy dan menurunkannya di tempat tidur. Satu tangan Andrew menekan tempat tidur.
“Kau bahkan lebih cocok menjadi putriku dibanding menjadi istriku.”
“Justru karena aku masih muda, aku masih sehat dan juga penuh gairah. Aku yakin aku bisa membahagiakan Paman.”
Ada senyuman kecil di wajah pria itu. “Kau yakin tidak akan menyesal?”
Aurelia terdiam. Putri yang dulu dikenalnya patuh, sekarang bisa membangkang. Lucy merasakan, cairan panas menggenangi pelupuk mata, tetapi ia tidak mengizinkan dirinya untuk menangis. Ia dapat merasakan kemarahan Aurelia. Namun, hatinya jauh terluka. Mau semarah apapun Aurelia saat ini, tidak akan menghentikan niat Lucy untuk menikah dengan Neil.“Kamu pikir Mama tidak tahu, kenapa kamu ingin menikah dengan Neil. Kamu ingin balas dendam pada Roselia dan Noah. Lucy sadarlah, Roselia kakakmu. Tidak seharusnya kamu memusuhinya. Kamu tidak tahu keluarga Dravencourt seperti apa.”“Apapun itu, aku tetap menikahinya. Hidupku milikku, kalian tidak bisa mengatur jalan hidupku.”Lucy menarik koper tanpa ragu.“Jika kamu tetap menikahi Neil, aku tidak akan lagi menganggapmu sebagai putriku lagi. Dan jangan mengambil apapun dari rumah ini.” Ancam Aurelia.Lucy menahan napas, dadanya sesak. Ucapan ibunya seperti duri yang menusuk jantung, merobek hatinya. Demi Roselia, ia dengan sadar mengatakan
Roselia tercengang mendengar perkataan Lucy.“Lucy, kamu terlalu sombong. Kamu pikir kamu siapa, hah?”“Aku, jelas Lucianna Gwyneira.” Lucy melangkah lebih dekat lagi pada Roselia. “Berhentilah sok lemah di depanku. Awalnya aku mengabaikan semua itu karena kupikir kamu membutuhkan kasih sayang orang tuaku. Jadi, kamu selalu mencari perhatian mereka. Namun, seiring jalannya waktu aku mulai sadar kamu ingin menjadi sepertiku.”Roselia terkejut, matanya berbinar.“Kamu ingin memiliki semua yang kupunya. Pakaian, septu, tas, perhiasan. Bahkan Noah. Semua yang kumiliki, kamu harus memilikinya juga.”Lucy tidak pernah melupakan saat mereka ia SMP, ia pernah kehilangan sebuah gaun yang dibelikan ibunya. Saat mencari gaun itu, ia menemukan gaunnya berada di dalam kamar Roselia. Saat Lucy hendak mengambil buku yang dipinjam Lucy.Namun, Roselia mengatakan kalau gaun itu diberikan oleh sang nenek. Ini bukan pertama kalinya, saat SMA Lucy kehilangan sepatu. Dan benar saja, ia melihat Roselia men
Lucy membelalak, ia menelan saliva nya.“Tapi, sejak awal Paman tahu, kalau aku mencari Andrew. Jika sejak awal aku tahu, Paman bukan orang yang aku cari. Aku tidak akan sampai sejauh itu.”Mata Neil menajam. “Saat menggodaku, kamu sangat percaya diri. Pernahkah kamu berpikir sampai ke situ?”Lucy terdiam dan hanya menatap wajah tampan pria yang terpaut jauh darinya. Namun, mengingat itu semua membuatnya malu.“A-aku—”“Menikah denganku, tidak akan membuat kamu rugi. Aku sudah memutuskan malam ini akan melamarmu. Dan kau tidak boleh menolak.”“Apa?” Lucy tertegun.Neil melepaskan Lucy, lalu meraih sebuah kotak perhiasaan dari dalam saku celananya. Dan mengeluarkan sebuah cincin berlian yang sangat indah.“Lucianna Gwyneira, menikahlah denganku.”Lucy membelalak. Apa yang dilihat di depan matanya, bukanlah sebuah ilusi melainkan sungguhan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa orang lain yang akan melamarnya. Bukan pria yang dicintainya, matanya perlahan berkabut.Lucy diam untuk waktu ya
Pernyataan Neil mengejutkan orang-orang yang mendengarnya. Termasuk Lucy yang kini membeku, tanpa sepatah kata menatap Neil dengan tatapan tidak biasa. Ia berusaha mencerna semua ini, kenapa Andrew menjadi Neil Chesney Dravencourt.Rosalia menatap Lucy tidak percaya, dan membuka suara. “Anda ingin menikahi Lucy?” tanya Roselia.Neil sama sekali tidak menoleh kepada Roselia. Ia juga mengabaikan perkataan Roselia, Neil meraih tangan Lucy. “Maaf membuatmu menunggu.” Neil mengecup punggung tangan Lucy di hadapan semua orang.Lucy terpaku menatap Neil yang dikenalnya sebagai Andrew paman mantan kekasihnya. Lucy bertanya-tanya kenapa Neil bisa menjadi Andrew? Ingatannya kembali ke malam dimana ia mencari sosok Andrew, Lucy menyadari kalau selama ini ia telah salah orang. Dan ia merasa malu, tetapi nasi sudah menjadi bubur.Pria yang ia goda selama ini bukanlah Andrew Valcor, melainkan Neil Chesney Dravencourt. Keluarga konglomerat di negara Bravenia. Keluarga Dravencourt lebih kaya dari ke
“Mmmpth! “ Lucu berusaha melepaskan diri dari Andrew. Usai melepaskan ciuman hangat itu, Andrew turun dari tempat tidur. Lucy membelalak, seolah tidak ada rasa bersalah setelah menciumnya. Lucu ingin sekali menegurnya. Namun, ia mengurungkan niatnya dan menyentuh bibirnya yang masih terasa berdenyut. Saat Andrew berada di dalam kamar mandi. Diam-diam Lucy mengamati dan langsung ganti pakaian dan pergi meninggalkan kamar hotel. Andrew yang berada di kamar mandi mendengar suara pintu. Dan setelah keluar dari kamar mandi, benar saja Lucy sudah tidak ada. Manik mata pria itu tertuju pada sebuah kartu nama yang tergeletak di atas nakas. Ia meraih kartu nama itu dan dilihatnya. “Apa kamu selalu memberikan kartu namamu ke setiap orang asing? “ Andrew membawa kartu nama itu bersamanya. Sebelum meninggalkan kamar hotel, ia melihat tumpukkan pakaian di sudut kursi. Ia tersenyum tipis, lalu pergi. ***Dua hari berlalu sejak malam itu. Lucy menatap ponselnya, ia bertanya-tanya pada diriny
Lucy terdiam sejenak, keputusannya sudah bulat. Ia akan mendapatkan paman Noah, bagaimanapun caranya ia harus menjadi bibinya. Dengan begitu ia dapat menindas pasangan tidak tahu malu itu.“Aku tidak akan menyesal,” jawab Lucy.Andrew akhirnya bangkit. Lucy menatap punggung Andrew yang kini berjalan ke arah kamar mandi.“Paman,” panggil Lucy. Andrew menoleh ke belakang. “Anda sangat seksi,” kata Lucy mengedipkan sebelah matanya menggoda.Andrew tidak berekspresi, tetapi ketika ia masuk ke dalam kamar mandi ia tersenyum tipis.“Nona kecil, kau sangat menarik.”Lucy membenamkan wajahnya usai Andrew masuk ke dalam kamar mandi. Ia merasa malu kepada dirinya sendiri, ia tidak menyangka akan bersikap seperti itu pada pria yang baru pertama kali ia temui.“Lucy, demi mendapatkan paman Noah, kamu harus menebalkan muka.”Saat Andrew keluar dari dalam kamar mandi, ia sudah memakai pakaian ganti. Sementara itu Lucy masih duduk di tempat tidur, dengan wajah tersenyum.“Mandilah. Kamu tidak bisa t







