ANMELDEN“Mmmpth! “ Lucu berusaha melepaskan diri dari Andrew.
Usai melepaskan ciuman hangat itu, Andrew turun dari tempat tidur. Lucy membelalak, seolah tidak ada rasa bersalah setelah menciumnya.
Lucu ingin sekali menegurnya. Namun, ia mengurungkan niatnya dan menyentuh bibirnya yang masih terasa berdenyut.
Saat Andrew berada di dalam kamar mandi. Diam-diam Lucy mengamati dan langsung ganti pakaian dan pergi meninggalkan kamar hotel.
Andrew yang berada di kamar mandi mendengar suara pintu. Dan setelah keluar dari kamar mandi, benar saja Lucy sudah tidak ada.
Manik mata pria itu tertuju pada sebuah kartu nama yang tergeletak di atas nakas. Ia meraih kartu nama itu dan dilihatnya.
“Apa kamu selalu memberikan kartu namamu ke setiap orang asing? “ Andrew membawa kartu nama itu bersamanya.
Sebelum meninggalkan kamar hotel, ia melihat tumpukkan pakaian di sudut kursi. Ia tersenyum tipis, lalu pergi.
***
Dua hari berlalu sejak malam itu. Lucy menatap ponselnya, ia bertanya-tanya pada dirinya kenapa Andrew masih tidak menghubunginya. Nara melihat kesedihan di wajah sahabatnya, bagaimana tidak. Malam ini, Noah dan Roselia akan bertunangan.
Semua itu sangat cepat bagi Lucy. Belum lama berpisah dengannya, mereka langsung menggelar pesta pertunangan. Malam ini, mereka akan meresmikan pertunangannya di hadapan keluarga dan kerabat dekat. Lucy menebak, sejak ia masih bersetatus kekasih Noah, Roselia dan Noah diam-diam sudah bersama.
Lucy melihat panggilan masuk terus menerus dari ibunya, yang memintanya untuk pulang. Dan mendesaknya untuk menghadiri acara pertunangan Noah dan Roselia. Roselia juga mengirimi pesan.
[Lucy, malam ini kamu datang kan? Aku harap kamu datang. Jika kamu tidak datang, semua orang akan mengira aku merebut Noah darimu.]
Lalu, pesan masuk dari ibunya.
[Sebaiknya kamu pulang sekarang. Sebelum aku mengirim orang untuk menjemputmu paksa. Kamu harus menghadiri pertunangan Roselia.]
Lucy menaruh ponselnya di meja. Lalu membenamkan wajahnya, tangannya memegang rambut. Kesedihan menyelimuti wajahnya. Namun, jika ia tidak datang. Maka Roselia akan menganggapnya kalah. Dan selamanya, Lucy tidak ingin Roselia menggunakan kesedihannya untuk menjatuhkannya di kemudian hari.
Lucy menarik napas. “Aku akan datang … menghadiri pertunangan mereka!”
Nara terkejut dan meraih kedua tangan Lucy. “ Kamu yakin, bagaimana kalau aku carikan pria sewaan untuk sementara?” kata Nara.
Lucy menggelengkan kepala. Ia menaruh harapan terlalu tinggi pada Andrew, seharusnya ia tidak pergi saat Andrew mandi. Tidak mungkin untuk Lucy mencarinya kembali. Mungkin saja Andrew hadir di pertunangan Noah dan Roselia, bagaimanapun dia pamannya.
“Kalau begitu aku akan menemanimu.”
Lucy mengangguk pelan. Nara memeluk Lucy, air mata jatuh membasahi pipinya.
“Menangislah sekarang. Tapi, jangan nanti. Roselia tidak boleh melihatmu rapuh, kamu bisa melewatinya. Jika kamu tidak bisa mendapatkan Paman Noah. Aku yakin kamu bisa mendapatkan pria lebih baik darinya.”
Lucy memejamkan matanya. Ia kehilangan kata-kata, yang ia tahu hatinya sesak. Melupakan seseorang yang pernah bersama dengan kita, tidaklah semudah itu.
Waktu berlalu begitu cepat, langit sudah gelap. Lucy masih duduk di depan meja rias. Ia memakai gaun beige muda, dengan siluet A-line dengan renda dihiasi dengan taburan sequin dan motif floral, yang menyatu dengan renda, dan payet yang sangat rumit dan indah. Gaun tanpa lengan yang memperlihatkan bahu yang indah dan bagian leher yang tembus pandang. Gaun itu menyapu lantai, mengikuti lekuk tubuhnya.
“Sudah siap?”
Lucy mengangguk. Malam itu, Nara mengendarai mobil menuju kediaman orang tua Lucy.
Setelah 30 menit mengendarai mobil, mereka tiba di kediaman orang tua Lucy. Lucy menatap layar ponselnya, ia menghela napas lalu keluar dari mobil diikuti oleh Nara. Lucy melihat banyak mobil terparkir dari depan jalan utama hingga kediamannya.
“Kamu belum kalah, Lucianna. Kamu bisa.” Ia menyemangati dirinya.
Lucy mengayunkan kaki ke dalam pintu rumah yang terbuka, menyambut para tamu. Pengurus rumah yang berjaga di depan hanya membungkuk. Ruangan utama hingga halaman belakang, dijadikan tempat menampung para tamu. Seorang pengurus rumah berbisik kepada Aurelia dan Robin, kalau putri mereka datang.
Lucy menghentikan langkah kakinya, dan mengambil gelas sampanye bersama Nara. Aurelia yang menyapa tamu suaminya pergi menemui Lucy.
“Cepat temui kakak sepupu untuk memberi selamat. Dari tadi siang dia terus menangis, takut kamu tidak datang, dan merasa bersalah padamu.”
Lucy menyunggingkan bibirnya. Ibunya hanya memikirkan Roselia, sama sekali tidak menanyakan kabarnya, bagaimana perasaannya. Bagaimanapun, ia dipaksa putus dengan pria yang dicintainya.
“Aku datang, bukan untuk memberinya selamat. Tapi, demi menjaga nama baikku.”
“Terserah, yang penting kamu datang. Sekarang Mama akan menyapa teman bisnis ayahmu. Jangan berulah. Kamu harus melupakan Noah. Jangan membuat Roselia sedih di hari bahagianya.”
Ucapan ibunya, menusuk hatinya. Nara mencoba menenangkan dan memberinya semangat.
“Lucy, tidak disangka selama ini kamu sedang menjaga jodoh kakak sepupumu!” kata perempuan yang memakai dres merah.
Suara itu membuat Lucy menoleh. Tiga orang perempuan dan dua lelaki menghampirinya, mereka teman bermain Lucy dan Noah.
“Apa kalian belum berhubungan ranjang, sampai Noah berpaling darimu?” tanya salah satu teman pria.
“Tutup mulut kalian.” Nara menunjuk mereka. Tidak membiarkan mereka menghina Lucy. “Bajingan seperti Noah, tidak pantas untuk Lucy.”
“Lucy, kamu pasti sedih, sebentar lagi ditinggal nikah Noah. Apalagi perempuan yang dinikahinya sepupumu,” ejek salah satu teman perempuannya.
Di dalam ruangan sebesar ini, Lucy merasa sesak. Ia memilih untuk bungkam, dan di keramaian ini, ia sama sekali tidak melihat sosok Andrew. Saat hendak pergi, suara Roselia terdengar memanggilnya.
“Lucy,” ucapnya menghampiri seraya menggenggam tangan Noah.
Lucy menahan napas, lalu tidak jadi pergi. Ia menatap Roselia dan Noah. Roselia dengan wajah tersenyum meraih tangan Lucy, membuat Nara membelalak menahan rasa kesal.
“Aku senang kamu datang. Noah juga.” Roselia kembali menggandeng tangan Noah.
“Baguslah kamu datang. Mulai sekarang kamu harus menerima aku sebagai kakak sepupumu.”
Lucy tersenyum miring. Saat ia hendak menjawab, mendadak suara keramaian sedang mempertanyakan kehadiran seseorang— Neil Chesney Dravencourt, tamu terhormat di kalangan pengusaha. Sekaligus keluarga konglomerat yang disegani oleh para sosialita. Robin dan Aurelia langsung pergi menemuinya untuk menjamunya.
“Hebat sekali, seorang keluarga Dravencourt biasa hadir dan menjadi saksi pertunangan kalian.”
‘Sejak kapan ayahku menjalin hubungan dengan keluarga Dravencourt?’ ucap Lucy dalam hati.
Roselia menatap Noah. “Pasti karena Noah dan keluarga Valcour yang mengundangnya.” Lucy menyombongkan dirinya. “Benar, kan Noah?” tanya Roselia bangga.
Noah tersenyum. “Tentu.”
Roselia melihat Neil bersama kedua orang tua Lucy berjalan mengarah kemari. Namun, ia membeku melihat sosok Neil yang begitu tampan. Ia berpikir kalau Neil sosok pria tua seperti yang ia bayangkan.
“Noah, Tuan Neil datang. Kamu harus segera menyapanya,” kata Roselia seraya menatap Lucy dengan tatapan tidak biasa.
Lucy menoleh, ia membeku, menemukan Andrew di antara orang tuanya. Lucy menatap tajam ke arah Neil, yang tersenyum dan menghentikan langkahnya tepat di depannya.
Noah maju seraya mengulurkan tangannya. “Pak Neil, terima kasih sudah datang ke pertunangan say–”
“Lucy,” panggil Neil, mengabaikan jabat tangan Noah. “Aku datang menemuimu,untuk memintamu menjadi istriku.”
Aurelia terdiam. Putri yang dulu dikenalnya patuh, sekarang bisa membangkang. Lucy merasakan, cairan panas menggenangi pelupuk mata, tetapi ia tidak mengizinkan dirinya untuk menangis. Ia dapat merasakan kemarahan Aurelia. Namun, hatinya jauh terluka. Mau semarah apapun Aurelia saat ini, tidak akan menghentikan niat Lucy untuk menikah dengan Neil.“Kamu pikir Mama tidak tahu, kenapa kamu ingin menikah dengan Neil. Kamu ingin balas dendam pada Roselia dan Noah. Lucy sadarlah, Roselia kakakmu. Tidak seharusnya kamu memusuhinya. Kamu tidak tahu keluarga Dravencourt seperti apa.”“Apapun itu, aku tetap menikahinya. Hidupku milikku, kalian tidak bisa mengatur jalan hidupku.”Lucy menarik koper tanpa ragu.“Jika kamu tetap menikahi Neil, aku tidak akan lagi menganggapmu sebagai putriku lagi. Dan jangan mengambil apapun dari rumah ini.” Ancam Aurelia.Lucy menahan napas, dadanya sesak. Ucapan ibunya seperti duri yang menusuk jantung, merobek hatinya. Demi Roselia, ia dengan sadar mengatakan
Roselia tercengang mendengar perkataan Lucy.“Lucy, kamu terlalu sombong. Kamu pikir kamu siapa, hah?”“Aku, jelas Lucianna Gwyneira.” Lucy melangkah lebih dekat lagi pada Roselia. “Berhentilah sok lemah di depanku. Awalnya aku mengabaikan semua itu karena kupikir kamu membutuhkan kasih sayang orang tuaku. Jadi, kamu selalu mencari perhatian mereka. Namun, seiring jalannya waktu aku mulai sadar kamu ingin menjadi sepertiku.”Roselia terkejut, matanya berbinar.“Kamu ingin memiliki semua yang kupunya. Pakaian, septu, tas, perhiasan. Bahkan Noah. Semua yang kumiliki, kamu harus memilikinya juga.”Lucy tidak pernah melupakan saat mereka ia SMP, ia pernah kehilangan sebuah gaun yang dibelikan ibunya. Saat mencari gaun itu, ia menemukan gaunnya berada di dalam kamar Roselia. Saat Lucy hendak mengambil buku yang dipinjam Lucy.Namun, Roselia mengatakan kalau gaun itu diberikan oleh sang nenek. Ini bukan pertama kalinya, saat SMA Lucy kehilangan sepatu. Dan benar saja, ia melihat Roselia men
Lucy membelalak, ia menelan saliva nya.“Tapi, sejak awal Paman tahu, kalau aku mencari Andrew. Jika sejak awal aku tahu, Paman bukan orang yang aku cari. Aku tidak akan sampai sejauh itu.”Mata Neil menajam. “Saat menggodaku, kamu sangat percaya diri. Pernahkah kamu berpikir sampai ke situ?”Lucy terdiam dan hanya menatap wajah tampan pria yang terpaut jauh darinya. Namun, mengingat itu semua membuatnya malu.“A-aku—”“Menikah denganku, tidak akan membuat kamu rugi. Aku sudah memutuskan malam ini akan melamarmu. Dan kau tidak boleh menolak.”“Apa?” Lucy tertegun.Neil melepaskan Lucy, lalu meraih sebuah kotak perhiasaan dari dalam saku celananya. Dan mengeluarkan sebuah cincin berlian yang sangat indah.“Lucianna Gwyneira, menikahlah denganku.”Lucy membelalak. Apa yang dilihat di depan matanya, bukanlah sebuah ilusi melainkan sungguhan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa orang lain yang akan melamarnya. Bukan pria yang dicintainya, matanya perlahan berkabut.Lucy diam untuk waktu ya
Pernyataan Neil mengejutkan orang-orang yang mendengarnya. Termasuk Lucy yang kini membeku, tanpa sepatah kata menatap Neil dengan tatapan tidak biasa. Ia berusaha mencerna semua ini, kenapa Andrew menjadi Neil Chesney Dravencourt.Rosalia menatap Lucy tidak percaya, dan membuka suara. “Anda ingin menikahi Lucy?” tanya Roselia.Neil sama sekali tidak menoleh kepada Roselia. Ia juga mengabaikan perkataan Roselia, Neil meraih tangan Lucy. “Maaf membuatmu menunggu.” Neil mengecup punggung tangan Lucy di hadapan semua orang.Lucy terpaku menatap Neil yang dikenalnya sebagai Andrew paman mantan kekasihnya. Lucy bertanya-tanya kenapa Neil bisa menjadi Andrew? Ingatannya kembali ke malam dimana ia mencari sosok Andrew, Lucy menyadari kalau selama ini ia telah salah orang. Dan ia merasa malu, tetapi nasi sudah menjadi bubur.Pria yang ia goda selama ini bukanlah Andrew Valcor, melainkan Neil Chesney Dravencourt. Keluarga konglomerat di negara Bravenia. Keluarga Dravencourt lebih kaya dari ke
“Mmmpth! “ Lucu berusaha melepaskan diri dari Andrew. Usai melepaskan ciuman hangat itu, Andrew turun dari tempat tidur. Lucy membelalak, seolah tidak ada rasa bersalah setelah menciumnya. Lucu ingin sekali menegurnya. Namun, ia mengurungkan niatnya dan menyentuh bibirnya yang masih terasa berdenyut. Saat Andrew berada di dalam kamar mandi. Diam-diam Lucy mengamati dan langsung ganti pakaian dan pergi meninggalkan kamar hotel. Andrew yang berada di kamar mandi mendengar suara pintu. Dan setelah keluar dari kamar mandi, benar saja Lucy sudah tidak ada. Manik mata pria itu tertuju pada sebuah kartu nama yang tergeletak di atas nakas. Ia meraih kartu nama itu dan dilihatnya. “Apa kamu selalu memberikan kartu namamu ke setiap orang asing? “ Andrew membawa kartu nama itu bersamanya. Sebelum meninggalkan kamar hotel, ia melihat tumpukkan pakaian di sudut kursi. Ia tersenyum tipis, lalu pergi. ***Dua hari berlalu sejak malam itu. Lucy menatap ponselnya, ia bertanya-tanya pada diriny
Lucy terdiam sejenak, keputusannya sudah bulat. Ia akan mendapatkan paman Noah, bagaimanapun caranya ia harus menjadi bibinya. Dengan begitu ia dapat menindas pasangan tidak tahu malu itu.“Aku tidak akan menyesal,” jawab Lucy.Andrew akhirnya bangkit. Lucy menatap punggung Andrew yang kini berjalan ke arah kamar mandi.“Paman,” panggil Lucy. Andrew menoleh ke belakang. “Anda sangat seksi,” kata Lucy mengedipkan sebelah matanya menggoda.Andrew tidak berekspresi, tetapi ketika ia masuk ke dalam kamar mandi ia tersenyum tipis.“Nona kecil, kau sangat menarik.”Lucy membenamkan wajahnya usai Andrew masuk ke dalam kamar mandi. Ia merasa malu kepada dirinya sendiri, ia tidak menyangka akan bersikap seperti itu pada pria yang baru pertama kali ia temui.“Lucy, demi mendapatkan paman Noah, kamu harus menebalkan muka.”Saat Andrew keluar dari dalam kamar mandi, ia sudah memakai pakaian ganti. Sementara itu Lucy masih duduk di tempat tidur, dengan wajah tersenyum.“Mandilah. Kamu tidak bisa t







