LOGIN“Mandul?”Erlangga mengulang kata yang sempat dilontarkan ibunya dalam hati, bahkan ketika kini dia tengah bermesraan dengan Nora di atas ranjang mereka.Tadi, Erlangga terpaksa mengakhiri panggilan telepon lebih cepat karena tak ingin berlama-lama mendengarkan celotehan ibunya, terlebih ketika pembicaraan mereka mulai menyinggung soal kemandulan. Topik itu sangat sensitif bagi Nora sekaligus dirinya, dan Erlangga tak ingin ucapan Martha sampai menyakiti hati istrinya lebih jauh.Setelah memutus panggilan sepihak, Erlangga mengajak Nora masuk ke dalam rumah dan melanjutkan kemesraan yang sempat tertunda. Namun, saat memperhatikan wajah sang istri yang beberapa kali meringis di bawah hentakannya, Erlangga segera mengesampingkan pikirannya tentang percakapan tadi.Dia mulai memperhatikan Nora dengan lebih saksama. Sepertinya, wanita itu merasa kurang nyaman dengan kedekatan mereka kali ini.“Kamu baik-baik saja?” tanya Erlangga sembari memperlambat gerakannya. Dia khawatir telah membu
“Uhhhh ....” “Aaaahhh ....” Lenguhan mereka baru saja terdengar ketika kendaraan itu mendadak berhenti. Erlangga langsung mengernyit kesal. Dia pikir masih memiliki banyak waktu untuk menikmati momen berdua dengan istrinya di dalam kendaraan yang melaju kencang. Namun, siapa sangka perjalanan mereka justru terhenti begitu cepat. Dengan wajah masam, dia meraih ponsel di sampingnya, berniat menghubungi sang sopir dan memintanya kembali melanjutkan perjalanan. Namun sebelum menekan nomor tersebut, ia justru dihubungi oleh ibunya, Martha. “Ada apa, Ibu?” sahut Erlangga ramah seperti biasanya. “Kamu di mana?” tanya Martha dari seberang telepon. “Di suatu tempat. Ada sedikit urusan yang harus saya selesaikan,” jawab Erlangga singkat. Dia mengusap punggung Nora agar tak beranjak darinya. “Memangnya ada apa?” “Grace mencarimu dua hari lalu,” beritahu Martha. Suasana di dalam kabin mendadak hening. Wajah Erlangga seketika mengeras. Dia benar-benar tidak suka mendengar nama wanita it
“Setelah orang itu tahu bahwa hubungan kita baik-baik saja dan kita bahkan tidak berniat berpisah, dia pasti akan terus berusaha merongrong kita. Dia akan mencari segala cara untuk memisahkan kita lagi. Entah dengan membuat kepercayaanmu pada saya kembali goyah seperti waktu lalu, atau menggunakan cara lain untuk memisahkan kita.”Nora tak lagi memiliki alasan untuk menolak perlindungan Erlangga. Bagaimanapun, pria itu bukan sekadar ingin mengawasinya, melainkan benar-benar mengkhawatirkan keselamatannya.Kini, Nora mengerti bahwa cara Erlangga melindunginya memang berbeda dari sebelumnya. Pria itu tidak sekadar berusaha menjaganya tetap aman, tetapi juga memastikan tak ada celah bagi siapa pun untuk kembali mengusik hubungan mereka.“Kamu paham sekarang?” tanya Erlangga kembali.Nora mengangguk pelan. Ketika Erlangga mulai mendekatkan wajahnya, dia langsung tahu apa yang akan dilakukan pria itu. Jantungnya berdegup kencang, tetapi kali ini dia tidak menghindar. Nora justru memejamkan
“Hasil pemeriksan menunjukkan tidak ada masalah serius, Nyonya Yan. Suami Anda tidak mengalami cedera kepala seperti yang Anda takutkan. Keluhan yang dialaminya kemungkinan besar disebabkan oleh kelelahan saja. Untuk itu, Anda tidak perlu khawatir.”Nora mendengarkan penjelasan dokter dengan saksama. Di sampingnya, Erlangga duduk tenang dengan wajah dingin seperti biasanya, seolah bukan dirinya yang beberapa jam lalu bertingkah bak anak kecil hanya karena masalah jeruk dan markisa.Namun, begitu mereka meninggalkan rumah sakit, pria itu mendadak banyak bertanya. “Apa maksudmu mencurigai saya mengalami gegar otak hanya karena saya pingsan?”“Kamu memang aneh. Wajar, ‘kan, kalau aku berpikir begitu?” balas Nora ketus. Dia terus menatap lurus ke depan tanpa sekalipun menoleh untuk melihat wajah suaminya. “Benturan kepalamu dengan lantai tadi cukup keras. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Kalau kamu sampai mati, aku juga yang repot. Bisa-bisa aku dipenjara oleh ibumu karena dituduh membun
“Kenapa nggak bilang dari tadi kalau maunya jeruk hijau?” tanya Nora, dia berusaha menahan kesal. Erlangga mengerutkan kening, seolah Nora-lah yang melakukan kesalahan besar. “Memangnya saya tahu kamu akan mengambilkan jeruk yang oranye?” Nora terdiam sesaat. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya masih memegang jeruk yang telanjur dikupas. “Mas, kamu itu udah besar. Kalau punya keinginan, bilang dari awal. Jangan setelah saya repot-repot mengupasnya, baru protes!” Namun, alih-alih merasa bersalah, Erlangga justru menatap jeruk di tangan Nora dengan wajah kecewa. “Tapi saya maunya yang hijau.” Nora memejamkan mata sejenak, mencoba mengumpulkan kesabaran yang rasanya sudah menipis hingga ke ujung tanduk. Entah apa yang terjadi pada suaminya malam ini. Biasanya, Erlangga adalah pria keras kepala yang selalu ingin menang sendiri. Namun, sekarang dia malah bertingkah seperti anak kecil yang merengek hanya karena keinginannya tak terpenuhi. “Ya sudah, makan aja dulu yang ini.
“Bagaimana kondisi suami saya, Dokter? Apakah beliau baik-baik saja?”Setelah dokter umum yang dipanggilnya selesai memeriksa Erlangga, Nora segera mengajukan pertanyaan itu. Dia masih begitu cemas melihat suaminya belum juga sadarkan diri, bahkan setelah hampir setengah jam berlalu.Dokter tersebut membereskan peralatan medisnya, lalu menatap Nora dengan senyum ramah. “Suami Anda hanya mengalami kelelahan. Tadi Anda mengatakan beliau muntah-muntah? Apa itu benar?”Nora mengangguk cepat. “Benar, Dokter. Dia muntah beberapa kali. Awalnya, saya mengira dia mual karena masuk angin. Tadi dia sempat tidak mengenakan pakaian saat berada di luar rumah setelah makan malam. Kami juga sempat ... ‘berolahraga’ di luar.”Dokter itu memahami maksud tersirat di balik ucapan Nora sebab pasiennya memang hanya memakai handuk kimono saja tanpa berpakaian kengkap. Namun, dia memilih tidak bertanya lebih jauh karena menyadari bahwa hal tersebut merupakan urusan pribadi pasangan suami istri itu.“Baiklah.







