Share

Bingung

***

Tiara dihadapkan pada perasaan yang tidak menentu. Di satu sisi, ia sangat bahagia karena akhirnya mendapat anugerah terindah setelah lima tahun menikah. Namun di sisi lain, Tiara juga bingung harus bagaimana menghadapi kenyataan kalau calon ayah dari bayi yang dikandung sudah tidak mengharapkan dirinya lagi.

Bu Laras merasa sangat iba melihat tangisan putrinya. Ia pun mengusap air mata Tiara yang sulit untuk dibendung tersebut. Wanita paruh baya itu tidak pernah menyangka bahwa anak bungsu yang dulu sangat dimanja, kini menanggung penderitaan sesulit ini.

Pernikahan Tiara yang baru berjalan lima tahun, akhirnya harus kandas karena adanya orang ketiga dan ketidaksabaran Bayu untuk menunggu kehadiran buah hati dalam rumah tangga mereka. Kini, Tiara harus menghadapi sendiri kenyataan yang ada di depan mata.

Pak Arif dan Bu Laras berpikir keras agar dapat menemukan jalan keluar untuk situasi yang Tiara hadapi saat ini. Kedua orang tua itu sudah memutuskan supaya putri tercinta mereka tidak kembali lagi kepada Bayu yang telah tega memberikan penderitaan kepada Tiara.

Saat ini, Pak Arif dan Bu Laras sedang menenangkan Tiara di ruang keluarga. Sudah beberapa jam tiba di rumah orang tua, tetapi air mata Tiara masih sulit untuk dihentikan. Ia terus jatuh membasahi pipi hingga matanya terlihat sembab.

“Bayu benar-benar keterlaluan. Semoga dia mendapatkan balasan atas apa yang ia perbuat pada Tiara.” Bu Laras tampak marah mengingat perbuatan Bayu kepada Tiara. Sementara Pak Arif hanya terdiam untuk memikirkan apa jalan keluar yang harus ditempuh.

“Apa yang harus Tia lakukan, Bun?” Tiara bertanya kepada ibunya.

“Sabar, ya, Sayang. Ayah dan Bunda sedang memimirkan solusinya. Tapi yang pasti, kamu jangan pernah kembali pada laki-laki itu. Dia juga nggak perlu tahu tentang anaknya. Ayah dan Bunda masih sanggup untuk membiayai hidupmu dan calon cucu kami.” Bu Laras berusaha memberikan semangat untuk putrinya.

Tiara sangat terharu mendengarkan umgkapan yang disampaikan oleh ibunya. Ia merasa bersyukur memiliki ayah dan ibu yang selalu ada untuknya saat sedang mengalami masa sulit seperti saat ini.

“Terima kasih, Yah, Bun. Tia nggak tahu harus gimana kalau Ayah dan Bunda tidak menguatkan Tia. Tia janji akan berusaha untuk kuat dan tegar demi anak ini.” Tiara mengusap perutnya.

Bu Laras tidak kuasa melihat kesedihan di wajah putrinya. Wanita paruh baya itu memilih menjauh dan mencari alasan. Ia mengatakan kepada Tiara akan menyiapkan makan malam. Setelah di ruang makan, Bu laras pun menitikkan air mata yang sejak tadi ia tahan.

“Ibu kenapa nangis?” Bu Laras terkejut mendengar suara asisten rumah tangganya. 

“Nggak apa-apa, Bik.” Wanita itu berusaha untuk tersenyum dan mengelak.

“Ibu yang sabar, ya. Saya dapat merasakan apa yang Ibu pikirkan saat ini.” 

Bu Laras kembali terkejut, ia tidak mengerti kenapa Bi Inah berusaha untuk menguatkan dirinya. “Bibik sudah tahu tentang Tiara?” Bu Laras bertanya untuk memastikan apa yang membuat Bi Inah bersikap seperti itu.

“Iya, Buk. Maafkan saya karena tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Ibu dan Bapak tadi.” Ternyata Bi Inah telah mengetahui apa yang menimpa Tiara saat ini.

“Saya bingung harus gimana, Bik. Kasihan Tiara. Saya tidak sanggup melihat kesedihan di wajahnya. Saya berusaha untuk kuat di depannya, Bik. Padahal hati kecil saya sangat sakit.”

“Saya juga terkejut saat mengetahui Den Bayu menceraikan Non Tiara. Wanita lembut dan cantik seperti dirinya, tidak pantas untuk disakiti.”

“Tapi inilah kenyataannya, Bik. Anak saya sekarang menderita.

Beban pikiran Bu Laras terasa berkurang sedikit setelah bercerita kepada Bi Inah. Ia sangat tahu dan mengenal asisten rumah tangganya tersebut yang amat peduli dengan keluarga sang majikan. Bu Laras sudah menganggap Bi Inah seperti keluarga sendiri.

***

Setelah makan malam dan menunaikan salat Isya, Tiara memasuki kamar yang dulu sangat setia menjadi saksi atas keceriaannya sebelum memilih menikah dengan Bayu. Ia menghempaskan tubuh di tempat tidur. Tiara masih merenungi kejadian yang menimpa dirinya saat ini.

Tiara tidak pernah menyangka akan bercerai di usia pernikahannya yang baru menginjak lima tahun. Bayu yang dulu sangat mencintai dirinya, kini telah berubah menjadi sosok yang kejam dan tidak memiliki belas kasihan sama sekali.

Bayu bukan lagi laki-laki yang dulu bersikap mesra dan romantis kepada Tiara. Padahal, kebersamaan mereka tidaklah sebentar. Setahun menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dan lima tahun terikat dalam pernikahan.

Akan tetapi, beberapa bulan terakhir ini, Tiara ternyata sudah merasakan perubahan yang terjadi terhadap Bayu. Laki-laki itu sering pulang larut malam, bahkan kadang tidak kembali ke rumah dengan alasan lembur karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

“Kemeja kamu, kok, wangi parfum cewek, Mas?” tanya Tiara beberapa bulan yang lalu kepada Bayu saat dirinya menghidu aroma minyak wangi yang berbeda dari biasanya.

“Namanya juga di kantor. Banyak karyawati. Mungkin nggak sengaja bersentuhan, aroma parfum yang mereka gunakan menempel di kemeja.” Tiara berusaha untuk percaya dengan alasan Bayu, tetapi ia tetap merasa tidak tenang.

Bukan sekali atau dua kali hal itu terjadi. Hampir setiap hari, Tiara mencium minyak wangi perempuan di kemeja Bayu. Aroma itu tetap sama dan Tiara mulai menaruh curiga terhadap laki-laki itu. Namun, ia memendam semuanya karena Bayu masih bersikap lembut saat itu, tetapi tidak romantis lagi.

Sekarang, Tiara baru menyadari bahwa sikap dan perubahan Bayu yang ia rasakan ternyata menyimpan aroma pengkhianatan. Bayu dengan tega bermain api di belakang wanita yang sangat mencintainya. Laki-laki itu memberikan alasan yang menyakitkan. Tiara dianggap tidak mampu melahirkan anak.

Saat Tiara benar-benar mengandung anak yang selama ini diharapkan oleh dirinya dan Bayu, justru perpisahan yang terjadi. Namun, Tiara tidak ingin memberitahukan kehamilannya kepada laki-laki yang telah berbuat jahat kepadanya. Wanita itu ingin membesarkan calon buah hati sendirian tanpa sang suami.

Kini, Tiara kembali meratapi penderitaan yang diberikan Bayu kepadanya. Sementara itu, laki-laki yang sudah mengucapkan kata cerai kepada Tiara, saat ini sedang tertawa dengan Lisa, istri barunya. Terpancar kebahagiaan di wajah Bayu saat rebahan bersama wanita itu.

“Mas, aku boleh minta sesuatu.” Lisa merengek di samping suaminya.

“Mau minta apa, Sayang?” Bayu dengan lembut membalas sang istri.

“Aku ingin agar semua barang-barang dari mantan istri kamu segera dibuang dari rumah ini. Aku nggak mau kalau kamu masih mengingat tentang dia. Cukup aku dan anak kita yang ada di dalam hatimu.” Lisa mengusap pipi suaminya.

“Iya, Sayang. Apa pun yang kamu minta, pasti aku turutin. Kamu nggak perlu meragukan hatiku lagi. Aku sudah membuktikan kalau aku mampu mengusirnya dari rumah ini dan menjadikan kamu ratu di istana cintaku. Untuk apa aku mengingat wanita yang tidak mampu melahirkan anak untukku?” Bayu berkata seperti itu seolah-olah tidak ingat lagi tentang kenangan dan kebersamaan dengan Tiara.

“Terima kasih atas cintamu, Mas. Aku bangga dan bahagia menjadi istrimu.” Lisa menunjukkan sikap manja di depan suaminya.

Bayu langsung terbuai dengan sentuhan yang diberikan oleh wanita tersebut. Ia tidak ingat lagi dengan kemesraan yang pernah ia lakukan bersama Tiara di tempat tidur itu. Bayu telah tergoda dengan pesona yang dipancarkan Lisa. Laki-laki itu tidak menyadari bahwa paras Tiara jauh lebih cantik daripada wanita yang kini bersamanya.

==================

Komen (8)
goodnovel comment avatar
Suherni 123
jangan nangis terus Tiara,,, buktikan kamu mampu hidup tanpa Bayu
goodnovel comment avatar
Ariny arni
Laki² picik spt ini beneran ada nih? Masak cuman sebatas nyari keturunan aja niat pernikahan.
goodnovel comment avatar
Nova Irene Saputra
Terima kasih udah mampir.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status