Share

HAMIL SAAT BERCERAI
HAMIL SAAT BERCERAI
Author: Nova Irene Saputra

Dua Garis Merah

***

“Jika kamu tidak bersedia dimadu, kita cerai!” Bayu dengan yakin mengucapkan kalimat tersebut kepada Tiara, wanita yang telah mendampingi hidupnya selama lima tahun terakhir ini.

“Tega kamu, Mas. Kamu sudah lupa dengan kebersamaan kita selama ini. Lima tahun aku menemani hidupmu.” Tiara tidak pernah menyangka kalau suami yang ia cintai dengan tega mengucapkan kata cerai kepada dirinya.

“Keluargaku butuh penerus. Kamu sangat tahu kalau aku anak laki-laki satu-satunya.”

“Kenapa kamu nggak bisa bersabar sebentar lagi, Mas? Aku yakin pasti keajaiban itu ada. Atau sebenarnya ini alasan kamu karena sudah memiliki wanita lain?” Tiara merasa curiga kepada laki-laki yang baru saja mengucapkan kata cerai kepadanya.

“Terserah kamu mau bilang apa, yang pasti aku ingin memperoleh keturunan.” Bayu tetap pada keputusannya.

“Baiklah, jika itu yang kamu inginkan, aku akan pergi dari rumah ini. Semoga kamu mendapatkan balasan atas keputusan ini, Mas.”

“Balasan yang pasti adalah bahwa aku akan memiliki anak dari wanita lain.”

“Kenapa kamu seyakin itu, Mas? Sementara kamu tidak berusaha untuk percaya padaku. Apa yang kamu lakukan di belakangku?” Kecurigaan Tiara makin mendalam mendengar apa yang dikatakan Bayu.

“Kamu nggak berhak lagi untuk tahu tentangku. Silakan kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini.” Tiara mencoba meraih tangan Bayu, tetapi ditepiskan oleh laki-laki itu.

“Ini balasan yang kamu berikan untukku, Mas? Kamu tidak menghargai apa yang kulakukan untukmu selama lima tahun ini? Tidak adakah rasa cinta lagi dalam hatimu untukku?” Tiara tidak kuasa menahan air matanya.

“Rasa itu perlahan sirna seiring berjalannya waktu karena kamu tidak mampu mewujudkan harapanku dan keluarga. Hubungan yang kita jalani hanya buang-buang waktu. Untuk apa aku mempertahankan istri yang tidak dapat memberiku kebahagiaan?”

“Tega kamu, Mas. Jadi, kebersamaan kita selama lima tahun ini, kamu anggap apa?”

“Sudahlah. Biarkan aku hidup bersama wanita yang mampu melahirkan anak untukku. Kamu harus tahu bahwa dia ada di sini sekarang.”

Tiara makin terkejut melihat seorang wanita yang keluar dari kamar tamu, perutnya membesar. Sekarang Tiara tahu kenapa Bayu begitu mudah mengucapkan kata cerai kepadanya. Ternyata alasannya ada di depan mata.

“Siapa dia, Mas?” tanya Tiara setelah wanita itu berada di antara mereka. Ia ingin mendengarkan jawaban yang lebih meyakinkan dari Bayu.

Bayu pun melangkah menghampiri perempuan tersebut, lalu meraih tangannya. “Dia adalah calon ibu dari anakku.” Laki-laki itu kemudiam mengusap perut wanita yang kini di dekatnya.

“Ternyata ini jawaban dari perubahan sikap kamu selama ini, Mas. Kamu telah mengkhianatiku, kamu bermain api di belakangku!” Tiara menaikkan suara satu oktaf.

“Karena kamu tidak dapat memberikan apa yang ia berikan. Sekarang kamu sudah tahu yang sebenarnya. Mulai sekarang, calon ibu dari anakku yang akan menjadi nyonya rumah di sini. Kamu nggak ada hak lagi untuk tetap tinggal di rumah ini.”

Tiara melangkah ke arah Bayu dan wanita itu. Ia pun mendaratkan tamparan di pipi laki-laki itu. “Aku jijik melihatmu, Mas!”

Bayu merasa kesakitan setelah mendapatkan tamparan dari Tiara. Ia pun memegang pipinya. Sementara itu, Tiara langsung menuju kamar untuk berkemas. Wanita itu masih merasa seperti mimpi dengan apa yang disaksikan hari ini. Dirinya sangat sedih karena suami yang ia cintai lebih memilih perempuan lain.

Setelah barang yang diinginkan sudah berada di dalam tas. Tiara memandang sekeliling. Kamar miliknya dan Bayu kini hanya akan menjadi kenangan. Sang suami kini sudah tidak membutuhkannya lagi di ruangan itu. 

Tiara pun berusaha untuk menerima kenyataan, lalu ia beranjak dari kamar itu dengan hati yang sangat hancur. Ia melewati Bayu dan wanita yang kini hadir dalam hidup laki-laki tersebut. Tiara lebih terkejut lagi saat perempuan itu menunjukkan senyum sinis kepadanya.

***

Akhirnya Tiara tiba di rumah orang tuanya. Ia langsung memeluk ayah dan ibunya yang sedang duduk di depan teras rumah. Kedua orang tua Tiara sangat heran melihat putri bungsunya tiba-tiba datang tanpa memberi kabar sebelumnya.

Tiara merasa menjadi anak yang tidak berhasil membahagiakan orang tua. Kehidupannya sungguh sangat jauh berbeda dengan kakak satu-satunya yang tinggal di kota lain karena ikut suaminya. Sang kakak terpaut usia dua belas tahun dengan pendamping hidupnya, tetapi mereka tetap menjadi pasangan bahagia.

“Kamu kenapa, Sayang? Bayu mana?” Bu Laras, ibu Tiara menanyakan sang menantu kepada putrinya.

“Tia diusir, Yah, Bun, dari rumah Mas Bayu.” Tiara pun mengatakan yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya. Wanita itu duduk di sampung ibunya.

Sang ayah sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Tiara. “Diusir? Apa maksudnya? Siapa yang ngusir kamu, Nak?” Laki-laki itu memegang lengan putrinya.

“Mas Bayu telah menceraikan Tia, Yah.” Tiara tidak kuasa lagi menahan air matanya. 

“Maksud kamu apa, Nak? Jangan bercanda.” Pak Arif, ayah Tiara tidak percaya dengan pengakuan anak bungsunya.

“Tia nggak bercanda, Yah. Mas Bayu sudah mengeluarkan kata cerai di depan Tia.” Tiara berusaha meyakinkan ayah dan ibunya.

“Ayah tidak bisa terima semua ini. Waktu dia meminangmu lima tahun yang lalu, dia datang ke sini baik-baik. Sekarang dia tega memperlakukan kamu seperti ini. Ayah akan membuat perhitungan dengannya.” Pak Arif pun berdiri, tetapi sebelum ia melangkah, Tiara menghentikan laki-laki paruh baya tersebut.

“Jangan, Yah, Tia mohon. Sekarang sudah tidak ada gunanya lagi. Untuk apa Tia tetap mendampinginya, sedangkan hatinya bukan milik Tia lagi.” Tangisan Tiara makin pilu.

“Apa maksud kamu, Sayang?” Sang ibu menggenggam jemari putrinya.

“Mas Bayu sudah memiliki wanita lain yang kini mengandung anaknya. Dia selalu bilang kalau Tia tidak mampu memberikan kerurunan untuknya.”

Ueeek!

Tiba-tiba Tiara merasakan mual. Ia pun langsung berlari ke dalam rumah menuju kamar mandi. Bu Laras yang melihat anaknya, segera menyusul sang buah hati. Wanita paruh baya itu mengernyitkan dahi dan mencoba menebak apa yang terjadi terhadap Tiara.

“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Bu Laras kepada Tiara.

“Nggak tahu, Bun. Akhir-akhir ini Tia sering merasa mual, mudah lelah, dan selera makan menurun.” Tiara memberikan penjelasan kepada ibunya sambil mengusap air mata yang belum berhenti menetes.

“Bayu nggak lihat perubahan kamu?”

“Nggak, Bun. Dia sering nggak di rumah dan selalu kasih alasan lembur. Tia berusaha untuk tetap percaya walaupun ada rasa curiga. Ternyata dugaan itu benar, Mas Bayu sudah berkhianat di belakang Tia.”

“Dasar laki-laki nggak tahu diri!” Bu Laras tampak kesal dan marah. “Udah berapa lama kamu nggak datang bulan?” tanya wanita paruh baya itu.

Tiara sangat ingat kalau dirinya sudah tiga bulan tidak kedatangan tamu rutin. Oleh karena itu, ia ingin menyampaikan hal itu kepada Bayu. Namun, sebelum harapan itu terucap, laki-laki yang pernah menikahinya itu telah mengucapkan kata cerai.

“Kamu hamil, Sayang. Bunda yakin. Kenapa kamu tidak memberitahukan Bayu kalau kamu sering mual?” Bu Laras kembali membuka suara.

“Saat itu Tia masih ragu, Bun. Belum yakin sepenuhnya.”

“Kasihan kamu, Sayang.” Wanita itu meraih tubuh Tiara, lalu memeluknya.

Bu Laras sangat yakin kalau putri bungsunya sedang hamil. Untuk lebih memastikan keyakinannya, ia pun memanggil dan meminta asisten rumah tangga agar membeli alat tes kehamilan di apotek terdekat. Ternyata setelah Tiara menggunakan benda itu, menunjukkan dua garis merah.

================

Comments (5)
goodnovel comment avatar
waode nia
bagus banget cerita
goodnovel comment avatar
Suherni 123
kebanyakan ga sadar hamil walaupun sudah telat beberapa bulan
goodnovel comment avatar
Sri Hartati
menjadi bucin memang menyiksa.
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status