LOGINAroma manis mentega yang dipanggang memenuhi seluruh sudut rumah berlantai satu di kawasan perumahan padat itu. Di dapur yang tidak terlalu luas, Arumi sibuk menata loyang-loyang berisi kue kering yang baru saja dikeluarkan dari oven. Keringat tipis terlihat di pelipisnya, namun senyum hangat tidak pernah lepas dari wanita paruh baya itu.
Ken berjalan masuk ke dapur sambil memutar-mutar bola basket di ujung jarinya. Ia mengenakan kaus santai dan celana pendek, tampak sangat jauh berbeda dari sosok ketua kelas yang serius saat di sekolah. "Ma, aroma nastarnya wangi banget sampai teras depan," kata Ken sambil menyandarkan tubuhnya di tepi meja dapur. "Ya harus wangi dong, kan pakai mentega resep rahasia Mama," sahut Arumi bangga. Ia mengibaskan serbet dapur ke arah Ken. "Sana cuci tangan dulu kalau mau nyicip! Jangan langsung comot!" Di meja makan yang terletak persis di samping dapur, seorang gadis remaja yang mengenakan kaus santai dan celana pendek sedang fokus menatap buku catatan matematikanya. Kinanti, adik perempuan Ken yang masih kelas dua SMP itu, tampak mengerutkan dahi sambil memegang pensil. Ia baru saja selesai mandi setelah pulang sekolah tadi siang. Ken menghentikan putaran bola basketnya, menyimpannya di sudut ruangan, lalu berjalan mendekati meja belajar adiknya. Tanpa bersuara, Ken menarik pelan rambut Kinanti yang dikuncir kuda dari belakang. "Aduh! Apaan sih, Kak Ken!" pekik Kinanti kesal. Ia memutar badan sambil memegang rambutnya yang berantakan, menatap kakaknya dengan mata melotot. "Orang lagi pusing ngerjain soal juga! Mengganggu banget sih!" "Pusing apa pusing? Soal matematika SMP kelas delapan aja dahi lo sampai lipat tiga begitu," ledek Ken sambil tertawa. Ia mengambil pensil dari tangan Kinanti dan melirik lembar soal di meja. "Ini rumus aljabar dasar doang, Dek. Masa dari tadi enggak selesai-selesai?" "Ya kan orang beda-beda! Enggak semua orang pinter kayak Kak Ken yang ranking satu terus!" sergah Kinanti sambil cemberut, berusaha merebut kembali pensilnya. "Balikin enggak pensilnya!" "Nih, balikin. Tapi kerjain yang bener, ntar kalau nilainya di bawah lima puluh, gue bilangin ke Papa biar uang jajan lo dipotong," goda Ken lagi sambil menepuk pelan kepala adiknya. "Mama! Lihat tuh Kak Ken usil banget!" adu Kinanti dengan suara melengking. Arumi yang sedang mengemas kue ke dalam toples hanya menggelengkan kepala sambil tertawa pelan. "Ken, udah, jangan diganggu adiknya. Kamu ini kalau di rumah sukanya bikin rusuh terus." "Bercanda, Ma. Lagian Kinan kalau lagi cemberut mukanya mirip kue nastar Mama yang bantet," sahut Ken santai, membuat Kinanti makin melempar tatapan tajam yang disambut tawa renyah dari Ken. Suara deru sepeda motor tua terdengar berhenti di halaman depan, disusul bunyi ketukan pintu dan salam dari luar. "Assalamu'alaikum!" "Wa'alaikumussalam! Papa pulang!" seru Kinanti yang langsung bangkit dari kursinya, berlari kecil menyambut sang ayah di pintu depan. Wandi melangkah masuk ke dalam rumah. Pria setengah baya itu mengenakan kemeja kerja yang sedikit kusut di bagian lengan dan memegang tas kerja kulit yang sudah agak mengelupas di pinggirannya. Wajahnya tampak lelah setelah seharian bergelut dengan lalu lintas Jakarta dan tumpukan berkas kantor, namun binar matanya langsung menyala saat melihat keluarganya. "Aduh, anak Papa yang cantik sudah rapi," sapa Wandi sambil mengusap kepala Kinanti yang menyambutnya. Wandi berjalan ke arah dapur, meletakkan tas kerjanya di meja, lalu menyalami dan mengecup kening Arumi. "Harum banget rumah kita hari ini, Ma. Pesanan kue buat minggu ini banyak?" "Alhamdulillah, Pa. Ada pesanan dari arisan RT sebelah," jawab Arumi hangat sambil mengambilkan segelas air putih dingin untuk suaminya. "Papa kelihatan lelah banget hari ini. Pekerjaan di kantor lagi padat?" Wandi meminum air putih itu hingga tandas, lalu menghela napas lega dan duduk di kursi meja makan. Ken ikut duduk di seberang ayahnya. "Lumayan, Ma. Kan perusahaan lagi mau peluncuran lini produk baru," jelas Wandi. Sebagai kepala divisi di bagian administrasi Yudistira Group, tugas Wandi memang menumpuk selama sebulan terakhir. "Nah, justru itu yang mau Papa omongin." Arumi meletakkan piring kecil berisi kue hangat di meja. "Ada apa, Pa?" "Nanti malam ada acara press conference sekaligus malam penyambutan investor baru di grand ballroom hotel," kata Wandi sambil memandang istri dan kedua anaknya bergantian. "Semua kepala divisi diminta hadir, dan boleh bawa keluarga. Papa mau ajak Mama, Ken, sama Kinanti." Kinanti yang tadinya sibuk merapikan bukunya langsung mendongak dengan mata berbinar. "Wah, benaran, Pa? Di hotel mewah itu?" "Iya, Kinan. Sekalian Papa mau ajak kalian makan malam enak di sana," ujar Wandi sambil tersenyum lembut. "Hitung-hitung refreshing buat kita sekeluarga." "Asyik! Bisa makan es krim sepuasnya!" seru Kinanti kegirangan. Ken menatap ayahnya dengan dahi sedikit berkerut. "Acara Yudistira Group ya, Pa? Yang pemiliknya Pak Yudistira itu?" "Iya, Ken. Pak Yudistira dan keluarganya juga dipastikan hadir nanti malam. Seluruh jajaran direksi dan media besar Jakarta datang semua," jawab Wandi. Ia lalu menatap jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore. "Makanya, habis ini kita siap-siap ya. Nanti jam enam lewat sedikit kita berangkat naik mobil kantor yang difasilitaskan buat jemput." Arumi mengangguk paham. "Ya sudah, Mama mau siapin baju kemeja Papa dulu. Ken, kamu bantu rapihin toples kue di meja ya." "Siap, Ma," jawab Ken. Saat Arumi dan Kinanti berjalan menuju kamar masing-masing, Ken berdiri merapikan toples-toples kue di atas meja. Pikiran Ken mendadak melayang ke kejadian di sekolah tadi siang. Ke sosok cewek di sudut kelas yang pergi meninggalkannya begitu saja setelah menerima telepon dari ayahnya. Yudistira Group... batin Ken dalam hati. Ken tahu betul bahwa Yuna adalah putri dari pemilik perusahaan tempat ayahnya bekerja. Ia teringat raut wajah Yuna yang lelah dan dingin saat menyebut kata 'kabur' di koridor sekolah. Ken menatap tangannya sendiri, membayangkan apakah cewek seangkuh Yuna yang dikenal sebagai Ratu Es di sekolah nanti malam juga akan hadir di acara megah yang dipimpin oleh ayahnya itu.Aroma cairan antiseptik dan karbol tajam memenuhi seluruh sudut kamar rawat VIP nomor 302 di lantai tiga Rumah Sakit Medika Utama. Sinar matahari pagi menerobos tipis dari balik tirai putih transparan yang membingkai jendela kaca besar. Di atas ranjang periksa bernuansa serba putih, Yuna masih terbaring kaku. Wajahnya yang biasa dingin bagaikan es kini tampak begitu pucat pasi, hampir menyamai warna sprei yang menutupi tubuhnya.Sebuah selang infus bening menancap di punggung tangan kirinya, mengalirkan cairan vitamin pekat dan penambah darah secara perlahan ke dalam pembuluh darahnya. Monitor di samping tempat tidur berbunyi teratur dengan ritme yang lambat dan halus, menandakan bahwa Yuna belum juga menyadarkan diri dari pingsan panjangnya sejak kemarin siang.Tak jauh dari kamar tersebut, di lorong VIP yang sepi dan lengang, Yuda melangkah dengan tertatih-tatih. Pemuda itu mengenakan pakaian pasien berwarna biru muda, tangannya memegangi tiang infus beroda yang membantunya menopang
Matahari pagi merambat naik menembus jendela-jendela kaca besar di gedung SMA Nusa Bangsa, membiaskan garis-garis cahaya keemasan di atas meja kayu. Suasana di dalam kelas 11 IPA 1 masih riuh rendah oleh obrolan para murid sebelum bel masuk jam pertama berbunyi. Beberapa orang sibuk menyalin tugas sekolah, sementara yang lain berkumpul di dekat papan tulis sambil tertawa ketiwi.Namun, di sudut paling belakang ruangan, suasana terasa jauh lebih senggang. Sebuah bangku kayu yang terletak tepat di sebelah meja Hana tampak kosong melompong. Tidak ada tas sekolah yang tersampir di sandaran kursi, tidak pula ada buku catatan kimia yang biasa terbuka rapi di atas permukaannya.Ken berdiri di samping meja tersebut. Pemuda itu memegang tali tas sekolahnya yang tersampir di satu bahu, menatap kosong ke arah kursi Yuna yang tidak berpenghuni. Dahi Ken berkerut dalam, memancarkan raut kebingungan yang sangat jelas di wajahnya."Aneh..." gumam Ken pelan pada dirinya sendiri.Hana yang sudah duduk
Proses pengambilan darah yang dipaksakan itu terus berjalan. Selang transparan di samping ranjang periksa tampak makin memerah pekat, mengalirkan cairan kehidupan dari tubuh Yuna menuju kantong plastik kedua. Wajah Yuna yang semula sudah pucat kini bertambah putih bagaikan kertas. Pandangannya yang menatap langit-langit kamar periksa perlahan mulai mengabur, membentuk bayangan ganda yang makin lama makin gelap.Denyut di pelipis Yuna berdetak terlalu kencang, diiringi rasa mendengung yang bising di dalam telinganya. Napasnya terengah-engah, sangat tipis dan halus. Jemari tangan kirinya yang terkulai di atas sprei putih dingin mulai kehilangan rasa. Yuna mencoba mempertahankan kesadarannya, namun rasa pusing luar biasa yang menghantam otaknya membuat kelopak matanya terasa amat berat.Perlahan tapi pasti, kelopak mata Yuna terpejam sepenuhnya. Kepalanya terkulai lemas ke samping kiri, tidak lagi bergerak.Bip... bip... bip...Suara monitor penanda detak jantung di samping ranjang menda
Dua detik setelah pengakuan Hana tentang usianya yang baru enam belas tahun membuat Ken dan Bima terpaku, sebuah getaran kuat disertai nada dering monoton memecah suasana. Ponsel pintar berwarna hitam milik Yuna yang tergeletak di atas meja bergetar hebat, menggeser sedikit permukaannya yang licin.Yuna melirik layar datar yang menyala. Nama 'Papa' terpampang jelas di sana, memancarkan aura dingin yang seketika membekukan seluas ruangan di sekitar Yuna.Yuna menggeser tombol hijau pada layar, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya."Ke Rumah Sakit Medika sekarang. Pak Joko sudah menunggu di depan gerbang," suara berat Yudistira terdengar di seberang sana. Tanpa nada sapaan, tanpa pertanyaan apakah putrinya sedang berada di jam pelajaran atau tidak. Perintah itu dijatuhkan begitu saja bagaikan titah hukum yang tak boleh diganggu gugat. "Kondisi Yuda menurun lagi. Dokter butuh pasokan darah tambahan siang ini."Yuna mengepalkan jemarinya di bawah meja, namun suaranya keluar begi
BRAKKK!"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"Suara dobrakan pintu yang terbuka secara kasar dan mendadak itu mengejutkan seluruh manusia yang berada di dalam kelas 11 IPA 1. Dentuman keras pintu kayu yang menabrak dinding semen begitu nyaring, sampai-sampai membuat Yuna yang sedang mengunyah renyahnya kue kacang di sudut belakang tersedak hebat. Tenggorokan gadis itu serasa tercekat kepingan remah kue."Aduh, Yuna!"Ken yang duduk di depan meja Yuna seketika panik setengah mati. Dengan gerakan secepat kilat, Ken memutar tutup botol air mineral dingin yang tadi dibawakannya, lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Yuna. "Nih, minum dulu, Yun! Pelan-pelan!"Yuna yang dadanya naik turun menahan batuk langsung merebut botol bening itu dari tangan Ken, lalu meminumnya beberapa teguk hingga tenggorokannya terasa lega kembali.Sementara di ambang pintu depan, sang pelaku utama berdiri dengan wajah polos tanpa dosa. Dasi OSIS-nya sedikit miring dan rambut rapinya agak berantakan."Eh, eh! Kalian tahu cewek y
Suasana tenang di sudut belakang kelas 11 IPA 1 yang tadinya hanya diisi oleh kunyahan pelan Yuna dan obrolan lembut Hana mendadak terpecah. Pintu depan terdorong pelan, menampilkan sosok Ken yang melangkah masuk membawa sebuah botol bening berisi air mineral dingin.Pemuda itu berjalan mantap membelah deretan meja kosong, mengikis jarak menuju meja Yuna. Senyum manis yang memancarkan binar ceria tak pernah lepas dari bibirnya. Tanpa memedulikan tatapan dingin dari Yuna, Ken meletakkan botol air mineral itu tepat di samping toples kaca kue kacang yang masih terbuka."Nih, gue bawain air putih. Takutnya lo seret pas makan itu kue," ucap Ken dengan nada renyah dan senyum manis yang mengembang sempurna.Yuna menghentikan gerakan tangannya yang hendak mengambil kepingan kue berikutnya. Iris mata cokelat gelapnya melirik botol air dingin di meja, lalu beralih menatap wajah Ken dengan raut datar tanpa ekspresi. Yuna tidak mengangguk, tidak menggeleng, dan tidak pula menguapkan sepatah kata







