Share

Bab 64

Penulis: Prettyies
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-07 16:28:44

“Mas aja yang ngelapin, kamu ambil pakaian yang mau dimasukkan aja,” kata Deva sambil mengibaskan koper pelan.

“Iya, Mas,” jawab Renita singkat.

Ia lalu membuka lemari, mengeluarkan celana, baju, piyama, dan beberapa pakaian lain, menumpuknya satu per satu di atas ranjang.

Pandangan Deva tanpa sengaja tertuju pada ukuran dalamannya.

“Mas ngapain kamu pegang-pegang dalaman ku?” Renita langsung menoleh, nadanya meninggi, wajahnya memerah.

“Nggak nyangka ukuran dada kamu segini,” ujar Deva jujur, disertai senyum tipis yang sulit disembunyikan.

“Mas mau bilang aku tepos?” Renita menyilangkan tangan di dada, matanya menyipit kesal.

“Tepos apanya, Mas belum pegang,” balas Deva santai, nada suaranya sengaja dibuat menggoda.

“Jangan pura-pura nggak tau, tadi aja udah lihat,” sahut Renita cepat, sedikit gugup tapi berusaha terlihat tegas.

“Mas bisa kok gedein,” kata Deva ringan, alisnya terangkat jahil.

“Jangan mikir aneh-aneh deh,Mas. Mentang-mentang kita cuma berduaan.” gumam Renita sambil m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 64

    “Mas aja yang ngelapin, kamu ambil pakaian yang mau dimasukkan aja,” kata Deva sambil mengibaskan koper pelan.“Iya, Mas,” jawab Renita singkat.Ia lalu membuka lemari, mengeluarkan celana, baju, piyama, dan beberapa pakaian lain, menumpuknya satu per satu di atas ranjang.Pandangan Deva tanpa sengaja tertuju pada ukuran dalamannya.“Mas ngapain kamu pegang-pegang dalaman ku?” Renita langsung menoleh, nadanya meninggi, wajahnya memerah.“Nggak nyangka ukuran dada kamu segini,” ujar Deva jujur, disertai senyum tipis yang sulit disembunyikan.“Mas mau bilang aku tepos?” Renita menyilangkan tangan di dada, matanya menyipit kesal.“Tepos apanya, Mas belum pegang,” balas Deva santai, nada suaranya sengaja dibuat menggoda.“Jangan pura-pura nggak tau, tadi aja udah lihat,” sahut Renita cepat, sedikit gugup tapi berusaha terlihat tegas.“Mas bisa kok gedein,” kata Deva ringan, alisnya terangkat jahil.“Jangan mikir aneh-aneh deh,Mas. Mentang-mentang kita cuma berduaan.” gumam Renita sambil m

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 63

    Renita refleks mendorong dada Deva dengan kedua tangannya. “Mas! Apa-apaan kamu?”Jantungnya berdetak kencang, napasnya tak beraturan.Deva terhenti, menatap Renita dengan sorot mata yang dalam. “Mas cuma…”Ia tak melanjutkan kalimatnya.Renita segera berbalik menuju lemari, membuka pintu dengan gerakan tergesa. Tangannya meraih beberapa potong pakaian. “Aku mau ganti baju,” ucapnya tegas.Namun Deva sudah berdiri di belakangnya. Ia meraih gaun dari tangan Renita, lalu mengembalikan pakaian itu ke dalam lemari. “Biar Mas yang pilih,” katanya pelan.Deva menggeser beberapa gantungan, lalu menarik sebuah dress sederhana berwarna lembut. “Kamu pakai ini,” ujarnya sambil tersenyum.“Pasti cantik.”Renita menoleh, wajahnya memerah. “Mas, minggir. Aku mau ganti.”Deva terkekeh kecil. “Kenapa harus minggir? Mas kan sudah lihat semuanya,” godanya ringan.“Mas Deva!” tegur Renita, dengan terbata-bata karena gugup.Deva mengangkat kedua tangannya menyerah. “Iya, iya. Mas tunggu di ranjang.”Ia

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 62

    Ponsel Renita tiba-tiba bergetar keras di atas ranjang. Layar menyala terang.My Husband – Calling.Darah Renita seakan berhenti mengalir. Wajahnya langsung pucat.“Itu… itu suami kamu nelepon,” ujar Deva dengan nada dingin, jelas menahan cemburu.Renita panik.“Mas, ngumpet dulu sana. Cepetan.”Deva menghela napas kesal, bangkit dari duduknya.“Ngumpet di mana?”Ia sempat mengacak rambut Renita dengan gemas, membuat perempuan itu makin gugup.“Kamar mandi aja,” jawab Renita cepat. “Mas ke sana dulu.”Deva melangkah ke kamar mandi, menutup pintu perlahan.” Nasib jadi barang selundupan … “ ucap Deva menghela nafas kasar. Renita buru-buru merapikan rambutnya, menarik napas panjang, lalu mengangkat panggilan itu.“Hallo, Mas. Ada apa?” suaranya dibuat setenang mungkin.“Dompet mas ketinggalan di apartemen,” suara Reza terdengar tergesa.“Mas lagi balik sekarang.”“Hah? Kok bisa, Mas?” Renita mencoba menahan gemetar.“Iya, tadi mas buru-buru jadi kelupaan,” jawab Reza.“Mas udah di lift.

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 61

    Pagi itu Renita terbangun lebih dulu. Ia menatap langit-langit sebentar, lalu bangkit pelan agar tak membangunkan Reza. Seperti biasa, langkah kakinya langsung menuju dapur.Suara peralatan dapur terdengar pelan saat ia mulai menyiapkan sarapan.Belum lama ia mengoles mentega ke roti, pintu kamar terbuka.“Ren, cepetan masaknya ya,” ujar Reza sambil menguap. “Mas mau ke bengkel.”Renita menoleh, alisnya mengernyit.“Bengkel kan bukanya siang, Mas. Mau ngapain pagi-pagi begini?”Ia menatap Reza lekat-lekat. “Kenapa nggak sekalian bantuin aku beresin apartemen?”Reza mendecak, malas.“Pekerjaan rumah itu tugas istri, Ren.”Ia meraih ponselnya.“Mas mau ketemu temen. Nanti kamu beresin semuanya aja. Mas jemput kalau udah mau berangkat.”Tanpa menunggu jawaban, Reza kembali masuk ke kamar.Renita berdiri terpaku di dapur. Tangannya yang memegang spatula mengepal pelan.Kenapa makin hari kamu makin nggak berubah, Mas?Jangan salahkan aku kalau suatu saat aku berpaling ke Mas Deva…Ia menar

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 60

    Renita duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya sendiri. Lampu kamar hanya menyala temaram. Dadanya terasa sesak, nafasnya belum sepenuhnya stabil ketika ponselnya bergetar.Layar menyala.Deva melakukan panggilan video.Renita ragu sejenak, lalu mengusap wajahnya cepat-cepat sebelum menerima.“Hallo, sayang,” suara Deva terdengar lembut dari seberang.Renita memalingkan wajah sedikit.“Mas ngapain nelpon aku malam-malam?”Deva menatap layar lebih saksama. Alisnya langsung mengernyit. “Mata kamu sembab. Kamu habis nangis, ya?”Renita refleks mengusap sudut matanya.“Nggak. Kelilipan aja.”“Kamu bohong,” Deva berkata pelan tapi tegas. “Aku kenal kamu, Ren.”Renita menelan ludah.“Kamu berantem sama Reza?” tanya Deva lagi.“Nggak,” jawab Renita cepat, terlalu cepat. “Biasa aja.”Deva menghela napas.“Udah, Ren. Jangan bohong sama Mas.”Renita terdiam. Bibirnya bergetar, tapi ia berusaha tersenyum.Deva melanjutkan dengan suara lebih rendah, penuh keyakinan.“Mas udah bilang… tinggalin R

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 59

    Mobil berhenti di basement apartemen. Renita turun tanpa banyak bicara, mengikuti langkah Reza menuju lift. Suasana di antara mereka terasa kaku.Begitu pintu lift terbuka dan mereka masuk unit, Reza langsung melepas sepatu. “Kamu masak, gih. Aku laper,” katanya datar.Renita meletakkan tasnya pelan. “Aku capek, Mas. Kenapa tadi nggak sekalian beli di luar?” ucapnya menahan lelah.Reza menoleh sekilas. “Sayang duitnya.”Renita tersenyum getir. “Sayang duitnya… atau sayang pakai uang kamu dulu?”Reza mendecak. “Itu kamu tau udah sana pesen in pakai uang kamu.”Renita menatapnya, tak percaya. “Kamu tuh gak pernah berubah.”“Nah, gitu dong,” Reza langsung tersenyum. “Pesanin sekarang ya. Aku mau mandi.”Belum sempat Renita menjawab, Reza sudah masuk kamar dan menutup pintu kamar mandi. Suara air menyala.Renita berdiri beberapa detik di ruang tamu, menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Akhirnya ia membuka aplikasi ojek online dan memesan makanan.Kenapa ya… dia keluar uang buat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status