Share

Bab 7

Author: Prettyies
last update Last Updated: 2025-11-20 11:50:13

Alarm ponsel Renita berbunyi pelan. Ia membuka mata dengan kepala berat dan perut yang nyeri. Cahaya matahari menembus tirai, menerangi kamar yang masih remang.

Ranjang di sampingnya sudah kosong. Hanya tersisa cekungan bantal bekas kepala Reza.

Dengan nafas panjang, Renita bangkit dan keluar kamar.

Reza sudah duduk di meja makan, kemeja kerjanya rapi, ekspresinya masam. Secangkir kopi di depannya tinggal setengah.

“Kenapa kamu bangunya telat?” ucap Reza tanpa menoleh.

Renita membuka kulkas, mengambil air. “Maaf aku kecapekan semalam, Mas. Perutku juga sakit dari bangun tidur.”

Reza menurunkan cangkirnya dengan suara keras.

“Kamu itu kebanyakan alasan. Nggak heran PCOS kamu makin parah. Kamu sendiri yang bikin hidup kamu ribet.”

Renita menatap meja, menahan air mata.

“Mas, aku lagi berusaha sembuh…”

“Ya bagus.” Reza berdiri, mengambil tas kerjanya. “Nurut aja sama Deva. Konsultasi tiap minggu. Jangan menambah masalah.”

Renita memberanikan diri. “Mas… bisa antar aku ke rumah sakit sekalian gak? Perutku sakit banget. Aku takut…”

Reza menatap cepat.

“Kamu naik ojek aja. Aku bisa telat gara-gara kamu. Ke klinik Mas Deva aja, biar gratis.”

Renita menunduk. “Tapi, Mas…”

Reza berjalan ke pintu, lalu berhenti.

“Sore aku jemput. Mama mau bahas acara keluarga. Jangan ngelawan kalau suami ngomong.”

“Baik…”

“Hari ini jangan bikin masalah lagi.”

Pintu tertutup.

Keheningan menyiksa.

Renita bersandar di meja, menutupi wajah. Rasanya… sepi. Punya suami yang tidak pernah peduli dengannya, disisi lain mantan kekasihnya kembali sebagai kakak iparnya.

Ia menarik napas panjang, bersiap, lalu memesan ojek dari lobi.

Ojek berhenti di depan klinik. Renita turun perlahan, menahan nyeri di perut yang semakin tajam. Ia masuk ke resepsionis.

“Selamat pagi, Bu. Sudah buat janji?”

Renita menggeleng. “Perut saya sakit. Saya pasien dokter Deva. Mau kontrol.”

Nama dicatat, lalu ia dipersilahkan naik ke lantai dua.

Perawat membukakan pintu. “Ibu Renita, silahkan naik ke lantai dua. ”

Renita berdiri di depan pintu ruang periksa lantai dua, menggenggam ujung bajunya gelisah.

“Aduh… gimana ini. Aku takut ketemu Mas Deva. Tapi perutku sakit banget… dan Reza pasti nggak akan izinkan aku periksa ke dokter lain…”

Ia menelan ludah, memberanikan diri mengetuk.

Tok. Tok.

“Masuk.”

Renita membuka pintu pelan. Deva menghentikan kegiatan menulisnya—dan langsung menatapnya.

“Ren… kenapa kamu datang kesini?”

Senyum tipis itu muncul. “Kamu kangen sama Mas ya?”

“Mas… jangan bercanda.” Renita duduk lemas. “Perutku…sakit banget. Dari pagi sakit banget rasanya.”

Sekejap, ekspresi Deva berubah serius.

“Berbaring. Mas periksa dulu.”

Renita berbaring di bed periksa.Deva mengelus kakinya naik ke paha.

“Tolong lebarin paha kamu sedikit.”

Renita spontan menegakkan badan.

“Mas… perutku yang sakit. Kenapa harus lebarin paha segala?”

Ada kewaspadaan di matanya—ketakutan yang ia coba sembunyikan.

Deva menghela nafas panjang.

“Renita. Pemeriksaan abdomen bawah memang harus begitu. Tapi kalau kamu nggak percaya Mas… kamu boleh periksa ke dokter lain.”

“Kok jadi ngancem…”

“Bukan ngancem. Kamu yang tentukan. Kamu mau sembuh atau nggak.”

Renita menahan napas, menunduk.

“…Mas, perutku sakit banget. Tolong jangan bercanda, ya.”

Deva akhirnya memeriksa dengan profesional.

Nada suaranya kembali tegas seperti dokter pada umumnya.

“Ren, buka baju kamu sekarang. Mas mau periksa bagian perut bawah.”

Renita refleks menutup dadanya dengan tangan.

“Buka baju segala… Mas nggak mau macam-macam kan?”

Deva mengangkat alis, separuh kesal, separuh geli.

“Maksud Mas cuma sampai area perut, bukan yang lain. Kamu terlalu overthinking sama Mas.”

Renita ragu sejenak, lalu perlahan menarik ujung bajunya naik sampai bagian perut terlihat.

Deva mulai memeriksa. Telapak tangannya menekan perlahan di beberapa titik.

“Sakit di sini?”

Renita langsung meringis. “Iya… itu, Mas.”

Setelah beberapa menit, Deva berdiri dan menghembuskan napas berat.

“Kamu diet ketat, ya?”

Renita mengangguk kecil.

“Iya… aku takut berat badanku naik. PCOS kan susah turun. Jadi semalam aku malah nggak makan.”

Deva duduk di sisi ranjang, nadanya tegas namun lembut.

“Ren… PCOS bukan alasan kamu harus menyiksa diri. Diet penting, tapi bukan berarti kamu nggak makan. Ini jelas asam lambung kamu naik. Dan kamu kelihatan mau datang bulan. Makanya nyerinya double.”

Renita menunduk. “Aku cuma pengen cepat sembuh… biar nggak dianggap nyusahin atau ngabisin uang.”

Deva terdiam lama. Rahangnya mengeras.

“Renita… kesehatanmu lebih penting dari semua omongan itu.”

“Ini Mas resep ini obat lambung, pereda nyeri, sama vitamin. Tapi ada syaratnya: kamu harus diet IFT—bukan diet asal-asalan kayak kemarin.”

Renita mengangguk pelan, suaranya kecil.

“Iya, Mas… makasih.”

Deva belum memalingkan wajah. Sorot matanya menahan sesuatu yang sulit ditebak.

“Kamu mau cepat sembuh dari rasa sakitnya?”

Renita mengerutkan alis. “Emang… bisa? Gimana caranya?”

Deva duduk di tepi ranjang, tubuhnya sedikit condong mendekatinya, suara diturunkan setengah napas.

“Katanya… kalau seseorang lagi kesakitan, hormon endorfin bisa naik kalau dikasih sentuhan yang tepat.”

Ia berhenti sejenak, menatap Renita tanpa kedip.

“Bahkan… ciuman bisa bikin rasa sakit hilang.”

Renita langsung tegak, seperti kesetrum.

“Mas… itu istilah dari mana? Kedokteran mana yang ngajarin begitu? Itu akal-akalan Mas saja.”

Deva tersenyum kecil ,tanpa memikirkan apanya ia ucapkan.

“Mas cuma menawarkan, Ren.”

Bahunya terangkat sedikit. “Kalau kamu nggak mau… ya nggak apa-apa.”

Nada suaranya ringan, tapi matanya sama sekali tidak.

Renita turun dari ranjang dan langsung berlari kecil menuju pintu, hampir tersandung saking paniknya.

“Permisi, Mas… aku pulang dulu.”

Ia membuka pintu terburu-buru dan menghilang sebelum Deva sempat bergerak.

Deva hanya sempat menatap pintu yang masih berayun.

Detik berikutnya, terdengar suara dari luar.

“Permisi, Dok. Pasien berikutnya.”

Deva menelan nafasnya, memaksa kembali menjadi profesional. Ia merapikan jas putihnya, menenangkan ekspresi.

“Silakan masuk.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 68

    Mobil Deva akhirnya tiba di depan villa keluarga Nathalia saat malam sudah turun. Lampu-lampu halaman menyala temaram.Deva turun lebih dulu, membuka bagasi dan menurunkan koper Renita.Pintu villa terbuka. Nathalia keluar dengan langkah cepat lalu langsung memeluk Deva erat.“Mas, kamu kenapa baru datang?” keluh Nathalia manja.“Aku kangen tau.”Deva menghela napas, lalu melepaskan pelukan itu lalu berbalik badan menatap Nathalia. “Apaan sih, Nat. Kita kan hampir tiap hari ketemu,” katanya datar.“Jangan lebay.”Tatapan Deva turun sesaat, lalu alisnya langsung berkerut.“Kamu ngapain pakai baju kayak gini?” tegurnya.Nathalia hanya mengenakan lingerie tipis dengan riasan wajah yang tebal. Ia tersenyum percaya diri, lalu mengalungkan tangannya ke leher Deva.“Gimana?” bisiknya genit.“Kamu suka nggak?”Deva langsung memalingkan wajah.“Kamu nggak malu dilihat orang?” katanya kesalkesal. “Ganti baju sana. Nanti masuk angin.”Nathalia tertawa kecil, mendekatkan wajahnya ke telinga Dev

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 67

    Renita memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Dengan langkah sedikit tergesa, ia keluar dari toilet dan menuju kasir.“Kamu lama banget,” ujar Deva sambil menoleh.“Ayo, keburu sore. Nanti macet.”“Iya, Mas,” jawab Renita pelan.Mereka keluar dari restoran menuju area parkir.Kasian Mas Deva…kalau sampai dijebak Natalia dan harus jadi ayah dari bayi yang bukan darah dagingnya, batin Renita gelisah.Deva membuka pintu mobil.“Ayo masuk. Kenapa bengong aja?”Renita tersentak kecil.“Iya,” katanya sambil masuk ke dalam mobil.Setelah pintu tertutup dan mesin mobil menyala, mobil pun melaju meninggalkan parkiran.Cerita nggak ya…Aduh, aku kok takut. Tapi kalau nggak dikasih tau, kasian Mas Deva, pikir Renita sambil menatap jalan di depan.Deva melirik sekilas ke arahnya.“Kamu kenapa, Ren?”“Ngelamun terus.”Ia mengulurkan tangan, mengelus rambut Renita lembut.“Ada yang mau diomongin sama Mas? Ngomong aja. Kayak sama siapa pun.”Renita menelan ludah.“Mas…”“Mas cinta nggak sih sam

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 66

    “Suapin Mas dong, Ren,” kata Deva sambil sedikit mencondongkan tubuhnya.“Hah?” Renita tampak tidak fokus, tatapannya kosong sesaat.“Kamu mikirin apaan sih?” Deva tersenyum.“Mas ada di depan mata kamu, loh.”Renita tersentak.“Maaf, Mas. Tadi Mas ngomong apa?” tanyanya gugup.“Suapin Mas,” ulang Deva, nadanya dibuat manja.Renita menghela napas kecil sambil tersenyum.“Kamu nggak berubah dari dulu. Kalau makan selalu minta disuapin.”Deva menatapnya dalam.“Berarti kamu masih ingat,” katanya pelan.“Atau… kamu memang nggak pernah lupa sama Mas?”Renita langsung mengalihkan pandangan.“Udah, jangan dibahas,” katanya cepat.Ia mengambil sumpit, lalu menyuapi Deva.“Aaa.”Deva membuka mulut, lalu tersenyum puas.“Enak banget ramen-nya kalau kamu yang nyuapin.”Renita menggeleng kecil.“Itu karena ramen-nya memang enak, Mas.”Setelah mereka selesai makan, Deva mengangkat tangan memanggil pelayan.“Mbak, sini deh. Kita mau pesan dessert.”“Dessert apa, Pak?” tanya pelayan.“Dua es krim a

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 65

    “Jangan bengong, Ren. Ayo berangkat,” ujar Deva sambil meraih koper.“Iya, Mas,” jawab Renita cepat, lalu mengikutinya keluar kamar.Deva menarik koper Renita ke arah pintu, lalu spontan menggenggam tangan Renita.“Mas, jangan,” Renita refleks menahan, menoleh ke kanan kiri.“Nanti orang-orang mikir yang nggak-nggak tentang kita.”Deva meliriknya sekilas, senyum tipis muncul.“Kamu penakut banget sih. Ayo.”Renita tak menjawab, hanya menunduk sambil membiarkan Deva tetap menggandeng tangannya.Mereka keluar dari unit apartemen, berjalan menuju lift. Suasana hening di dalam lift terasa canggung.Renita mencuri pandang.“Mas… orang bisa lihat.”Deva terkekeh pelan.“Lihat apa? Kita cuma jalan bareng.”Lift berhenti di basement. Deva lebih dulu keluar, menarik koper Renita menuju mobil, lalu membuka bagasi dan meletakkannya dengan rapi.“Udah,” katanya singkat.Ia lalu berjalan memutar dan membukakan pintu mobil untuk Renita.“Silakan.”Renita tersenyum kecil.“Terima kasih, Mas.”Deva m

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 64

    “Mas aja yang ngelapin, kamu ambil pakaian yang mau dimasukkan aja,” kata Deva sambil mengibaskan koper pelan.“Iya, Mas,” jawab Renita singkat.Ia lalu membuka lemari, mengeluarkan celana, baju, piyama, dan beberapa pakaian lain, menumpuknya satu per satu di atas ranjang.Pandangan Deva tanpa sengaja tertuju pada ukuran dalamannya.“Mas ngapain kamu pegang-pegang dalaman ku?” Renita langsung menoleh, nadanya meninggi, wajahnya memerah.“Nggak nyangka ukuran dada kamu segini,” ujar Deva jujur, disertai senyum tipis yang sulit disembunyikan.“Mas mau bilang aku tepos?” Renita menyilangkan tangan di dada, matanya menyipit kesal.“Tepos apanya, Mas belum pegang,” balas Deva santai, nada suaranya sengaja dibuat menggoda.“Jangan pura-pura nggak tau, tadi aja udah lihat,” sahut Renita cepat, sedikit gugup tapi berusaha terlihat tegas.“Mas bisa kok gedein,” kata Deva ringan, alisnya terangkat jahil.“Jangan mikir aneh-aneh deh,Mas. Mentang-mentang kita cuma berduaan.” gumam Renita sambil m

  • HASRAT MEMBARA DOKTER TAMPAN   Bab 63

    Renita refleks mendorong dada Deva dengan kedua tangannya. “Mas! Apa-apaan kamu?”Jantungnya berdetak kencang, napasnya tak beraturan.Deva terhenti, menatap Renita dengan sorot mata yang dalam. “Mas cuma…”Ia tak melanjutkan kalimatnya.Renita segera berbalik menuju lemari, membuka pintu dengan gerakan tergesa. Tangannya meraih beberapa potong pakaian. “Aku mau ganti baju,” ucapnya tegas.Namun Deva sudah berdiri di belakangnya. Ia meraih gaun dari tangan Renita, lalu mengembalikan pakaian itu ke dalam lemari. “Biar Mas yang pilih,” katanya pelan.Deva menggeser beberapa gantungan, lalu menarik sebuah dress sederhana berwarna lembut. “Kamu pakai ini,” ujarnya sambil tersenyum.“Pasti cantik.”Renita menoleh, wajahnya memerah. “Mas, minggir. Aku mau ganti.”Deva terkekeh kecil. “Kenapa harus minggir? Mas kan sudah lihat semuanya,” godanya ringan.“Mas Deva!” tegur Renita, dengan terbata-bata karena gugup.Deva mengangkat kedua tangannya menyerah. “Iya, iya. Mas tunggu di ranjang.”Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status