LOGINSetelah pulang kerja, Renita seperti biasa dijemput Reza menuju rumah ibu mertuanya, Ayu. Begitu mobil berhenti, Renita buru-buru turun.
“Bawa itu kuenya, jangan sampai ketinggalan,” perintah Reza tanpa melihat. “Iya, Mas,” Renita membuka bagasi dan mengambil kotak besar. Dalam hati ia mendesah, ‘Ini kan kue mahal dari toko terkenal. Buat keluarganya Mas, dia royal. Tapi kalau buat aku? Hm.’ Reza mendengus. “Lelet banget kamu.” “Iya, Mas…” Renita menunduk dan menyusul. Begitu mereka masuk halaman, pintu rumah sudah terbuka. Tania, adik Reza, muncul sambil memainkan ponselnya. “Mama mana, Dek?” tanya Reza. “Di dalam, Mas,” jawab Tania enteng. Renita tersenyum tipis. “Ayo masuk, Tan.” Tania mendelik. “Aku mau nunggu Mbak Nathalia aja. Pasti nggak kayak Mbak… yang kalau kesini bawa tangan kosong.” Renita terdiam. Lupa apa dia, seluruh hidupnya sudah dibiayai aku dan Mas Reza? Ia memilih tak menjawab dan masuk, meletakkan paper bag kue di meja ruang tamu. Baru saja duduk, suara Ayu terdengar dari dapur. “Potong sekalian kuenya, terus buatin minuman buat Deva sama calon istrinya!” Renita menoleh. “Iya, Bu—” “Sana! Kamu dengar nggak Mama ngomong apa?” hardik Reza. Renita buru-buru bangun, membawa paper bag ke dapur. Ia baru menyiapkan piring ketika suara mobil memasuki halaman. Tak lama, Deva muncul di ambang pintu. “Sendirian aja, Mas? Mbak Nathalia mana?” Tania langsung menyambut, senyum lebarnya jelas berbeda dari sikapnya ke Renita. “Iya, dia banyak pasien,” jawab Deva singkat sambil masuk rumah. Ayu muncul ke ruang tamu. “Mah,” sapa Deva sopan. “Duduk, Dev. Nathalia mana kok nggak diajak?” “Lagi sibuk, Mah.” Nada Deva terdengar kaku. Ia memang tidak terlalu dekat dengan ibu tirinya yang matrealistis itu. Reza dan Tania adalah anak bawaan Ayu, sementara Deva anak dari almarhum ayahnya. Deva melirik ke seluruh ruangan. Renita belum emerge. Renita mana ya… batinnya. Ayu mengambil posisi di sofa, menyilangkan kaki. “Terima kasih ya, Dev, kamu sudah mau jadi dokternya Renita.” Deva tersenyum kecil. “Sudah sewajarnya, Mah. Aku dokter, dan dia pasien.” Ayu mengangguk tapi suaranya berubah lebih kritis. “Gimana kondisi PCOS-nya Renita itu? Bisa sembuh, kan? Soalnya sayang banget kalau harus keluar uang cuma buat pengobatan.” Deva menahan diri untuk tidak mendecak. Ia memperbaiki duduknya dan mulai menjelaskan sabar, profesional. “Begini, Mah. PCOS itu kondisi hormonal. Jadi bukan penyakit yang cuma dikasih satu obat lalu hilang. Tapi bukan berarti nggak bisa ditangani.” Ayu menyipitkan mata. “Maksudnya?” “PCOS itu bisa membaik kalau pola hidupnya diatur dan terapi dijalankan rutin,” lanjut Deva. “Yang penting itu keteraturan kontrol. Kita lihat respon tubuhnya, atur obat, atur nutrisi, dan pantau hormon.” “Jadi… bukan yang parah banget?” tanya Ayu. “Tidak, Mah. Banyak pasien PCOS yang akhirnya siklusnya kembali normal dan bisa hamil. Yang penting disiplin.” Deva tersenyum tipis, tenang. “Renita juga begitu. Dia sudah aku jadwalkan kontrol seminggu sekali di klinik. Biar aku lihat progress-nya.” Ayu akhirnya mengangguk meski masih tampak mengukur dalam hati. “Oh, begitu… Ya sudah. Yang penting kamu urus biar cepat sembuh. Jangan sampai uang kami kebuang sia-sia.” Sebelum Deva sempat menjawab, Renita muncul dari dapur membawa tray berisi minuman. Deva refleks berdiri sedikit hanya untuk membantu Renita meletakkan trey di meja. “Silakan, Mas… Mah…” ucap Renita pelan. Dan untuk sesaat, Deva menatap Renita lama—lebih lama dari yang seharusnya seorang dokter menatap pasiennya. “Ren, sini duduk.” Suara Deva terdengar tenang namun tegas. Ia menepuk kursi kosong di sebelahnya. “Mas lagi jelasin kondisi kamu ke Mama dan Reza, biar mereka paham betul.” Renita menelan ludah. Jantungnya berdetak kacau. Astaga… kenapa Mas Deva semakin berani? Di depan Mama… dan Mas Reza… Reza melirik tajam. “Kamu nggak dengar Mas Deva panggil kamu? Malah bengong.” Renita akhirnya melangkah, lalu duduk di samping Deva orang yang pernah mengisi hatinya dimasa lalu. Deva sedikit menggeser tubuhnya, membuat ruang khusus untuk Renita. “Maksud, Mas. Biar kamu juga dengar langsung, Ren.” Ayu menyilangkan tangan. “Tadi Deva bilang PCOS kamu itu bisa sembuh asal nurut sama dokter.” Deva mengangguk sambil tersenyum kecil. “Betul, Mah. Renita ini pasien yang… kalau nurut sama aku, pasti cepat membaik.” Tangan kiri Deva turun pelan—seolah gerakan alami menyentuh punggung Renita. Gerakan yang seharusnya seperti dokter menenangkan pasien… Tapi goresan lembut jarinya terlalu personal, terlalu menggoda. Renita menegakkan punggung spontan. “Mas…,” bisiknya lirih, hampir tidak terdengar. Deva berdehem, pura-pura memperbaiki posisi duduk. Tapi tangannya masih menempel, mengusap sangat pelan seakan itu hal biasa. Reza memicingkan mata. “Mas, Renita itu kadang bandel. Suka sok tahu sendiri.” Deva menoleh ke Reza, tatapannya datar. “Ya namanya pasien, Za. Kadang mereka takut, kadang ragu. Makanya harus ada yang jelasin… dan ada yang nenangin.” Tangannya semakin menekan halus punggung Renita seolah membuktikan ucapannya. Renita menunduk, pipinya panas. Ya Tuhan… tolong jangan ada yang sadar… Ayu ikut menimpali. “Iya, Dev. Kamu yang atur saja. Mama juga nggak mau dia ngabisin duit kalau nggak jelas hasilnya.” Deva tersenyum santun—tapi nadanya mengandung tekanan halus. “Tenang, Mah. Renita berobat sama saya. Gratis.” Ia menoleh ke Renita, pandangannya dalam dan penuh makna. “Yang penting… dia datang rutin. Seminggu sekali.” Reza menegakkan badan. “Gak apa-apa,Mas yang penting cepat sembuh dia bisa ngelayani aku tanpa mengeluh sakit.” Deva masih menatap Renita. “Kamu tenang aja yang atur. Renita merasa seluruh tubuhnya menegang. Baik karena takut… maupun karena sesuatu yang ia tak mau akui.Reza mengepalkan tangannya, suaranya naik penuh emosi.“Mas nggak akan pernah ngerti rasanya jadi aku!” bentaknya.“Aku ini anak pertama. Kewajiban aku nafkahin mama dan Tania!”Ia tertawa miring, nada suaranya merendahkan.“Kamu itu anak yatim piatu, Mas. Kamu nggak akan ngerti rasanya punya tanggung jawab kayak aku!”Wajah Deva langsung berubah. Rahangnya mengeras, matanya menghitam menahan amarah yang selama ini terkubur.“Jaga omonganmu, Za,” ucapnya pelan tapi tajam, setiap kata seperti pisau.Deva melangkah lebih dekat, menatap Reza tanpa gentar.“Kamu tahu nggak siapa penyebab kematian mama dan papa aku?” suaranya bergetar,denagn amarah memuncak. “Itu semua karena mama kamu,” lanjutnya dengan suara rendah namun penuh kebencian.“Wanita pelakor itu telah menghancurkan keluarga aku… sampai papa aku mati.”Reza tersentak, lalu menggeleng keras.“Apa yang kamu bilang?!” suaranya meninggi, emosinya meledak.“Mama aku bukan pelakor!”Ia menunjuk Deva dengan mata merah.“Mama Mas itu
Renita mendengus kesal lalu memukul dada Deva pelan.“Kamu ini masih sempat-sempatnya mikir mesum!” omelnya, wajahnya memerah.Deva meringis berlebihan sambil memegang dadanya.“Aww… sakit, Ren,” keluhnya dramatis.Renita langsung panik, refleks meraih tangan Deva.“Mas sakit? Maaf… aku kekencengan ya?” ucapnya khawatir.Deva membuka satu mata, senyum licik langsung muncul.“Hmm… bisa sembuh sih,” katanya santai.“Tapi ada syaratnya!”Renita menyipitkan mata, curiga.“Syarat apaan lagi?”Deva mendekat, suaranya direndahkan.“Cium bibir Mas dulu. Baru Mas maafin.”“Dasar modus!” Renita mendecak, tapi ujung bibirnya melengkung.Ia akhirnya mengecup bibir Deva singkat, nyaris malu-malu." Cup... "Deva tersenyum puas.“Nah, gitu dong. Langsung sembuh.”Belum sempat Renita membalas, suara dari luar terdengar jelas.“Renita! Kamu di mana, Ren?”Reza memanggil Renita dari luar. Wajah Renita langsung pucat.“Itu suara Mas Reza…” bisiknya panik.“Mas, gimana ini?”Deva menghela napas, sorot m
Deva mengangkat tangannya, mengusap air mata di pipi Renita dengan ibu jarinya, sentuhannya lembut tapi penuh penegasan.“Jangan nangis,” ucapnya pelan.“Mas sudah nggak apa-apa, beneran.”Renita menggeleng, bibirnya bergetar.“Tetap aja aku khawatir, Mas,” sahutnya lirih.“Aku takut kamu kenapa-kenapa…”Sudut bibir Deva terangkat tipis. Ada rasa haru di matanya.“Mas malah senang kamu khawatir,” katanya jujur.Tiba-tiba ia mendengar suara perut Renita yang keroncongan.“Eh…” Deva melirik perut Renita.“Kamu belum makan dari kemarin, ya?”Renita menunduk, wajahnya memerah malu.“Belum, Mas,” jawabnya pelan.“Tadi Mas Reza nawarin makan…”Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada pahit.“Tapi ternyata dia cuma mau minta uang. Buat ngajak Mama sama Tania makan.”Rahang Deva langsung mengeras. Tatapannya berubah tajam.“Ren,” katanya tegas namun tetap lembut,“kenapa kamu kasih terus?”Ia menggenggam tangan Renita lebih erat.“Gara-gara kamu terlalu baik, mereka jadi nggak mikir.
Setelah mereka pergi, Renita melangkah pelan ke arah UGD. Ia berhenti di balik kaca pintu, mengintip ke dalam dengan jantung berdebar.Lama banget Nathalia di dalam… batinnya gelisah.Jangan-jangan Mas Deva sudah siuman, tapi dia sengaja nggak bilang ke siapa-siapa…Renita menggigit bibir, matanya meneliti keadaan sekitar.Gimana caranya aku bisa masuk tanpa ketahuan mereka… pikirnya resah.“Ren.”suara pria tua serak memanggil namanya. Renita tersentak. Tubuhnya refleks menegang saat mendengar suara itu.Ia menoleh dan mendapati Hendra berdiri tak jauh darinya.“I-iya, Pak,” jawab Renita cepat, berusaha terlihat tenang.“Ada apa ya?” tanya Renita penasaran. Diana ikut mendekat, wajahnya tampak cemas.“Kamu lihat Nathalia keluar belum?” tanyanya.Renita menggeleng pelan.“Belum, Bu,” katanya hati-hati.“Masih di dalam, sepertinya.”Hendra menyipitkan mata, menatap Renita penuh selidik.“Kamu ngapain berdiri di depan UGD?” tanyanya curiga.Renita menelan ludah, lalu menjawab dengan na
Reza mendekat, nada suaranya dibuat lembut seolah penuh perhatian.“Sayang, kamu makan dulu ya,” katanya sambil menatap Renita.“Pasti kamu lapar. Dari kemarin belum makan apa-apa.”Renita memalingkan wajah, suaranya datar, nyaris tak bertenaga.“Aku nggak lapar, Mas.”Reza menghela napas berlebihan, lalu mengusap perutnya sendiri.“Tapi Mas lapar, sayang,” ucapnya manja, setengah mengeluh.Renita menoleh sekilas, tatapannya dingin.“Ya kamu bisa beli sendiri, kan.”Reza langsung manyun.“Mas nggak bawa uang,” katanya cepat.“Kemarin uangnya kepakai buat beli baju.”“Nah, ini juga salah kamu,” lanjutnya menyalahkan,“kenapa nggak bawain Mas baju di koper.”Renita menatapnya tak percaya.“Terus maksud Mas… mau minta uang sama aku?” tanyanya pelan tapi menusuk.Reza mengangguk tanpa rasa bersalah.“Iya,” katanya ringan.“Mau minta siapa lagi? Mama juga nggak mungkin ngasih.”Renita tertawa kecil, getir.“Aku kan habis jatuh ke jurang, Mas,” ucapnya lirih.“Mana mungkin aku bawa uang.”R
Nathalia mendengus keras, wajahnya memerah menahan emosi.“Mas Deva mikirin dia?” katanya sinis.“Masa sih dia itu cuma adik iparnya? Atau jangan-janga dia sengaja bikin Maa Deva celaka.”Renita menatap Nathalia tegas, dadanya terasa sesak.“ Mbak Nathalia jangan asal menuduh saya, tidak mungkin seperti itu? “Hendra melirik Nathalia, berusaha menurunkan suasana.“Mungkin Deva menyebut nama Renita karena…”“Dia orang terakhir yang bersama Deva sebelum dievakuasi.”“Itu saja,” lanjut Hendra cepat.“Refleks alam bawah sadar.”Nathalia menoleh tajam.“Jadi menurut Papa itu wajar?”Diana maju selangkah, suaranya dibuat lembut tapi menusuk.“Betul, Sayang. Apa yang dibilang Papa,sudah ya jangan dibesar-besarkan.”“Orang kritis memang sering mengigau.”Ia melirik Renita sekilas, lalu menatap dokter.“Lagipula, yang paling tepat masuk kan calon istrinya bukan kamu.”Nathalia langsung menyambar kesempatan itu.“ Betul apa yang dibilang Mama saya, Dok. ““Lebih baik saya saja yang masuk.”Ia m







