เข้าสู่ระบบDona sudah agak mengantuk, tapi Leon tampaknya masih enggan beranjak dari restoran itu.
Pria itu terus bercerita, dan Dona mendengarkannya sambil tersenyum simpul.
Ia suka mendengar suara berat Leon. Pria itu tampak lebih hidup, berbeda saat di kantor yang penuh wibawa dan terkesan dingin. Selain saat mereka bermesraan, tentu saja.
Namun, suasana hangat dan menyenangkan itu mendadak buyar….
Byur!
Guyuran soft drink mendarat tepat di wajah Leon, membuat mereka terkejut dan sontak memisahkan diri.
“Apa-apaan ini?!” ucap Leon, langsung berdiri mengelap wajahnya dan menatap siapa yang mengguyur minuman itu.
“Dasar tidak tahu malu, bermesraan di tempat umum dengan wanita lain padahal sudah beristri!” seru wanita itu dengan lantang. Tangannya juga berusaha untuk menampar Leon tapi berhasil ditangkis oleh pria itu.
“Monica…?” lirih Leon, masih dengan wajah kaget.
“Iya, ini aku Monica, istri sahmu!” sahut Monica yang masih dipenuhi rasa amarah di dada.
Dona membelalak melihat wanita yang mengguyur minuman ke wajah Leon itu. Ia langsung mengenalinya.
Wanita itu yang tadi mendatanginya dan menyebutnya pelakor.
Namun, ucapannya barusan membuat kepala Dona seolah baru saja dihantam godam.
Istri sah…
Dona salah dengar, ‘kan?
Dona lantas menatap Leon. Sepasang matanya kini berkaca-kaca menuntut penjelasan. “Leon, apa benar dia istri sahmu?” tanyanya dengan suara bergetar.
“Aku bisa jelaskan, Dona,” jawab Leon. Wajahnya tampak tegang.
“Aku benar istri sahnya!” seru Monica. “Aku sudah memperingatkanmu!”
Meski tangannya berkeringat dingin, tapi Dona berusaha tenang. “Pacarku memang tampan, tapi kamu jangan sembarangan mengakuinya sebagai suami,” ucapnya.
Monica tertawa mendengar ucapan Dona. “Kamu benar-benar naif.”
Dona mengepalkan tangan. “Sebaiknya jangan berbicara sembarangan. Aku mengerti kalau kamu mengagumi kekasihku, dan itu sah-sah saja. Tapi jangan berbuat hal gila hanya karena cinta bertepuk sebelah tangan.”
Wajah wanita itu seketika berubah dingin dan keruh. “Beraninya kamu menasehatiku?!” tanya Monica sembari memicingkan matanya.
“Aku hanya mengingatkan saja,” kata Dona, kini sepenuhnya merasa tenang. “Jangan bertindak barbar di tempat umum seperti ini hanya karena cinta sepihak.”
Leon yang mendengar itu tertegun. Dona masih bisa bersikap tenang dan lembut ucapannya, padahal dia sudah diteriaki sebagai seorang pelakor. Sangat berbanding terbalik dengan Monica yang langsung membuat onar, tak peduli ditonton banyak mata yang ada di sana.
“Leon, katakan sesuatu. Kenapa hanya diam saja?” bentak Monica sembari menghentakkan kakinya karena kesal melihat pria itu hanya diam saja. Namun, yang membuatnya lebih panas adalah saat menyadari tatapan Leon begitu teduh ketika melihat wajah Dona.
“Dona benar. Kamu harusnya mencontoh Dona yang masih bersikap tenang meski sedang dipermalukan,” jawab Leon tenang.
Plak!
Kali ini, tamparan Monica benar-benar mendarat di pipi Leon.
“Jadi kamu membela wanita simpananmu ini, hah?!”
Leon mengusap pipinya yang kini terasa panas. Tatapannya berubah dingin saat menatap Monica. “Inilah yang tidak aku sukai darimu, kasar dan tidak tahu tempat saat marah.”
“Istri mana yang akan bersikap tenang saja ketika melihat suaminya bermesraan di tempat umum seperti ini?!” seru Monica. Dadanya naik turun dengan cepat, mengindikasikan amarah yang tak lagi terbendung.
Adu mulut pun tak lagi terelakkan. Suasana semakin sengit saja karena tidak ada yang mau mengalah.
Sementara itu, Dona masih memperhatikan pertikaian mereka dari jarak dekat. Dona masih bingung mau bersikap seperti apa karena dia masih belum memastikan status kedua orang itu.
Sebagian hatinya masih percaya wanita bernama Monica ini hanya mengaku-ngaku seperti yang dikatakan Leon. Dan saat ini, Monica hanya ingin mendapatkan perhatian dari Leon. Namun, sebagian hatinya yang lain percaya mungkin saja wanita ini benar-benar istri sah Leon….
“Kamu wanita tapi selalu saja tidak mau mengalah terhadap lelaki!”
Bentakan Leon membuat lamunan Dona buyar. Ia tidak pernah melihat Leon semarah itu sebelumnya.
“Jadi kamu mau aku diam saja saat melihat dengan jelas suamiku berselingkuh, begitu!? Di mana hatimu, Leon?!” seru Monica tidak terima.
“Suami … suami … aku bukan suamimu!” hardik Leon.
Monica tampak terkejut, tubuhnya huyung ke belakang karena mendengar ucapan itu dari bibir Leon. Ia tampak tidak percaya.
“Leon… teganya kamu bilang begitu?” ucap Monica lirih. Tubuhnya masih gemetar, seolah tak bisa mempercayai Leon yang tidak mengakui status mereka.
“Kalau tidak suka jangan dipaksa, cinta itu tumbuh dari hati bukan paksaan,” ucap Dona menengahi.
Seketika Monica melihat ke arah Dona yang masih berani menasehatinya tentang apa itu cinta.
“Kamu bodoh atau pura-pura bodoh, hah? Leon sudah beristri, dan aku istri sahnya!” seru Monica.
Meski dadanya terasa sesak melihat Monica yang tampak kacau dan rapuh, Dona berusaha menguatkan diri. Dia tidak ingin terpancing begitu saja tanpa bukti yang pasti.
“Apa buktinya kamu istri sah Leon?” tanyanya.
Tanpa diduga, Monica membuka tas dan mencari sesuatu di dalam sana. Tak lama, ia melemparkan sesuatu tepat ke wajah Dona saking kesalnya.
“Ini buktinya!”
Dona tersentak. Dengan tangan gemetar, ia memungut bukti yang bertebaran di lantai. Matanya terbelalak seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Itu adalah foto pernikahan dan juga buku nikah milik Leon dan Monica.
Dengan nanar, Dona menatap Leon yang membeku di tempat.
“Leon… jadi selama ini kamu membohongiku?”
Leon mengangguk pelan, dia sangat senang jika ibunya hadir di sidang cerai yang menandakan berakhirnya penderitaan Leon. "Tentu saja boleh," ucap Leon. "Baiklah ibu akan ikut di sidang terakhirmu. Semoga ketok palunya besok dimenangkan oleh kamu," balas Bu Lili "Amin," jawab Leon dan Dona barengan. Bukan mendukung perselingkuhan anaknya, tapi Bu Lili sangat senang jika Leon lepas dari penderitaan. "Sekarang kaliann istirahatlah," ucap Bu Lili "Iya, selamat malam ibu," balas Leon. "Ya, selamat malam, istirahat ya besok adalah hari yang mendebarkan untuk kita semua," ucap Bu Lili Leon dan Dona menuju kamar untuk istirahat. Mereka sangat berdebar kencang menunggu datangnya hari esok. Dona sangat tenang namun hatinya berisik, dia berdoa supaya besok adalah hari yang menyenangkan. Besok adalah hari yang membuat dia bahagia karena menyaksikan Leon lepas dari Monica. Istri yang membuat Leon menderita setelah melakukan pernikahan dengannya."Ah aku jadi deg degan, seperti apa sua
Monica sudah pergi, tapi kini Leon dan Dona menghadapi orang tuanya. Yaitu Pak Malik dan Bu Wati. Sepasang suami istri yang terlibat kandasnya hubungan suami istri Leon dan Monica."Tentu saja kami percaya diri. Karena sudah sejauh ini pernah selamat dari maut akibat anda berdua. Jadi kami harus menikah secara sah," ucap Dona dengan. tegas. "Jangan mimpi bisa menikah sah," balas Bu Wati."Kamu bilang penyebab kecelakaan sampai kamu keguguran itu adalah kami? Memangnya kamu punya bukti?" bentak Pak Malik."Kenapa kami tidak bisa menikah sah. Besok adalah sidang terkahir perceraian antara aku dan Monica. Jadi setelahnya aku mengurus pernikahan sah bersama Dona," jawab Leon "Untuk bukti penyebab kecelakaan kami polisi susah menemukan bukti cctv yang beredar di jalan. Mobil dengan plat nomor palsu itu sudah ketemu dan menemukan pelakunya. Apa kalian tahu, tentu saja orang itu sudah ditangkap dan diinterogasi," lanjut Leon.Wajah Pak Malik dan istrinya menjadi pucat. Dia tidak mau kasus
Wanita cantik itu mendekat ke arah Leon lalu menatap Leon dengan tatapan kebencian."Iya, kami sudah menikah siri. Kamu tidak salah dengar tidak usah pakai nada bicara penuh tekanan begitu," ucap Leon."Kita belum resmi bercerai kamu sudah nikah siri dengan si jalang ini?" ucap Monica sambil menunjuk Dona."Dia bukan jalang. dia wanita yang aku pilih!" tegas Leon. Ucapan Leon membuat Monica semakin sakit, memangnya apa yang kurang dari Monica sehingga Leon lebih memilih Dona. Wanita yang baru saja dia temui. Berbeda dengan Monica, mendengar ucapan Leon, hati Dona berbunga-bunga karena Leon mengutarakan isi hatinya di depan Monica mantan istrinya. "Kita lihat saja Leon. Di sidang besok. Jangan harap kamu mendapatkan harta Gono gini sedikitpun karena kamu sudah menikah siri sebelum kamu resmi menceraikan aku," bentak Monica."Harta Gono gini apanya. Aku kemarin sudah ditelpon oleh debcolektor bank. Aku bilang saja lelang itu rumah," balas Leon dengan senyuman menawan."Jangan bodoh,
Laras tentu saja naik pitam dengan pertanyaan itu. Dia tersinggung dengan pertanyaan Dona yang menuduhnya ingin mencuri desain Dona. "Memangnya hanya kamu yang bisa desain. Kenapa harus melontarkan kata-kata pedas seperti jth?!" seru Laras yang wajahnya terlihat marah dan tidak bisa disembunyikan. "Ya, maaf kalau tidak seperti itu," ucap Dona santai "Segitu gampangnya kamu minta maaf sudah menduduki pencuri!" seru Laras. "Ya kalau tidak santai saja. Kalau marah menandakan kalau kamu memang ada sesuatu," balas Dona. Laras marah dan teriak-teriak hari itu. Membuat semua orang mendengar dan meledak mereka. Teman satu divisi mereka meminta untuk segera berdamai karena hari ini adalah hari yang penting dan tidak perlu ada keributan. Laras juga sama aja, sok bossy selalu mengomentari orang lain merasa bebas. Tapi teman satu divisi itu tidak serta mesra mengalahkan Laras seorang, Dona juga disalahkan karena asal bicara menuduh Laras ingin mencuri desainnya. Alhasil ada keributan ha
Leon bicara dengan nada agak tinggi membuat Dona terkejut. Biasanya Leon tidak pernah berkata dengan Nada seperti itu. "A-ku hanya takut kalian tidak jadi bercerai dan statusku hanya istri siri," jawab Dona terbata dia sedih dengan bentakan. dadi Leon. "Kamu kenapa?" tanya Leon sembari memeluk Dona. Leon merasa bersalah meninggikan suara. "Maaf, ya. Aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya tegas saja berbicara," lanjut Leon. "A-ku syok saja kamu kasar padaku dalam lisan," jawab Dona. "Aku sudah minta maaf, aku hanya minta kamu percaya padaku. Sebentar lagi urusan ceraiku akan selesai," ucap Leon. "Kamu janji akan menikahi aku secara resmi 'kan?" tanya Dona. "Ya, aku akan menikahi kamu secara resmi," jawab Leon. Dona masih berada di pelukan Leon. Tentu saja ini kesempatan Leon untuk menggoda Dona dan memulai ritual malam penuh kegembiraan. untuk apa memikirkan Monica dan trik liciknya. Cerai tetap cerai, Leon harus menikah dengan Dona. Wanita yang paling dia dambakan
Leon panik sepertinya Dona gelisah dan mempercayai ucapan Robi. Bercanda boleh saja tapi jangan di depan Dona yang saat ini berhasilbLeon tahklukan. "Aku harus jawab apa, Leon?" goda Robi lagi "Jawab yang sejujurnya dong. Kalau aku tidak seperti yang kamu bilang tadi," ucap Leon. "Iya, kamu hanya ngeprank aku 'kan. Jangan bercanda soal setia. Aku sudah banyak makan hati akhir-akhir ini," balas Dona. Robi menyeringai tipis ternyata Dona beneran tipe yang mudah terpengaruh. Baru mendapat provokasi kecil saja sudah kelabakan. Pantes saja Leon gampang mendapatkannya. Leon jatuh pada Dona. Yah orang seperti Dona ini akan tunduk kalau sudah cinta. "Dona, laki-laki lumrah menyukai wanita cantik. Tapi dia akan tetap setia pada satu wanita," ucap Robi. "Pertanyaan yang aku ajukan tadi belum kamu jawab Robi. Kamu hanya bercanda 'kan soal Leon yang gema selingkuh dan menjadikan aku wanita simpanan dengan sengaja?" tanya Dona. 'Iya-iya aku hanya bercanda. Tapi sepertinya kamu sangat tak







