登入Chapter 11Teman SMAPukul setengah lima sore, Zhao Anran memasuki jalanan menuju tempat tinggalnya, matahari mulai condong ke barat, meninggalkan semburat jingga di balik deretan pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan. Hari itu UGD lebih sibuk dibanding biasanya sehingga bahu Anran terasa pegal dan kepalanya sedikit berat dan Anran ingin segera tiba di rumahnya kemudian mandi air hangat, makan malam lalu tidur lebih awal.Namun, begitu mobilnya berbelok ke jalanan depan rumah, spontan Anran mengurangi kecepatan karena sebuah sedan hitam terparkir tepat di depan pagar. Anran sangat mengenali mobil itu dan segera menurunkan kaca mobil.Tang Wei juga menurunkan kaca mobil lalu tersenyum dan berkata, "Akhirnya pulang juga."Anran juga tersenyum, tetapi tidak menjawab. Ia membuka pintu mobil lalu menghampiri Tang Wei. "Bukannya semalam aku sudah bilang tidak ingin merepotkanmu?""Aku tidak merasa direpotkan," ujar Tang Wei.Anran mengedikkan bahunya. "Baiklah. Kalau begitu, aku menganda
Chapter 10Salah MengiraUntuk beberapa saat Anran membeku karena pengakuan Zeyan, sementara angin malam berembus melewati jalan kecil di antara kedua rumah mereka. Sejak melihat Zeyan menggendong anak perempuan. Anran sibuk membayangkan pria di depannya memiliki keluarga kecil yang sempurna. Seorang istri cantik yang menunggunya pulang setiap malam, seorang putri yang manja, rumah hangat dengan lampu-lampu yang selalu menyala. Rupanya semua itu hanya kesimpulan yang ia buat sendiri."Maaf," ucap Anran pelan sambil tersenyum canggung. "Saya... salah mengira."Zeyan tersenyum. "Tidak masalah." Anran mengangguk kecil dan suasana mendadak menjadi sedikit kikuk, ia baru mengenal pria itu beberapa hari, tetapi sudah dua kali salah menilai. Pertama mengira Zeyan mencoba bunuh diri, sekarang mengira pria itu masih memiliki istri.Zeyan melirik ke arah dalam rumah. ."Tawaran saya masih berlaku."Anran mengikuti arah pandangan Zeyan lalu mengembuskan napas pelan. Tawaran Zeyan seperti oase di
Chapter 9Duda Sebelah Rumah Zhao Anran tidak langsung kembali ke rumahnya, ia mengemudikan mobilnya ke arah yang berlawanan dengan tempat tinggalnya menuju sebuah restoran untuk mengambil makanan untuk makan malamnya yang telah dipesan sebelum ia meninggalkan tempat kerjanya. Ketika memasuki kawasan rumah lama neneknya, ia memperlambat laju kendaraannya, dan setelah berada di depan rumah, ia tidak langsung keluar dari mobil untuk membuka pagar. Anran menatap pintu gerbang rumah Zeyan, rumah bergaya Eropa modern itu selalu tampak hidup. Ketika hari mulai gelap, lampu-lampu terasnya menyala dan ketika siang hari selalu terlihat tenang. Pasti keluarga kecil chef Wang hidup rukun dan bahagia di dalam rumah itu, istrinya juga cantik, pikir Anran.Seorang chef berbakat, tampan, mapan, memiliki putri yang menggemaskan, dan keluarga yang hangat. Kehidupan Chef Wang benar-benar sempurna, pikirnya lagi. Anran menggeleng pelan lalu menghela napas berat dan buru-buru keluar dari mobil kemudia
Chapter 8Pemeriksaan Rutin"Jangan berlarian."Suara Wang Zeyan terdengar tenang, tetapi gadis kecil yang mengenakan baju kuning itu sama sekali tidak memedulikannya. Nuonuo justru tertawa riang sambil berlari menyusuri lorong poliklinik anak, kedua kepang pendeknya bergoyang ke kanan dan kiri mengikuti langkah-langkah kecilnya."Nuonuo menang!" serunya bangga.Zeyan mengembuskan napas pelan. Ia sudah memperingatkan putrinya sejak mereka turun dari mobil. Rumah sakit bukan taman bermain. Banyak pasien yang sedang beristirahat dan anak-anak lain yang mungkin kondisinya jauh lebih buruk daripada Nuonuo. Namun, di mata anak berusia empat tahun, lorong rumah sakit yang panjang justru terlihat seperti lintasan lomba lari."Awas, hati-hati jangan sampai jatuh.""Aku enggak jatuh!" Nuonuo berhenti, lalu menoleh sambil menyeringai jahil. "Papa lambat!""Benarkah?"Zeyan melangkah sedikit lebih cepat. Belum sempat Nuonuo kabur lagi, tubuh mungil itu sudah terangkat ke udara dan mendarat di p
Chapter 7Salah PahamPukul lima sore, Tang Wei sudah tiba di depan rumah Zhao Anran tepat waktu seperti yang dijanjikannya. Anran membawa tas kecil lalu keluar dari rumah sambil masih melihat daftar barang di ponselnya."Aku merasa seperti mahasiswa baru," gumamnya sembari menunjukkan layar ponselnya.Tang Wei yang bersandar di samping mobil tersenyum sembari membaca daftar di layar yang ditunjukkan Anran. "Kasur, lemari, rak buku, rak sepatu, meja kerja....""Aku benar-benar tidak bisa memakai barang-barang lama nenekku," kata Anran. "Tentu. Kurasa aku pun akan membeli barang-barang baru dibandingkan menggunakan furnitur lama milik nenekku," kata tang Wei sembari menjauh dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Anran. "Jika butuh bantuan membereskan barang-barangmu, katakan saja." Anran menatap Tang Wei dan berpikir kalau Kexin pasti memberitahu keadaan tempat tinggalnya. "Aku bisa mengatasinya sendiri," kata Anran lalu masuk ke dalam mobil."Aku tahu," kata Tang Wei lalu men
Chapter 6Tetangga Sebelah RumahPukul empat sore, Zhao Anran akhirnya sampai di rumah setelah menyelesaikan sif paginya. Meski disebut sif pagi, bekerja sebagai dokter UGD tidak pernah benar-benar terasa seperti jadwal normal. Ada saja pasien yang datang tiba-tiba atau kondisi darurat yang membuat waktu berjalan tanpa terasa, dan ketika akhirnya bisa pulang, tubuhnya terasa seperti baru saja melewati perang kecil.Anran mematikan mesin mobil lalu bersandar sebentar di kursi pengemudi sambil memejamkan mata. Kepalanya sedikit pusing, bukan hanya karena kelelahan, tetapi juga karena sejak pagi ia sudah memikirkan kondisi barang-barangnya yang masih berantakan.Bukan hanya perlu membeli beberapa furnitur baru, sepertinya ia juga memerlukan jasa kebersihan rumah karena jika mengerjakannya sendiri sepertinya dirinya tidak sanggup. Di London, Anran terbiasa tinggal sendiri dan mengurus dirinya sendiri bukan hal yang baru, tetapi mengurus rumah sebesar itu sendirian dan membagi tenaga denga