LOGINChapter 47Jangan Terlalu Banyak Berpikir Zeyan menatap nama lokasi yang dikirimkan Anran padanya dan merasa sedikit aneh karena perempuan itu sedang berada di sebuah tempat bermain game. Seorang dokter muda yang kelihatannya cukup serius menjalani hidupnya ternyata bisa menghabiskan waktu luangnya di tempat seperti itu, tetapi Zeyan pun menyimpulkan kalau Anran mungkin hanya sedang melepas penat bersama teman-temannya dan tidak perlu mengkhawatirkannya.Namun, sepertinya tidak sesederhana itu karena Zeyan menyadari kalau Anran sedang cemburu. Sejak semalam, ketika Zizi meneleponnya beberapa kali ekspresi Anran berubah meskipun perempuan itu berusaha menyembunyikannya. Hari ini ketika Zizi kembali menelepon saat mereka sedang makan, Anran bahkan hampir tidak bisa menyembunyikan kecemburuannya lagi sampai bersikap dingin dan kehilangan selera makan. Zeyan sempat berpikir Anran mungkin membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, tetapi ia tidak menyangka perempuan itu benar-benar mendiam
Chapter 46CemburuSetelah melihat nama He Zizi kembali muncul di layar ponsel Zeyan, Anran kehilangan selera untuk melanjutkan makan walaupun berusaha mengabaikannya dan tetap mendengarkan pembicaraan Zeyan, tetapi pikirannya sudah tidak lagi berada di meja makan. Beberapa menit kemudian, Anran meletakkan sumpitnya dan mengusap bibirnya dengan tisu."Saya mau pulang."Zeyan yang sedang mengambil minuman menatapnya. "Sekarang?"Anran mengangguk. "Saya harus melipat pakaian sebelum pulang ke rumah orang tua saya."Zeyan tidak membantahnya dan mengangguk lalu membayar makanan mereka. Setelah itu mereka meninggalkan restoran dan sepanjang sepanjang perjalanan Anran lebih banyak diam, sementara Zeyan sesekali meliriknya, tetapi tidak mengatakan apa pun.Sesampainya di rumah, Anran langsung masuk ke kamar dan meletakkan tas di kursi kemudian duduk di tepi tempat tidur sambil menatap kosong ke depan. Sebenarnya ia menyadari jika dirinya sedang terlalu banyak berpikir, Zizi mungkin memang ha
Chapter 45Panggilan yang MenggangguMenjelang pukul sepuluh malam, Anran akhirnya menyelesaikan pekerjaannya dan setelah berganti pakaian, ia segera mengambil tas lalu berjalan menuju tempat parkir. Sebelumnya Anran sudah mengirim pesan kepada Zeyan untuk memberitahukan bahwa dirinya akan datang menjemput. Zeyan juga mengatakan bahwa malam ini ia bisa pulang lebih cepat karena tidak ada lagi hidangan yang harus dikerjakan setelah pukul sepuluh.Ketika Anran tiba di restoran, Zeyan sudah menunggunya di depan pintu. Pria itu mengenakan pakaian yang sama saat Anran mengantarkannya siang tadi, tetapi tetap terlihat rapi meskipun seharian bekerja. Begitu melihat mobil Anran berhenti, Zeyan langsung berjalan mendekat."Sudah selesai?" tanya Anran setelah menurunkan kaca mobil.Zeyan mengangguk. "Biar saya yang menyetir." Anran mengangguk lalu segera keluar setelah Zeyan membukakan pintu mobil untuknya, bebrapa saat kemudian mobil yang dikemudikan Zeyan melaju dengan tenang di jalanan Shan
Chapter 44Dunia yang SamaHal yang pertama Anran lakukan adalah melihat ponselnya dan benar saja sudah ada pesan dari Zeyan yang memintanya untuk memberitahunya jika Anran sudah bangun. Anran segeran mengirim pesan: Saya baru bangun. Anran lalu meletakkan ponselnya dan pergi mencuci wajahnya ke kamar mandi, ketika ia kembali balasan Zeyan sudah datang. Zeyan: Mau makan apa? Anran berpikir sejenak, bukan ingin menolak ajakan atau kebaikan Zeyan, tetapi di kulkasnya masih banyak stok bahan makanan yang bahkan belum sempat dimasak. Sejak berpacaran dengan Zeyan, setelah pulang bekerja ia jadi lebih sering makan bersama pria itu.Anran membalas: Saya mau mencuci dan bahan makanan di kulkas yang saya beli terakhir kali masih belum dimasak, saya mau masak sendiri hari ini. Tidak lama balasan Zeyan datang: Mau saya masakkan? Tentu saja dengan senang hati, batin Anran dan tanpa disadari senyumnya merekah. Anran membalas: Jika tidak merepotkan Anda. Tidak lama kemudian Zeyan sudah ber
Chapter 43Masa LaluSetelah menghabiskan hari liburnya di rumah orang tua dan kembali mendapat jadwal masuk siang, anran belum sempat bertemu Zeyan. Rencana kecil di rumah orang tua Anran ternyata juga mendadak gagal, Yuan mengatakan ada kesibukan mendadak, padahal Anran sudah bersusah payah menyetir pulang ke rumah orang tuanya setelah bekerja.Paginya, Anran terbangun lebih cepat dari biasanya dan saat berusaha memejamkan mata lagi, ternyata kantuknya sepertinya sudah hilang. Mungkin karena terlalu memikirkan kejanggalan alasan kakaknya yang tiba-tiba membatalkan acara makan malam keluarga di rumah mereka. Kakaknya adalah orang yang sangat rapi, bahkan dalam hal kecil sekalipun. Namun, Anran tidak ingin mendesak kakaknya untuk mengatakan hal yang sebenarnya karena meskipun mereka sangat dekat, bukan berarti tidak ada batasan di antara mereka. Karena masih memiliki cukup banyak waktu sebelum berangkat bekerja, ia tidak langsung bersiap ke rumah sakit. Setelah beberapa saat memikir
Chapter 42PulangSetelah menyelesaikan beberapa urusan di rumah dan beristirahat sebentar, Anran yang sedang mendapatkan liburnya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya pada sore hari. Sudah beberapa hari ia tidak pulang, bukan karena tidak ingin bertemu keluarganya, tetapi karena belakangan sela waktu luangnya ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Zeyan.Anran sengaja membeli beberapa kotak makanan, kue, dan hidangan yang disukai orang tuanya dan neneknya. Saat memasuki rumah, ia mendengar suara percakapan dari ruang keluarga dan ternyata benar saja ibunya, ayahnya, dan neneknya sedang berada di sana.Anran baru berjalan beberapa langkah ketika ibunya langsung menoleh."Anda akhirnya pulang juga," kata Xu Jinghua sambil tersenyum. "Kata Yuan, Anda kemarin mentraktirnya makan?"Anran yang masih membawa beberapa kotak makanan langsung menghela napas panjang. "Mama benar-benar tidak bisa menunggu saya duduk?" Ia meletakkan kotak-kotak tersebut di atas meja sebelum duduk di







