Se connecterElara mematung saat melihat sosok pria yang muncul dari kegelapan di belakang Silas. Wajah itu, meski sudah menua dan penuh guratan lelah, sangat mirip dengan foto yang ada di dalam kotak emas miliknya. Ayahnya—pria yang selama ini ia kira telah tiada—berdiri di sana dengan jubah kelabu yang sederhana namun memancarkan wibawa yang luar biasa."Ayah?" suara Elara nyaris tak terdengar, tenggelam dalam gemuruh jantungnya sendiri yang berdegup kencang.Silas segera menundukkan kepalanya, rasa hormat yang bercampur ketakutan terpancar jelas dari gestur tubuhnya. "Guru besar... saya hanya mencoba menguji apakah putri Anda benar-benar layak menerima warisan rahasia Kamasutra ini."Pria itu, Sang Guru Besar, melangkah maju melewati Silas dan berhenti tepat di depan Elara yang masih memeluk Aris. "Menguji atau mencoba mencuri, Silas? Kamu tahu betul bahwa ilmu ini tidak akan pernah bisa dikuasai oleh mereka yang hatinya sudah diracuni oleh ambisi kekuasaan."Aris mulai bangkit berdiri, rasa pe
Gua di balik air terjun itu tidak sedingin yang dibayangkan Elara. Udara di dalamnya justru terasa hangat dan dipenuhi aroma dupa yang sangat kuat, jenis wewangian yang biasa digunakan dalam ritual meditasi kuno. Di tengah ruangan yang diterangi cahaya lampu minyak yang bergetar, seorang pria duduk dengan tenang di atas kursi kayu jati yang diukir sangat indah."Silas..." desis Aris sambil menarik Elara ke belakang punggungnya. "Aku sudah menduga bahwa kamu adalah otak di balik semua kegilaan Julian."Pria bernama Silas itu menoleh perlahan, wajahnya sangat mirip dengan Julian namun guratan di sekitar matanya menunjukkan bahwa ia telah melewati ribuan jam latihan yang berat. Ia menatap Elara bukan dengan nafsu, melainkan dengan ketertarikan seorang kolektor yang baru saja menemukan barang langka yang paling berharga."Julian hanyalah anak kecil yang bermain dengan api, Elara," suara Silas terdengar berat dan sangat berwibawa, jauh lebih dalam daripada suara Julian. "Dia menggunakan te
Aris memungut tas kulit yang tersangkut di akar pohon bakau pinggir sungai itu dengan wajah yang mengeras. Tulisan darah pada kertas itu seolah menjadi pengingat pahit bahwa kesembuhan fisiknya hanyalah awal dari peperangan yang lebih besar melawan sisa-sisa pengaruh Julian dan organisasinya."Naga Perak... Jadi Julian bukan sekadar ahli terapi cabul, dia adalah bagian dari jaringan yang lebih gelap," gumam Aris sambil meremas kertas tersebut hingga hancur.Elara mendekat, wajahnya yang tadi berseri kini kembali diliputi kecemasan saat melihat reaksi suaminya yang begitu waspada. "Apa maksudnya, Aris? Bukankah Julian sudah pergi dan ketakutan setelah kamu memberinya pelajaran tadi?"Aris menatap istrinya dengan pandangan protektif, ia tidak ingin Elara kembali merasa terancam setelah semua usaha yang dilakukan untuk menyembuhkannya. "Pria seperti Julian tidak bergerak sendirian, Elara. Mereka mencari orang-orang dengan masalah seperti aku untuk dijadikan alat, atau lebih buruk lagi, d
Aris berdiri dari balai-balai dengan gerakan yang sangat mantap, sama sekali tidak ada sisa kekakuan yang selama bertahun-tahun membelenggu kakinya. Cengkeramannya di leher Julian begitu kuat hingga pria itu harus berjinjit untuk sekadar mencari udara, wajahnya yang tadi angkuh kini berubah menjadi biru keunguan."Tadi kamu bilang aku pria cacat, bukan?" tanya Aris dengan suara rendah yang menggetarkan dinding bambu gubuk itu.Julian mencoba melepaskan tangan Aris, namun tenaganya sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan pria yang baru saja mendapatkan kembali gairah hidupnya. "Aris... lepaskan... Elara, tolong katakan pada suamimu agar tidak menjadi pembunuh!" rintih Julian dengan suara yang terputus-putus.Elara berdiri di belakang Aris, ia merasa ngeri sekaligus bangga melihat perubahan drastis pada suaminya yang selama ini selalu menunduk penuh malu. Namun, ia tidak ingin Aris mengotori tangannya dengan darah pria sehina Julian di saat mereka baru saja memulai lembaran baru yan
Udara dingin lereng Kelud yang masuk melalui pintu yang terbuka lebar tak mampu mendinginkan bara kemarahan yang membakar dada Elara. Julian berdiri di sana, sosok yang pernah menjadi pelariannya, kini tampak seperti iblis yang datang untuk menagih hutang dosa di saat yang paling tidak tepat."Berani sekali kamu menapakkan kaki di sini, Julian! Pergi sebelum aku benar-benar melakukan hal yang akan kamu sesali seumur hidup!" teriak Elara sambil berusaha menutupi tubuh Aris.Julian melangkah masuk dengan gaya angkuh, seolah ia adalah pemilik sah dari setiap jengkal ilmu yang kini sedang Elara praktikan. "Jangan munafik, Elara. Kamu tahu bahwa pijatanmu itu tidak akan pernah mencapai puncaknya tanpa campur tangan seorang ahli seperti aku."Aris mencoba bangkit, namun tubuhnya yang sedang dalam kondisi saraf terbuka membuatnya kembali jatuh tersungkur di atas balai-balai. "Julian... jadi kamu yang telah merusak kehormatan istriku di belakangku selama ini?" geram Aris dengan napas yang mem
Suasana di dalam gubuk bambu itu mendadak menjadi sangat pengap, bukan karena kurangnya udara, melainkan karena beban rahasia yang akhirnya tumpah ke permukaan. Elara bersimpuh di samping balai-balai tempat Aris berbaring, tangannya gemetar hebat saat hendak menyentuh jemari suaminya. Aris tidak lagi menatapnya dengan pandangan pelindung yang hangat; matanya kini kosong, menyimpan luka yang lebih perih daripada sayatan belati mana pun."Kenapa kamu diam, Elara? Apakah sentuhanku terasa begitu kasar dibandingkan tangan terampil pria bernama Julian itu?" tanya Aris dengan suara yang sangat rendah namun tajam.Kata-kata itu seperti petir yang menyambar kesadaran Elara, membuatnya teringat kembali pada masa-masa gelap di Jakarta. Di saat Aris sibuk dengan tugas-tugasnya dan selalu bersikap dingin di atas ranjang, Elara telah mencari pelarian pada sosok ahli terapi bernama Julian. Pria itu bukan hanya mengajarkan teori Kamasutra, tetapi juga memberikan kehangatan fisik yang selama bertahun







