Share

Part 60: Ayo, Nikah!

Author: Ersula
last update publish date: 2026-09-20 20:27:52

60

***

Kila menatap Aksara. Dia tampak canggung setelah menceritakan kejadian malam itu dengan Amerta.

"Pak Aksara menyebut namaku saat bercinta dengan orang lain?" Kila menaikkan alisnya.

"Aku lelah dan masih dalam pengaruh alkohol, tapi aku berani bersumpah, aku tidak sadar melakukan itu dengannya!" sahut Aksara kesal.

"Oh, iya? Tapi batang Pak Aksa sudah masuk, kan?" Kila menatapnya sinis tanpa basa-basi.

Aksara hanya menggaruk kepalanya. Pertanyaan konyol!

"Aku salah … Maafkan aku, Kila." A
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 118: Pertunjulan dan Masa lalu

    ***"Aku tidak tahu. Apa tidak lebih baik kita menikmati hari ini di ranjang saja?"Aksara memandangi hotel di hadapannya. Kakinya bahkan enggan melangkah. Beberapa poster besar bergambar Setyo Kalandra terpajang di kanan-kiri jalan menuju hotel. Wajah kakaknya tampak begitu menonjol di antara dekorasi acara.Setyo memang bukan musisi biasa. Dia seorang pemain biola profesional yang sudah tampil di berbagai panggung internasional."Sekali-sekali kita menonton pertunjukan kakakmu. Biar aku juga bisa mengenalnya lebih dekat."Kila merangkul lengan Aksara. Suaminya itu menghela napas, lalu meliriknya. Kila terlihat cantik mengenakan gaun hitam yang dipilihnya untuk malam ini."Tapi aku lebih memilih menghabiskan waktu di kamar vila," sahut Aksara sambil menuntun Kila menuju lobi hotel."Sabar, Sayang," bisik Kila.Aksara tersenyum kecil. Dia senang mendengar Kila memanggilnya dengan lembut seperti itu. Entah bagaimana, istrinya selalu bisa menjadi penyeimbang suasana hatinya. Kalau sudah

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 117: Setyo

    ***Kila bengong begitu memasuki area belakang vila.Ayah Kalandra ternyata memiliki vila semewah ini. Penampilannya bahkan mirip dengan vila para artis yang biasa dia lihat di televisi. Bangunannya luas, dengan desain modern dan jendela-jendela besar yang membuat pemandangan di sekitarnya terlihat jelas.Namun, bagian favorit Kila justru berada di belakang vila.Di sana terdapat ruang makan terbuka yang langsung menghadap kolam renang. Dari tepi kolam, dia bisa melihat jurang dengan hamparan hutan hijau yang membentang di bawahnya. Pemandangan itu begitu indah hingga Kila tidak bisa menahan decak kagumnya."Padahal di kampungmu juga tidak jauh beda indahnya."Aksara berdiri beberapa langkah di belakangnya. Dia cukup terhibur melihat tingkah istrinya yang sejak tadi tampak berbinar-binar mengagumi kolam renang dan pemandangan di hadapan mereka."Wah, ini baru kelihatan kalau aku benar-benar menikahi orang kaya," celetuk Kila senang."Siapa yang kaya?"Aksara mendekat, berdiri tepat di

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 116: Honey Moon

    ***"Apa? Mau ke kantor? Tapi dua jam lagi kita harus berangkat ke bandara."Kila merapikan travel bag mereka yang sudah diletakkan di dekat pintu. Beberapa barang kecil masih berserakan di atas meja, menunggu dimasukkan ke dalam tas. Sementara itu, Aksara masih sibuk dengan ponselnya sejak tadi.Kila sudah tahu suaminya memang punya banyak urusan pekerjaan. Karena itu, dia tidak terlalu berharap Aksara bisa benar-benar lepas dari pekerjaan selama liburan mereka. Namun, tetap saja sedikit menyebalkan ketika rencana berangkat bulan madu harus terganggu oleh urusan kantor."Sebentar saja, Sayang," jawab Aksara.Nada suaranya terdengar santai, tetapi wajahnya justru tampak serius. Dahinya berkerut, sementara ibu jarinya terus bergerak di layar ponsel.Kila memperhatikannya beberapa saat.Pasti ada masalah yang cukup berat di kantor. Mana mungkin Aksara bisa menikmati liburan kalau pikirannya masih tertinggal di sana?Kila menghela napas pelan."Atau kita berangkat dari kantor saja?" usul

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 115: Akhirnya... bergandengan...

    ***"Bagaimana?" bisik Aksara.Kila tersenyum sambil menatap suaminya. Baginya, Aksara selalu terlihat menarik. Tubuh pria itu tegap, kulitnya terasa hangat, dan ada sesuatu dari dirinya yang selalu berhasil membuat Kila terpikat. Bahkan, kalau boleh jujur, Aksara sebenarnya jauh lebih menggairahkan daripada pemandangan di sekitar mereka.Namun, kali ini Kila ingin menikmati hal sederhana. Berjalan bersama, bergandengan tangan, dan sesekali bercanda seperti pasangan lain."Aku baik-baik saja.""Yakin?"Kila mengangguk, lalu mengangkat bahu. "Tidak tahu. Tapi dokter bilang aku seharusnya bisa menjalani semuanya dengan normal."Aksara tertawa kecil. "Hahaha. Mungkin waktu pertama kali bertemu denganku, kamu memang terlalu bernafsu.""Pfft … tidak lucu!" Kila menyikut lengannya. "Kalau aku sedang heat, kamu mau kita bercinta di depan orang-orang?"Aksara pura-pura berpikir. "Hmm … di sawah juga boleh.""Aksara!"Pria itu tertawa melihat wajah kesal istrinya.Kios bakso yang mereka tuju t

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 114: Kampung Kila

    ***"Besok kalian ke Bali, ta, Nduk?"Ibu meletakkan cangkir-cangkir di atas nampan yang baru saja dibersihkan Kila. Aroma teh hangat menguar dari teko, menemani suasana santai sore itu."Iya, Bu. Sebenarnya Aksara menurut saja aku mau ke mana," jawab Kila sambil membuka bungkus camilan."Oh, kelihatannya Aksara memang niat sekali mau punya anak secepatnya." Ibu tertawa kecil.Kila ikut tersenyum. "Didoakan saja, ya, Bu. Semoga aku dan Aksara cepat punya anak."Namun, begitu mengucapkan kalimat itu, Kila justru teringat sesuatu. Sebenarnya, tanpa harus pergi ke Bali pun mereka sudah cukup sering berusaha membuat anak di kamar sendiri. Dia menahan senyum geli sambil mengambil beberapa camilan."Nduk, kamu masih memanggil Aksara pakai nama?" tanya ibunya lagi.Kila mengangkat alis.Memangnya ada yang aneh?Sejak masih bekerja, dia memang terbiasa memanggil pria itu dengan sebutan Pak Aksara. Namun, Aksara sendiri sudah memintanya memanggil nama saja. Kila pun tidak tahu apakah setelah m

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 113: Usil

    ***"Ini teh panasmu, Sayang."Aksara menyerahkan sebuah mug berisi teh hangat kepada Kila. Kekasihnya itu tersenyum kecil sebelum menerimanya."Terima kasih."Aksara kemudian duduk di samping istrinya. Dia merentangkan tangan, menarik Kila mendekat, lalu memeluknya dari samping. Kila menyandarkan tubuhnya dengan nyaman ke dada Aksara sambil meniup permukaan teh."Lama-lama sofa ini bisa roboh," gumam Kila sebelum menyesap minumannya.Aksara terkekeh. "Hm, kenapa kita susah sekali pindah ke ranjang, ya?"Kila menoleh dan mendapati suaminya sedang tersenyum jahil."Memangnya siapa yang membuat kita betah di sini?""Aku?" Aksara menunjuk dirinya sendiri dengan wajah polos.Kila mendengus geli.Mereka masih telanjang, hanya bantal sofa yang menutupi sebagian tubuh. Aksara mengecup puncak kepala istrinya. Malam itu terasa menyenangkan baginya. Bahkan kejadian konyol gara-gara celana dalam aneh pemberian Sarah tadi justru menjadi hiburan tersendiri."Aku senang menikahimu secepatnya," bisi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status