LOGIN107***"Astaga …"Kila menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya. Baru kali ini dia benar-benar menyadari kebiasaan Aksara setiap pulang kerja dari site dalam keadaan kelelahan.Pria itu bisa langsung merebahkan diri di kasur tanpa melepas sepatu. Akibatnya, kotoran dari sol sepatu mengotori lantai, bahkan mengenai seprai."Sayang, lepas sepatumu sebelum naik kasur!"Namun, Aksara nyaris tidak bereaksi. Dia sudah terlalu mengantuk untuk bergerak. Selama dua minggu terakhir, waktu istirahatnya sangat berantakan.Satu minggu setelah menikah, mereka menghabiskan banyak waktu bersama. Aksara bahkan seolah tidak pernah kehabisan tenaga setiap kali berada di dekatnya. Namun, setelah harus kembali bekerja di site selama seminggu penuh, pria itu akhirnya pulang dalam keadaan benar-benar kelelahan."Kasihan sekali …"Kila duduk di dekat kaki Aksara, lalu melepaskan sepatu dan kaus kakinya yang kotor. Setelah memastikan tubuh suaminya tidak demam, dia mulai memijat kaki Aksara yang terasa
***"Aku tidak tahu, ternyata ramai juga yang mengunjungi dokter Psikiater?" Aksara melihat antrian pasien di lobi. Aksara melirik Kila yang tampak duduk melamun dan dia melipat tangannya."Kila?"Kila masih terdiam. Aksara menjentikan jarinya, Kila tersadar."Maaf... Maafkan aku melamun.""Maaf? Ada apa, sayang?" Aksara mendekatkan wajahnya.Kila membalas tatapan Aksara. "Tidak apa-apa.""Kamu yakin?""Hmm, ya." Kila menghela napas. "Sedikit gugup. Aku sudah lama tidak kemari.""Minumlah dulu." Aksara menyodorkan botol minumannya."Tidak, aku tidak haus."Aksara menegangkan punggungnya. "Kamu baik-baik saja, Sayang. Jangan Khawatir.""Kila Damaya?"Seseorang memanggil dari balik pintu.Kila segera berdiri dan memasuki ruangan konsultasi. Dia memperhatikan sekelilingnya. Ruangan itu sudah banyak berubah sejak terakhir kali dia datang. Bahkan, dia hampir lupa sudah berapa tahun berlalu sejak sesi terapinya berakhir."Hai, Kila! Apa kabar?""Saya baik, Dok."Kila menyambut sapaan dokter
***"Kamu mau ke psikiater lagi?"Aksara mengernyit. Dia tidak mengerti apa yang masih dikhawatirkan Kila. Seminggu setelah kembali dari Jakarta, mereka sedang sibuk mempersiapkan rencana pernikahan.Kila terbaring dalam pelukannya. Sejak tadi wanita itu tampak melamun, sementara Aksara menopang kepala dengan satu tangan dan memperhatikan wajahnya."Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanyanya. "Kamu ragu menikah denganku?""Hm, tidak. Semuanya baik-baik saja, kecuali ….""Kecuali?"Kila mengangkat wajahnya. "Aku pikir, aku harus memeriksakan diri lagi. Terutama soal diagnosis compulsive sexual behaviour yang pernah kuceritakan kepadamu."Aksara merapikan rambut yang menutupi pipi Kila."Ya? Lalu? Apa kamu merasa gejala itu muncul lagi?.""Aku masih mengkhawatirkannya dan aku ingin berkonsultasi lagi.."Aksara terdiam sejenak. Selama ini, dia memang melihat Kila lebih mudah terangsang ketika mereka bersentuhan. Hanya dengannya. Namun, dia juga tahu bahwa kondisi Kila tidak sesederhana it
⚠️ CONTENT / ADULT WARNING:Bab ini mengandung konten dewasa ****Kila membuka mulut lebih lebar, perlahan memasukkan batang Aksara lebih dalam. Jelas tidak muat seluruhnya. Lidahnya bergerak di bagian bawah, mengusap dan menekan, sementara bibirnya menghisap pelan.Aksara mengerang rendah. Jari-jarinya yang tadi hanya menahan tepi wastafel kini naik, menyusup ke rambut Kila. Tidak memaksa, hanya mengikuti gerakan kepala wanita itu."Nggh… Kila…" suaranya serak.Kila menatap ke atas sebentar, mata mereka bertemu. Lalu dia mulai bergerak—naik turun dengan tempo pelan tapi dalam. Kadang berhenti di puncak untuk menghisap lebih kuat, kadang membiarkan lidahnya bermain di ujung sebelum menelan lagi.Air liur mulai membasahi dagu dan tangannya. Sesekali dia menarik kepala, bibirnya mengecup ujung batang Aksara yang mengkilap. Suara kuluman basah memenuhi kamar mandi, bercampur dengan napas Aksara yang semakin berat.Aksara menunduk, seolah memantau setiap gerakan Kila. Rahangnya mengeras.
⚠️ CONTENT / ADULT WARNING:Bab ini mengandung konten dewasa ****"Aksara, sudah!"Kila berusaha menahan Aksara yang hendak kembali memukuli Xavi."Pak, mohon jaga emosi." Entah sudah berapa kali polisi berkumis itu memperingatkan Aksara.Mereka batal makan steak. Setelah mengetahui apa yang terjadi, Aksara kembali menghajar Xavi. Xavi tentu saja tidak tinggal diam. Keduanya pun kembali terlibat baku hantam.Sekuriti segera melerai mereka dan membawa semuanya ke kantor polisi terdekat.Istri Xavi yang sedang hamil sampai histeris melihat kondisi suaminya."Kenapa kalian memukuli suamiku?!" jeritnya. Dia duduk di samping Xavi yang pipinya sudah bengkak."Sudah kubilang, suamimu itu mengganggu calon istriku!" sahut Aksara keras sambil menahan tisu di hidungnya."Sekretarismu yang menendangku duluan! Dia yang menyerangku!""Bukan sekretarisku!" Aksara langsung menyela. "Kila ini calon istriku.""Dan kakakku tidak mungkin menyerang orang tanpa alasan!" Nathan ikut menimpali."Sudah, suda
***"Oh?"Suara pria itu terdengar.Kila mengangkat wajah.Begitu melihat siapa yang berdiri di sana, matanya langsung terbelalak.Pria itu pun tampak sama terkejutnya."Pak … Xavi?!"Xavi mengusap pinggangnya yang terasa nyeri akibat benturan tadi. Wajahnya masih menyisakan lebam bekas tinju Aksara. Begitu melihat Kila, ekspresinya berubah masam."Cih, bisa-bisanya kita bertemu di sini!"Kila gelagapan dan segera bangkit. Keinginannya yang ingin buang air mendadak lenyap.Dia tidak ingin berurusan dengan pria itu lagi."Per-permisi." Kila memutuskan untuk berbalik.Belum sempat mengambil langkah, Xavi sudah menyambar tangannya."Hei!"Kila tersentak."Ini semua gara-gara kamu baper!!" bentak Xavi.Kila pucat. "Pak, aku tidak—""Tidak apa, hah?!" Xavi mempererat cengkeramannya. "Kau tahu berapa banyak orang yang melihat kejadian itu? Kau tahu bagaimana aku harus menanggung malu karena ulahmu?!"Kila berusaha menarik tangannya, tetapi cengkeraman Xavi terlalu kuat."Kau sudah mempermal







