Beranda / Romansa / Hangatnya Jeratan Om Martin / Jeratan di Balik Kaca Gelap

Share

Jeratan di Balik Kaca Gelap

Penulis: Akuma Rei
last update Tanggal publikasi: 2026-06-08 01:46:30

Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kamar kos Erika, membawa serta realitas yang harus kembali ia hadapi. Dengan tubuh yang masih terasa letih dan kepala yang agak pening, Erika memaksakan diri untuk berangkat ke kampus. Namun, sepanjang kelas berlangsung, fokusnya benar-benar hancur.

Di otaknya, rekaman kejadian semalam terus berputar seperti kaset rusak; bagaimana lengan kokoh Martin memeluk pinggangnya, aroma maskulin yang memabukkan, hingga bisikan berbahaya pria itu di ambang pintu kosnya.

"Erika! Astaga, kamu harus dengar ini!"

Suara pekikan nyaring Sandra membuyarkan lamunan Erika. Pintu kaca kantin kampus baru saja terbuka, dan Sandra langsung berlari menghampiri meja Erika dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan luar biasa. Gadis kaya itu langsung duduk di hadapan Erika, menggenggam kedua tangan sahabatnya dengan heboh.

"Kamu tahu tidak? Pesta semalam itu sukses besar! Tapi yang paling membuatku mau menangis adalah Papa," ujar Sandra dengan mata berkaca-kaca karena haru.

“Papa sengaja membatalkan rapat bisnis pentingnya di Singapura hanya untuk menyewa penthouse dan menemaniku tiup lilin. Dia bahkan memberiku hadiah kalung berlian ini!"

Sandra memamerkan kalung berkilau yang melingkar di leher jenjangnya.

“Papa itu memang dingin dan tegas pada orang lain, tapi kalau sudah bersamaku, dia adalah pria paling penyayang di dunia. Aku beruntung sekali punya Papa seperti dia, Erika. Di dunia ini, tidak akan ada pria yang bisa mencintaiku seikhlas Papa."

Mendengar penuturan Sandra, dada Erika mendadak terasa dihantam oleh rasa sesak yang tak kasat mata. Setiap pujian yang Sandra lontarkan untuk ayahnya bagai pisau yang mengiris rasa bersalah di dalam hati Erika.

Di satu sisi, Erika merasa menjadi sahabat yang paling jahat karena telah menyembunyikan fakta bahwa 'Papa yang penyayang' itu hampir saja menelanjanginya di atas ranjang beberapa jam yang lalu.

Namun, di sisi lain, sebuah gejolak aneh justru bangkit dari lubuk hati Erika yang paling dalam.

Erika menatap Sandra yang masih bercerita dengan menggebu-gebu. Selama ini, Erika selalu mengira dirinya hanya mendambakan figur seorang ayah yang tidak pernah ia miliki dari keluarganya yang hancur. Namun pagi ini, setelah merasakan sentuhan panas Martin, Erika menyadari satu hal yang mengejutkan dirinya sendiri.

Dia juga menginginkan kasih sayang dari Martin.

Bukan kasih sayang tulus seorang ayah kepada anaknya seperti yang didapatkan Sandra. Melainkan kasih sayang posesif, penuh gairah, dan mendominasi dari seorang pria dewasa kepada wanitanya.

Erika menginginkan tatapan mata elang Martin yang menggelap karena hasrat, ia mendambakan ciuman menuntut yang membuatnya lumpuh tak berdaya. Erika ingin menjadi satu-satunya wanita yang bisa meruntuhkan kendali sang konglomerat.

“Eh, Erika? Kamu mendengarkanku tidak, sih? Kok malah melamun?"

Sandra melambaikan tangannya di depan wajah Erika, membuyarkan fantasi liar yang sempat melintas di kepala sahabatnya.

"Ah... iya, San. Aku dengar," Erika memaksakan sebuah senyum tipis, berusaha menyembunyikan kegugupan yang luar biasa.

“Aku... aku ikut senang kalau Papamu begitu menyayangimu."

"Kamu pucat sekali, Erika. Apa kamu masih sakit karena kejadian semalam?" tanya Sandra tulus, menyentuh dahi Erika dengan cemas.

“Oh ya, semalam Papa bilang dia tidak melihatmu di lantai VIP. Kamu sebenarnya ke mana?"

Pertanyaan kasual dari Sandra itu seketika membuat darah Erika berdesir dingin. Tepat sebelum Erika sempat mengarang alasan, ponsel di dalam tasnya bergetar panjang.

Erika buru-buru merogoh tasnya, berniat menjadikan panggilan itu sebagai penyelamat dari introgasi Sandra. Namun, begitu matanya menatap layar ponsel, jantung Erika seolah berhenti berdetak.

Panggilan itu datang dari nomor tidak dikenal, lalu sebuah pesan teks masuk sedetik kemudian dari nomor yang sama:

[Aku di depan gerbang kampusmu. Keluar sekarang, Erika.]

Tidak ada nama pengirim, tetapi pilihan kata yang dingin dan tidak menerima penolakan itu langsung membuat Erika tahu siapa pria di balik pesan tersebut.

Om Martin.

Erika merasakan jemarinya mendadak sedingin es. Pesan singkat itu begitu ringkas, tetapi sanggup meruntuhkan seluruh ketenangan yang baru saja ia bangun susah payah.

Di seberang meja, Sandra masih menatapnya dengan raut wajah bingung, menunggu jawaban atas pertanyaannya yang sempat menggantung.

"Erika? Siapa yang mengirim pesan? Kok wajahmu seperti melihat hantu?" tanya Sandra, kepalanya sedikit condong mencoba mengintip layar ponsel Erika.

Dengan gerakan refleks yang cepat, Erika langsung membalikkan ponselnya ke atas meja, menyembunyikan layar digital itu dari pandangan sahabatnya. Jantungnya berdegup kencang, berkejaran dengan rasa panik yang kian memuncak.

"Ah, ini... dari Pak Beni, pemilik kafe," bohong Erika, suaranya sedikit bergetar namun ia mencoba tersenyum senormal mungkin.

“Dia bilang ada jadwal operasional kafe yang mendadak berubah siang ini. Aku harus segera ke sana untuk membantu persiapan."

Sandra cemberut, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan helaan napas kecewa.

"Yah... padahal aku baru mau mengajakmu makan siang bersama untuk merayakan ulang tahunku lagi. Tapi ya sudah, pekerjaanmu memang lebih penting. Hati-hati di jalan ya, Erika."

"Maaf ya, San. Selamat ulang tahun sekali lagi," ucap Erika tulus sembari buru-buru membereskan buku-buku kuliahnya ke dalam tas.

Ada rasa bersalah yang kembali mencubit dadanya saat menatap mata polos Sandra, tetapi rasa penasaran dan ketakutan akan sosok Martin jauh lebih mendominasi pikirannya saat ini.

Langkah kaki Erika terasa berat saat ia berjalan melewati koridor kampus menuju pintu gerbang utama.

Matahari siang itu bersinar terik, tetapi keringat dingin justru bercucuran di pelipisnya. Begitu kakinya melangkah keluar dari area gerbang, pandangan Erika langsung tertuju pada sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik yang terparkir di bahu jalan. Mobil yang sama dengan yang mengantarnya ke kos dini hari tadi.

Kaca mobil yang gelap gulita membuat Erika tidak bisa melihat siapa yang ada di dalam, tetapi aura intimidasi dari kendaraan mewah itu sudah cukup untuk membuat para mahasiswa yang lewat melirik penasaran.

Erika menelan ludah. Dengan ragu, ia melangkah mendekati pintu penumpang depan. Baru saja jemarinya hendak menyentuh tuas, terdengar suara klik pelan—pintu mobil tidak dikunci dari dalam. Erika menarik napas dalam-dalam, membuka pintu, lalu segera menyelinap masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk.

Begitu pintu tertutup rapat, aroma kayu cendana dan tembakau mahal langsung menyergap indra penciumannya, membawanya kembali pada ingatan erotis di kamar hotel 808.

Di balik kemudi, Martin duduk dengan keangkuhan yang alami. Siang ini pria itu mengenakan kemeja kerja berwarna putih bersih dengan lengan yang digulung hingga ke siku, menampilkan urat-urat menonjol di lengan kekarnya. Kacamata hitam yang bertengger di hidung tegasnya perlahan dilepas, menampilkan sepasang mata elang yang langsung mengunci pergerakan Erika.

"Om Martin..." cicit Erika, meremas tali tasnya dengan erat untuk meredam kegugupan.

"Kenapa... kenapa Om datang ke kampusku? Bagaimana kalau Sandra melihat kita?"

Martin tidak langsung menjawab. Pria matang itu justru memiringkan tubuhnya, condong ke arah Erika hingga jarak di antara mereka mengikis habis. Erika menahan napas, menyandarkan punggungnya erat-erat ke pintu mobil saat wajah Martin kini berada tepat di hadapannya.

"Kalau dia melihat kita, dia hanya akan mengira ayahnya sedang berbaik hati memberi tumpangan pada sahabat putrinya," bisik Martin dengan suara baritonnya yang berat dan serak.

Jemari besar Martin terulur, menyelipkan beberapa helai rambut Erika yang berantakan ke belakang telinga gadis itu. Sentuhan kulitnya yang hangat seketika mengirimkan gelombang sengatan listrik yang membuat tubuh Erika meremang.

"Tapi kita berdua tahu, Erika..." Martin menurunkan pandangannya, menatap lekat-lekat pada bibir ranum Erika yang sedikit terbuka.

“Aku datang ke sini bukan untuk berbuat baik sebagai seorang ayah."

Napas Erika tercekat. Di tengah ketakutan akan pengkhianatan terhadap Sandra, lubuk hati Erika yang terdalam justru berteriak histeris, menikmati intensitas dan ketegangan yang diberikan oleh pria berkuasa di hadapannya ini.

Martin menarik kembali tubuhnya, lalu menyalakan mesin mobil. Sedan mewah itu perlahan bergerak membelah jalanan, membawa Erika pergi menjauh dari area kampus.

"Kita mau ke mana, Om?" tanya Erika panik saat menyadari jalan yang mereka lalui bukan arah menuju kafenya.

Martin mengulas senyum tipis yang penuh teka-teki, matanya tetap fokus menatap jalanan di depan.

“Ke tempat di mana tidak akan ada Sandra, atau siapa pun yang bisa mengganggu kita, Erika."

Deg.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Permainan Kecil di Kost

    Ketenangan di kosan baru Erika terasa menyesakkan setelah badai di Restoran Valdivia reda, pertanyaan Sandra akhirnya bisa diredam. Martin berbohong dengan sangat halus, Sandra yang polos menelan bulat-bulat narasi sang ayah, bahkan berterima kasih karena ayahnya telah menyelamatkan nama baik sahabatnya.Namun bagi Erika, kebohongan sempurna itu justru mempertegas satu hal: Martin bisa memanipulasi kebenaran apa pun tanpa terdeteksi.Malam semakin larut. Suara rintik hujan gerimis membuat kaca di kosan Erika mulai berembun. Usai membersihkan diri dari ketegangan sore tadi, Erika keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan oversized T-shirt putih tipis yang agak menerawang dan celana pendek sebatas paha. Rambutnya yang masih basah terurai, meneteskan air ke atas tulang selangkanya yang bersih.Saat Erika sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, bunyi ketukan pelan—dua kali, begitu teratur—terdengar di pintu kosannya.Jantung Erika melonjak. Tidak ada orang yang tahu tempat tinggal

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Kartu As Sang Mantan

    Darah Erika mendadak tersedot habis membaca pesan anonim tersebut. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar hebat hingga sendok di tangannya berdenting menyentuh piring. Martin, dengan ketajaman instingnya, langsung menyadari perubahan sikap Erika. Pria itu meletakkan cangkirnya perlahan, melangkah menghampiri Erika, dan mengambil ponsel dari genggaman gadis itu. Mata Martin memicing saat membaca pesan itu. Bukannya panik, raut wajah Martin justru mengeras oleh amarah yang tertahan, seolah ia tahu siapa pengirim pesan tersebut. "Terlalu mudah ditebak…” gumam Martin dengan suara berat yang mengintimidasi. "Rupanya mata-matanya di hotel semalam bekerja cukup cepat." "O-Om... apa maksudnya? Om tahu siapa pengirim pesan ini?" bisik Erika panik, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. "Dia tahu soal kita— apa mungkin Daren yang mengirimnya?” Martin mencengkeram dagu Erika dengan lembut namun penuh penekanan, memaksa gadis itu menatap matanya. "Dengar, Erika. Jangan terlalu khawatir.

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Ancaman Baru

    Layar ponsel yang berkedip menyala itu seperti bom waktu yang siap meledak. Meski begitu, rona ketenangan terpancar jelas dari raut wajah Martin. Dengan gerakan tenang dan tanpa suara, Martin berjalan meninggalkan kamar Erika lalu menuruni tangga. Begitu berada di koridor luar yang hening, Martin menggeser ikon hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Ya, Sandra?" Suara Martin terdengar sangat wajar, dingin, dan berwibawa—seolah tak ada hal abnormal yang baru saja terjadi. Dari seberang telepon, suara Sandra terdengar panik dan terengah-engah. “Papa! Papa lagi di mana? Papa tahu nggak Daren ke mana? Terus Erika... Erika hilang, Pa! Ponselnya nggak aktif!" Martin berjalan perlahan menyusuri koridor, menyandarkan satu tangannya di saku celana. "Tenangkan dirimu, Sandra. Nada bicaramu terlalu berlebihan." “Gimana nggak panik, Pa!" seru Sandra dari seberang, suaranya hampir menangis. “Aku tadi minta Daren anterin Erika sebentar karena Erika mendadak pusing dan lemas. Tapi Dar

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Di Ambang Batas

    “Ahhh….” Erika memejamkan mata, tubuhnya melengkung dengan kedua paha menyatu, menikmati sensasi yang membuatnya melayang sejenak. Sedang Martin, dia duduk di samping kursi penumpang, melepaskan gumpalan kenyal yang memenuhi mulutnya. “Om.. makasih..” bisik Erika, kedua matanya terbuka, menatap nanar ke arah Martin. Martin mencoba mengatur nafasnya. Perlahan ia menutupi kembali buah dada Erika yang beberapa detik lalu ia nikmati. Sesaat kemudian ia membantu Erika untuk duduk. “Sepertinya kamu sudah lebih tenang sekarang. Minum dulu..” Martin memberikan sebotol air mineral pada Erika. Erika meminum beberapa teguk lalu memeluk erat pria matang di hadapannya. Gadis itu terisak di bahu ayah sahabatnya itu. Martin membiarkan Erika meluapkan semua di bahunya. “Aku nggak tau— apa yang akan terjadi— kalau om nggak dateng…” isaknya. “Daren–pasti sudah–memperkosa—“ “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu Erika. Sekarang tenanglah. Kamu baik-baik saja.” Martin me

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Kegilaan Erika

    Erika mencoba memberontak, tapi tubuhnya lemas oleh panas yang membuatnya hampir tak berdaya. Daren tertawa kecil melihat hal itu. Tangannya yang bebas bergerak turun, menarik tali gaun tipis Erika hingga kain itu melorot turun, membiarkan udara malam menyentuh kulit bahu Erika yang terbakar oleh efek obat yang Daren berikan ke dalam minumannya tadi. Daren menatap Erika dengan mata yang membelalak puas, bersiap untuk merenggut segalanya di bawah kegelapan malam yang sunyi. Dunia Erika berputar hebat. Sentuhan Daren yang kasar di bahunya terasa seperti api yang membakar saraf-sarafnya. Tepat saat bibir Daren hampir menyentuh bibir Erika, sebuah dentuman keras terdengar. Pintu mobil dibuka paksa dengan satu hentakan brutal. Dalam hitungan detik, kerah kemeja Daren ditarik kasar dari belakang, membuat pria itu terlempar keluar dari mobil hingga jatuh tersungkur ke aspal. Martin berdiri di sana. Wajahnya bukan lagi topeng tenang yang ia pakai saat makan malam tadi. Kini, yang

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Racun di balik keramahan

    “Erika, kamu harus ikut! Jangan menolak, ya?" Sandra merengek di ujung telepon dengan suara yang sangat bersemangat. "Akhir-akhir ini kita jarang keluar bareng. Jadi kali ini aku nggak mau menerima penolakan apapun.” Erika sempat ragu, namun desakan Sandra yang luar biasa membuatnya tidak punya pilihan. Lagi pula, dia merasa berhutang budi karena sudah sering berbohong pada sahabatnya itu. "Baiklah, San. Aku akan datang." Malam itu, Erika berdandan sederhana namun elegan. Ia menemui Sandra di sebuah restoran eksklusif. Restoran itu terasa sangat mewah, namun bagi Erika, suasananya terasa seperti ruang interogasi. Ia duduk di samping Sandra. Di seberang Sandra, duduk Daren, pria yang baru saja dikenal Erika kurang dari satu jam namun sudah menunjukkan ketertarikan yang terlalu agresif. "Erika, kamu harus coba wine ini," ujar Daren dengan senyum ceria. Matanya menatap Erika dengan binar yang membuat Erika makin tidak nyaman. Daren adalah tipikal pria yang tahu cara memikat wa

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Sisi Lain Sang Penguasa

    Erika meremas tali tasnya semakin erat seiring mobil mewah Martin melaju semakin jauh dari rute kafenya. Kecepatan mobil yang stabil namun pasti seolah menegaskan bahwa pria di sampingnya tidak terbiasa menerima penolakan. Jalanan kota yang padat perlahan berganti menjadi deretan pepohonan rindan

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Dua Dunia yang Berbeda

    Dinginnya AC di dalam kabin sedan mewah ini perlahan mengikis rasa menggigil di tubuh Erika, digantikan oleh ketegangan lain yang membuat seluruh tubuhnya kaku. Ini adalah pertama kalinya Erika duduk di dalam mobil semewah ini. Aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang tadi ia hirup di kamar hote

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Tawaran di Tengah Malam

    Suara Sandra dari seberang telepon masih terdengar cemas, memecah keheningan kamar yang pengap oleh gairah yang tertahan. Setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu bagai hantaman gada yang telak ke dada Erika. Rasa bersalah kini sepenuhnya menggantikan sisa-sisa alkohol di kepalanya. Erik

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Api Dalam Selimut

    Mata Erika terbelalak di tengah keremangan kamar ketika bibir Martin menyentuh bibirnya. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan sebuah tekanan yang dalam, menuntut, dan penuh dominasi. Dada Erika berdesir hebat. Ini adalah sentuhan pertamanya, dan itu diambil oleh pria yang seharusnya ia hormati. Ra

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status