Inicio / Romansa / Hangatnya Jeratan Om Martin / Permainan Kecil di Kost

Compartir

Permainan Kecil di Kost

Autor: Akuma Rei
last update Fecha de publicación: 2026-09-19 20:23:00

Ketenangan di kosan baru Erika terasa menyesakkan setelah badai di Restoran Valdivia reda, pertanyaan Sandra akhirnya bisa diredam. Martin berbohong dengan sangat halus, Sandra yang polos menelan bulat-bulat narasi sang ayah, bahkan berterima kasih karena ayahnya telah menyelamatkan nama baik sahabatnya.

Namun bagi Erika, kebohongan sempurna itu justru mempertegas satu hal: Martin bisa memanipulasi kebenaran apa pun tanpa terdeteksi.

Malam semakin larut. Suara rintik hujan gerimis membuat kaca
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Permainan Kecil di Kost

    Ketenangan di kosan baru Erika terasa menyesakkan setelah badai di Restoran Valdivia reda, pertanyaan Sandra akhirnya bisa diredam. Martin berbohong dengan sangat halus, Sandra yang polos menelan bulat-bulat narasi sang ayah, bahkan berterima kasih karena ayahnya telah menyelamatkan nama baik sahabatnya.Namun bagi Erika, kebohongan sempurna itu justru mempertegas satu hal: Martin bisa memanipulasi kebenaran apa pun tanpa terdeteksi.Malam semakin larut. Suara rintik hujan gerimis membuat kaca di kosan Erika mulai berembun. Usai membersihkan diri dari ketegangan sore tadi, Erika keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan oversized T-shirt putih tipis yang agak menerawang dan celana pendek sebatas paha. Rambutnya yang masih basah terurai, meneteskan air ke atas tulang selangkanya yang bersih.Saat Erika sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, bunyi ketukan pelan—dua kali, begitu teratur—terdengar di pintu kosannya.Jantung Erika melonjak. Tidak ada orang yang tahu tempat tinggal

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Kartu As Sang Mantan

    Darah Erika mendadak tersedot habis membaca pesan anonim tersebut. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar hebat hingga sendok di tangannya berdenting menyentuh piring. Martin, dengan ketajaman instingnya, langsung menyadari perubahan sikap Erika. Pria itu meletakkan cangkirnya perlahan, melangkah menghampiri Erika, dan mengambil ponsel dari genggaman gadis itu. Mata Martin memicing saat membaca pesan itu. Bukannya panik, raut wajah Martin justru mengeras oleh amarah yang tertahan, seolah ia tahu siapa pengirim pesan tersebut. "Terlalu mudah ditebak…” gumam Martin dengan suara berat yang mengintimidasi. "Rupanya mata-matanya di hotel semalam bekerja cukup cepat." "O-Om... apa maksudnya? Om tahu siapa pengirim pesan ini?" bisik Erika panik, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. "Dia tahu soal kita— apa mungkin Daren yang mengirimnya?” Martin mencengkeram dagu Erika dengan lembut namun penuh penekanan, memaksa gadis itu menatap matanya. "Dengar, Erika. Jangan terlalu khawatir.

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Ancaman Baru

    Layar ponsel yang berkedip menyala itu seperti bom waktu yang siap meledak. Meski begitu, rona ketenangan terpancar jelas dari raut wajah Martin. Dengan gerakan tenang dan tanpa suara, Martin berjalan meninggalkan kamar Erika lalu menuruni tangga. Begitu berada di koridor luar yang hening, Martin menggeser ikon hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Ya, Sandra?" Suara Martin terdengar sangat wajar, dingin, dan berwibawa—seolah tak ada hal abnormal yang baru saja terjadi. Dari seberang telepon, suara Sandra terdengar panik dan terengah-engah. “Papa! Papa lagi di mana? Papa tahu nggak Daren ke mana? Terus Erika... Erika hilang, Pa! Ponselnya nggak aktif!" Martin berjalan perlahan menyusuri koridor, menyandarkan satu tangannya di saku celana. "Tenangkan dirimu, Sandra. Nada bicaramu terlalu berlebihan." “Gimana nggak panik, Pa!" seru Sandra dari seberang, suaranya hampir menangis. “Aku tadi minta Daren anterin Erika sebentar karena Erika mendadak pusing dan lemas. Tapi Dar

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Di Ambang Batas

    “Ahhh….” Erika memejamkan mata, tubuhnya melengkung dengan kedua paha menyatu, menikmati sensasi yang membuatnya melayang sejenak. Sedang Martin, dia duduk di samping kursi penumpang, melepaskan gumpalan kenyal yang memenuhi mulutnya. “Om.. makasih..” bisik Erika, kedua matanya terbuka, menatap nanar ke arah Martin. Martin mencoba mengatur nafasnya. Perlahan ia menutupi kembali buah dada Erika yang beberapa detik lalu ia nikmati. Sesaat kemudian ia membantu Erika untuk duduk. “Sepertinya kamu sudah lebih tenang sekarang. Minum dulu..” Martin memberikan sebotol air mineral pada Erika. Erika meminum beberapa teguk lalu memeluk erat pria matang di hadapannya. Gadis itu terisak di bahu ayah sahabatnya itu. Martin membiarkan Erika meluapkan semua di bahunya. “Aku nggak tau— apa yang akan terjadi— kalau om nggak dateng…” isaknya. “Daren–pasti sudah–memperkosa—“ “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu Erika. Sekarang tenanglah. Kamu baik-baik saja.” Martin me

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Kegilaan Erika

    Erika mencoba memberontak, tapi tubuhnya lemas oleh panas yang membuatnya hampir tak berdaya. Daren tertawa kecil melihat hal itu. Tangannya yang bebas bergerak turun, menarik tali gaun tipis Erika hingga kain itu melorot turun, membiarkan udara malam menyentuh kulit bahu Erika yang terbakar oleh efek obat yang Daren berikan ke dalam minumannya tadi. Daren menatap Erika dengan mata yang membelalak puas, bersiap untuk merenggut segalanya di bawah kegelapan malam yang sunyi. Dunia Erika berputar hebat. Sentuhan Daren yang kasar di bahunya terasa seperti api yang membakar saraf-sarafnya. Tepat saat bibir Daren hampir menyentuh bibir Erika, sebuah dentuman keras terdengar. Pintu mobil dibuka paksa dengan satu hentakan brutal. Dalam hitungan detik, kerah kemeja Daren ditarik kasar dari belakang, membuat pria itu terlempar keluar dari mobil hingga jatuh tersungkur ke aspal. Martin berdiri di sana. Wajahnya bukan lagi topeng tenang yang ia pakai saat makan malam tadi. Kini, yang

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Racun di balik keramahan

    “Erika, kamu harus ikut! Jangan menolak, ya?" Sandra merengek di ujung telepon dengan suara yang sangat bersemangat. "Akhir-akhir ini kita jarang keluar bareng. Jadi kali ini aku nggak mau menerima penolakan apapun.” Erika sempat ragu, namun desakan Sandra yang luar biasa membuatnya tidak punya pilihan. Lagi pula, dia merasa berhutang budi karena sudah sering berbohong pada sahabatnya itu. "Baiklah, San. Aku akan datang." Malam itu, Erika berdandan sederhana namun elegan. Ia menemui Sandra di sebuah restoran eksklusif. Restoran itu terasa sangat mewah, namun bagi Erika, suasananya terasa seperti ruang interogasi. Ia duduk di samping Sandra. Di seberang Sandra, duduk Daren, pria yang baru saja dikenal Erika kurang dari satu jam namun sudah menunjukkan ketertarikan yang terlalu agresif. "Erika, kamu harus coba wine ini," ujar Daren dengan senyum ceria. Matanya menatap Erika dengan binar yang membuat Erika makin tidak nyaman. Daren adalah tipikal pria yang tahu cara memikat wa

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Sisi Lain Sang Penguasa

    Erika meremas tali tasnya semakin erat seiring mobil mewah Martin melaju semakin jauh dari rute kafenya. Kecepatan mobil yang stabil namun pasti seolah menegaskan bahwa pria di sampingnya tidak terbiasa menerima penolakan. Jalanan kota yang padat perlahan berganti menjadi deretan pepohonan rindan

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Jeratan di Balik Kaca Gelap

    Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kamar kos Erika, membawa serta realitas yang harus kembali ia hadapi. Dengan tubuh yang masih terasa letih dan kepala yang agak pening, Erika memaksakan diri untuk berangkat ke kampus. Namun, sepanjang kelas berlangsung, fokusnya benar-benar hancur.

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Dua Dunia yang Berbeda

    Dinginnya AC di dalam kabin sedan mewah ini perlahan mengikis rasa menggigil di tubuh Erika, digantikan oleh ketegangan lain yang membuat seluruh tubuhnya kaku. Ini adalah pertama kalinya Erika duduk di dalam mobil semewah ini. Aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang tadi ia hirup di kamar hote

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Tawaran di Tengah Malam

    Suara Sandra dari seberang telepon masih terdengar cemas, memecah keheningan kamar yang pengap oleh gairah yang tertahan. Setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu bagai hantaman gada yang telak ke dada Erika. Rasa bersalah kini sepenuhnya menggantikan sisa-sisa alkohol di kepalanya. Erik

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status